
Jangan lupa like, vote, komen, dan tambahkan ke favorit, selamat membaca
----
Saat ini Andi tengah mengendarai mobil yang ia berikan untuk ayahnya. Mobil ini lebih besar daripada mobil yang dibawanya dari Surabaya. Lagi pula, di mobilnya masih ada perangkat komputer yang nantinya akan ia bawa ke rumah yang ada di Surabaya.
Rumah Kakek Buyut Andi berada di kota yang sama dengan rumah orang tuanya. Tetapi, rumah Kakek Buyut Andi berada di kaki Gunung. Sehingga meskipun berada dalam satu kota, Andi masih membutuhkan waktu setengah jam untuk menuju ke sana.
Ketika sampai di sana, sudah ada beberapa mobil yang terparkir di sana. Rumah Kakek Buyut Andi merupakan rumah Joglo dengan halaman yang sangat luas mengelilinginya. Sudah pasti halaman rumahnya mampu menampung banyak mobil.
Andi memarkirkan mobilnya di bawah pohon mangga. Dengan begini, ketika matahari mulai meninggi, maka mobilnya tidak akan terlalu kepanasan. Setelah itu, Andi turun dari mobilnya. Tidak lupa pemuda itu mengambil beberapa makanan ringan yang kemarin sudah ia beli.
Meski tidak sampai menginap, tetapi di sini banyak sekali sepupunya. Jadi makanan yang dibawanya sudah jelas akan habis. Kakek buyut Andi bernama Adipramana. Beliau memiliki tiga orang anak, dua laki-laki dan satu perempuan.
Anak pertama, Harmuji, memiliki empat orang anak yaitu, Bagus, Dayu, Rodhiya, dan Burhan. Anak kedua, Haryanto, memiliki tiga orang anak yaitu, Bagas, Darto, dan Aripto. Dan anak ketiga Hartanti, memiliki dua orang anak yaitu, Mawar dan Melati.
Cucu Kakek Buyut Adipramana saja sudah berjumlah delapan orang. Itu belum anak-anak mereka yang merupakan sepupu Andi. Sudah jelas jumlahnya banyak. Ketika Andi berjalan menuju ke arah rumah kakek buyutnya, seseorang sudah keluar dulu dari sana.
Itu adalah Dimas dan Wira, anak dari Darto. Dibanding dengan sepupu-sepupunya yang lain, Andi lebih dekat dengan mereka yang merupakan cucu kakeknya. Salah satunya Dimas dan Wira ini. Umur mereka pun tidak terlapau jauh. Jadi, mereka bisa lebih mudah akrab.
“Hallo Om Aripto, Tante Nisa.” Sapa keduanya.
“Eh kalian sudah datang. Kapan sampenya?”
“Dari hari Rabu Om. Kami sudah menginap di sini dari hari Rabu.” Jawab Wira.
“Oh, gitu. Orang tua kalian di mana?”
__ADS_1
“Di halaman belakang Om. Lagi ngobrol sama kakek. Om Bagas juga sudah ada di sana Om.”
Aripto mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kalo gitu Ayah dan Ibu masuk dulu. Kalian ngobrol dulu. Tapi jangan lama-lama. Kalian masih perlu menyapa Kakek dan Kakek Buyut kalian.”
“Iya ayah.” Ucap Andi dan kedua adiknya.
Setelah kepergian ayahnya, Andi mengarahkan pandangannya ke arah kedua sepupunya. “Kamu kok nggak ngabarin aku kalo udah di sini sejak Rabu? Tau gitu aku ajak kalian maen.”
Meski seminggu kemarin Andi fokus untuk menambah nominal saldonya, tetapi dirinya masih bisa menyisihkan waktu jika diminta untuk nongkrong bareng dengan kedua sepupunya itu.
“Lah bukannya Lu sekolah ya?” Tanya Dimas. Gaya bicara Dimas yang berasal dari Jakarta tentu berbeda dengan Andi yang biasa hidup di provinsi tertimur pulau jawa itu. Jika Andi terbiasa dengan aku kamu, maka Dimas akan memakai lu gue.
“Mas Dimas ini gimana sih. Kan aku seumuran sama Mas Wira. Jadi, aku udah nggak perlu ke sekolah lagi. Udah selesai, tinggal nunggu pengumuman aja.”
“Ah iya gue lupa kalo Lu seumuran ama Wira.”
“Lalu, gimana ini kabar adek Amira yang paling cantik ini?”
Maka dari itu, ketika Amira lahir, Andi dan para sepupunya memperlakukan Amira seperti seorang putri dan mereka adalah pelayannya.
“Suasana hatiku lagi buruk banget Mas.”
Amira masih mengingat kejadian semalam. Mengenai ancaman yang diberikan oleh Jony. Semalam Amira bahkan memimpikan kejadian yang dibicarakan oleh Jony. Bagaimana dirinya dipaksa oleh beberapa orang untuk melayani mereka. Setelah itu, dirinya ditinggalkan oleh para b**ingan itu di pinggir jalan.
Itu adalah mimpi paling buruk yang Amira alami selama hidupnya. Ia harap itu hanya terjadi dalam mimpi saja. Jika itu benar-benar terjadi di kenyataan, dirinya tidak bisa membayangkan apa yang akan ia lakukan setelahnya. Mungkin jika itu terjadi, ia pasti akan memilih untuk mengakhiri hidupnya.
Mendengar ucapan Amira, kekhawatiran tergambar jelas di wajah Dimas dan Wira. Mereka langsung berjalan mendekat ke arah Amira dan mengapit gadis itu di antara mereka.
“Apa yang terjadi Amira? Apa ada yang gangguin Lu? Bilang sama Mas Wira siapa yang gangguin Lu hingga Lu kayak gini?” Tanya Wira.
__ADS_1
“Iya Amira. Bilang ke gue, siapa yang sudah bikin Lu kayak gini. Siapapun orangnya, gue Dimas, nggak akan takut. Kalo gue sendirian nggak bisa ngalahin dia, masih ada Mas Ganang, Mas Ardi dan Mas Bima. Gue yakin mereka bersedia membalaskan kekesalan Lu itu.”
Amira hanya diam. Ia lalu memandang ke arah Andi, mencoba bertanya kepada kakaknya itu, apakah masalah keluarga mereka boleh dibicarakan dengan para sepupu mereka? Tetapi, pandangan Amira kepada Andi itu disalah artikan oleh kedua sepupunya itu.
“Oh jadi Lu yang udah bikin Amira sedih kek gini?” Tanya Dimas tiba-tiba sembari mendekat ke arah Andi.
“Eh bukan aku yang bikin Amira kesel.”
Meski Andi sudah berkata demikian, nyatanya Dimas masih melayangkan pukulannya kepada Andi. Melihat hal itu, Andi melompat ke belakang. Jika memang harus berkelahi, setidaknya mereka perlu mencari tempat yang lebih lapang. Setidaknya dengan begitu perkelahian mereka tidak akan mengenai Amira atau Arfan yang ada di sana.
Andi bisa saja menghindari perkelahian ini dengan menjelaskan semuanya kepada kedua sepupunya itu. Tetapi, ia butuh pelepasan kali ini. Beberapa waktu terakhir ini dirinya memiliki banyak sekali masalah. Apalagi masalah dengan Jony yang sering sekali menaik turunkan emosinya.
Andi sama sekali belum melampiaskan semua kekesalannya. Berhubung Dimas mengajaknya berkelahi, sudah pasti Andi akan meladeninya. Anggap saja ini sama dengan melampiaskan kekesalannya. Toh Dimas tidak akan terluka dalam perkelahian ini.
Di antara semua cucu Kakek Haryanto, Dimas lah cucu yang memiliki kemampuan bela diri yang tinggi. Pemuda itu mengandalkan refleksnya yang cepat sehingga bisa dengan mudah menghindari serangan musuh. Tidak hanya itu, Dimas juga mampu memberikan serangan cepat kepada lawan.
Menurut Andi, Dimas adalah orang yang tepat menjadi lawan bertarungnya. Ia ingin mencoba seperti apa kekuatan penuhnya. Semenjak menaikkan kekuatannya dengan sistem, Andi hanya menggunakannya untuk menolong Satrio. Sekarang, dia belum pernah melakukannya lagi.
Amira yang melihat sepupu dan kakaknya berkelahi, tidak memiliki niatan sedikit pun untuk memisahkan mereka. Bukannya tidak mau, tetapi itu percuma. Hanya akan menghabiskan tenaga dan tidak akan digubris.
Entah siapa yang memulai aturan itu, tetapi, di setiap pertemuan tahunan keluarga Prayudi, mereka memiliki sebuah aturan. Biarkan tangan dulu yang berbicara, lalu mulut mendapatkan giliran belakangan. Jadi, kebanyakan ketika pertemuan keluarga terjadi, sangat wajar jika ada yang berkelahi. Malah, akan cukup aneh jika tidak ada yang berkelahi.
Hal ini tidak hanya berlaku pada generasi muda, bahkan generasi tua pun ikut melakukan praktek ini. Amira pernah mendengar dari Kakek Buyutnya bahwa dengan cara seperti ini semua amarah akan tersalurkan. Setelahnya, tidak akan lagi dendam di antara anggota keluarga.
Sejauh yang Amira lihat memang seperti itu. Setelah berkelahi, bahkan ada yang sampai babak belur, semuanya kembali akur dan tertawa bersama. Amira merasa cukup aneh dengan hal itu.
Tetapi yang mengusik pikiran Amira? Kenapa ayahnya sangat tidak menyukai Burhan? Bukankah jika ada masalah yang tidak terselesaikan, mereka bisa menyelesaikannya dengan adu tinju dan kemudian saling berbicara dari hati ke hati. Bukankah itu yang selama ini dilakukan oleh keluarga Prayudi yang lainnya? Tetapi kenapa ayahnya tidak melakukan itu?
Tapi tunggu, sepertinya tidak hanya Aripto yang tidak menyukai Burhan. Sepertinya, hampir seluruh anggota keluarga Prayudi mulai dari generasi Aripto ke atas tidak menyukai laki-laki itu. Apakah ada kesalahan besar yang dilakukan oleh Burhan sehingga membuat laki-laki itu dibenci?
__ADS_1
Tetapi, meski Burhan terlihat dibenci, laki-laki itu masih bisa mengikuti pertemuan tahunan dari keluarga Prayudi. Amira merasa cukup aneh dengan hal itu. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi?