Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 119 Makan Siang Bersama Dinda


__ADS_3

Setelah menyelesaikan panggilannya, Andi pergi ke kantin sekolahnya. Kali ini kantin cukup ramai karena Andi ke sana berbarengan dengan siswa kelas sepuluh dan sebelas menjalani istirahat. Ketika akan memasuki kantin sekolah, Andi berpapasan dengan Amira yang berjalan menuju kantin bersama dengan beberapa teman sekelasnya.


“Kakak.” Sapa Amira. Gadis itu lalu memisahkan diri dari teman-temannya dan kemudian menghampiri Andi.


“Kamu mau makan siang?” Tanya Andi.


“Iya aku dan temen-temen mau makan siang.”


Andi lalu merogoh kantong celananya untuk mengeluarkan dompet miliknya. Ia lalu mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan dan menyerahkannya kepada Amira. “Nih buat traktir temen-temen kamu. Bilang aja syukuran Kakak karena udah lulus.” Ucap Andi pada adiknya.


Hasil ujiannya cukup memuaskan menurut Andi. Jadi, tidak ada salahnya berbagi dengan teman-teman adiknya.


“Kakak nggak akan gabung sama kamu. Sana gih sama temenmu yang lain.”


“Oke-oke. Makasih ya kak.”


Setelah itu, Andi melihat adiknya itu yang dengan riang kembali menuju ke teman-temannya. Mereka terlihat saling berbisik-bisik kemuidan tertawa bersama.


Semua meja sudah hampir terisi penuh. Andi cukup sulit untuk menemukan meja kosong. Ketika berjalan lebih jauh, Andi menemukan ketua kelasnya, Dinda, yang tengah duduk sendirian. Langsung saja Andi menghampiri gadis itu.


“Din, ini kosong nggak? Boleh gabung nggak?” Tanya Andi.


“Eh kamu An. Itu kosong kok. Duduk saja nggak masalah.”


“Kamu udah pesan?” Tanya Andi yang melihat meja Dinda yang kosong tanpa adanya piring makanan.


Dinda menggelengkan kepalanya pelan. “Masih terlalu penuh. Nggak enak kalo pesen desak-desakan kayak gini.”


“Memangnya, kamu mau pesen apa? Biar aku pesenin.” Andi menawarkan.


“Boleh nih? Kalo gitu pesenin gado-gado di Bu Sum, tambah telor rebusnya satu. Terus minumnya air mineral aja.”


“Udah itu aja?”


Dinda menjawabnya dengan sebuah anggukan.


“Aku titip tas kalo gitu. Aku pesenin makananmu dulu.”


Langsung saja Andi menuju ke stand milik Bu Sum. Stand yang menjual pecel dan gado-gado di kantin sekolah. Seperti kata Dinda, stand milik Bu Sum masih dipenuhi oleh beberapa anak-anak yang tengah memesan makanan. Sudah jelas jika Andi ingin memesan di stand milik Bu Sum, Andi perlu berdesak-desakan.


Tanpa mempedulikan junior di sekitarnya, Andi bergerak diantara cela-cela mereka untuk mendekat ke arah stand Bu Sum.


“Bu Sum, gado-gadonya dua. Dua-duanya nambah telor rebus satu ya Bu.” Pesan Andi kepada Bu Sum.


Tidak lama kemudian, Andi kembali ke meja di mana berada. Ia lalu menaruh piring gado-gadonya di depan Dinda. “Bentar Din, aku beliin minumnya dulu.”


Tanpa menunggu jawaban Dinda, Andi menuju ke salah satu stand yang menjual minuman berbotol. Andi membeli dua botol air mineral suhu ruang dan juga satu botol air mineral dingin. Andi tidak tahu mana yang Dinda sukai. Air mineral suhu ruang atau dingin. Jadi ia membeli keduanya.


Ketika Andi kembali ke mejanya, ia disodori selembar uang dua puluh ribuan oleh Dinda. “Ini duitnya.”


“Eh nggak usah Din. Anggap aja aku traktir kamu. Waktu itu kamu tidak mau menerima kue gratisan dariku. Jadi, aku akan mentraktirmu makan siang. Karena kita sedang di sini, kita makan siang seadanya. Jika ada kesempatan lain, aku akan mentraktirmu makan siang di tempat yang lebih baik.”


“Wah benarkah? Aku akan tagih janjimu itu kelak.”


“Ya udah ayo makan.”

__ADS_1


Andi dan Dinda menikmati gado-gado mereka. Sesekali keduanya terlihat tengah mengobrol. Tanpa mereka sadari, beberapa pasang mata tengah mengawasi mereka dari kejauhan.


“Bos Jony, sekarang cecunguk itu berani sekali makan bareng semeja dengan Dinda. Apakah Bos akan membiarkan dia begitu saja?” Ucap salah satu anak buah Jony.


“Iya Bos. Jika dibiarkan tuh anak makin ngelunjak. Dia sekarang makin sok aja. Dia kayak nggak lagi ngehargai Bos Jony.” Imbuh yang lain.


“Diam kalian.” Bentak Jony. “Aku juga ingin sekali memberi pelajaran kepada cecunguk itu. Tetapi, aku tidak bisa gegabah sekarang.”


Sebenarnya Jony ingin sekali saat ini juga dia berlari menuju ke arah Andi. Ia lalu akan memberikan beberapa kali pukulan kepada Andi karena sudah berani sekali mendekati Dinda. Anak itu sekarang benar-benar menantangnya.


Lalu, pandangan Jony tertuju kepada beberapa siswi kelas sepuluh yang terlihat tengah tertawa bersama dan saling bercengkerama. Fokusnya tertuju kepada salah satu siswi yang ada di sana. Dia adalah adik dari Andi.


‘Tunggu saja Andi, aku akan membalaskan semua kekesalanku ini. Akan aku hancurkan hidup kedua adikmu. Dengan begitu, kamu akan benar-benar hancur. Sepertinya, aku tidak perlu menunggu akhir pekan untuk melaksanakan rencanaku.’


‘Besok aku akan pergi ke Surabaya untuk mencari preman yang bisa membantu melaksanakan semua rencanaku. Aku yakin seratus juta rupiah bisa menghancurkan dirimu Andi.’ Gumam Jony dalam hati.


“Ayo kita pergi dari sini. Melihat mereka berdua malah membuat emosiku naik.”


Setelah berucap demikian, Jony langsung pergi dari tempat duduknya. Melihat “kemesraan” antara Andi dan Dinda membuat emosinya naik. Ia perlu pergi dari sini sebelum emosinya menggelapkan pikirannya. Melihat bos mereka pergi, anak buah Jony buru-buru mengekor pemuda itu pergi dari kantin.


*****


Setelah makan siang bersama dengan Dinda, Andi kembali menuju ke perpustakaan. Ia masih perlu menunggu hingga Amira pulang pada jam empat sore nanti. Jadi, daripada Andi harus keluar masuk sekolah, lebih baik ia kembali ke perpustakaan untuk kembali melihat bursa.


Di perpustakaan lebih nyaman bagi Andi. Ruangan tersebut cukup tenang dan memiliki pendingin ruangan. Jadi, Andi akan lebih nyaman bekerja di sana daripada kembali ke kafe di depan sekolah.


Sebelum membuka bursa, Andi berniat membuka kotak misteri yang ia dapatkan dari donasi yang dilakukan oleh para sepupunya. Dengan begini, modalnya untuk membeli saham akan jauh lebih banyak daripada sebelumnya.


“Sistem, buka semua kotak misteri yang aku miliki.” Perintah Andi kepada sistem miliknya.


[Ding]


[Selamat Host telah membuka kotak misteri tingkat emas (8)]


[Ding]


[Selamat Host telah mendapatkan uang tunai sebesar lima milyar rupiah]


[Selamat Host telah mendapatkan uang tunai sebesar empat milyar tujuh ratus lima puluh juta rupiah]


[Selamat Host telah mendapatkan uang tunai sebesar tiga milyar lima ratus juta rupiah]


[Selamat Host telah mendapatkan uang tunai sebesar dua milyar sembilan ratus juta rupiah]


[Selamat Host telah mendapatkan uang tunai sebesar empat milyar lima ratus lima puluh juta rupiah]


[Selamat Host telah mendapatkan uang tunai sebesar tiga milyar rupiah]


[Selamat Host telah mendapatkan uang tunai sebesar empat milyar seratus juta rupiah]


[Selamat Host telah mendapatkan uang tunai sebesar dua milyar tujuh ratus lima puluh juta rupiah]


[Host kumpulkan semua kotak misteri dan ungkap misteri dibaliknya]


“Panel status.”

__ADS_1


[Ding]


[Modul Menjadi Kaya]


[Level 10 (Rp 32.866.135.200/70.000.000.000)]


[Saldo Host : Rp 50.322.473.158,-]


[Tingkat Konversi : 1 kali nafas \= 1 USD (1 USD \= Rp 14.000,-)]


[Misi : - Buatlah sebuah game. Hitung mundur 85 hari 23 jam]


[Misi Harian : - ]


[Target Mingguan : - ]


[Target Bulanan : -]


[Tiket Lucy Draw : 0 Tiket 17 Pecahan]


[Penyimpanan : - Kartu kemampuan karyawan (3/10)]


[Kemampuan : - Lidah Manis : Selamanya



Pengalaman Pembalap : Tingkat 1


Pengalaman Juru Masak : Tingkat 1


Pengalaman Direktur Utama : Tingkat 1


Pengalaman Pialang Saham : Tingkat 1



Pengalaman Desainer Game : Tingkat 1


Pengalaman Programer : Tingkat 1]




[Selamat berjuang menghabiskan uang Host]


“Saldoku kembali ke angka lima puluh milyar setelah membuka semua kotak misteri itu. Jika aku beruntung siang ini dan bisa menghabiskan uang tersebut untuk membeli semua saham perusahaan keluarga Jony, maka kurang lebih aku bisa mendapatkan dua belas persen saham.”


“Ini berarti, aku besok sepulang dari rumah Kakek Buyut Adipramana, bisa mencapai target memiliki lima belas persen saham perusahaan keluarga Jony.”


Andi tidak tahu seberapa lama besok dia akan mengobrol dengan Kakek Buyut Adipramana. Yang jelas, jika perhitungannya tepat, Andi masih bisa memiliki waktu besok setelah istirahat makan siang untuk kembali membeli saham di bursa.


Langsung saja Andi memulai kegiatannya membeli semua saham milik keluarga Jony yang dijual di bursa. Sepertinya, apa yang dilakukan oleh Andi sebelum makan siang tadi, memberikan pengaruh pada harga saham perusahaan keluarga Jony. Sekarang saja sahamnya sudah mengalami kenaikan.


Jika sebelumnya harga perlembar dari saham perusahaan keluarga Jony adalah sepuluh ribu lima ratus rupiah, maka sekarang harganya naik menjadi sepuluh ribu sembilan ratus lima puluh rupiah.

__ADS_1


“Tidak masalah. Mungkin keluargamu sekarang cukup senang Jony karena nilai saham mereka yang mengalami kenaikan cukup banyak dalam beberapa hari terakhir. Tetapi, besok sore aku yakin keluargamu akan kebakaran jenggot memikirkan turunnya nilai saham mereka.”


__ADS_2