Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 33 Aku Hancur atau Kau yang Hancur


__ADS_3

Andi tersenyum senang setelah menerima panggilan dari Sebastian, pengacara yang bertanggung jawab atas kasusnya. Andi tidak menyangka laki-laki itu juga melibatkan media dalam hal ini. Jika demikian, ini sudah memberikan pukulan yang cukup keras bagi Jony.


Dengan begini, Andi bisa mengesampingkan urusan dengan Jony. Waktunya sangat berharga. Jadi ia tidak mau membuang-buang waktunya untuk orang seperti Jony. Sudah ada Sebastian yang akan mengurusi hal itu. Sekarang Andi bisa fokus dengan hal yang lain.


Sudah saatnya ia memikirkan cara lain untuk memperkaya diri. Masih ada uang seratus sembilan puluh juta lebih di rekeningnya yang perlu ia pikirkan. Uang tersebut memang bisa bertambah setiap harinya dengan setiap nafas yang Andi ambil. Tetapi, itu hanya akan bertambah tiga ratus enam puluh delapan sekian rupiah dalam sehari.


Memang itu nominal yang cukup besar jika dibandingkan dengan pendapatan masyarakat Indonesia pada umumnya. Pendapatan masyarakat pada umunya di Indonesia adalah delapan puluh ribu hingga seratus lima puluh ribu per harinya. Jika dibandingkan dengan hal tersebut memang pendapatan harian Andi jauh lebih besar.


Tetapi saat ini Andi ingin mengubah pemikirannya. Ia tidak ingin memiliki pemikiran seperti orang miskin seperti sebelumnya. Ia harus punya pemikiran seperti orang yang kaya dan sukses. Bagaimana mendapatkan uang lebih banyak dari kemarin. Itu akan Andi jadikan prinsipnya kali ini.


Pemuda itu harus terus berpikir bagaimana memperkaya dirinya. Setidaknya dengan begitu ia akan aktif mencari kekayaan daripada hanya diam, pasif, menunggu sistem memberinya kekayaan. Itu bukan tipikal seorang Andi.


“Panel status.”


[Ding]


[Modul Menjadi Kaya]


[Level 6 (87955200/500000000)]


[Saldo Host : Rp 199.898.840,-]


[Tingkat Konversi : 1 kali nafas \= 16 rupiah]


[Misi : --- ]


[Penyimpanan : - Kekuatan +5, Stamina +5]

__ADS_1


[Kemampuan : - Lidah Manis : Selamanya]


[Selamat berjuang menghabiskan uang Host]


Hadiah dari mengalahkan para preman itu masih Andi simpan di dalam penyimpanan sistem. Dari namanya saja Andi sudah tahu bahwa hadiah itu bisa menambah kekuatan dan staminanya. Tetapi pemuda itu belum terlalu membutuhkan hadiah tersebut. Kemampuannya saat ini ia rasa masih cukup untuk melindungi dirinya sendiri. Ia baru akan menggunakannya di waktu mendesak.


Pemuda itu kemudian memandang saldo rekeningnya. Besok saldo rekeningnya sudah pasti berubah menjadi dua ratus juta rupiah. Uang sebanyak itu harus Andi manfaatkan sebaik mungkin. Mungkin kalian akan bertanya, kenapa tidak memakai uang tersebut untuk membeli mobil? Jawabannya Andi belum terlalu membutuhkan hal tersebut.


Untuk apa membeli mobil jika Andi hanya akan memakainya untuk gaya-gayaan. Lagipula, dirinya tidak bisa memakai mobil itu dengan leluasa. Lebih baik memanfaatkan uang tersebut untuk memulai usaha yang cukup besar.


Ia masih harus mencapai target yang diberikan oleh sistem yaitu menghabiskan uang sebesar dua ratus lima puluh juta dalam satu bulan ini. Sejauh ini, Andi baru menghabiskan uang sebesar seratus sembilan puluh sembilan juta lebih. Berarti ia masih harus menghabiskan setidaknya lima puluh juta lebih untuk memenuhi target.


Jika Andi menghabiskan uangnya sekarang, sudah jelas dirinya tidak akan memiliki dana untuk target bulan depan. Bisa jadi hukuman dari sistem akan gagalnya memenuhi target akan lebih berat lagi. Jadi Andi lebih memilih menggunakan uangnya untuk usahanya daripada kendaraan. Masih banyak taksi online yang bisa mengantarnya.


Seingat Andi, dirinya dan Brian sama sekali belum membeli perlengkapan dan peralatan lain untuk toko mereka. Mungkinkah ia perlu memakai uang tersebut untuk membeli perlengkapan dan peralatan lain untuk toko mereka? Tetapi Andi perlu menyanyakan hal ini kepada Brian. Siapa tahu pemuda itu sudah membeli semua itu. Jika demikian, maka nantinya apa yang akan Andi beli tidak akan terpakai.


“Hey Andi sahabatku. Hahahaha. Aku sudah meminta wartawan untuk meliput berita tentang kamu yang melaporkan Jony ke polisi. Apa kau sudah melihat berita itu? Tenang saja, namamu di sensor, jadi tidak akan ada yang tahu kalau kamu terlibat dalam hal ini.”


Andi tertawa pelan merespon ucapan Brian. “Aku tidak menyangka kamu akan melibatkan wartawan.”


“Tentu saja harus. Kamu bilang sendiri bahwa kamu ingin kasus ini mempengaruhi reputasi ayah dari Jony. Aku harus melakukan hal ini agar semua ini bisa semakin meletup. Jika kita hanya menunggu para wartawan itu mengendus berita ini, yang ada ayah Jony sudah bertindak duluan untuk menutup mulut para wartawan itu.”


“Jadi kita harus aktif melakukan serang. Tenang saja, aku juga membayar beberapa orang untuk memperpanas suasanya. Aku yakin dalam beberapa hari kedepan ayah Jony akan kebakaran jenggot karena besarnya masalah yang terjadi. Mungkin kasus ini juga bisa mempengaruhi nilai saham dari perusahaan ayah Jony.”


Mendengar hal itu, Andi mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak ada niatan menghancurkan sumber pendapatan seseorang. Pemuda hanya ingin memberikan pelajaran kepada Jony, bukan malah merusak sumber pendapatan seseorang.


“Nilai sahamnya turun? Apakah itu tidak masalah Brian? Maksudku, aku hanya berniat memberi pelajaran kepada Jony. Tetapi kenapa sekarang ini malah mempengaruhi bisnis keluarganya? Aku sama sekali tidak memiliki niatan untuk menghancurkan bisnis mereka. Kenapa bisa begini?”

__ADS_1


“Ck.” Terdengar Brian mendecakkan lidahnya di ujung telfon. Sepertinya pemuda itu tidak senang mendengar ucapan Andi barusan.


“Andi, perlu kamu ketahui bahwa dalam bisnis semua ini lumrah. Maksudku, sebentar lagi kamu akan memasuki dunia bisnis yang kejam ini. Dalam dunia bisnis seperti ini kau harus tahu, jika tidak bisnismu yang hancur maka bisnis musuhmu yang perlu hancur. Kau perlu membiasakan diri dengan hal ini.”


“Bayangkan saja Jony dengan segala kekayaan dan kekuasaan ayahnya, bisa membuat ayahmu kehilangan pekerjaannya dengan mudah. Itu hanya butuh beberapa kata dari dia kepada penanggung jawab perusahaan ojek online tempat ayahmu bekerja, yang ada di kota ini. Jadi jangan merasa bersalah dengan hal ini. Selagi dia adalah musuhmu kamu bisa melakukan ini. Kamu harus membiasakan diri dengan semua ini Andi.”


Andi menarik nafas panjang, menyerah membantah ucapan sahabatnya itu. Apa yang dikatakan oleh Brian memang ada benarnya. Ia perlu membiasakan diri dengan praktek seperti ini. Saling menghancurkan bisnis lawan. Mesikupun begitu, sebisa mungkin Andi tidak mau melakukan hal itu.


Andi tidak sekejam itu yang bisa dengan mudah menghancurkan sumber pendapatan orang lain. Tetapi orang lain tidak akan memiliki pemikiran yang sama dengannya. Seperti kata Brian, jika tidak bisnisnya yang hancur, maka bisnis lawanlah yang perlu hancur.


“Jadi untuk apa kamu menelfon? Aku rasa kamu menelfonku bukan karena masalah Jony. Jadi ada apa?”


“Ah, aku sampai lupa alasanku menelfonmu. Bagaimana dengan perlengkapan dan peralatan bisnis kita? Apakah kau sudah membelinya?”


“Urusan itu biar para arsitek itu yang membeli. Jika kamu ingin, kamu bisa membuat janji dengan sang desainer interior. Kamu tinggal bilang padanya mau memakai furniture seperti apa untuk toko kita. Semuanya akan ditotal di akhir. Jadi kamu nggak perlu khawatir tentang biaya. Aku akan menanggung semuanya.”


“Jika kau keberatan, kamu bisa mencicilnya dengan keuntungan bisnis kita.” Jelas Brian seolah sudah mengetahui Andi akan menolak tawarannya tersebut.


Andi kembali menarik nafas panjang. “Baiklah, aku akan mengikuti rencanamu. Kalau begitu aku akan menutup panggilan ini.”


Sekali lagi Andi menarik nafas panjang. “Sepertinya aku tidak bisa memanfaatkan uang itu untuk membeli barang-barang keperluan toko. Lalu apa yang perlu aku lakukan dengan semua uang itu?”


Ternyata menjadi kaya tidak sepenuhnya menyenangkan. Andi tiba pada titik di mana ia bingung dipergunakan untuk apa uang ini. Pantas saja orang yang sudah sangat kaya sering sekali menghabiskan uang mereka pada sebuah hobi. Kebanyakan dari mereka akan membeli barang antik yang bisa mencapai milyaran rupiah yang pada akhirnya hanya menjadi sebuah hiasan rumah.


Andi yang belum sampai pada titik itu saja sudah merasa kebingungan dengan uang yang dimilikinya. Jika dibandingkan dengan kekayaan para triliyuner itu, harta yang Andi punya saat ini seperti beberapa tetes air di sebuah danau. Sangat kecil dibandingkan milik mereka.


Andi berharap dirinya bisa mencapai titik tersebut. Titik di mana dirinya dengan mudahnya membeli sesuatu yang pada akhirnya hanya akan menjadi pajangan itu. Meski itu masih sangat jauh, itu adalah target Andi saat ini. Sekarang ia perlu memikirkan menggandakan uang di rekeningnya.

__ADS_1


__ADS_2