
Sementara Jony dan keluarganya sedang berdiskusi mengenai masalah yang menimpa perusahaan mereka, Andi juga tengah melakukan diskusi dengan para sepupunya. Mereka saat ini mendiskusikan kinerja mereka selama lima hari ini melakukan donasi di berbagai panti asuhan.
Disikusi kali ini diprakarsai oleh Ganang. Sebagai sepupu tertua, Ganang ingin mengetahui bagaimana progres yang dilakukan oleh adik-adiknya. Jadi, laki-laki itu mengajak para sepupunya untuk melakukan video call untuk berdiskusi.
“Jadi, bagaimana kegiatan kalian selama lima hari ini?” Tanya Ganang.
“Itu cukup melelahkan. Kami perlu cepat-cepat berpindah dari satu panti asuhan ke panti asuhan lain. Tidak hanya hanya itu, sorenya kami juga perlu pergi ke kota lain agar bisa kembali mengunjungi panti asuhan di kota lain.”
“Meski lima hari ini melelahkan, tetapi itu sangat menyenangkan. Rasa lelah yang aku rasakan terbayar dengan senyuman para anak panti asuhan itu.” Jelas Dimas.
“Betul kata Dimas. Ini sangat melelahkan juga sangat menyenangkan.” Timpal Bima.
“Aku nggak tahu ternyata memberi bantuan semenyenangkan ini. Biasanya jika kita akan berdonasi, kita menyalurkan donasi kita kepada beberapa lembaga amal. Kita hanya terima jadi dengan hanya laporan sebuah foto. Tetapi, memberikan donasi langsung seperti ini, apalagi ke daerah pinggiran memberikan kepuasan tersendiri.” Imbuh Ardi.
“Tapi sepertinya, kita tidak jadi melakukannya selama sebulan. Mungkin satu minggu sudah cukup.”
Ucapan Andi seolah memadamkan api kebahagiaan para sepupunya. Mereka sudah berencana bersenang-senang kembali dengan anak-anak panti asuhan. Tentu saja mereka tidak terima. Mana bisa mereka menghentikannya begitu saja.
Meski melelahkan tetapi ketika berkunjung ke panti asuhan, mereka bisa bermain dengan para anak panti asuhan. Jadi itu memberikan kesenangan bagi mereka. Tetapi sekarang, sepupu mereka yang menggagas semua rencana ini tiba-tiba bilang semua kesenangan ini usai?
“Kenapa berhenti? Apakah penyalur dananya sudah kehabisan dana? Jika iya, gue bisa jadi donaturnya. Kenapa pula kebaikan seperti ini dihentikan?” Tanya Wira yang seakan tidak terima dengan hal ini.
“Iya Andi, kalo emang donaturnya nggak bisa lagi nyuntikin dana bilang aja. Meski nggak seberapa, gue masih punya uang tabungan yang bisa gue sumbangin.” Imbuh Dimas.
“Tolong diamlah sebentar, biarkan Andi memberi penjelasan. Mungkin dia memiliki penjelasan kepada kita kenapa kegiatan ini dihentikan lebih awal.” Ucap Ganang menengahi.
“Sebenarnya dananya masih ada. Masih banyak malahan. Tetapi, aku nggak bisa lagi sita waktu kalian buat jalanin kegiatan ini.”
“Hey, Lu sama sekali nggak ganggu waktu kita. Bukannya kita sendiri yang nerima semua tugas ini? Jadi, kami nggak masalah ngelakuin kegiatan ini.” Potong Dimas.
__ADS_1
Langsung saja Andi mengangkat sebelah tangannya untuk menghentikan perkataan semua sepupunya. Melihat hal itu, Ardi yang juga ingin menyanggah ucapan Andi menghentikan niatnya.
“Tolong biarkan aku menyelesaiakan penjelasanku dulu.” Andi kembali melanjutkan ucapannya yang terpotong oleh Dimas.
“Aku tahu kalian dengan senang hati melakukan semua ini. Tetapi, kalian bisa melakukan semua ini karena kalian bolos kuliah. Aku nggak bisa sita waktu pendidikan kalian semakin lama. Kalian masih punya pendidikan yang juga perlu kalian pikirkan.”
“Lagi pula, tujuan awal aku berdonasi adalah agar Mr. S membantuku menyelesaikan masalahku bukan? Sekarang ini, masalahku sudah dalam tahap penyelesaian. Perusahan yang dimiliki oleh musuhku itu sekarang nilai sahamnya mulai mengalami penurunan derastis.”
“Dalam minggu depan, nilai saham mereka akan semakin banyak menurun. Jadi, kita tidak perlu lagi melakukan ini sesering minggu ini. Bukannya aku mau menghentikan total kegiatan ini, tetapi, aku ingin kalian lebih fokus ke pendidikan kalian dulu.”
“Jika sampai kalian gagal dalam semester ini, aku tidak tahu harus bersikap seperti apa di depan Paman Bagas dan Paman Darto. Bagaimana pun juga, aku bisa menjadi alasan bagi kalian gagal dalam semester ini.” Jelas Andi.
Mendengar ucapan Andi, tidak ada lagi yang bersuara. Sekarang ini mereka memikirkan baik-baik ucapan Andi. Memang benar saat ini mereka sedang bolos kuliah. Seminggu memang tidak memberikan banyak pengaruh terhadap perkuliahan mereka.
Tetapi, jika mereka tidak masuk selama sebulan, sudah jelas akan banyak perkuliahan yang mereka tinggal. Dan jika mereka sampai gagal dalam semester ini, bisa jadi Andi akan sangat merasa bersalah dengan hal itu. Dia pasti berpikir itu semua karena dia sudah menyita waktu mereka dengan kegiatan donasi ini.
“Apa yang dikatakan Andi ada benarnya.” Ucap Ganang memecah keheningan. “Kalian tidak bisa meninggalkan perkulihan lebih lama lagi. Andi sudah bilang bukan bahwa donatur itu sudah membereskan musuh Andi itu. Jadi kita lebih bersantai lagi sekarang.”
Itu mungkin karena Andi merasa sudah merasa sering terbantu oleh para pamannya jadi Andi tidak mau lagi merepotkan mereka. Meskipun Ganang juga tahu bahwa cara ini sama saja sedikit merepotkan bagi mereka.
“Lalu, kita selanjutnya gimana?” Tanya Dimas.
“Kita tetap akan lakuin donasi. Tetapi tiap akhir pekan aja. Nggak di hari kerja seperti sebelum-sebelumnya. Dengan gitu, kalian nggak akan lagi ninggalin perkuliahan kalian.” Jawab Andi.
“Bagaimana kalo kita sekalian aja bikin badan amal? Maksud gue biar lebih enak aja gitu. Kita kumpulin uangnya di sana, lalu entar bareng-bareng kita sumbangin ke mereka yang kurang mampu. Dengan kita buat badan amal, orang lain juga bisa ikutan jadi donator.” Ucap Wira memberi ide.
“Ah ide bagus itu Wir. Kalo uangnya kekumpul entar kita nyebar lagi kasih sumbangan ke panti asuhan. Lalu, ketika nyebar sumbangan, kita juga bisa ngajak relawan yang lainnya. Nantinya, kita juga bisa memperluas target kita. Nggak hanya panti asuhan, kita juga bisa kasih ke korban bencana.” Imbuh Bima.
“Ide bagus itu. Aku setuju.” Ucap Andi antusias.
__ADS_1
‘Sistem, apakah dengan aku menyetor dana ke badan amal, tanpa langsung menyubang ke mereka yang membutuhkan, aku tetap akan mendapatkan kotak misteri?’ tanya Andi dalam hati.
[Tentu saja Host. Asalkan itu benar-benar dipakai untuk berbuat kebaikan, maka Sistem tetap akan memberikan kotak misteri kepada Host.]
Mendengar jawaban positif dari Sistem, membuat Andi senang. Andi tidak perlu lagi mendatangi mereka yang membutuhkan bantuannya. Ia hanya perlu menyetorkan uangnya di badan amal, dan tetap mendapatkan kotak misteri dari sistem.
Dengan begini, Andi tidak perlu lagi merepotkan para sepupunya untuk membantunya menyebarkan donasi. Badan amal bisa melakukannya. Apalagi jangkauan dari badan amal jelas lebih luas. Tidak hanya Pulau Jawa, tetapi bisa ke seluruh negeri.
Tidak hanya itu, Andi juga bisa menyubang ke badan amal yang di luar negeri jika dirinya ingin memiliki cakupan yang lebih luas lagi. Kelonggaran ini sangat menguntungkan bagi Andi.
“Baiklah kalo begitu, kita dirikan badan amal dengan menggunakan nama keluarga kita.” Saran Ganang.
“Menurutku jangan Mas, kita nggak perlu pake nama keluarga kita. Kita pilih saja nama yang memiliki nilai filosofis yang tinggi untuk memberikan nama pada badan amal yang kita dirikan.” Sanggah Andi.
Yang benar saja. Jika mereka menggunakan nama keluarga mereka sebagai nama badan amal, maka hal itu akan menarik perhatian orang kepada mereka. Selama ini, mereka lebih sering menyingkat nama belakang mereka hanya dengan huruf P.
Bahkan para pamannya yang menjadi pebisnis menyingkat nama belakang mereka. Awalnya Andi cukup bingung dengan hal itu. Tetapi, pertemuannya dengan Kakek Buyut Adipramana tadi pagi memberikan pencerahan baginya.
Itu semua karena mereka sebisa mungkin harus menyembunyikan identas mereka. Jangan terlalu mencolok jika memakai nama Prayudi. Jika ingin melakukan sesuatu yang mencolok, mereka perlu menyingkat nama keluarga mereka dengan hanya huruf P.
Meskipun nama Prayudi sekarang sudah mulai cukup umum, tetapi jika mereka melakukan sesuatu yang besar dengan nama Prayudi, bisa sana mereka dihubungkan dengan seorang Arganta Prayudi, sang penerus ke enam.
“Benar yang Andi bilang Mas. Jadinya kita kek pamer gitu udah ngasih bantuan banyak jika pake nama keluarga kita. Lebih baik pakai nama lainnya.” Ucap Ardi.
Andi dan para sepupunya itu kembali mendiskusikan rencana mereka untuk membuat badan amal. Mereka membicarakan mulai dari nama, di mana kantornya, siapa yang akan menjadi pengurus dan lain sebagainya.
Setelah berdiskusi selama sejam, mereka akhirnya masuk dalam sebuah kesimpulan. Nama dari badan amal mereka adalah Bumi Nusantara Fondation. Mereka ingin mengayomi siapa pun yang hidup di bumi nusantara yang sedang dalam kesusahan.
Untuk pengurus, mereka ingin salah satu anggota keluarga mereka menjadi pengurus badan amal ini. Dengan begitu, mereka akan semakin tenang dalam mendonasikan uang mereka. Ardi berpendapat bahwa mereka perlu memberitahukan informasi ini di group keluarga besar Prayudi.
__ADS_1
Mungkin saja di antara generasi tua ada yang tertarik untuk menjadi pengurus badan amal itu.