
“Apa maksud kalian dengan Andi hilang?” Bentak Aripto.
Di depan Aripto kini berdiri beberapa pengawal yang biasa bersama dengan Andi. Yang barusan laki-laki itu bentak adalah penerjemah yang menyampaikan bahwa Andi menghilang.
“Tuan Muda menghilang setelah masuk ke dalam kafe Tuan.” Jawab Ivaldy.
“Sebelumnya Tuan Muda bilang akan menemui temannya jadi pengawal yang lainnya diperintahkan untuk menunggu di parkiran. Tetapi setelah dua jam lebih tanpa kabar, salah seorang pengawal mencoba menghubungi Tuan Muda, namun tidak ada jawaban.” Lanjut Ivaldy.
“Lalu kami mengecek ke dalam kafe tersebut. Tetapi, kami tidak menemukan keberadaan Tuan Muda. Kami pun melacak keberadaan Tuan Muda melalui ponsel miliknya. Kami menemukan ponsel tersebut di tong sampah yang ada di belakang kafe.”
“Sial.” Umpat Aripto dengan keras.
“Bukankah kalian ini sudah ditugaskan untuk selalu bersama dengan Andi, kenapa kalian malah membiarkannya sendirian tanpa pengawasan kalian? Sebelum ini dia teluka karena kalian tidak ada di sampingnya. Sekarang dia menghilang seperti ini.”
“Apa gunanya keluargaku membayar mahal kalian jika kerja kalian tidak beres seperti ini?” Bentak Aripto.
Mendengar ucapan Aripto tersebut, para pengawal Andi itu hanya menundukkan kepala mereka. Mereka tahu mereka sudah melakukan kesalahan dengan membiarkan Andi sendirian tanpa ada yang mengawasi.
Lalu ini adalah kesalahan kedua yang mereka lakukan. Jadi, para pengawal itu diam sana ketika Aripto memarahi mereka.
“Sekarang katakan padaku, sudah berapa lama Andi menghilang?” Tanya Aripto.
“Enam jam Tuan.” Jawab Ivaldy lemah.
“Enam jam dan kalian baru memberitahuku sekarang?”
Aripto geram ketika mendengar ucapan pengawal di depannya ini. Sudah enam jam Andi menghilang tetapi mereka baru memberitahunya sekarang.
Saat itu juga Aripto ingin sekali memukul seseorang. Tetapi, ia mengurungkannya. Tidak ada gunanya. Itu tidak akan membuatnya menemukan keberadaan Andi.
“Lalu, apakah kalian tahu siapa yang Andi temui? Apakah kalian sudah menyelidiki hal itu?”
“Maaf Tuan kami tidak tahu siapa yang Tuan Muda temui. Kamera pengawas di kafe tersebut dan beberapa toko di sekitarnya semua tidak menyala ketika hal ini terjadi. Jadi, kami tidak bisa menemukan siapa yang Tuan Muda temui dan kemana mereka saat ini.”
“Sial.” Aripto kembali mengumpat.
Laki-laki itu kemudian meminta semua pengawal Andi pergi. Ia lalu pengambil ponselnya dan menghubungi Burhan. Aripto yakin sepupunya itu bisa membantunya dalam menemukan Andi saat ini.
Belum juga Aripto menelfon Burhan, ponsel miliknya itu sekarang berbunyi. Nama Burhan pun tercantum di layar ponsel miliknya. Langsung saja Aripto mengangkat panggilan tersebut.
“Hallo Burhan.” Sapa Aripto.
“Hallo Arip. Di mana Andi sekarang? Aku sudah mencoba menghubunginya beberapa kali. Tetapi, telepon milikku tidak juga tersambung. Ada hal penting yang perlu aku beritahukan kepada Andi. Apakah Kamu tahu di mana dia sekarang?” Tanya Burhan dengan nada yang cukup serius.
__ADS_1
“Andi menghilang selama enam jam dan sekarang ia belum juga ditemukan. Aku baru akan memberitahumu mengenai hal ini dan meminta bantuanmu untuk mencarinya. Tetapi Kamu sudah menelfon duluan.”
“Sial.” Aripto mendengar Burhan mengumpat dengan keras. “Ternyata aku sudah terlambat.”
“Maksudmu apa Burhan? Apakah kamu mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui?” Tanya Aripto penasaran.
Aripto mendengar Burhan beberapa kali menarik nafas panjang. Tidak lama kemudian sepupunya itu memberitahunya berita yang cukup mengejutkan.
“Aku sudah menemukan identitas keluarga yang ingin menghancurkan keluarga kita. Sayangnya kabar baik ini berubah menjadi kabar buruk sekarang.” Jawab Burhan.
“Maksudmu apa?” Tanya Aripto bingung.
“Keluarga pacar Andi adalah keluarga yang menginginkan kehancuran keluarga kita. Sekarang jika Andi menghilang, aku curiga ini ada hubungannya dengan pacarnya itu. Jika benar begitu, kita perlu mencari Andi sesegera mungkin. Dia dalam bahaya sekarang.”
Setelah berucap demikian, Burhan pun menutup teleponnya. Burhan sendiri tidak tahu seberapa banyak informasi yang sudah pacar Andi kumpulkan tentang mereka. Apakah mereka tahu identitas asli Andi atau tidak?
Yang jelas, Burhan perlu segera mencari tahu keberadaan Andi sekarang. Bisa jadi nyawa keponakannya itu dalam bahaya. Setiap detiknya sangat berharga sekarang.
****
Orang yang kini mereka bicarakan, masih terbaring lemah di atas ranjang. Sebenarnya sekarang adalah waktu yang tepat untuk kabur. Dinda sedang pergi meninggalkannya sendirian. Andi bisa kabur dari sini ketika efek obat sudah habis.
Sayangnya itu tidak terjadi. Setelah penyatuan mereka, Dinda kembali menyuntikkan kembali obat yang membuat Andi kehilangan tenaganya.
Ketika Andi termenung memikirkan hal itu, pintu kamar Andi terbuka. Ia kira itu adalah Dinda yang kembali setelah pamitan membeli makanan. Tetapi ternyata itu bukanlah Dinda.
Di balik pintu itu, ada tiga orang laki-laki berwajah serius yang sekarang mendekatinya. Yang paling depan adalah laki-laki paruh baya yang berjalan dengan bantuan tongkat.
Salah satu dari dua orang di belakang laki-laki itu Andi ketahui sebagai Gilang, ayah dari Dinda, dan orang ketiga membawa sebuah koper kecil di tangannya. Kedatangan ketiga orang itu diiringi oleh sebuah pemberitahuan dari sistem.
[Ding]
[Modul sistem mendeksi bahwa saat ini ada bahaya yang mengancam keselamatan Host]
[Ding]
[Misi telah dibuat]
[Misi : Selamatkan dirimu dari bahaya ini dan tetap hidup]
[Hadiah : - +5 kekuatan, +5 stamina, +5 kelincahan, +5 kecepatan]
[Ding]
__ADS_1
[Selamatkan dirimu dan bertahanlah hidup Host]
Saat itu juga Andi tahu bahwa orang yang waktu itu Sistem maksud menginginkan kematiannya adalah ketiga orang ini. Ketika mereka datang, pemberitahuan bahaya langsung ia terima dari sistem.
“Ck, ck, ck.” Sahab mendecakkan lidahnya ketika melihat tubuh telanjang Andi.
“Aku tidak menyangka cucuku menikmati dulu tubuh korbannya sebelum membunuhnya.” Ucap Sahab sembari menggelengkan kepalanya.
Andi diam saja mendengar perkataan Sahab. Ia memandang lekat ketiga orang di depannya ini. Meski Andi tidak mau melihat Dinda untuk saat ini, tetapi ia sangat berharap perempuan itu ada di sini sekarang.
Setidaknya Dinda hanya terobsesi padanya dan tidak menginginkan nyawanya. Sedangkan ketiga orang ini, mereka adalah bahaya yang sesungguhnya yang perlu Andi hindari.
“Tetapi, itu bagus bukan. Sebelum Kamu mati, Kamu sudah menikmati nikmat dunia. Dengan begitu, Kamu tidak akan mati karena penyesalan.” Imbuh Sahab.
Sahab lalu memandang lekat ke arah wajah Andi yang sekarang sama sekali tidak menyembunyikan ekspresi seriusnya. Dia memandang Sahab dengan pandangan penuh kewaspadaan, seolah sudah tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
“Zero, berikan itu padaku.” Ucap Sahab tiba-tiba.
Mendengar perkataan Tuannya, Zero lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam koper yang ia bawa. Benda itu ternyata adalah sebuah cambuk. Zero lalu menyerahkan cambuk itu kepada Sahab.
Cambuk itu memiliki panjang satu setengah meter. Tali cambuk itu terbuat dari lilitan kulit dengan ujungnya terdapat beberapa besi tipis. Jika cambuk itu mengenai kulit seseorang, pasti kulit orang itu akan terkoyak.
Setelah menerima cambuk tersebut, Sahab lalu mencambukkannya ke udara. Terdengar bunyi yang cukup nyaring ketika Sahab melakukan hal itu.
Andi yang masih terikat itu merasa ngeri memikirkan cambuk itu nantinya akan mendarat di tubuhnya. Ia sama sekali tidak bisa melawan sekarang. Jadi, itu akan mudah saja bagi Sahab untuk menyiksa Andi.
Sahab bisa menangkap ekspresi takut yang Andi perlihatkan. Meskipun itu hanya sekilas, tetapi Sahab bisa mengetahuinya.
“Untuk orang sepertimu, yang berasal dari keluarga Prayudi, kematian langsung adalah sebuah kemewahan. Jadi, aku akan menyiksamu sampai Kamu berharap bisa segera mati.” Ucap Sahab dengan menunjukkan sebuah seringai jahat.
Tanpa basa basi lagi, Sahab langsung melayangkan sebuah cambukan di tubuh Andi. Sentuhan ujung cambuk dan tubuh Andi memberikan menghasilkan suara yang cukup nyaring. Langsung saja tubuh Andi yang terkena cambukan mengeluarkan darah.
Meski terkena cambukan seperti itu, Andi tidak lantas berteriak. Ia berusaha menahannya. Melihat hal itu, Sahab mengangguk pelan.
“Cukup bagus juga Kamu bisa menahan rasa sakit seperti itu. Tetapi, ini belum seberapa. Ini baru permulaan saja. Setelah ini aku akan memberikan banyak cambukan kepadamu.”
Sahab kembali melayangkan cambukan kepada Andi, dan seperti sebelumnya, pemuda itu berusaha tidak bersuara dan menahan rasa sakit ini hanya untuk dirinya. Namun, pertahanan Andi runtuh ketika Zero menuangkan air garam ke tubuhnya.
Entah dari mana laki-laki itu mendapatkannya, yang jelas dia menyiramkan seember penuh air garam ke tubuh Andi. Jelas air garam yang mengenai lukanya itu mmebuat Andi merasakan rasa perih yang tidak tertahankan.
“Arrgghh.”
“Akhirnya Kamu bersuara juga. Meski begitu aku tidak akan menghentikan cambukkanku. Aku akan menyiksamu hingga Kamu mati. Keluargamu yang lainnya juga akan merasakan hal yang sama dengan apa yang Kamu rasakan sekarang. Mereka akan aku siksa hingga mereka mati.” Ucap Sahab dengan lantang.
__ADS_1
Andi benar-benar berharap ada seseorang yang datang kemari dan menyelamatkannya sekarang. Meskipun itu Dinda, orang yang sudah menculiknya yang datang kemari, Andi tidak masalah. Yang jelas, Andi ingin penyiksaan ini selesai.