
“Aku harap di antara kalian tidak ada yang berpikir macam-macam dan juga berniat mengambil makluk itu dari tangan Andi seperti Burhan. Sebelum Ayah meninggal, sangat melarang hal itu terjadi. Jadi, bisa dibilang ini adalah wasiat dari mendiang Ayah.”
“Selama kami tiga bersaudara masih hidup, kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi.” Ucap Harmuji setelah adiknya selesai membicarakan kejadian pagi tadi.
Harmuji, Haryanto dan juga Haryanti sudah membicarakan hal ini sebelumnya. Mereka bertiga tidak mau anak-anak mereka saling berkelahi memperebutkan makhluk tersebut. Maka dari itu ketiga anak Adipramana itu sepakat untuk melarang anak cucu mereka berpikiran merebut makhluk tersebut dari Andi.
Dari apa yang Ayah mereka ucapkan, ketiga bersaudara itu tahu bahwa makhluk tersebut bisa memberikan kekayaan bagi siapa saja yang terikat dengannya. Bukankah Adipramana mengatakan bahwa Andi bertujuan mendirikan sebuah kerajaan bisnis?
Dari itu saja sudah sangat jelas bukan? Makhluk tersebut bisa memberikan kekayaan hingga Andi nantinya bisa mendirikan sebuah kerajaan bisnis.
Jika anggota keluarga Prayudi yang lainnya tidak diingatkan dari sekarang, ketiga bersaudara itu takut apa yang Ayah mereka takutkan benar-benar terjadi. Sebuah perang saudara memperebutkan makhluk tersebut.
Andi yang mendengar ucapan Harmuji sedikit bernafas lega. Setidaknya tetua di keluarga Prayudi melarang anggota keluarga lainnya merebut sistem dari tangan Andi. Pemuda itu yakin, anggota keluarga Prayudi lainnya akan menuruti ucapan ketiga tetua tersebut.
Meski begitu, Andi tidak sepenuhnya tenang. Ia tetap harus melakukan sesuatu agar anggota keluarganya yang lain tidak berpikir macam-macam dan berubah pikiran di kemudian hari. Pemuda itu tidak mau suatu hari nanti, orang yang masih ia anggap keluarga, tiba-tiba menusuknya dari belakang.
Saat ini Andi seperti sedang menikmati sepotong kue besar dan anggota keluarga lainnya hanya melihat. Agar mereka tidak iri, yang bisa lakukan hanyalah memotong kue tersebut dan membaginya kepada anggota keluarga yang lain agar mereka bisa ikut merasakan rasa kue tersebut.
Bagaimana pun juga, sistem sendiri merupakan warisan leluhurnya. Meski Andi adalah yang terpilih mewarisi sistem, tetap saja ini adalah hak bersama. Jadi sudah seharusnya Andi membaginya.
Mungkin Andi akan membaginya dengan cara memberikan modal bagi anggota keluarga Prayudi yang ingin membuka usaha. Entah Andi akan memberikan modal tersebut secara cuma-cuma atau dirinya hanya menjadi seorang investor, Andi belum mengetahuinya.
Yang jelas ia akan mendorong anggota keluarga Prayudi untuk membuka usaha baru. Dengan begini, bukankah akan mempercepat cita-citanya mendirikan sebuah kerajaan bisnis bukan?
“Jadi, apa yang akan kamu lakukan untuk mencapai cita-cita leluhur kita Andi?” Tanya Aripto.
__ADS_1
“Aku ingin mendirikan sebuah kerajaan bisnis yang menguasai dunia Ayah. Aku ingin membawa nama keluarga Prayudi sebagai nama keluarga tingkat atas di dunia ini. Untuk mencapai itu, aku tidak akan bisa melakukannya sendirian.”
“Sekarang, karena Om, Tante, dan para sepupuku sudah mengetahui hal ini, aku meminta bantuan kalian untuk membantuku membangun kerajaan bisnis ini bersama-sama. Jika diantara kalian ada yang memiliki keinginan membuka bisnis, bilang saja padaku. Aku akan membantu memberikan modal untuk kalian melakukannya.” Jelas Andi.
Andi ingat bahwa hadiah dari sistem atas misi kepemilikan lima perusahaan baru adalah kartu kemampuan karyawan. Jadi, meski pun ada anggota keluarga Prayudi yang ingin memulai bisnis tetapi tidak paham tentang bisnis, itu tidak akan menjadi masalah.
Andi bisa memakai kartu kemampuan karyawan untuk anggota keluarganya. Dengan begitu, anggota keluarga Prayudi bisa menjalankan bisnis mereka dengan baik. Jika begini, kecil kemungkinan bisnis mereka gagal atau mengalami kebangkrutan.
Mendengar ucapan Andi, Haryanto cukup senang. Ia tidak menyangka cucunya itu mau berbagi apa yang ia punya dengan yang lainnya. Jika ini orang lain, kemungkinan besar mereka akan menikmati sendiri keuntungan yang diberikan oleh makhluk tersebut.
Tetapi Andi tidak melakukannya. Mungkin ini adalah salah satu alasan Andi terpilih terikat dengan makluk tersebut. Dengan Andi memiliki makhluk tersebut, keluarga Prayudi bisa makmur bersama-sama.
Menurut Haryanto, jika makhluk tersebut masih ada di tangan Burhan, maka laki-laki itu pasti tidak akan terpikir untuk membantu menyejahterahkan anggota keluarga Prayudi yang lainnya.
“Sekarang, apa yang harus kita lakukan dengan Burhan? Dia belum menyerah untuk mendapatkan kembali makhluk tersebut. Kita tidak bisa membiarkan Burhan mendapatkan makhluk tersebut bukan?” Tanya Bagus.
Semua yang berada di halaman belakang, buru-buru datang ke halaman depan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi, sehingga terjadi keributan seperti itu. Di sana mereka melihat beberapa anggota keluarga Prayudi terlihat sedang cekcok dengan Burhan.
Yang sedang cekcok dengan Burhan saat ini adalah Haryanti. Perempuan itu sudah tahu penyebab kemantian Ayahnya. Jadi, ketika Burhan datang, Haryanti marah besar kepada laki-laki itu. Setelah apa yang dia lakukan hingga menyebabkan kematian Kakeknya, Burhan masih berani-beraninya datang kemari.
“Kau tidak lagi diterima di sini Burhan. Lebih baik sekarang kamu pergi dari sini.” Bentak Haryanti kepada Burhan.
“Bulek, aku ini masihlah cucu Kakek. Jadi, kenapa aku tidak boleh kemari. Aku juga ingin mengunjungi makam Kakekku. Kalian sangat tega sekali. Tidak ada satu pun di antara mereka yang memberitahuku tentang kematian Kakek.”
“Jika saja salah satu kenalanku tidak memberitahuku, maka aku tidak akan mengetahui mengenai kematian Kakek. Berapa lama kalian berniat menyimpan berita ini dariku?” Tanya Burhan sembari mengedarkan pandangannya ke arah keluarganya.
__ADS_1
“Dasar kurang ajar. Tidak tahu diuntung. Masih berani Kau bicara seperti itu? Apa Kau tidak tahu bahwa Kau memiliki andil yang cukup besar mengenai kematian Kakekmu. Jika Kau tidak membuatnya marah, maka dia tidak pasti masih baik-baik saja sekarang.”
“Jadi, untuk apa kami mengundang pembunuh Ayah. Orang sepertimu tidak pantas berada di sini. Apa Kau berniat membuat Kami semua marah dan meninggal seperti yang terjadi pada Ayah? Apa itu niatanmu datang kemari?” Hardik Harmuji kepada anak bungsunya itu.
Burhan sedikit mengerutkan keningnya mendengar semua tuduhan itu. Dirinya memiliki andil dalam kematian Kakeknya? Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Apa karena kejadian tadi pagi?
Mengetahui hal itu, rasa bersalah tiba-tiba menerpa Burhan. Laki-laki itu tidak menyangka bahwa apa yang dilakukannya pagi ini membuat dirinya menjadi penyebab kematian Kakeknya. Burhan langsung terduduk lemas di tempatnya berdiri saat ini.
“Sekarang Kau pergi dari sini. Jangan pernah kembali ke sini. Kau sudah benar-benar tidak diterima di sini. Kau sudah tidak lagi menjadi anakku.” Ucap Harmuji.
Setelah terduduk di sana beberapa saat, Burhan kemudian bangkit. “Ijinkan aku mengunjungi makam Kakek.” Pinta Burhan.
“Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu mendekati makam Ayah. Apa kamu tidak mau membuat Ayahku tenang? Lebih baik kamu pergi sekarang.” Usir Harmuji.
Mendengar hal itu, Burhan menarik nafas panjang. Mungkin sekarang dirinya tidak bisa pergi ke makam Kakeknya. Tetapi, itu mungkin bisa Burhan lakukan di lain hari. Ia bisa menyelinap untuk ke makam Kakeknya tanpa ada yang mengetahui.
Saat ini, suasana duka masih menyelimuti keluarganya. Burhan tidak mau menambah keributan lagi. Jadi, dirinya akan menuruti perintah ayahnya untuk pergi dari tempat ini.
Sebelum pergi, Burhan mengedarkan pandangannya ke arah keluarganya. Ia pandangi satu persatu wajah mereka. Sampai pada akhirnya, pandangan Burhan tertuju pada Andi. Ia menatap wajah keponakannya itu lebih lama dari yang lain.
Burhan mencoba mencari tahu apa yang ada pada diri Andi yang membuat pemuda itu dipilih oleh sistem. Apa keistimewahan anak yang dimiliki anak dari Aripto yang tidak dimilikinya. Namun, selama Burhan memandangnya, ia tidak melihat satu keistimewahan sedikit pun dari Andi.
Andi yang dipandang lekat oleh Burhan merasa sedikit terintimidasi sekarang. Ini adalah insting yang dimilikinya selama ia mempelajari bela diri. Burhan berbahaya bagi Andi. Andi merasa, sepupu ayahnya itu jauh lebih kuat darinya. Jika mereka bertarung, Andi bisa dengan mudah dikalahkan oleh Burhan.
Hal itu membunyikan alaram bahaya di telinga Andi. Ia perlu memperkuat dirinya. Jika suatu hari nanti Burhan berniat berkelahi dengannya, maka Andi memiliki kemampuan melindungi dirinya. Belum lagi Andi perlu mempertimbangkan anak buah dari Burhan.
__ADS_1
Burhan memiliki anak buah preman di mana-mana. Jadi, cukup sulit baginya menandingi Burhan. Saat ini Andi hanya memiliki lima puluh pengawal. Ia sendiri tidak tahu apakah lima puluh pengawal tersebut termasuk anggota elite di kelompok Burhan atau hanya anggota menangah.
Yang jelas, Andi perlu mempersiapkan semuanya. Ia harus bersiap untuk kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi di masa mendatang. Sedia payung sebelum hujan. Andi tidak mau kalah hanya karena dirinya kurang melakukan persiapan.