Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 108 Kalung Yang Tertinggal (1)


__ADS_3

“Widya, bawa kemari kalung itu. Kakek ingin melihat liontin dari kalung tersebut.” Ucap Rama kepada Widya.


Mendengar ucapan kakeknya, Widya bangkit dari tempat duduknya. Ia lalu menghampiri kakeknya yang kini terlihat sedikit tidak sabaran ingin memastikan simbol dari kalung yang saat ini ada di tangannya. Setelah sampai di depan kakeknya, Widya menyerahkan kalung tersebut.


“Ini Kakek kalungnya.”


“Kohar, ambilkan kacamataku.” Perintah Rama kepada Kohar, butler rumah mereka. Meski sekarang dirinya masih bisa melihat simbol yang ada di liontin di tangannya ini, tetapi Rama ingin kembali memastikannya dengan kacamatanya.


“Baiklah Tuan.”


Tidak lama kemudian Rama menerima kacamata dari butler rumahnya. Segera saja ia memakai kacamata tersebut. Rama mengamati dengan teliti simbol di liontin tersebut.


Rama beberapa kali menemukan liontin seperti ini. Liontin dengan simbol bergambar seekor elang yang memakai sebuah mahkota. Bahkan salah satu anak buahnya pernah mengatakan melihat kalung dengan liontin seperti ini di jual di pasaran.


Yang ingin Rama pastikan adalah, apakah liontin ini memiliki ciri khusus yang tidak dimiliki oleh liontin yang beredar di pasaran. Ciri tersebut adalah sebuah ukiran khusus penanda seri dari liontin. Rama terlihat beberapa kali membolak balikkan liontin yang ada di tangannya.


Anggota keluarga yang lainnya hanya melihat Rama yang saat ini sibuk dengan liontin tersebut. Mereka sendiri tidak memahami apa yang sedang kakeknya cari dari liontin tersebut. Yang bisa mereka lakukan hanya menunggu.


Widya merasa sedikit aneh dengan apa yang tengah kakeknya lakukan. Liotin itu adalah liontin dengan model cukup pasaran. Teman sekolahnya saja memiliki liontin yang sama persis dengan liontin yang dipegang kakeknya. Liontin dengan simbol bergambar seekor elang yang memakai sebuah mahkota.


Sekarang ini, kakek Widya terlihat seperti mencari pembeda antara liontin di tangannya dengan yang ada di pasaran. Sependek pengetahuan Widya, yang membedakan liontin tersebut dengan yang ada di pasaran adalah bahannya.


Di pasaran, liotin seperti itu terbuah dari stainless steel, beberapa yang sedikit mahal dibuat dari perak. Sedangkan yang di pegang kakeknya berwarna emas. Entah itu berbahan emas asli atau hanya perunggu, Widya tidak tahu.


Jika seperti itu, kakeknya tidak perlu membolak balik liontin tersebut untuk mencari pembedanya bukan? Memangnya apalagi yang sedang kakeknya cari dari liontin itu?


Setelah lima menit berkutat dengan liontin tersebut, ekspresi kaget terlihat jelas di wajah Rama. “Ini tidak mungkin.” Ucap Rama setengah berteriak.

__ADS_1


“Ada apa Ayah?” Tanya Doni setelah melihat ekspresi ayahnya.


Rama tidak mempedulikan ucapan anaknya. Ia kemudian memberikan perintah baru kepada butler keluarganya. “Kohar ambilkan kaca pembesar. Aku ingin melihat lebih jelas lagi ukiran-ukiran kecil pada liontin ini.”


“Memang ada apa Ayah?” Tanya Doni sekali lagi. “Apa yang Ayah temukan dalam liontin itu?”


“Sesuatu yang bisa mengubah nasib keluarga kita kedepannya. Kemunculan liontin ini akan memberikan dampak besar bagi keluarga kita. Jika membuat pilihan tepat, keluarga kita akan Berjaya. Tetapi, jika salah memilih, keluarga kita akan menjadi sejarah saja.”


“Jadi, aku perlu memastikan keaslian dari ukiran-ukiran ini. Maka dari itu, aku memerlukan kaca pembesar untuk memastikan semuanya.” Jelas Rama.


“Maksudnya apa kakek? Aku tidak mengerti. Kenapa sebuah kalung bisa mempengaruhi keberlangsungan keluarga kita?” Tanya Gayatri heran.


Apakah itu keberadaan liontin tersebut adalah sebuah pertanda? Tapi memangnya apa yang akan terjadi? Apakah akan ada bencana besar? Kenapa juga kakeknya masih mempercayai hal seperti itu?


“Kemunculan kalung ini ada sebuah pertanda Gayatri.”


“Pemilik kalung ini adalah seseorang yang akan memberikan guncangan besar di negara ini. Maka dari itu, kemunculan kalung ini bisa memperngaruhi keberlangsungan keluarga kita. Jika kita berteman dengan pemilik kalung ini, maka hidup keluarga kita akan semakin makmur. Jika kita menjadi musuhnya, maka keluarga kita akan berakhir sebagai sejarah.”


“Memangnya, apa hebatnya pemilik kalung tersebut sehingga Kakek mengatakan hal seperti ini?” Tanya Widya.


Sulit bagi Widya mempercayai ucapan kakeknya ini. Kemungkinan besar pemilik kalung tersebut adalah Andi, yang beberapa saat lalu pulang dari sini. Tidak mungkin Andi bisa menjadi seperti yang kakeknya ucapkan.


Memberikan guncangan hebat di negara ini? Bagi Widya itu cukup mustahil. Bagaimana pun juga, Andi hanyalah seseorang yang baru lulus dari SMA. Guncangan apa yang bisa dibuat oleh anak seperti dia. Bukannya Widya meremehkan, hanya saja itu tidak bisa dibayangkan oleh Widya.


Apalagi dari pengamatan Widya, Andi bukan berasal dari keluarga kaya. Setidaknya bukan keluarga kaya di Surabaya. Tetapi meski dia dari luar kota, jika dia berpotensi memberikan guncangan besar untuk negeri ini, setidaknya banyak orang yang mengenalnya bukan?


Widya saja sebelum ini belum pernah mendengar nama seorang Andi dalam lingkungan anak orang kaya. Apalagi pencapaian yang sudah pemuda itu buat, Widya sama sekali tidak mendengarnya. Atas dasar apa Kakeknya mengatakan demikian.

__ADS_1


“Sepertinya aku perlu mengatakan hal ini kepada kalian. Tiga ratus lima puluh tahun lalu, sebenarnya leluhur kita hanyalah seorang buruh angkut di pelabuhan. Pada masa itu, bisa dibilang leluhur kita adalah orang yang sangat miskin.”


“Tetapi, semua itu berubah dengan munculnya seseorang yang memiliki kalung dengan simbol bergambar seekor elang yang memakai sebuah mahkota. Dengan mengikuti orang itu, nasib leluhur kita berubah.”


“Meski saat itu adalah masa penjajahan di mana pribumi sangat sulit memulai bisnis, tetapi, orang tersebut dengan mudahnya menjalankan bisnisnya. Meskipun ada kesulitan yang dia alami, dengan mudahnya ia mengatasinya. Seolah ada tangan tidak kasat mata yang membantunya.”


“Lalu, sebagai bawahan setida dari orang tersebut, leluhur kita diberi sebuah bisnis oleh dia, bisnis tekstil, yang sampai sekarang masih kita pertahankan. Setelah membagi beberapa bisnisnya kepada bawahannya, orang tersebut menghilang.”


“Lebih dari seratus tahun kemudian, leluhur kita juga bertemu dengan pemilik dari kalung yang sama. Setiap kalung mereka, memiliki sebuah simbol khusus. Jadi meskipun ada kalung yang sama, tetapi simbol itu tidak akan ada yang bisa menirunya.”


“Rupanya pemilik kalung kedua ini adalah keturunan dari orang yang pernah leluhur kita temui. Kejadian ini berlangsung beberapa kali. Sayangnya kemunculan pemilik kalung ini tidak menentu. Jadi, kita tidak bisa memprediksi kapan dia akan muncul. Dan sekarang pemilik kalung yang sama mucul.” Jelas Rama.


Ini adalah yang Rama cari-cari dari liontin yang dipegangnya. Simbol khusus yang sulit ditiru. Lelurnya sudah mencatat dengan jelas sejarah ini. Secara turun temurun, pemimpin keluarga Jayantaka diwajibkan membaca buku tersebut.


Hal ini dilakukan agar penerus keluarga Jayantaka kelak tidak akan melewatkan pemilik kalung tersebut. Para anggota keluarga Jayantaka wajib mencoba berteman dengan pemilik kalung jika orang tersebut benar-benar muncul.


Atau jika memang tidak memungkinkan bagi mereka berteman, setidaknya para anggota keluarga Jayantaka tidak menjadikan pemilik kalung tersebut sebagai musuh mereka. Jika demikian, bencana besar akan menimpa keluarga mereka.


“Jadi menurut Ayah dia adalah Sang Penerus?” Tanya Doni.


“Ya. Meski aku belum yakin seratus persen, tetapi kalung ini asli. Ini adalah kalung milik sang penerus.”


Tepat ketika Rama selesai bicara, Kohar datang membawa sebuah kaca pembesar di tangannya. Tanpa menunggu Kohar mendatanginya, Rama bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri butler keluarganya tersebut. Ia kemudian merebut kaca pembesar dari tangan Kohar.


Melihat ayahnya yang seperti itu, Doni juga mulai bangkit dari duduknya. Ia mendekat ke arah ayahnya. Laki-laki itu penasaran dengan ukiran yang ada di sana. Ia ingin melihat langsung ukiran-ukiran itu.


Dengan kaca pembesar di tangannya, Rama kembali mengecek ukiran-ukiran kecil yang ada di liontin. Di sana ia melihat dengan jelas ukiran-ukiran kecil itu. Ukiran tersebut merupakan huruf dalam bahasa sansekerta yang diukir menyebar di beberapa bagian liontin.

__ADS_1


Jika ditulis, huruf-huruf tersebut bisa dirangkai hingga membentuk sebuah kalimat. ‘Sang Penerus Generasi Ketujuh.’ Begitulah bahasa sansekerta itu jika diartikan dalam bahasa Indonesia. Melihat hal itu Rama semakin yakin dengan dugaannya.


__ADS_2