Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 200 Calon Ayah Angkat


__ADS_3

[Ding]


[Misi memiliki lima perusahaan baru yang berbasis di luar negeri telah selesai]


[Hadiah telah disimpan di penyimpanan sistem]


[Host hanya perlu menginformasikan sistem ketika sudah siap untuk menerima hadiah]


Andi menerima pemberitahuan tersebut bersamaan dengan masuknya sebuah pesan dari Kakak Mia yang memberitahu bahwa proses akuisisi semua perusahaannya telah selesai. Ini berarti besok ia sudah bisa pulang.


Andi sudah tidak sabar untuk pulang. Amira, adiknya, sudah memborbardir Andi dengan puluhan pesan. Sekarang ini Amira sudah memasuki masa libur semester. Jadi, gadis itu menagih janji Andi untuk liburan bersama.


“Sistem, buka toko sistem yang ada.”


Saat ini adalah tanggal enam belas, jadwal dari toko sistem yang dibuka. Andi tidak sabar untuk bisa memiliki kemampuan baru sekarang. Semua kemampuan yang sebelumnya ia miliki, sudah ia naikkan menjadi level lima.


[Ding]


[Toko Sistem]


[Pengalaman seorang peretas tingkat 1: Rp 1.000.000.000,-]


[Kemampuan mengetik cepat tingkat 1 : Rp 2.500.000.000,-]


[Host, manfaatkan toko sistem untuk memperkuat dirimu]


“Kemampuan meretas? Ini adalah kemapuan yang sangat aku inginkan. Dari dulu aku ingin bisa memiliki kemampuan ini. Meski sekarang aku memiliki Kim yang membantuku melakukan peretasan, tetapi memiliki kemampuan itu sendiri berbeda dengan memiliki anak buah yang mampu melakukannya.”


Langsung saja Andi membeli kedua kemampuan yang dijual oleh toko sistem. Meski harga awal pada tingkat satu sangat mahal daripada kemampuan-kemampuan sebelumnya, tetapi bagi Andi itu tidak menjadi masalah. Dirinya memiliki lebih dari cukup uang untuk membelinya.


“Panel status.”


[Ding]


[Modul Menjadi Kaya]


[Level 19 (35.624.125.988.860/1.400.000.000.000.000)]


[Saldo Host : Rp 6.534.073.073.971,-]


[Tingkat Konversi : 1 kali nafas \= 127 USD (1 USD \= Rp 14.000,-)]


[Misi : - ]


[Misi Harian : - ]


[Target Mingguan : - ]


[Target Bulanan : - Capai saldo Rp 50.000.000.000.000,-


Hadiah : 1 tiket lucky draw


Hukuman : Tidak mendapatkan konversi nafas selama 5 tahun]


[Tiket Lucy Draw : 0 Tiket 149 Pecahan]

__ADS_1


[Penyimpanan : - Kartu kemampuan Karyawan (134)


- Coding game moba (1)]


[Selamat berjuang menghabiskan uang Host]


“Eh, aku menerima seratus kartu kemampuan karyawan setelah menyelesaikan misi? Itu cukup banyak. Jika begini, aku akan membaginya kepada orang-orang yang aku percaya. Beberapa pengawal yang belum mendapatkan kartu kemampuan karyawan, sekarang akan aku beri.”


Dengan anak buah yang semakin piawai dalam menjalankan tugas mereka, otomatis Andi akan tenang mengurusi yang lain. Ia hanya perlu menambah perusahaannya lalu menyerahkan kepada anak buahnya untuk mencari perusahaan baru lagi.


“Sepertinya, sekarang saatnya aku menggabungkan semua perusahaanku dalam naungan satu perusahaan induk. Perusahaanku cukup menyebar sekarang.” Gumam Andi. Ini akan menjadi target selanjutnya dari Andi.


….


Dalam penerbangan kali ini, pesawat yang Andi naiki mendarat di bandara I Gusti Ngurah Rai. Hal ini karena Andi berniat langsung melakukan liburan bersama dengan kedua adiknya. Dirinya tidak terlalu lelah meski baru saja menjalani penerbangan panjang.


Ketika tiba di bandara, Amira dan Arfan telah menunggunya. Rencanya hari ini mereka akan bersantai di villa milik Andi sebelum besok mengunjungi beberapa tempat wisata.


“Kakak kangen.” Ucap Amira yang sekarang berada dalam pelukan Andi.


“Aku juga kangen sama kalian.”


“Sekarang ayo kita kembali. Biar Kak Andi beristirahat dulu sekarang supaya besok kita bisa maen sepuasnya.” Ajak Arfan.


“Baiklah ayo.”


Ketika Andi dan kedua adiknya melangkah keluar dari bandara, Andi menangkap sebuah berita yang terpampang di salah satu televisi yang ada di bandara. Hal itu membuat Andi menghentikan langkahnya dan melihat berita tersebut.


Dalam berita itu terlihat seorang pemuda dan seorang perempuan terlihat dituntun oleh polisi menuju sebuah mobil. Kedua tangan orang itu sudah di borgol. Keduanya hanya menunjukkan kepalanya tanpa berani melihat ke arah kamera wartawan.


Begitulah tajuk dari berita tersebut. Dari sini Andi tahu bahwa keluarga Wijoyokusumo dan keluarga Jayantaka telah melaporkan Hermawan ke polisi. Mereka juga membesarkan kasus ini agar dipantau oleh semua orang.


“Sebentar lagi Kamu mendapatkan balasan dari perbuatanmu Hermawan, Karina.” Gumam Andi lirih.


“Kakak kenapa berhenti?” Tanya Amira ketika mengetahui Andi menghentikan langkahnya. Ia lalu mengikuti arah pandangan Andi.


“Oh berita itu, itu dari kemaren muncul beritanya. Nggak berhenti-henti diputer. Semua orang pada nggak suka sama tuh dua orang. Berani banget mereka jebak orang buat lakuin perbuatan keji kayak gitu. Apalagi tuh cewek. Masaka temennya digituin. Kejam banget.” Ucap Amira.


“Itu harus Kamu jadikan pelajaran Amira. Jangan pernah menerima minuman dari siapapun, entah itu dari orang yang kamu kenal atau tidak, jika kamu tidak berada di sana ketika memesannya. Kejahatan itu terjadi tidak hanya karena ada niat dan kesempatan, tetapi juga korban yang lengah.” Jelas Andi.


“Iya Kak aku akan mengingatnya baik-baik.”



Sore harinya, Andi menekan salah satu nomor di kontaknya. Jika diperhatikan, nomor tersebut bukanlah nomor lokal. Ini berarti seseorang yang sedang Andi hubungi memakai nomor luar negeri. Pada deringan keempat sambungan telepon mereka terhubung.


“Hallo Andi.” Ucap suara seorang perempuan di ujung telepon.


“Hallo Mbak Ros.” Sapa Andi.


Ternyata yang dihubungi oleh Andi saat ini adalah Rosalinda. Perbedaan waktu di tempatnya dan tempat Rosalinda membuat Andi baru sekarang menghubunginya.


“Ada apa menelfonku?”


“Aku hanya ingin mengabarkan berita bahagia untukmu.”

__ADS_1


“Oh ya apa itu? Apakah Kamu sudah punya pacar sekarang? Wah selamat ya.” Jawab Rosalinda.


“Siapa yang bilang aku punya pacar? Aku masih jomblo. Hehehe.”


“Lalu berita bahagia apa yang ingin Kamu bagikan denganku?” Tanya Rosalinda pensaran.


“Hermwan dan Karina sudah di tangkap polisi. Sebentar lagi, mereka akan menerima hukuman atas perbuatan yang mereka lakukan padamu Mbak.” Jelas Andi.


Setelah Andi berucap demikian, tidak ada respon apa pun yang diberikan oleh Rosalinda. Perempuan itu terdiam.


“Hallo, Mbak Ros. Apa Mbak Ros masih di sana?” Tanya Andi memastikan.


“Ya aku masih di sini. Aku hanya… Aku hanya nggak menyangka akhirnya mereka akan mendapatkan hukuman mereka. Tetapi Andi, keluarga Sanjoyo tidak melakukan apa pun padamu bukan?” Tanya Rosalinda khawatir.


Perempuan itu takut Andi menerima pembalasan dari keluarga Sanjoyo setelah melaporkan Hermawan ke polisi.


“Tenang saja Mbak. Mereka tidak melakukan apa pun padaku. Yang melaporkan hal ini bukanlah aku. Tetapi seseorang dari keluarga Wijoyokusumo dan keluarga Jayantaka. Aku memberikan beberapa bukti-bukti itu kepada mereka.”


“Apakah aku perlu datang dan memberikan kesaksian pada kasus ini Andi?” Tanya Rosalinda khawatir.


Dirinya sudah berhasil pergi sejauh ini dengan bantuan Andi. Ia tidak mau harus kembali pulang dan khawatir dengan pembalasan keluarga Sanjoyo. Apalagi sekarang dirinya tidak sendirian sekarang. Rosalinda pun mengelus perutnya yang masih rata.


“Tidak perlu Mbak. Setalah aku melakukan penyelidikan lebih lanjut, korban dari Hermawan dan Karina tidak hanya Mbak Rosa aja. Ada beberapa orang lainnya yang menjadi korban mereka. Jadi, tanpa Mbak Rosa datang dan memberikan kesaksian pun masih ada orang lain yang melakukannya.” Jelas Andi.


“Aku tidak menyangka mereka seperti itu.”


“Bajingan seperti Hermawan, pantas mendekam selamanya di dalam penjara. Mbak nggak usah khawatir, aku yakin dia nggak akan bisa keluar dengan mudahnya dari penjara. Sekarang berita tentang penangkapan Hermawan dan Karina sudah viral.”


“Aku yakin keluarga Sanjoyo tidak akan bisa berbuat banyak untuk bisa mengeluarkan Hermawan dari penjara.”


“Syukurlah kalau begitu.” Gumam Rosalinda lirih. Dengan begini, rasa khawatir dalam diri Rosalinda berkurang banyak.


“Andi, ada hal lain yang ingin aku beritahu padamu.” Ucap Rosalinda.


“Ada apa Mbak? Apa uang yang aku kasih kurang? Apa tempat tinggal Mbak Rosa nggak nyaman?”


Jika tempat tinggal Rosalinda kurang nyaman, Andi bisa meminta perempuan itu tinggal di apartemennya yang ada di New York. Dirinya sama sekali belum mengunjunginya. Jadi, daripada dibiarkan kosong, lebih baik Rosalinda tinggal di sana bukan?


“Bukan itu aku… aku….” Ucap Rosalinda sedikit ragu apakah ia perlu memberi tahu keadaannya yang sekarang kepada Andi.


“Mbak kenapa?” Andi kemudian mendengar Rosalinda mengehambuskan nafas panjang.


“Aku hamil.” Ucap Rosalinda cepat.


“Apa Mbak hamil?”


“Ya.”


“Lalu, apa yang akan Mbak lakukan setelah ini? Apa Mbak akan mempertahankannya atau akan menggugurkannya?”


Andi pernah mendengar bahwa korban pemerkosaan, bisa menggugurkan kandungan mereka asalkan usia kandungan mereka belum mencapai umur tertentu. Andi sendiri tidak tahu apakah usia kandungan Rosalinda yang sekarang masih memperbolehkannya melakukan aborsi.


“Anak ini tidak salah. Aku tidak akan menggugurkannya. Masih ada darahku yang mengalir di sana. Aku akan mendidiknya menjadi orang yang baik.”


“Kalau begitu, jika anak itu lahir nanti, biarkan aku yang menjadi ayah angkatnya.”

__ADS_1


__ADS_2