
Setelah pesawat yang keluarganya naiki mengudara, Andi dan keluarganya yang lain kembali pulang. Mereka masih perlu mematangkan kembali rencana mereka. Rumah utama adalah pilihan mereka dalam melakukan hal ini.
Di halaman belakang rumah utama, sudah ada Burhan yang menunggu mereka. Memang laki-laki itu tidak mengikuti mereka menuju ke bandara. Jadi, Burhan langsung menuju ke rumah utama.
Di depan laki-laki itu kini terdapat beberapa kertas yang terlihat berserakan. Andi sendiri tidak tahu apa isi dari kertas-kertas tersebut. Yang jelas, Burhan saat ini memandangi kertas-kertas itu dengan tatapan yang cukup serius. Bahkan kehadiran mereka tidak juga menggangggu konsentrasi laki-laki itu.
Konsentrasi Burhan terbuyarkan ketika Harmuji menepuk pundaknya. Burhan sedikit kaget dengan hal itu. Ia bahkan berniat menyerang siapa pun itu yang menyentuhnya. Tetapi, ketika melihat itu adalah Harmuji, Ayahnya sendiri, Burhan membatalkan serangannya itu.
Mungkin selama delapan belas tahunan hidup sebagai preman membuat Burhan lebih awas dengan sekitarnya. Ia akan menyerang siapa saja yang sudah mengganggu konsentrasinya. Itu adalah mekanisme otomatis yang dimiliki oleh tubuh Burhan.
“Oh ternyata itu Ayah.” Ucap Burhan.
Laki-laki itu lalu mengedarkan pandangannya ke sekitarnya. Semua anggota keluarga Prayudi yang akan tinggal untuk menghadapi pertempuran keluarga mereka, sudah berkumpul sekarang. Semuanya adalah laki-laki yang memiliki kemampuan bela diri.
Termasuk dengan Burhan, ada lima belas anggota keluarga Prayudi yang tinggal. Sebenarnya, Harmuji dan Haryanto sudah diminta juga untuk bersembunyi. Namun, keduanya kekeh tidak mau pergi.
Mereka beralasan umur mereka sudah cukup tua. Jadi semisal terjadi apa-apa kepada mereka nanti, mereka berdua sudah menerimanya. Harmuji dan Haryanto sudah menikmati hidup ini cukup lama. Tidak masalah jika memang mereka akan gugur dalam misi kaliini.
“Kalian sudah datang rupanya. Apakah semuanya sudah berangkat?” Tanya Burhan.
“Ya, semuanya sudah berangkat. Paling lambat besok sore mereka semua akan sampai di tujuan mereka.” Jelas Bagas.
“Baiklah. Kita mulai saja semua ini.” Jelas Harmuji.
Mendengar perkataan Harmuji, Burhan lalu membagikan beberapa kertas di depannya kepada yang lainnya. Setiap orang membawa satu tumpukan kertas yang di jepret menjadi satu.
“Apa ini?” Tanya Aripto.
“Itu adalah nama dari beberapa target kita yang berhasil aku selidiki. Kalian pelajari dengan baik wajah dan kemampuan mereka. Aku memang belum bisa mengungkap seluruh musuh kita. Tetapi, ini akan sangat membantu kita dalam menghindari masalah.” Jelas Burhan.
Mendengar hal itu, yang lain pun ikut fokus pada kertas di depan mereka. Begitu pun dengan Andi. Ia membaca satu persatu deskripsi dari musuh mereka yang sudah dibuat oleh mereka.
__ADS_1
Andi tidak hanya menghafal wajah dari musuh mereka. Ia juga menghafal tinggi badan, ukuran sepatu dan ciri-ciri khusus lainnya.
Masalah wajah, seseorang bisa saja memakai riasaan wajah untuk mengubah wajah mereka. Apalagi sekarang ada silikon yang bisa membantu merubah wajah seseorang.
Mereka tinggal memasang silikon di dagu, pipi, dan hidung, itu saja sudah mengubah bentuk wajah mereka. Dengan ditambah rambut palsu akan sulit untuk mengenali seseorang.
Tetapi itu berbeda dengan tinggi badan dan ukuran sepatu. Terkadang orang yang tengah menyamar melupakan hal sepele seperti ini. Seseorang bisa dikenali tidak hanya dengan wajahnya saja, tetapi juga bisa melalui postur tubuh dan ukuran sepatunya. Jadi, Andi perlu mempelajari hal itu.
Burhan hanya memberikan lima informasi mengenai musuh mereka. Meski sedikit, tetapi itu bisa memberikan mereka pemahaman yang cukup untuk mengenali musuh mereka.
Siapa pun yang berada di dekat kelima orang ini, dan melakukan banyak interaksi dengan mereka, maka orang itu juga musuh mereka. Setelahnya, mereka bisa dengan mudahnya menghindari bahaya dengan mewaspadai orang-orang itu.
“Aku sudah memberitahu anak buahku untuk menyiapkan pesta perpisahanku. Setelah aku pikir lebih matang, kita tidak bisa melakukannya akhir bulan ini, terlalu mepet waktunya. Minggu depan adalah waktu tepat. Jadi, kita akan melakukannya minggu depan.” Jelas Burhan.
Apa yang dikatakan Burhan ada benarnya. Sekarang sudah tanggal dua puluh sembilan. Jadi, jika mereka melakukannya akhir bulan ini, itu terlalu mepet. Mereka tidak akan punya cukup waktu untuk mematangkan rencana mereka.
“Itu lebih baik lagi Om. Jadi kita bisa lebih mematangkan rencana kita. Lalu, bagaimana persiapan di pihak Om Burhan? Apa tanggapan dari anak buah Om Burhan, terutama mereka yang sudah berhianat?” Tanya Andi kepada Burhan.
“Berarti apa yang kita lakukan ini sudah menarik perhatian musuh. Ini bagus. Dengan begitu kita bisa menyerang mereka ketika mereka ketika mereka lengah.”
“Tentu saja Mas Dayu. Itu jelas sudah menarik perhatian musuh. Sebelum ini aku menghilang dan anak buahku tidak bisa menemukanku. Sekarang, ketika aku kembali, tiba-tiba saja aku memberitahu bahwa aku akan pensiun.”
“Jelas hal ini akan menarik perhatian musuh. Kita perlu memakai kesempatan ini dengan baik. Mungkin musuh juga sedang mempersiapkan rencana besar mereka juga.” Jelas Burhan.
“Bagaimana dengan lokasinya? Apakah Kamu sudah menentukan lokasinya pertemuannya?” Tanya Haryanto.
“Sudah Paman. Itu akan dilakukan di salah satu rumahku yang ada di Surabaya. Nantinya, para keponakanku akan menyamar menjadi pelayan di pesta itu. Lalu, yang lainnya akan berpura-pura menjadi tamu di sana.”
Itu adalah penyamaran yang cukup baik. Andi dan sepupunya yang lain pantas jika berperan sebagai pelayan. Jelas yang diundang di sana adalah mereka yang berasal dari dunia bawah. Tidak mungkin Andi dan para sepupunya memiliki kedudukan tinggi dan pantas untuk menghadiri acara itu.
Lalu untuk yang lain, Burhan bisa mengatakan bahwa mereka adalah pimpinan gang kecil dari provinsi lain. Tidak sulit bagi mereka melakukannya.
__ADS_1
“Bagaimana dengan senjata mereka Om? Apakah mereka memiliki senjata api?” Tanya Andi.
Akan lebih berbahaya lagi jika musuh memiliki senjata api. Meski mereka memiliki kemampuan bela diri, sulit bagi mereka untuk menghindari peluru yang melesat dari senjata api.
Jika musuh hanya memakai tajam, mereka masih bisa mengatasinya. Kebanyakan dari senjata tajam hanya dapat membahayakan dalam jarak dekat. Sedangkan senjata api, dari kejauhan pun bisa membahayakan mereka.
Mendengar pertanyaan Andi, semua yang ada di sana terdiam. Jumlah mereka cukup sedikit. Hanya lima belas orang. Meski ditambah dengan pengawal Andi yang ikut dalam misi ini, jumlah mereka tidak lebih dari seratus. Musuh mereka berkali-kali lipat dibandingkan mereka.
Mereka saja sudah kalah jumlah, dan sekarang ada kemungkinan mereka juga akan kalah dalam persenjataan. Jika begini, akan cukup sulit bagi mereka mengalahkan musuh mereka kali ini.
“Mereka memiliki senjara api. Meski tidak semuanya, tetapi banyak di antara musuh kita memiliki senjata api.”
Ucapan burhan barusan seakan menuangkan air es ke kepala semua orang yang ada di sana. Jika begini, bagaimana mereka memenangkan pertarungan ini?
Burhan seakan tahu bahwa keluarganya yang lain mulai khawatir saat ini. Cukup berat memang bagi mereka untuk menang. Tetapi, meski kalah jumlah Burhan tidak meyerah begitu saja. Ia masih memiliki solusi mengenai hal ini.
“Kalian jangan khawatir seperti itu. Kita belum kalah. Apakah kalian sudah menyerah duluan bahkan sebelum pertarungan dimulai?”
“Lalu apa yang harus kita lakukan? Musuh-musuh kita ini memiliki senjata api, sedangkan kita hanya tangan kosong. Bagaimana kita bisa memenangkan pertarungan ini?” Tanya Darto.
“Tentu saja dengan menghancurkan akarnya. Pesta itu hanya pancingan untuk mereka. Ingat target utama kita masihlah orang dari keluarga penghianat itu.”
“Jadi, selama persiapan pesta itu, kita tidak boleh tinggal diam. Kita akan mencari tahu siapa dalang di balik semua ini dan menggagalkan semua rencannya. Dengan begitu, kita tidak perlu secara langsung mengkonfrontasi semua anak buah musuh kita itu.” Jelas Burhan.
“Aku sudah memiliki titik temu. Musuh kita ini sering melakukan pertemuan di salah satu gedung apartemen. Jadi, kita bisa mulai menyelidiki dalang di balik semua ini dari sana. Kita akan membagi beberapa tim untuk melakukan pengawasan ini.” Imbuh Burhan.
Selama menyelidiki kelima orang yang informasinya ia bagikan kepada keluarganya tadi, Burhan menemukan hal ini. Seminggu sekali mereka berlima berkumpul di gedung tersebut.
Kelima orang tersebut melakukan pertemuan di lantai tertinggi gedung. Perlu sebuah kartu akses khusus untuk bisa ke sana.
Burhan yakin, selama pertemuan itu, dalang di balik semua rencana ini juga ada di sana. Sayangnya, Burhan belum menemukan keberadaan orang lain selain kelima orang tersebut.
__ADS_1