Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 164 Pertemuan dengan Sang Penerus (1)


__ADS_3

Hermawan menyembunyikan kekesalan dalam dirinya. Seharian ini dirinya cukup kesal. Ia tidak bisa menemukan keberadaan Rosalinda. Bahkan, ketika ia mencoba menghubunginya, perempuan itu tidak mengangkat telepon darinya.


Lalu, Hermawan mencoba mengirimkan foto mereka berdua, yang ia ambil pada malam itu, kepada Rosalinda. Tetapi, foto dan video kejadian malam itu hilang begitu saja dari ponsel miliknya. Bahkan salinan yang ia buat di laptopnya juga tidak ada.


Ini juga yang menambah kekesalan Hermawan. Ia tidak bisa mengancam Rosalinda jika semua foto dan video tersebut hilang. Ketika Hermawan meminta salinan foto dan video lainnya, dari Karina, perempuan itu tidak memberikannya. Ia mengatakan semua salinan foto dan video yang ia simpan juga hilang.


Ini berarti, ada seseorang yang memang mengetahui keberadaan foto dan video tersebut. Orang tersebut pasti ada hubungannya juga dengan menghilangnya Rosalinda. Hermawan semakin kesal mengetahui hal ini.


Ada orang yang berani sekali mengambil sesuatu dari tangannya. Selama hidupnya, Hermawan tidak pernah diperlakukan seperti ini. Hermawan sangat keseal, karena sesuatu yang sudah ada di tangannya bisa diambil orang lain, tanpa ia ketahui.


Ketika Hermawan ingin melampiaskan semua kekesalannya yang menumpuk dalam satu hari ini, Arman memanggilnya. Ayahnya itu meminta Hermawan untuk pulang. Dia akan mengajak Hermawan menemui orang penting untuk keluarga mereka.


Semua itu membuat Hermawan memasang wajah masam dalam perjalanan menemui seseorang yang kata ayahnya orang penting. Memang sepenting apa orang itu hingga membuat Ayahnya seperti ini? Tidak hanya Ayahnya, tetapi Bayu, Kakeknya, juga ikut menemui orang tersebut.


“Sebenarnya siapa yang akan kita temui? Ayah dan Kakek sudah cukup bukan untuk menemui orang itu bukan? Kenapa kalian juga mengajakku menemui orang ini?”


Jika memang orang yang mereka temui ini memang benar orang penting, mereka tidak perlu mengajak Hermawan bukan? Kakek dan Ayahnya saja sudah cukup. Jika memang mereka ingin memperkenalkan Hermawan kepada orang itu, setidaknya Kakek atau Ayahnya harus memberitahukannya jauh-jauh hari bukan?


Untuk memperkenalkan Hermawan kepada yang kelihatannya cukup penting, setidaknya Kakek dan Ayahnya itu perlu memberikan informasi mengenai orang itu kepada Hermawan bukan? Tidak mendadak seperti ini.


“Kami ingin memperkenalkan Kamu pada seseorang, dia orang yang sangat penting. Bagaimana pun juga, nantinya kamu akan menjadi pimpinan keluarga Sanjoyo. Jadi kamu perlu mengenal orang ini. Orang ini memiliki pengaruh besar kepada masa depan keluarga kita.”


“Keluarga kita semakin maju atau bahkan semakin menurun, itu semua tergantung dari orang ini. Jadi, nanti ketika kamu bertemu dengan orang itu, jaga sikapmu baik-baik. Jangan sampai menyinggung orang itu.” Jelas Arman.


Hermawan sedikit mengerutkan keningnya mendengar hal itu. Kenapa masa depan keluarganya bergantung kepada orang ini? Memangnya siapa dia hingga Ayahnya bisa berkata seperti itu? Apakah itu Presiden? Tetapi, itu juga tidak mungkin.


Meski keluarganya mulai memasuki dunia politik, tetapi kekuatan terbesar mereka adalah di dunia bisnis. Jadi, tidak mungkin masa depan mereka bergantung pada Presiden. Presiden negeri ini tidak memberikan pengaruh sebesar itu kepada bisnis milik keluarga mereka.

__ADS_1


“Jika memang Ayah ingin mengenalkanku kepada seseorang, maka Ayah perlu memberitahuku latar belakang orang tersebut bukan? Dengan begini, aku bisa tahu seperti apa orang yang sekarang akan aku temui. Tidak hanya itu, aku nanti bisa menjaga sikapku untuk tidak menyinggung orang ini.”


“Kalian juga perlu memberitahuku kenapa orang ini bisa memberikan pengaruh besar kepada keluarga kita. Bahkan kalian sampai mengatakan bahwa maju mundurnya keluarga kita bergantung kepada orang ini.”


“Keluarga kita dulunya hanyalah keluarga petani. Leluhur kita sangat miskin dan sering kali menahan lapar karena tidak memiliki makanan. Lalu, salah satu leluhur kita bertemu dengan orang hebat. Leluhur kita menjadi anak buah orang ini.”


“Leluhur kita diberi tanggung jawab untuk mengurusi bisnis orang tersebut. Entah kenapa sejak mengikuti orang itu, leluhur kita bisa dengan mudahnya memahami cara berbisnis. Bisnis orang itu yang dikelola oleh leluhur kita maju dengan pesat.”


“Pada akhirnya, orang itu memberikan bisnis terebut kepada leluhur kita. Jadi, bisnis milik kita sekarang ini, merupakan pemberian dari orang tersebut. Leluhur kita berpesan bahwa jika orang itu muncul lagi, kita harus mengikuti orang itu.”


“Karena orang itu bisa membawa keluarga kita lebih maju lagi. Leluhur kita juga berpesan agar kita tidak menentang orang itu. Jika kita menentangnya atau bahkan sampai bermusuhan dengannya, maka keluarga kita bisa hancur.” Jelas Bayu kepada cucunya.


“Oleh karena itu, pertemuan kali ini sangatlah penting. Aku tidak mau kamu mengacau dan membuat orang itu tersinggung. Kamu harus benar-benar menjaga sikapmu. Kamu diam saja selama pertemuan nanti. Jika tidak ditanya, jangan pernah membuka mulutmu.” Ucap Arman mengingatkan Hermawan.


Mendengar hal itu Hermawan mengerutkan keningnya. Cerita Kakeknya itu terdengar cukup aneh di telinganya.


Jika orang itu hidup di jaman leluhurnya, maka umurnya mungkin sudah lebih dari seratus tahun. Memangnya orang itu masih hidup sampai sekarang? Hermawan rasa orang tersebut sudah meninggal.


Lalu, siapa yang akan mereka temui sekarang? Tumpukan tulang dari orang itu? Ataukah arwah dari orang itu? Yang jelas, akal Hermawan sulit menerima apa yang diucapkan oleh Kakeknya itu.


“Bagaimana bisa orang itu hidup sampai sekarang Kakek? Apakah dia orang sakti hingga bisa hidup lama?” Tanya Hermawan kepada Kakeknya.


“Tentu saja tidak. Orang yang ditemui leluhur kita itu kemungkinan besar sudah meninggal. Sekarang ini yang kita temui adalah keturunannya. Mana mungkin kita menemui orang yang sama seperti yang leluhur kita temui.”


“Orang yang kita temui ini memiliki gelar Sang Penerus. Karena dia meneruskan apa yang leluhurnya lakukan. Siapa pun yang mengikuti Sang Penerus pasti akan sukses. Bagi Sang Penerus, uang tidak terlalu banyak artinya. Dia bisa dengan mudahnya membuka bisnis baru meski tidak memberikan keuntungan besar.”


“Apa Kamu tahu kenapa posisi empat keluarga besar tidak tergoyahkan? Kenapa selama ini tidak ada keluarga lain yang menggantikan posisi kita?” Tanya Bayu kepada Hermawan.

__ADS_1


“Ehm…. Aku tidak tahu. Mungkin karena harta yang kita miliki sangat banyak sehingga keluarga yang lainnya tidak bisa mengejar kita.” Jawab Hermawan asal.


Bayu menggelengkan kepalanya pelan. “Salah. Itu karena leluhur dari keempat keluarga besar adalah anak buah dari Sang Penerus. Maka dari itu kita bisa sampai di sini.”


“Meskipun keempat keluarga besar tidak terlalu harmonis dan banyak persaingan, tetapi jika ada keluarga lain yang mencoba mengungguli keempat keluarga besar, kami akan bersatu dan menyingkirkan orang itu.”


“Oleh karena itu seratus tahun lebih keluarga kita memegang kedudukan satu dari empat keluarga besar di Surabaya. Malam ini, tidak hanya kita yang akan menemui Sang Penerus. Tetapi juga anggota keluarga Sasongko.” Jelas Bayu.


Jadi seperti itu alasannya. Hermawan kira semua itu karena keluarganya memiliki kekuasaan yang cukup besar. Hal itu membuat derajat antara keluarganya dan keluarga yang lainnya sangatlah jauh. Ternyata semua itu karena keempat keluarga besar merupakan anak buah dari sang penerus.


“Kenapa hanya keluarga Sasongko saja yang ikut Kakek? Bagaimana dengan keluarga Wijoyokusumo dan Jayantaka? Apakah mereka akan ikut juga?”


“Tentu saja tidak. Aku dan Pak Tua dari keluarga Sasongko itu sepakat tidak memberitahu mengenai kemunculan Sang Penerus kepada mereka yang berasal dari keluarga Wijoyokusumo dan Jayantaka. Ini adalah kesempatan bagi keluarga kita menjadi pemimpin empat keluarga besar.”


“Jadi untuk apa memberitahu mereka? Jika kita mmeberitahu mereka, kita tidak akan pernah bisa mengungguli keluarga Jayantaka.”


Bayu ingat apa yang ayahnya dulu katakan. Keluarga Wijoyokusumo pernah mengabdi kepada dua generasi Sang Penerus. Sedangkan keluarga Jayantaka sudah pernah mengabdi kepada tiga generasi Sang Penerus.


Itu berarti, kedua keluarga itu bertemu dengan Sang Penerus lebih awal dari keluarga mereka. Jadi, mereka jauh lebih unggul diantara empat keluarga besar di kota Surabaya. Leluhur keluarga Sanjoyo sama seperti leluhur keluarga Sasongko. Mereka hanya pernah bertemu dengan seorang Sang Penerus.


Sebenarnya, yang bertemu dengan Sang Penerus di gernerasi ini, untuk pertama kalinya adalah Darsono dari keluarga Sasongko. Darsono bertemu dengan Sang Penerus satu tahun lalu. Ia memberitahukan hal itu kepada Bayu.


Darsono ingin kedua keluarga ini bekerja sama dan memanfaatkan kehadiran Sang Penerus untuk memperkuat keluarga mereka dan mengubah ranking empat keluarga besar. Jadi, mereka sepakat untuk tidak memberitahu kemunculan Sang Penerus kepada keluarga Wijoyokusumo dan keluarga Jayantaka.


Meski sekarang mereka belum terlalu merasakan perubahan yang mereka terima dengan mengabdi kepada Sang Penerus, tetapi Bayu tidak menyerah begitu saja. Ia yakin leluhurnya tidak akan membohongi keturunannya dengan hal sepenting ini.


Yang perlu Bayu lakukan adalah bersabar. Jika waktunya tiba, pasti keluarga Sanjoyo bisa mengungguli keluarga Wijoyokusumo dan keluarga Jayantaka. Bayu yakin, itu tidak akan lama lagi.

__ADS_1


__ADS_2