
Ketika sampai di rumahnya, Jony sama tidak mendapati keberadaan ayahnya. Melihat hal itu, membuat Jony sedikit kesal. Ia sudah sedikit mempercepat laju kendaraannya agar bisa segera sampai di rumah. Bukankah ayahnya meminta dirinya segera pulang?
Namun, ketika sudah sampai di rumah, ayahnya malah tidak ada. Bagaimana Jony tidak kesal dengan hal ini. Jika tahu begini, lebih baik dirinya tidak pulang. Jony merasa sedang dipermaikan oleh ayahnya sekarang ini.
“Bibi, apakah Ayahku sudah pulang?” Tanya Jony kepada salah satu asisten rumah tangganya.
“Oh Den Jony. Tuan Besar belum pulang. Tetapi, Tuan Besar tadi telfon ke rumah. Dia bilang, jika Den Jony sudah pulang, Aden diminta datang ke kantor Tuan Besar. Katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan. Jadi, Den Jony disuruh cepet-cepet ke sana.”
Mendengar penjelasan dari asisten rumah tangga di rumahnya, yang bisa Jony lakukan hanyalah menelan kembali kekesalannya. Ia kembali mengendarai mobil sportnya menuju ke kantor ayahnya. Jony hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuk sampai di sana.
Setelah melemparkan kunci kepada satpam untuk meminta mereka memarkirkan mobilnya, Jony menuju ke lift. Kantor ayahnya berada pada lantai lima. Ketika sampai di lantai lima, susana yang seharusnya sepi itu, masih dipenuhi oleh beberapa orang yang telihat sibuk.
Melihat pemandangan itu, membuat Jony mengerutkan keningnya. Apakah semua karyawan ini sedang lembur atau perusahaan keluarganya benar-benar menghadapi masalah? Tetapi masalah apa yang terjadi hingga membuat mereka sesibuk ini.
Jony sejenak mengesampingkan hal itu. Nanti juga ketika sampai di ruangan ayahnya Jony juga akan tahu masalah apa yang sekarang mereka hadapi.
Dengan hidung yang terangkat tinggi, dada yang membusung ke depan, Jony berjalan ke arah ruangan ayahnya berada. Tanpa mengetuk pintu, Jony langsung masuk ke ruangan ayahnya. Biasanya jika Jony datang kemari, dirinya tidak perlu lagi mengetuk pintu.
“Tidak bisakah kamu mengetuk pintu?” Bentak Marcel setelah Jony masuk.
Mendengar bentakan ayahnya, Jony tidak berkutik. Ia kemudian menundukkan kepalanya. “Maaf Ayah.”
“Ah sudahlah. Masuklah dan duduk. Ada yang ingin aku tanyakan padamu.” Ucap Marcel.
Jony pun memasuki ruang kerja ayahnya. Sekarang dia baru sadar bahwa tidak hanya ayahnya yang ada di ruangan ini. Ada dua sekertaris ayahnya yang sekarang terlihat sibuk dengan laptop di depan mereka. Tidak hanya mereka, Jony juga melihat keberadaan adik ayahnya di sana.
“Paman Marco.” Sapa Jony kepada adik ayahnya itu.
Marco tidak menjawab sapaan Jony. Ia hanya merespon dengan menganggukkan kepalanya singkat. Jony sudah terbiasa dengan sikap dingin pamannya itu. Marco hanya berbicara jika dirinya akan membahas sesuatu yang penting. Sisanya ia hanya diam dan tidak memberikan banyak respon.
__ADS_1
Setelah menaruh berkas di tangannya, Marcel mendekat ke arah anak dan adiknya yang kini tengah duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya. Ia duduk di salah satu sofa kosong di sana. Marcel memandang lekat ke arah anaknya.
Lalu, Marcel menanyakan pertanyaan yang muncul di benaknya setelah masalah ini muncul.
“Apa yang kamu lakukan setelah kamu dari rumah sakit?” Tanya Marcel.
“Maksud ayah apa aku nggak ngerti.” Tanya Jony bingung.
Bukannya ayahnya tahu bahwa dirinya tidak banyak melakukan apapun setelah keluar dari rumah sakit? Ia hanya menghadiri pesta Dinda, lalu setelahnya ia menjalankan aktifitas seperti biasa. Nongkrong di tempat yang tentunya diketahui ayahnya.
“Aku ingin kamu jelaskan secara runtut apa yang kamu lakukan setelah keluar dari rumah sakit. Termasuk juga siapa saja yang kamu temui. Aku ingin mengetahuinya sekarang juga.”
“Aku hanya pergi ke pesta Dinda, rata-rata tamu yang ada di sana juga Ayah kenal. Lalu setelahnya aku nongkrong di tempat biasa dengan temanku. Kemarin aku cap tiga jari di sekolah. Itu saja yang aku lakukan. Memangnya kenapa Ayah menanyakannya?”
Jony cukup bingung dengan ayahnya yang menanyakan hal ini padanya. Memangnya untuk apa ayahnya menanyakan hal ini? Apakah ini ada hubungannya dengan masalah perusahaan mereka? Itu sangat tidak mungkin. Dirinya tidak menyinggung siapapun akhir-akhir ini.
Jony hanya sedikit bersikap kurang sopan pada pesta Dinda. Tetapi, tidak mungkin bukan hanya karena masalah itu Dinda dan keluarganya memberikan masalah untuk perusahaan keluarganya?
“Maksud Paman apa? Apakah paman menuduhku menjadi penyebab masalah perusahaan kita?” Tanya Jony tidak terima dengan tuduhan pamannya itu. Jika itu ayahnya yang bertanya, Jony akan menjawabnya dengan baik.
Tetapi ini adalah pamannya. Orang yang berusaha merebut kursi direktur utama dari ayahnya. Jelas sekali Jony memiliki rasa tidak suka terhadap pamannya ini. Jadi, mendengar Marco melemparkan sebuah pertanyaan seperti itu, jelas Jony tidak terima.
“Jika bukan kamu siapa lagi? Aku? Ayahmu? Kami berdua sangat tahu apa yang harus kami lakukan. Kami juga tahu siapa yang bisa kami singgung dan tidak. Tetapi kamu? Sikapmu yang arogan itu membuat perusahan kita merugi besar.”
“Seseorang menjual saham kita dengan harga sangat rendah. Tidak hanya itu, para investor banyak yang mempertanyakan masalah ini. Sebagian besar dari mereka malah ada yang berniat menarik dana mereka jika kita tidak segera menyelesaikan masalah ini. Dan itu semua karena ulahmu.” Ucap Marco masih dengan nada datarnya.
“Jangan menuduhku seperti itu Paman.” Ucap Jony tidak terima. Pemuda itu bahkan mengarahkan jari telunjuknya ke arah Marco. Persetan dengan sopan santun. Jony tidak terima dituduh seperti ini.
Tetapi, Jony cukup kaget mendengar penjelasan Marco. Jika semua itu memang benar, ini benar-benar masalah yang cukup besar bagi perusahaan mereka. Kerugian besar sepertinya sudah bersiap mengetuk pintu perusahaan mereka.
__ADS_1
Penurunan nilai saham yang cukup derastis memang bisa mengurangi tingkat kepercayaan para investor. Mereka khawatir investasi yang mereka lakukan akan mengalami kerugian, bukan keuntungan seperti yang mereka inginkan.
“Kamu mau bilang bahwa anakku yang melakukannya?”
“Ya bisa saja Leo melakukan hal itu. Meski dia berusia sepuluh tahun, tetapi bisa saja dia mengganggu anak dari seorang yang berkedudukan tinggi. Itu semua bisa saja terjadi paman.”
“Sudah cukup.” Bentak Marcel cukup keras. Hal itu membuat Jony yang ingin kembali berdebat dengan pamannya mengurungkan niatnya.
“Sekarang bukan saatnya kita berdebat. Kita perlu mencari penyelesaian masalah ini. Para investor itu ingin dalam minggu depan masalah ini usai. Jika tidak, mereka akan menarik semua investasi mereka pada perusahaan kita. Jadi, kita perlu memikirkan masalah ini baik-baik.”
“Jony, sekarang jawab pertanyaanku. Apakah kamu terlibat konflik dengan seseorang akhir-akhir ini?”
Jony menggelengkan kepalanya. “Aku tidak memiliki konflik dengan siapa pun ayah.”
Jony merasa tidak memiliki konflik dengan siapapun. Tunggu dulu, jangan-jangan itu Andi yang melakukannya. Tetapi Jony langsung mengesampingkan pemikiran itu. Tidak mungkin itu Andi.
Meski paman Andi adalah seorang preman, tetapi menurut Jony bukan paman Andi yang melakukan hal ini. Jika Andi meminta bantuan pamannya untuk membereskan Jony, bukan ini cara yang biasa dipakai oleh preman.
Para preman itu pastinya akan langsung mencari keberadaan Jony. Setelahnya, mereka akan menghajar Jony hingga beberapa tulangnya patah. Dengan begitu Jony akan tinggal lama di rumah sakit. Tetapi, ini yang diserang adalah perusahaan keluarganya jadi tidak mungkin itu adalah perbuatan paman Andi.
Tidak hanya Jony saja yang memiliki pemikiran demikian. Marcel dan Marco juga memiliki pemikiran yang sama dengan Jony. Jika memang Jony kembali berkonflik, dengan teman sekelasnya, yang merupakan keponakan Burhan itu, ini bukan cara seorang preman membalaskan dendam.
Mereka lebih memilih untuk menggunakan tangan milik mereka untuk membalaskan dendam. Meskipun Gang Macan Putih memiliki bisnis juga, tetapi tidak mungkin bagi mereka mengeluarkan uang sebanyak itu untuk menurunkan nilai saham mereka.
Para preman itu lebih memilih memutar uang mereka di bisnis ilegal daripada bisnis yang legal. Karena keuntungan di bisnis illegal jauh lebih banyak dan cepat daripada bisnis legal. Jadi, Marcel dan Marco mencoret kemungkinan itu.
“Memangnya, berapa banyak saham kita yang dijual dengan harga rendah?” tanya
“Dua puluh persen.”
__ADS_1
Mendengar jawaban ayahnya, langsung saja Jony mencoret nama Andi dari daftar pelaku yang mengobrak abrik nilai saham perusahaan keluarganya. Tidak mungkin Andi memiliki uang lebih dari seratus milyar untuk bisa memiliki saham sebanyak itu.
Bahkan jika pamannya membantu, tidak mungkin dia mau mengeluarkan uang sebanyak itu. Lalu jika bukan Andi, siapa pelakunya? Siapa orang yang berkuasa yang tengah mereka singgung ini?