
Langit sudah menggelap. Malam itu sebuah penerangan di tempat Burhan berada hanya berasal dari cahaya rembulan. Burhan bergerak dengan penuh kehati-hatian. Laki-laki itu tidak mau ada yang tahu bahwa dia ada di sini.
Sekarang ini Burhan tengah menuju ke makam Kakeknya. Lokasi makam Kakeknya yang tidak jauh dari rumah keluarga Prayudi membuat Burhan melakukan hal itu.
Meskipun masa berkabung sudah selesai, tetapi masih ada beberapa anggota keluarga Prayudi yang tinggal dan tidak kembali ke kota mereka. Jadi, Burhan tidak mau ada anggota keluarga Prayudi yang melihatnya.
Ia tidak mau membuat keributan sekarang. Burhan hanya mau mengunjungi makam Kakeknya dengan tenang.
Setelah berhasil menyelinap ke area pemakaman keluarga Prayudi, Burhan langsung menuju ke makam Kakeknya. Sebelumnya Burhan sudah mengunjungi makam Kakeknya itu. Jadi meskipun kondisi saat ini remang-remang, Burhan masih bisa mengetahui di mana makam Kakeknya itu.
Burhan terdiam cukup lama sembari memandangi batu nisan dari Kakeknya itu. Batu nisannya masih belum diganti dengan batu marmer yang lebih bagus seperti yang ada di makam neneknya. Biasanya setelah seratus hari kematian baru batu nisan itu diganti.
“Hah.” Burhan menghembuskan nafas panjang untuk mengeluarkan segala kerisauannya. Laki-laki itu kemudian mengusap wajah lelahnya. Melakukan penyelidikan menyeluruh pada anggota Gang Macan Putih membuat energinya terkuras.
Burhan kemudian menggerakkan tangannya mengelus batu nisan milik kakeknya. “Sepertinya aku terkena karma karena sudah membuatmu marah hingga meninggal Kakek.” Ucap Burhan lirih.
Pandangannya masih tetap tertuju pada batu nisan Kakeknya. Burhan melakukan hal itu seolah-olah Kakeknyalah yang ada di sana, bukan batu nisan.
“Semua yang aku rencanakan, semua cita-citaku, sekarang diambang kehancuran Kakek. Apa aku memang sudah salah memilih jalan ini?” Tanya Burhan.
Tidak ada jawaban yang Burhan terima. Burhan sendiri pun tidak mengharapkan jawaban. Ia hanya ingin mengungkapkan keluh kesahnya saat ini.
Burhan ingat dulu waktu dirinya masih kecil, ia sering berkeluh kesah kepada Kakeknya. Kakeknya itu sering memberinya banyak nasihat dan Burhan mendengarkannya. Semua itu berubah ketika Burhan lulus sekolah.
Setelah lulus, ia merantau ke Surabaya. Di sana Burhan salah pergaulan. Dia berteman dengan para preman pasar. Bukannya mencari pekerjaan yang halal, Burhan malah bergabung dengan para preman untuk melakukan beberapa tindakan illegal.
Ketika mendapatkan sistem, pikiran pertama yang ada di kepala Burhan saat itu adalah membuat sebuah gang besar yang memiliki kekuasaan besar. Di saat muda ini juga Burhan bertemu dengan Mardi. Lalu Burhan mengajak Mardi bergabung dengan Gang Macan Putih yang ia dirikan.
Burhan kira dengan bantuan sistem, impiannya waktu itu bisa tercapai. Tetapi nyatanya itu hanya bertahan dalam waktu tiga bulan. Dulu Burhan pernah berpikir untuk membubarkan gangnya. Tanpa bantuan sistem, akan sulit bagi Burhan untuk mempertahankan gangnya.
Waktu itu banyak gang-gang besar yang bersaing di Surabaya. Pada akhirnya Burhan tetap bertahan. Itu semua karena kemampuan peretas yang ia miliki. Burhan akhirnya bisa membawa Gang Macan Putih menjadi gang terkuat di provinsi ini.
Tetapi, sekarang gang yang ia bangga-banggakan itu, akan diambil alih orang lain. Meski Burhan belum tahu siapa dalangnya, ia yakin tidak lama lagi itu akan terjadi.
Burhan sekarang ini hanya seperti pemimpin boneka saja. Yang orang tahu Gang Macan Putih di pimpin Burhan, tetapi kekuasaan dari Burhan di gang yang ia pimpin semakin berkurang.
“Sekarang apa yang harus aku lakukan kakek?” Tanya Burhan lagi.
__ADS_1
“Jika aku berhenti sekarang, masih adakah kesempatan bagiku kembali ke keluarga Prayudi?”
Burhan baru sadar sekarang bahwa dirinya benar-benar sudah melangkah semakin menjauhi keluarga Prayudi. Setelah semua yang ia lakukan, laki-laki itu tidak yakin keluarganya mau memaafkannya. Burhan sudah bisa menebak, akan cukup susah baginya untuk mendapatkan maaf dari mereka.
“Jika seperti itu, aku akan mencari cara untuk bisa menembus semua kesalahanku. Mungkin dengan semua yang akan aku lakukan nanti, mereka tidak juga akan memaafkanku. Tetapi hanya ini yang bisa aku lakukan.”
Setelah dua jam berdiam diri di makam Kakeknya, Burhan undur diri dari sana. Masih ada yang perlu ia lakukan untuk menebus semua kesalahannya. Ia harus menyiapkan semuanya agar semua rencanya berhasil.
*****
“Siji, bagaimana penyelidanmu tentang mereka? Apa hubungan di antara kedua orang itu?” Tanya Sang Penerus palsu kepada bawahannya.
“Pemuda bernama Andi itu memiliki hubungan yang cukup dekat dengan gadis dari keluarga Jayantaka.” Lapor nomer satu.
Mendengar penuturan dari bawahannya itu, rasa tidak suka tiba-tiba muncul di dalam hati Sang Penerus palsu. Ia menganggap itu terjadi karena dirinya memiliki kebencian kepada keluarga dari keduanya. Jadi, ia tidak menyukai kemungkinan keduanya bekerja sama.
“Sebelum ini, Andi sudah menyelamatkan Satrio ketika mengalami kecelakaan. Lalu Rama mengundang Andi untuk makan malam di rumah mereka. Jadi hubungan Andi dan keluarga Jayantaka cukup dekat.” Imbuh nomer satu.
“Jika saja waktu itu kalian bisa menyinkirkan Satrio, maka mereka tidak akan memiliki hubungan dekat.” Bentak Sang Penerus palsu.
Sebenarnya kecelakaan yang menimpa Satrio waktu itu bukanlah ketidak sengajaan. Tetapi sudah terencana dengan baik. Drone yang waktu itu jatuh memang sengaja di jatuhkan di depan mobil Satrio. Mereka berharap Satrio meninggal dalam kecelakaan tersebut.
Keadaan yang saat itu tiba-tiba hujan angin mendukung rencana mereka. Drone yang jatuh tersebut dianggap karena faktor alam. Tidak ada yang menyelidiki lebih jauh mengenai masalah tersebut.
Sayangnya, recana mereka gagal ketika ada yang menyelamatkan Satrio. Maka dari itu Sang Penerus palsu ini menyuruh keluarga Sasongko dan keluarga Sanjoyo untuk menghabisi anggota keluarga Wijoyokusomo dan keluarga Jayantaka.
Tetapi rencana yang sudah mereka susun rapi itu juga gagal. Semua itu berhubungan dengan orang yang namanya Andi. Kali ini pemuda itu membawa pergi ketiga anak dari keluarga Wijoyokusumo dan keluarga Jayantaka.
Gara-gara pemuda itu, semua rencana mereka berantakan. Tidak hanya penyelamatan yang dilakukan oleh Andi membuat kewaspadaan keluarga Wijoyokusumo dan keluarga Jayantaka meningkat, tetapi tindakan dari pemuda itu membuat kedua keluarga itu melakukan pembersihan di perusahaan mereka.
Sekarang, mata-mata mereka sudah disingkirkan dari perusahaan keluarga Wijoyokusumo dan keluarga Jayantaka. Dengan begini, akan sudah bagi mereka untuk memasukkan mata-mata baru.
Ini membuat semua rencana yang mereka susun berantakan. Jika ingin memperbaiki, mereka pasti akan menghabiskan waktu lebih lama lagi.
“Bagaimana jika kita singkar saja pemuda bernama Andi, Sang Penerus? Lagi pula, Andi itu ada hubungannya dengan target utama kita. Jadi, tidak masalah bukan jika kita menyingkirkan pemuda itu.” Saran nomer satu.
Mendnegar hal itu, kemarahan terpancar jelas di mata Sang Penerus palsu. Ia memandang tajam ke arah nomor satu yang masih berlutut kepadanya. Ia sangat tidak menyukai saran yang diberikan oleh nomor satu kepadanya.
__ADS_1
“Rupanya hukuman yang Kamu terima masih belum membuatmu kapok. Jangan memberikan saran yang bisa merusak rencanaku. Apa kamu lupa hal itu?” Bentak Sang Penerus palsu dengan keras.
“Maafkan bawahanmu yang lancang ini Sang Penerus.”
“Setelah ini, kembalilah ke rumah utama dan ambil hukumanmu. Cambuk dirimu seratus lima puluh kali.”
“Baik Sang Penerus.” Jawab nomor satu.
“Ingat jangan setuh pemuda bernama Andi itu. Aku memiliki rencana lain untuknya. Jadi, jangan sampai ide yang Kamu anggap membantu rencana kita, malah menghancurkan rencana kita.” Jelas Sang Penerus palsu.
“Sekarang pergilah dari sini.”
“Baiklah Sang Penrus.”
Setelah kepergian nomor satu, Sang Penerus palsu itu memandangi pemandangan jalanan Kota Surabaya dari apartemen yang ditinggalinya. Ia melamun cukup lama di sana.
Dua puluh menit kemudian, Sang Penerus palsu itu berjalan menuju meja yang ada di ruang tengah apartemennya. Sang Penerus palsu kemudian mengambil ponsel yang ada di sana. Lalu, ia menghubungi salah satu kontak miliknya.
Sambungan telfonnya tidak langsung terhubung begitu saja. Sang Penerus palsu itu menunggu cukup lama. Ketika panggilan itu hampir berakhir, panggilan tersebut terhubung.
“Hallo Andi.” Sapa Sang Penerus palsu.
“Hallo. Ada perlu apa kamu menelfon?”
Sang Penerus palsu bisa mendengar rasa lelah dari nada suara Andi. “Apakah aku mengganggumu sekarang?”
“Tidak-tidak Kamu tidak menggangguku sekarang. Memangnya ada apa?” Tanya Andi.
“Ah aku hanya ingin mengajakmu nongkrong bareng. Apakah kamu ada waktu untuk hal itu?” Tanya Sang Penerus palsu.
“Aduh maaf sekali. Kali ini aku nggak bisa. Aku sudah memiliki beberapa kesibukan sekarang. Bagaimana jika aku selesai dengan segala urusanku, aku akan menghubungimu lagi. Kita akan nongkrong bareng lagi.”
Rasa kecewa terbesit di mata Sang Penerus palsu. Tetapi, ia buru-buru menghapusnya. “Ah sayang sekali. Baiklah aku tidak akan mengganggumu lagi. Lain kali ketika kamu senggang kita bisa nongkrong bareng.”
Setelah itu, Sang Penerus palsu itu memutus panggilan di antara mereka. Kini pandangan matanya tertuju pada deretan action figure yang tertata rapi di rak yang ada di ruang tengah.
“Semoga saja rencanaku bisa berhasil.” Gumamnya.
__ADS_1