Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 156 Burhan dan Kakek Buyut Adipramana (2)


__ADS_3

Jangan lupa Vote, Like, Komen dan tambahkan favorit


selamat membaca


Adipramana harus berusaha sebaik mungkin menjauhkan Burhan dari Andi. Ia tidak tahu apakah makluk tersebut bisa dipindah tangankan. Yang jelas, Burhan tidak boleh sampai tahu bahwa makluk itu bersama dengan Andi sekarang.


Jika hal itu terjadi, maka akan ada perkelahian di antara mereka. Adipramana takut perkelahian itu berubah serius dan menjadi sebuah perkelahian yang memakan korban. Adipramana tidak mau keturunannya berkelahi hingga terjadi pertumpahan darah.


Anggota keluarga Prayudi mulai banyak sekarang. Jika sampai terjadi pertumpahan darah di antara mereka, itu akan membuat jumlah anggota keluarga mereka semakin menurun. Dulu anggota keluarga mereka menurun jumlahnya karena menjadi korban pembantaian. Adipramana tidak mau itu terulang apalagi itu karena perkelahian antar anggota keluarga.


“Apa maksudmu? Aku tidak paham dengan apa yang Kamu bicarakan. Sistem apa memangnya yang kamu maksudkan?” Adipramana mencoba mengelak dan berpura-pura tidak memahami apa yang Burhan ucapkan.


“Jangan mengelak lagi Kakek. Aku sudah mengetahuinya. Keluarga kita memiliki hubungan dengan sistem. Dan sekarang, sistem itu berada di tangan Andi anak dari Aripto bukan? Jika tidak begitu, bagaimana bisa bisninya maju seperti sekarang?”


“Dia bahkan sudah menyewa orang asing sebagai pengawal. Dari mana dia mendapatkan uang sebanyak itu untuk membayar para pengawal itu jika dirinya tidak memiliki sistem?” Cerca Burhan.


Adipramana cukup kaget mendengar ucapan Burhan barusan. Dari ucapan Burhan barusan, Adipramana menangkap bahwa Burhan sudah mengetahui bahwa makhluk tersebut sekarang ada pada Andi. Ini cukup gawat.


Adipramana harus mengelak semua ini perkataan Burhan tadi. Mungkin saja dirinya bisa mengelabuhi Burhan dan membuat cucunya itu tidak lagi mencurigai Andi.


Tetapi, Burhan sudah melihat ekspresi kaget dari Adipramana barusan. Meski kakeknya itu menolak sekalipun, Burhan sudah mendapatkan jawaban atas kecurigaannya. Keluarganya memang ada hubungannya dengan sistem. Dan sekarang, sistem tersebut ada bersama dengan Andi.


“Ah rupanya Kakek sudah tahu bahwa sistem itu ada di tangan Andi. Bagus sekali. Jika begini, aku tinggal menemui anak ingusan itu untuk kembali meminta sistem tersebut. Bagaimana pun juga, aku yang lebih dulu mendapatkan sistem tersebut. Jadi, aku hanya meminta kembali apa yang sebelumnya menjadi milikku.” Ucap Burhan.


Setelah berucap demikian, Burhan berniat pergi dari rumah Kakeknya. Ia berniat menemui Andi dan meminta keponakannya itu mengembalikan sistem miliknya. Setelah delapan belas tahun lebih, sudah sewajarnya sistem itu kembali kepada pemiliknya.


“Kau tidak bisa melakukan itu Burhan. Aku melarangmu melakukannya.”


Burhan berhenti sejenak. Tanpa menolehkan pandangannya ke arah Adipramana, ia merespon perkataan kakeknya itu.


“Kakek tidak bisa melarangku mengenai hal ini. Aku yang mendapatkan sistem itu terlebih dahulu. Sekarang, kamu bilang melarangku untuk mengambilnya? Aku tidak akan mau Kakek.” Jawab Burhan.

__ADS_1


“Siapa bilang kamu adalah yang pertama?”


Setelah Burhan mendengar perkataan Adipramana, ia menghentikan langkah kakinya yang berniat pergi. Apa maksud dari Kakeknya yang mengatakan bahwa dirinya bukanlah yang pertama kali mendapatkan sistem tersebut. Jika demikian, siapa saja yang sebelumnya mendapatkan sistem tersebut.


“Apa maksduk Kakek?” Kini Burhan membalikkan badannya dan manatap Kakeknya dengan pandangan penuh selidik.


Adipramana menarik nafas panjang. Sebenarnya dirinya sama sekali tidak memiliki niatan untuk membuka rahasia mengenai makhluk lain yang menjalin hubungan dengan leluhur mereka. Menurut Adipramana, lebih baik hanya sedikit orang saja yang mengetahui mengenai hal ini.


Dari semua keturunannya, yang mengetahui keberadaan makhluk lain itu hanya Andi seorang. Ternyata sekarang itu bertambah dengan adanya Burhan. Namun, hal ini tidak dapat Adipramana hindari lagi. Sepertinya Adipramana perlu memberitahukan hal ini kepada anak-anaknya.


Dari sudut matanya, Adipramana melihat tiga orang laki-laki datang mendekat ke arahnya. Mereka adalah kedua anak laki-lakinya yang terlihat membopong cucu tertuanya berjalan pelan ke arahnya. Sepertinya rahasia keluarga ini tidak bisa lagi ia simpan sendirian.


“Kalian mendekatlah. Ada sesuatu yang perlu aku ceritakan mengenai asal usul keluarga kita.” Ucap Adipramana.


“Asal usul apa Ayah? Aku tidak paham maksdumu?” Hartanti yang sedari tadi diam, kini bertanya kepada Adipramana.


“Tunggu kedua kakakmu datang kemari. Setelah itu, aku akan memberitahu kalian mengenai hal ini.”


Jadi, Burhan ingin mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi. Siapa sebenarnya keluarga Prayudi sehingga dirinya dan Andi bisa memiliki sistem? Burhan perlu mengetahui semua itu hingga tuntas untuk menjawab rasa pensarannya selama ini.


Ketika datang, Harmuji memandang Burhan penuh dengan amarah. Ia ingin memarahi anaknya lagi. Tetapi ayahnya terlihat ingin membicarakan sesuatu hal yang serius dengan mereka. Jadi, Harmuji menahan amarahnya untuk saat ini.


Setelah semuanya datang dan duduk di tempat yang nyaman, Adipramana memulai ceritanya. Ia mengawalinya dengan menceritakan siapa leluhur mereka sebenarnya. Ia menceritakan bagaimana leluhur mereka melakukan kontak dengan makhluk lain.


Pada intinya, Adipramana mengulang apa yang sudah ia ceritakan kepada Andi dua minggu yang lalu. Adipramana melihat betapa seriusnya anak dan cucunya mendengarkan ceritanya ini. Mereka sepertinya tidak mau melewatkan detail dari cerita yang Adipramana ceritakan mengenai leluhur mereka.


Ketika dirinya sampai pada cerita mengenai nasib yang menimpa keluarga Prayudi di masa Kakaknya, Arganta, menjadi sang penerus, Adipramana bisa melihat kemarahan di wajah anak cucunya. Mereka sepertinya cukup murka dengan apa yang menimpa keluarga mereka.


Jika saja Arganta dan Adipramana tidak selamat dalam pembantaian itu, maka keluarga Prayudi akan benar-benar berakhir. Sekarang ini, orang yang tersisa dan memiliki darah Prayudi hanyalah mereka yang berasal dari garis keturunan Adipramana. Selain itu tidak ada lagi.


Setelah selesai menceritakan hal tersebut, Adipramana kemudian memandang ke arah Burhan. Ia kemudian menarik nafas panjang sebelum pada akhirnya mengatakan kekhawatirannya kepada Burhan.

__ADS_1


“Aku rasa makhluk tersebut meninggalkanmu karena tujuanmu tidak murni. Tujuan yang ingin kamu capai melenceng sangat jauh dari tujuan yang ingin dicapai oleh leluhur kita. Jadi, makhluk itu tidak lagi mau menjalin hubungan denganmu. Kalian sudah tidak cocok.”


Burhan hanya terdiam setelah medengar semua penjelasan Adipramana. Ia tidak menyangka bahwa keluarganya memiliki sejarah seperti itu. Mendirikan kembali sebuah kerajaan untuk mewujudkan impian leluhur mereka?


Jika dilihat, memang impian yang Burhan ingin sangat jauh dari impian leluhurnya. Leluhurnya ingin membuat kerajaan makmur dan melindungi rakyatnya. Tetapi apa yang Burhan lakukan selama ini sama sekali tidak mencerminkan impian leluhurnya itu.


Bahkan, saat ini dirinya memperjual belikan obat-obatan terlarang yang jelas saja merusak masa depan generasi penerus. Sudah jelas sistem yang bisa mengetahui pemikiran Burhan meninggalkannya dan lebih memilih mengikuti Andi.


“Aku rasa, rencana yang ingin kamu capai dengan meminta makhluk kembali padamu tidak akan pernah tercapai. Selama tujuanmu masih seperti itu makhluk jelas tidak akan mau kembali.”


“Dan aku tidak mau terjadi perkelahian yang menyebabkan pertumpahan darah di keluarga kita. Aku sudah susah payah menjaga agar keluarga Prayudi tidak punah. Aku tidak mau alasan kepunahan keluarga kita adalah pertarungan antar saudara.”


Memang benar sepertinya kemungkinan besar sistem tidak akan kembali kepadanya. Tetapi meski Adipramana menjelaskan semua itu dan melarangnya meminta kembali sistem itu dari Andi, Burhan akan tetap melakukannya. Tidak ada salahnya mencoba bukan.


Tetapi, setelah mendengar bahwa keturunan Prayudi hanya tinggal keturunan yang berasal dari Kakeknya, membuat Burhan berjanji pada dirinya sendiri. Ketika dirinya meminta sistem itu dari Andi, ia tidak akan menggunakan kekerasan berlebihan, apalagi sampai ada pertumpahan darah.


Bagaimana pun juga, Burhan tidak mau diangap sebagai pendosa yang mengakibatkan keluarganya punah. Ia masih membutuhkan keluarga Prayudi kedepannya. Jika nanti dirinya pensiun dari dunia premanisme, siapa yang akan merawatnya kelak?


Burhan lalu berdiri dari tempat duduknya. “Seberapa keras Kakek melarangku, aku akan tetap meminta apa yang seharusnya menjadi milikku dari tangan Andi.”


“Leluhur kita ingin mendirikan kembali kerajaan mereka bukan? Akan aku wujudkan hal itu dengan mendirikan sebuah kerajaan di dunia bawah. Jika aku memiliki sistem itu kembali, maka aku akan lebih cepat mendirikan kerajaan di dunia bawah.”


“Bagaimana pun juga, aku sudah memiliki pondasi yang kuat daripada Andi yang hanya anak kemarin sore. Jadi, jangan lagi melarangku.”


Setelah berucap demikian, Burhan bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan pergi dari rumah kakeknya tanpa mempedulikan teriakan dari tetua di keluarganya.


“Berhenti di situ kamu Burhan. Sudah aku bilang kamu tidak bisa melakukannya.” Teriak Adipramana.


Tetapi Burhan menulikan telinganya. Ia mempercepat langkah kakinya agar bisa segera pergi dari rumah Kakeknya itu. Ia sudah mengetahui informasi mengenai hubungan sistem dan keluarganya. Jadi, dirinya tidak lagi memiliki urusan di sini.


Yang tidak burhan ketahui, setelah kepergiannya Adipramana jatuh pingsan. Hal itu membuat empat orang lainnya yang ada di sana kebingungan. Segera saja mereka memanggil ambulance untuk menyelamatkan Adipramana.

__ADS_1


__ADS_2