
Jam menunjukkan pukul setengah delapan malam ketika Andi keluar dari perusahaan game miliknya. Tadi pagi dirinya menyerahkan coding untuk pembuatan game MOBA kepada Dimas. Sepupunya itu langsung bersemangat setelah mengetahuinya.
Dengan Andi menyerahkan coding untuk game tersebut, itu berarti mereka sudah menyelesaikan enam puluh persen dari pekerjaan mereka. Yang perlu mereka lakukan adalah membuat karakter untuk game mereka dan melakukan beberapa konfigurasi untuk melengkapi game mereka.
Setelah game kartu milik mereka cukup berhasil, Dimas langsung saja bergerak untuk mengerjakan projek keduanya ini, game MOBA. Ini karena nama perusahaan mereka sudah mulai dikenal. Jadi, sebelum ketenaran mereka mereda, mereka akan mengeluarkan game MOBA ini.
Oleh karena itu hari ini mereka memilih lembur. Meski Andi melarang mereka, tetap sana Dimas dan yang lainnya lembur. Alhasil, Andi juga memilih melakukan pekerjaannya di sini. Karena lembur itulah Andi baru pulang sekarang.
Ketika Andi berjalan keluar dari gedung perkantorannya, ia merasakan alarm peringatan bahaya pada otaknya. Tidak hanya itu, pemberitahuan yang diberikan oleh sistem menambah perasaan dalam bahaya yang ia rasakan. Keringat dingin pun mengalir di pungungnya.
[Ding]
[Modul sistem mendeksi bahwa saat ini ada bahaya yang mengancam keselamatan Host]
[Ding]
[Misi telah dibuat]
[Misi : Selamatkan dirimu dari bahaya ini dan tetap hidup]
[Hadiah : - +5 kekuatan, +5 stamina, +5 kelincahan, +5 kecepatan]
[Ding]
[Bertahanlah hidup Host, misi utamamu belum benar-benar selesai]
Mendengar pemberitahuan itu, Andi langsung mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya dengan penuh kewaspadaan. Ia ingin tahu bahaya apa yang tengah mengintai dirinya. Dari mana asalnya bahaya tersebut?
Belajar dari pengalaman, Andi tidak bisa memakai mobilnya sekarang. Meski Andi bisa memanggil anak buahnya dan menyuruh mereka menjemputnya dengan mobil baru, ia tidak mau melakukannya. Andi tidak akan pergi dari sini sebelum dirinya tahu bahaya apa yang sekarang ini menantinya.
Mungkin bahayanya berada di sini, mungkin juga ia akan menghadapi bahaya tersebut dalam perjalanan pulang. Jadi, Andi tidak mau mengambil resiko. Sebelum sistem memberitahu bahwa dirinya aman, Andi tidak akan bisa tenang.
Ini yang menjadi taruhan adalah nyawanya. Bukan patah tulang yang bisa diperbaiki dengan melakukan operasi. Bukan pula kehilangan darah yang masih bisa tertolong dengan transfuse darah. Ini adalah nyawa.
__ADS_1
Ada kemungkinan bahaya ini akan mengambil nyawanya dalam sekejap sebelum Andi mendapatkan pertolongan.
“Dari mana datangnya bahaya itu?” Gumam Andi dalam hati.
Sepuluh menit Andi tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Tidak lama kemudian, Andi melihat kedatangan laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahunan.
Laki-laki itu memakai kemeja berwarna hijau army dengan celana berwarna hitam. Rambutnya terlihat acak-acakan, bajunya sedikit lusuh, sedangkan jas miliknya, ia pegang sembari sedikit mengayun-ayunkannya.
Jika orang lain yang melihat laki-laki itu, pasti mereka akan berpikir bahwa laki-laki itu adalah salah satu karyawan dari perusahaan yang berkantor di gedung ini, dan sepertinya dia tengah menjalankan lembur melihat ekspresi lelah yang ditunjukkannya.
Tetapi, Andi tidak berpikir ke arah sana. Dirinya merasakan bahaya sebelum ini dan juga pemberitahuan dari sistem yang membuatnya meningkatkan kewaspadaaan. Siapa pun orang yang tidak dikenalinya, pasti akan Andi curigai.
Apalagi jas yang dipegang oleh laki-laki itu. Bisa saja ia menyembunyikan senjata tajam. Bukannya Andi bersikap paranoid, ini adalah sikap waspadanya dalam menghadapi ancaman bahaya.
“Mas satpam gedungnya di mana ya? Aku hari ini mau lembur. Mau kasih tahu satpam biar mereka nggak ngunci pintunya.” Ucap laki-laki itu ketika berjarak lima meter dengan Andi.
Ketika berbicara, laki-laki itu sama sekali tidak berhenti berjalan. Ia tetap melangkah mendekat ke arah Andi. Hal itu membuat Andi memasang tubuh siap sedia. Ia melepaskan jas yang ia pakai karena ini nanti akan sedikit mengganggu perterungan yang akan ia jalani.
“Kalo Mas memang kerja di sini, pasti Mas sudah tahu bahwa di gedung ini semua akses masuk di kunci pada jam sepuluh malam. Jadi, jika Mas memang berniat lembur, lembur saja dan pulang nanti sebelum jam sepuluh. Bukankah Mas bisa melakukan hal itu?”
Melihat Andi yang mundur seperti itu, laki-laki itu mengerutkan keningnya.
‘Hem… apa dia sudah menyadari sesuatu? Kalau begini, tidak ada gunanya lagi aku berpura-pura.’ Gumam laki-laki dalam hati.
Langsung saja laki-laki itu mengambil sebuah ancang-ancang. Ia lalu berlari ke arah Andi. Tangan yang ia pakai untuk memegang jas, kini terangkat ke atas. Jas tersebut pun terjatuh, dan dibalik jas itu terdapat sebuah pisau yang memantulkan cahaya lampu ketika muncul.
‘Ini benar-benar seperti dugaanku. Siapa orang ini sebenarnya? Kenpa dia ingin mencelakaiku? Aku tidak bisa kehilangan fokusku sekarang.’ Gumam Andi dalam hati.
Ia masih harus memusatkan fokusnya pada pertarungan yang akan dilakukannya ini. Laki-laki di depannya ini membawa senjata sedangkan dirinya tidak. Jika begini, maka dirinya perlu ekstra hati-hati. Salah sedikit, pisau itu akan mengenai tubuhnya.
Laki-laki itu mengarahkan pisau ditangannya ke dada sebelah kiri Andi. Jantung Andi adalah tujuan utama dari laki-laki itu. Jika pisau ini berhasil menusuk jantung Andi, maka ia akan mati dengan cepat. Dengan begitu, tujuannya akan segera tercapai.
Andi tentu saja tidak membiarkan hal itu terjadi. Ia bergerak secepat mungkin menghindar. Namun, jarak mereka yang terlalu dekat tidak memungkinkan bagi Andi menghindari pisau tersebut. Meskipun pisau tersebut tidak mengenai dadanya, tetapi pisau itu berhasil menancap di lengan kirinya.
__ADS_1
Andi tidak terlalu merasakan rasa sakit ketika hal itu terjadi. Namun, ketika laki-laki di depannya ini mencabut pisau itu, rasa nyeri pun menyerang lengan kirinya. Andi bisa merasakan darah mengalir pada lengan kirinya.
Meski laki-laki itu gagal tetapi Andi belum sepenuhnya terhindar dari maut. Pisau itu masih berada di tangan laki-laki itu. Sekarang ini saja dia kembali mengarahkan pisaunya ke arah Andi. Sekarang yang menjadi targetnya adalah perut Andi.
Melihat hal itu, Andi langsung melompat mundur. Sekarang pisau itu tidak berhasil mengenai tubuh Andi. Hanya kemejanya saja yang sedikit robek terkena ujung pisau. Itu berarti pisau yang dibawa laki-laki itu cukuplah tajam.
Tidak lama kemudian, Andi bisa mendengar derap langkah kaki yang mendekat ke arah mereka. Andi bisa menebak siapa itu. Kemungkinan itu adalah pengawalnya. Memang Andi sendiri yang menyuruh mereka menunggu di luar gedung dan tidak mengikuti kemana pun Andi pergi.
Jadi, mereka baru datang sekarang. Kemungkinan mereka curiga karena Andi tidak juga segera mendatangi mereka setelah mereka menerima informasi bahwa Andi akan segera ke sana. Juga, keributan yang terjadi karena pertarungan mereka membuat para pengawal Andi bergegas kemari.
Suara langkah kaki itu membuat laki-laki di depan Andi merasa cemas. Jika orang-orang datang dan membantu Andi, jelas akan sulit baginya menghabisi pemuda ini. Maka dari itu, ia harus begerak cepat untuk membunuh Andi.
Andi bisa melihat perubahan emosi pada lawan di depannya ini. Jika begini, pertarungan mereka akan semakin sulit. Andi pun menggunakan seluruh kekuatannya sekarang. Ketika laki-laki kembali mengarahkan pisaunya, Andi menghindar.
Bersamaan dengan tubuhnya yang menghindar, Andi menggunakan tangan kirinya untuk memegang pergelangan tangan milik laki-laki di depannya yang saat ini membawa pisau. Ia pun menekan pergelangan tangan itu dengan keras hingga terdengar suara seperti tulang yang patah.
Meski begitu, laki-laki itu tidak berteriak. Apa yang Andi lakukan kepadanya seolahtidak memberikan rasa sakit sama sekali. Tetapi, menjatuhkan pisau yang dipegangnya. Dengan begini, Andi bisa menghindari ancaman bahaya yang diberikan oleh pisau itu.
Lalu, Andi menendang pisau itu sejauh mungkin dari tempat mereka berada. Dengan begini, laki-laki ini tidak akan memiliki kesempatan untuk mengambil pisau itu. Tidak hanya itu saja, Andi kemudian menggunakan tangan kanannya untuk melayangkan beberapa kali tinjuan ke arah perut laki-laki itu.
Setelah cukup puas membalaskan rasa sakit di lengannya. Andi langsung bergerak cepat melakukan kuncian agar lak-laki itu tidak bisa kabur. Badan laki-laki itu tersungkur di tanah dengan kedua tangannya dipegang erat oleh Andi di punggungnya.
Itu adalah pemandangan yang para pengawal Andi lihat ketika mereka sampai dilokasi kejadian.
[Ding]
[Misi selamatkan dirimu dari bahaya dan tetap hidup telah selesai]
[Hadiah telah disimpan di penyimpanan sistem]
[Host hanya perlu menginformasikan sistem ketika sudah siap untuk menerima hadiah]
[Selamat telah lolos dari maut Host]
__ADS_1
Andi langsung bisa bernafas lega setelah mendengar peberitahuan dari sistem. Ini berarti, laki-laki yang berniat melukainya ini tidak membawa rekannya. Sekarang, tinggal mengurusi dampak dari kejadian ini.