
Setelah ditolak oleh Shenhua, Andi bersama dengan dua pengawalnya menuju ke Tengda. Ini adalah perusahaan nomor dua pilihan Andi. Mereka hanya butuh tiga puluh menit perjalanan untuk sampai di Tengda.
Sesampainya di sana, Andi kembali menemui resepsionis. Kali ini, Andi tidak perlu menunggu terlalu lama untuk bisa menemui salah satu karyawan Tengda. Tidak seperti di Shenhua sebelumnya. Setelah menungu selama lima belas menit, Andi sudah berada di sebuah ruang pertemuan yang ada di Tengda.
“Jadi Tuan Andy, apa yang bisa aku bantu?” Tanya karyawan Tengda yang memperkenalkan dirinya sebagai Ye Chen.
“Jadi begini Tuan Ye, aku ingin mengakuisisi beberapa perusahaan yang ada di China. Karena aku tidak begitu memahami kondisi di sini, lebih baik aku mempercayakannya kepada mereka yang lebih paham. Jadi, apakah perusahaanmu bisa membantuku dalam hal ini?”
“Apakah Tuan Andy sudah memiliki gambaran perusahaan apa yang ingin Anda akuisisi? Kami memiliki beberapa daftar mengenai perusahaan bagus yang bisa diakuisisi. Tetapi, itu semua tergantung dengan perusahaan apa yang Anda inginkan dan juga uang yang Anda persiapkan.” Jelas Ye Chen.
“Panel status.”
[Ding]
[Modul Menjadi Kaya]
[Level 18 (293.465.973.526.821/700.000.000.000.000)]
[Saldo Host : Rp 27.889.891.007.124,-]
[Tingkat Konversi : 1 kali nafas \= 109 USD (1 USD \= Rp 14.000,-)]
[Misi : - Buatlah sebuah game. Hitung mundur 39 hari 10 jam
Miliki lima perusahaan yang berbasis di luar negeri. Hitung mundur 29 hari 23 jam (0/5)]
[Misi Harian : - ]
[Target Mingguan : - ]
[Target Bulanan : - Capai saldo Rp 50.000.000.000.000,-
Hadiah : 1 tiket lucky draw
__ADS_1
Hukuman : Tidak mendapatkan konversi nafas selama 5 tahun]
[Tiket Lucy Draw : 0 Tiket 114 Pecahan]
[Penyimpanan : - Kartu kemampuan Karyawan (34)]
[Selamat berjuang menghabiskan uang Host]
Selama Andi memahami kondisi perekonomian di China, dirinya tidak berhenti membeli saham. Alhasil, sistem miliknya mengalami kenaikan level. Saldonya pun sekarang melejit ke angka dua puluh tujuh triliyun rupiah. Dengan itu saja Andi sudah bisa memasuki seratus besar orang terkaya di Indonesia.
Jika di kurskan ke dalam yuan, dua puluh tujuh triliyun rupiah itu sama dengan dua belas milyar yuan lebih dengan kurs satu yuan dua ribu dua ratus lima puluh rupiah. Tentu saja Andi tidak akan memakai semua uangnya.
Andi berencana memakai sepuluh milyar yuan atau dua puluh dua triliyun lebih uangnya untuk mengakuisisi perusahaan di China. Andi berharap ia bisa mendapatkan perusahaan dengan kualitas bagus dengan uang sebanyak itu.
“Tuan Ye, aku memiliki sepuluh milyar yuan. Menurutmu, perusahaan apa yang cocok untuk aku akuisisi dengan uang sebanyak itu?” Tanya Andi.
Ye Chen cukup kaget mendengar ucapan Andi. “Se… sepuluh milyar yuan? Apakah Anda yakin Tuan? Apakah itu benar dalam yuan tidak dalam rupiah?” Tanya Ye Chen ingin memastikan.
“Ya itu benar dalam yuan, Tuan Ye. Kau tidak salah dengar.” Ucap Andi meyakinkan Ye Chen.
Di Tengda, semua penasihat keuangan di sini memiliki tingkatan tersendiri. Ye Chen biasanya mengurusi klien yang memiliki uang dengan range beberapa juta yuan hingga ratusan juta Yuan. Ia kira Andi akan membeli perusahaan dengan harga itu. Tetapi ternyata Andi memiliki uang sebanyak itu.
“Apakah Anda memiliki gambaran perusahaan apa yang ingin Anda inginkan Tuan? Jika ada, itu akan mempermudahku dalam mencarikan beberapa daftar perusahaan untuk Anda.”
Daftar perusahaan yang sebelumnya Ye Chen punya tidak akan cocok untuk Andi. Jelas dengan uang sebanyak itu, tidak mungkin Andi menginginkan perusahan seperti itu. Dia pasti menginginkan perusahaan yang lebih besar lagi.
Jadi ia perlu menanyakan kepada Andi tentang hal ini untuk membuat daftar baru mengenai perusahaan yang bagus untuk diakuisisi. Nantinya Ye Chen juga bisa bertanya kepada beberapa rekan kerjanya yang memiliki hubungan baik dengannya mengenai hal ini.
“Bagaimana dengan perusahaan elektronik? Jika ada, carikan perusahaan yang biasanya membuat perangkat komputer.” Jawab Andi.
Andi ingat bahwa salah satu perusahaannya bergerak di impor perangkat komputer dari luar negeri dan kemudian menjual unit komputer yang sudah dirakit. Bukankah dengan dirinya memiliki perusahaan yang memproduksi perangkat komputer, itu akan membantu perusahaannya yang di Indonesia.
Jika perusahaannya saling berhubungan seperti itu, uang miliknya hanya akan berputar di perusahaan miliknya. Keluar dari kantong saku kiri dan masuk di kantong saku kanan. Dengan begini, Andi tidak perlu memperkaya orang lain dengan membeli dari mereka.
Mata Ye Chen berbinar mendengar hal itu. Ini karena tanpa perlu melakukan analisis lagi dirinya sudah punya daftar perusahaan yang cocok untuk Andi. Itu adalah hasil riset Ye Chen dikala dirinya senggang. Jadi, Ye Chen bisa memberikan daftar ini kepada Andi.
Jika Andi meminta perusahaan di bidang lain, tentunya Ye Chen perlu melakukan riset lagi. Untung saja daftarnya sudah ada. Jadi semua prosesnya bisa lebih cepat lagi.
__ADS_1
“Kebetulan sekali Tuan Andy, aku memiliki perusahaan yang cocok dengan keinginanmu. Perusahaan ini memiliki nilai delapan milyar yuan. Jadi, Anda memiliki sisa dua milyar yuan. Jika Anda mau, sisanya bisa aku carikan perusahaan kecil yang memproduksi papan sirkuit dalam skala menengah.”
“Dengan memiliki dua perusahaan itu, meskipun tidak besar, Anda bisa menekan biaya produksi dari perusahan perangkat komputer tadi. Bagaimana dengan ini?” Tanya Ye Chen.
“Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk melakukan akuisisi dua perusahaan itu?” Tanya Andi.
“Paling cepat Rabu ini sudah selesai, paling lambat Jumat minggu ini. Aku akan berusaha mempercepat semua prosesnya Tuan Andi. Jadi Anda tidak perlu mengkhawatirkan mengenai waktu.”
“Kalau begitu, harap kerja sama kita berjalan dengan baik.” Jawab Andi.
Mendengar perkataan Andi, Ye Chen tahu bahwa Andi setuju dengan tawarannya. Dengan begini, Ye Chen yakin dirinya bisa mendapatkan bonus besar di akhir tahun ini.
“Tentu saja Tuan Andy. Aku sangat senang bekerjasama dengan Anda.” Jawab Ye Chen.
Setelah berdiskusi banyak mengenai persyaratan akuisisi dan hal lainnya, Andi pamit kepada Ye Chen. Ia masih perlu melakukan hal yang lain. Ketika keluar dari Tengda, Ye Chen mengantarkan Andi hingga pemuda itu masuk ke dalam mobil.
Ye Chen tidak langsung beranjak dari tempatnya berdiri. Barulah setelah mobil yang Andis tumpangi tidak lagi terlihat, Ye Chen berjalan kembali ke ruang kerjanya. Ketika melewati meja resepsionis, seorang resepsionis yang ada di sana menyapa Ye Chen.
Ia melihat bagaimana Ye Chen mengantar pemuda tadi hingga ia pergi. Tidak hanya itu, bibir Ye Chen juga tertarik ke samping membentuk sebuah senyuman. Jelas sekali jika saat ini Ye Chen cukup senang.
“Manager Ye, aku lihat Kau mengantar pemuda tadi. Memangnya siapa dia?” Tanya resepsionis tersebut.
“Resepsionis Gu, dia tadi adalah klien besar. Jangan memandangnya sebelah mata hanya karena dia masih muda dan bukan dari negara kita. Ia adalah Tuan Muda kaya. Baru saja ia melakukan kerja sama denganku dengan nilai sepuluh milyar yuan.”
“Jadi, jika Tuan Muda tadi datang kemari, bersikaplah yang sopan. Aku tidak mau dia memiliki penilaian buruk mengenai perusahaan kita dan berhenti melakukan kerjasama. Jika ada yang tidak sopan dengannya, aku yakin siapapun dia pasti akan kehilangan pekerjaannya.”
“Apakah kamu paham dengan yang aku maksdu?” Ye Chen memperingatkan resepsionis bermarga Gu itu.
Andi cukup mudah mengeluarkan uang sepuluh milyar yuan. Itu berarti dia memiliki kekayaan lebih dari itu. Orang seperti Andi adalah klien yang bagus bagi perushaan mereka. Jadi, Ye Chen tidak mau kehilangan klien seperti Andi hanya karena perilaku tidak sopan seorang resepsionis.
“Ah baiklah Manager Ye. Aku akan mengingat baik-baik wajah Tuan Muda tadi. Aku juga akan memberitahu resepsionis yang lainnya. Dengan begitu, jika nanti yang sedang bertugas di meja resepsionis adalah orang lain, mereka bisa mengetahui siapa dia sebenarnya.”
“Bisakah Kamu memberitahuku siapa nama Tuan Muda tadi Manager Ye? Itu untuk mempermudah resepsionis yang lainnya.”
Ye Chen senang mendengar jawaban dari resepionis Gu. Dengan begini ia tidak akan khawatir mereka membuat sebuah kesalahan.
“Namanya Andy. Ingat baik-baik nama itu, jangan sampai melupakannya.”
__ADS_1
Setelah berucap demikian, Ye Chen bergegas kembali ke ruangannya. Ia masih harus menyelesaikan tugas yang Andi berikan. Pemuda itu ingin Ye Chen melakukan akuisisi secepat mungkin. Demi bonus tahunannya, Ye Chen harus segara menyelesaikannya.