Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 165 Pertemuan dengan Sang Penerus (2)


__ADS_3

Tempat pertemuan yang mereka dilakukan di sebuah apartemen mewah. Ketika sampai di lobby apartemen tersebut, rombongan keluarga Hermawan bertemu dengan rombongan keluarga Macel. Kedua pemuda itu saling bertukar pandangan.


Sementara para orang tua mengobrol dan berbasa basi, keduanya menepi untuk membicarakan urusan anak muda. Ada hal yang ingin Marcel tanyakan kepada Hermawan. Karena sekarang mereka bertemu, sekalian saja ia menanyakan hal ini kepada Hermawan.


“Aku tidak menyangka ternyata Kamu berhasil mendapatkan Rosalinda setelah bersaing cukup lama denganku.” Ucap Marcel kesal.


Semingu ini Marcel melihat dengan matanya sendiri bagaimana Rosalinda mengikuti kemana pun Hermawan pergi. Marcel juga melihat bagaiamana Hermawan memamerkan kemesraan mereka dengan merangkul pinggang Rosalinda selama ada kesempatan.


Melihat itu semua Marcel marah. Ia masih tidak terima dirinya kalah dari Hermawan dalam memperebutkan Rosalinda. Menurut Marcel, jika dilihat dari tampang dan identitas mereka, dirinya tidak jauh berbeda dari Hermawan.


Jadi apa yang kurang darinya yang dimiliki oleh Hermawan sehingga membuat Rosalinda memilih laki-laki itu? Beberapa hari dirinya memikirkan hal itu. Tetapi, Marcel belum juga menemukan jawaban atas pertanyaan itu.


Hermawan hanya mengangkat kedua bahunya. “Jangan salahkan aku. Pesonaku lebih kuat daripada pesonamu. Maka dari itu, Rosalinda lebih memilihku daripada dirimu.”


Mungkin Hermawan bisa meluapkan kekesalannya kepada Marcel. Bukankah pemuda itu sering terbawa emosinya dan tidak berpikir jauh? Jika nanti Hermawan bisa mmebuat Marcel emosi, bisa saja nanti ketika mereka bertemu dengan orang yang dipanggil sebagai Sang Penerus itu, Marcel tidak bisa menempatkan dirinya.


Bukankah itu lebih bagus bagi keluarganya? Dengan Marcel tidak bisa menempatkan dirinya, kemungkinan besar pemuda itu akan membuat marah Sang Penerus. Jika Sang Penerus marah, ada kemungkinan keluarga Sasongko akan diusir oleh Sang penerus.


Menyingkirkan satu saingan bagi keluarganya lebih bagus bukan? Jika Sang Penerus, memang sehebat yang Kakek dan Ayahnya katakan, bukankah lebih bagus jika keluarga Sanjoyo saja yang menikmati keuntungan menjadi anak buah Sang Penerus?


Dengan begitu, mereka bisa dengan cepat menjadi pemimpin dari empat keluarga besar. Bukankah ini keinginan dari Hermawan? Membawa keluarga Sanjoyo menjadi pemimpin empat keluarga besar.


“Apa kamu tahu, permainan Rosalinda sangat hebat. Kamu akan merasa puas jika main dengannya. Dia bahkan mau bermain di mana saja. Kamar, ruang tamu, dapur. Semua kami coba. Segala posisi juga sudah kami coba.”


“Sayangnya, Rosalinda hanya mau bermain denganku pacarnya. Kamu tidak akan memiliki kesempatan untuk bermain dengannya. Karena Kamu bukanlah pacar Rosalinda.” Ucap Hermawan setengah berbisik kepada Marcel.


Tidak lupa Hermawan menekankan beberapa kata yang bisa memicu kemarahan dari Marcel. Dan apa yang dilakukannya itu cukup berhasil. Sekarang wajah Marcel terlihat memerah karena menahan amarah. Kedua tangannya mengepal erat. Ia menatap tajam ke arah Hermawan.


“Kau, kau….” Ucap Marcel penuh penekanan sembari mengarahkan telunjuknya ke arah Hermawan. Sebelum amarah Marcel meledak, Rusdi, Ayahnya memanggil.

__ADS_1


“Marcel, ayo cepat kita perlu menemui dia sekarang.” Ucap Rusdi, meminta anaknya itu berhenti mengobrol dengan Hermawan.


Tidak jauh berbeda dengan Marcel, Hermawan juga diminta Ayahnya untuk segera pergi menemui Sang Penerus. Sebelum pergi, Hermawan memberikan tatapan provokatif kepada Marcel.


Saat ini Hermawan memunggungi para tetua. Jadi, mereka tidak tahu ekspresi apa yang sedang Hermawan tunjukkan kepada Marcel. Yang jelas, keempat orang itu bisa melihat bahwa Marcel terlihat marah sekarang ini.


Melihat Marcel yang seperti itu, Rusdi mengerutkan keningnya. Ketika anaknya itu mendekat ke arahnya, Rusdi mengingatkan kembali anaknya itu. Ia tidak mau usaha yang dilakukan oleh keluarganya selama lima tahun ini menjadi sia-sia karena Marcel.


“Nanti, jaga sikapmu baik-baik Marcel. Aku tidak akan membiarkanmu mengacaukan semuanya. Jika Kamu sampai membuat Sang Penerus marah kepada keluarga kita, maka bersiaplah Kamu dicoret dari daftar nama keturunan keluarga Sasongko.” Ancam Rusdi.


Rusdi berani bersikap kejam seperti ini. Anak laki-lakinya tidak hanya Marcel saja. Memang yang terlihat di mata publik, anak laki-lakinya hanya Marcel. Tetapi, Rusdi memiliki anak laki-laki yang lain yang hidup di luar keluarga Sasongko. Umurnya tidak terlalu jauh dari Marcel.


Jadi, jika sampai Marcel mengacau, Rusdi tidak segan-segan membuang anaknya ini, jika dia berulah. Bagi laki-laki itu, bisnis keluarganya lebih penting daripada seorang Marcel.


Mendengar ucapan Ayahnya, Marcel terdiam. Pemuda tidak mau membuat Ayahnya marah. Jika sudah marah, Rusdi akan bersikap kejam. Tidak peduli siapa pun itu, Rusdi berani menghajar mereka sampai babak belur hingga hampir mati. Bahkan sebagai anak kandungnya, Marcel tidak terlepas dari kekejaman tangan Rusdi.


….


Bayu dan Darsono memimpin anggota keluarga mereka berjalan mendekat ke arah apartemen tersebut. Setelah menekan belnya, mereka menunggu pintu apartemen itu dibukakan. Tidak terlalu lama kemudian, pintu apartemen itu dibuka.


Di sana, keenam orang tersebut melihat seseorang memakai sebuah topeng berwarna silver menyambut mereka. Di bagian kening dari topeng tersebut, terdapat sebuah ukiran berbentuk elang yang memakai mahkota. Ekspresi orang itu tidak terbaca karena adanya topeng yang menutupi seluruh wajahnya.


“Rupanya kalian sudah datang. Mari masuk. Sang Penerus sudahs menunggu kedatangan kalian.” Jelas orang tersebut.


Suara orang itu terdengar sedikit aneh. Seperti perpaduan antara suara laki-laki dan perempuan. Apalagi dengan adanya jubah hitam yang dipakai orang itu, hal itu membuat mereka sulit menebak jenis kelamin dari orang yang kini menyambut mereka.


Keenam orang itu mengikuti langkah orang itu. Tidak banyak suara yang mereka buat selain suara sol sepatu mereka yang bersentuhan dengan lantai. Orang yang memakai topeng tersebut kemudian membawa mereka ke sebuah aula yang ada di apartemen tersebut.


Di ruangan tersebut, mereka bisa melihat seseorang tengah duduk di sebuah kursi yang letaknya sedikit lebih tinggi dari lantai. Dengan begitu, meski dia duduk, kepalanya masih lebih tinggi daripada orang di sekitarnya.

__ADS_1


Penataan tempat duduk yang seperti ini seperti mengambarkan seorang raja yang duduk di singahsananya. Apalagi kursi yang orang itu duduki juga memiliki banyak ukiran dengan beberapa ornament berwarna emas.


Orang yang saat ini duduk di “singgahsana” tersebut juga memakai topeng dan jubah seperti yang dipakai oleh orang yang menyambut mereka. Bedanya, topeng yang dipakai oleh orang itu berwarna emas.


Selain itu, orang itu memakai baju berwarna putih bersih dengan kancing berwarna emas. Jubah yang dipakainya adalah perpaduan warna merah dan putih dengan beberapa bagian berwarna emas.


Tidak hanya di situ saja, di kepalanya kini terdapat sebuah mahkota yang dihiasi berbagai batu permata. Di lehernya, terdapat sebuah kalung dengan liontin bersimbol seekor elang yang memakai mahkota, yang juga berwarna emas.


Dari singgahsananya, orang itu memandang kehadiran keenam orang tersebut. Jika saja tetua keluarga mereka sebelumnya tidak berkali-kali mengingatkan untuk menjaga sikap mereka, sudah pasti saat ini baik Marcel maupun Hermawan, akan marah kepada orang itu.


Cara orang itu memandang, terasa sedang merendahkan mereka dan keluarganya. Dengan tempramen mereka yang menganggap diri mereka yang lebih unggul dari yang lain, di waktu biasa, sudah pasti keduanya akan marah besar.


“Rupanya kalian sudah datang.” Ucap orang tersebut.


Seperti orang yang memakai bertopeng silver, orang yang memakai bertopeng emas ini suaranya juga sulit untuk dikenali. Kemungkinan besar orang-orang ini memakai alat pengubah suara untuk menutupi identitas mereka. Apalagi dengan topeng yang mereka pakai.


“Hormat kami Sang Penerus. Semoga kekayaan Anda melipah dan berumur panjang.” Ucap Bayu, Darsono, Arman, serta Rusdi secara bersamaan.


Keempat orang itu tidak hanya mengucapkan kalimat hormat seperti tadi. Tetapi, mereka berempat membungkukkan badan mereka kepada orang yang memakai topeng emas. Rupanya dia adalah Sang penerus yang mereka maksud.


Tidak hanya keempat orang tersebut, orang yang memakai topeng silver juga melakukan penghormatan yang sama. Hanya Marcel dan Hermawan saja yang terlihat diam mematung bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Keluarga mereka belum menjelaskan hal ini. Mereka hanya diingatkan untuk menjaga sikap mereka dan diam ketika tidak diminta untuk berbicara. Jadi, mereka kaget dengan apa yang dilakukan oleh keluarga mereka.


“Hermawan, beri hormat kepada Sang Penerus.” Titah Bayu kepada cucunya.


Marcel juga mendapatkan perintah yang sama dari Kakeknya seperti yang diterima Hermawan. “Marcel, beri hormat kepada Sang Penerus.”


“Hormat kami Sang Penerus. Semoga kekayaan Anda melipah dan berumur panjang.”

__ADS_1


Mau tidak mau, kedua pemuda tersebut mengikuti apa yang dilakukan oleh tetua keluarga mereka. Ini adalah kali pertama keduanya membungkuk seperti ini. Selama ini, mereka tidak pernah membungkuk kepada siapa pun, bahkan orang tua mereka sekali pun.


Jika bukan karena identitas dari orang yang memakai topeng emas itu cukup spesial, kedua pemuda tersebut jelas tidak akan pernah mau membungkuk seperti ini.


__ADS_2