
Arfan tidak henti-hentinya bersenandung riang di dalam mobil. Anak lagi-lagi itu senang kembali diajak jalan-jalan oleh kakaknya. Setelah minggu kemarin ia diajak menikmati outbound, sekarang kakaknya itu mengajaknya ke Surabaya.
Dalam pikiran Arfan, Andi akan mengajaknya ke Kebun Binatang Surabaya, atau mungkin Monumen Kapal Selam yang ada di Surabaya. Anak laki-laki itu ingin sekali mengunjungi kedua tempat itu. Sebelumnya Arfan memang pernah sekali mengunjungi Kebun Binatang Surabaya. Tetapi itu waktu dirinya TK.
Arfan sudah tidak terlalu mengingat hal itu. Ia mungkin akan lupa pernah ke sana, jika bukan adanya foto dirinya dan teman-teman TK-nya dengan latar kandang gajah. Arfan ingin sekali kembali berkunjung ke sana.
“Kak, apakah kita akan ke KBS? Atau kita akan ke Monkasel?” Tanya Arfan begitu antusias.
Andi yang berada di balik kemudi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kita tidak akan ke sana untuk saat ini.”
“Ya, kenapa nggak ke sana aja sih. Aku kan pengen ke sana?” Arfan sedikit kecewa mendengar jawaban Andi. Ia kira kakaknya akan mengajak ke sana. Ternyata tidak.
“Kan aku bilang kalo untuk saat ini kita tidak ke sana, itu bukan berarti lain kali kita tidak akan ke sana.”
“Lalu ke mana kita sekarang?” Tanya Amira penasaran. Tiap kali di tanya Andi akan selalu mengatakan lihat saja nanti.
“Lihat saja nanti. Kalo udah sampai kalian juga akan tahu.” Jawab Andi.
Lihat bukan? Andi tetap merahasiakan hal tersebut. Hal itu membuat Amira semakin penasaran. Meskipun bertanya berapa kalipun, tetap saja kakaknya itu akan memberikan jawaban yang sama. Daripada jengkel sendiri, pada akhirnya Amira memilih diam.
Tidak lama kemudian, Andi sampai di apartemennya. Ia sudah menjanjikan Amira untuk mandi dan berganti pakaian. Karena mereka tidak mampir ke rumah, sudah jelas Andi membawa mereka kemari.
Ketika membuka pintu apartemennya, Andi mendengar suara berisik di dalam. Di sana ia melihat Sekar, yang ia pekerjakan membersihkan apartemennya ada di sana. Duduk di sofa adalah Mahayu, anaknya, dan di sebelah anak perempuan itu, ada bayi laki-laki yang tertidur lelap.
“Eh, Mas Andi dateng.” Ucap Sekar menyadari keberadaan Andi. Ibu dua anak itu pun menghentikan akifitas berseih-bersihnya.
“Oh Bu Sekar sedang bersih-bersih toh. Dilanjut aja Bu nggak papa. Ini saya dan adik-adik ke sini cuma mau mandi dan ganti baju aja.” Jawab Andi.
Sembari menunggu kedua adiknya mandi, Andi menemani Mahayu menonton TV. Andi lalu teringat akan rumah mewahnya. Ia belum melihat rumah hadiah yang itu. Dan lagi, rumah itu pasti kotor karena tidak ada yang membersihkan.
“Bu Sekar, sekarang ibu tinggalnya di mana? Ngontrak apa udah punya rumah sendiri?” Tanya Andi tiba-tiba.
__ADS_1
“Masih ngontrak Mas. Harga rumah sekarang mahal-mahal. Orang kayak saya mana mampu beli rumah sendiri. Pengennya sih punya rumah sendiri, tetapi, gaji saya dan almarhum suami nggak banyak. Buat kebutuhan sehari-hari aja pas-pasan. Apalagi kalo buat kredit rumah.”
“Gimana kalo Bu Sekar tinggal di rumahku? Maksudku, aku punya sebuah rumah lain di Surabaya. Di sana banyak kamar kosongnya. Soalnya keluargaku tidak tinggal di Surabaya. Ibu bisa bekerja bersih-bersih rumahku yang itu dan juga tinggal di sana. Jadi, Bu Sekar nggak perlu ngontrak lagi.”
“Nggak ah Mas entar ngerepotin. Kan saya ini juga ada anak-anak. Nggak enak kalo saya tinggal di sana sambil bawa anak-anak saya.”
“Nggak papa Bu. Itu rumah sekarang belum ada yang nempatin. Dari pada kosong, lebih baik Bu sekar dan anak-anak tinggal di sana. Ibu Sekar akan saya jadiin kepala pelayan di sana. Untuk awal, Bu Sekar akan saya kasih gaji lima juta sebulannya.”
“Nanti aku juga akan mencari pekerja lain. Yang bagian masak, bersih, bersih tukang kebun. Aku akan cari pekerja lain. Jadi, Bu Sekar nggak akan sendirian di sana. Kalo ibu punya rekomendasi orang buat bekerja di rumahku, tinggal bilang aja. Ehm, kalo bisa mereka janda yang kesusahan.”
Ada alasan lain Andi meminta pekerjanya adalah janda. Seorang janda yang ditinggal suami terkadang tidak bisa mencari pekerjaan yang memberikan gaji besar. Bukankah ini juga adalah bentuk Andi menolong mereka.
Seperti yang dikatakan ibunya, jangan hanya memberikan sesuatu. Karena jika kita hanya memberi kepada mereka, lama-lama mereka tidak akan berkembang dan malah terus bergantung kepada kita. Lebih baik membantu dengan cara seperti ini. Membantu mereka yang kekurangan dengan memberi mereka pekerjaan dengan gaji besar. Jika mampu kenapa tidak?
“Bagaimana? Kalo Bu Sekar mau, minggu depan aku ke kosan Ibu buat bantuin pindahan.”
“Boleh nggak saya pikirkan ini dulu Mas?” Tanya Sekar.
“Tentu, silahkan pergunakan waktu Ibu. Kalo Bu Sekar setuju, Ibu tinggal hubungi aku aja. Ibu kan sudah punya nomerku.” Jelas Andi.
Setelah kedua adiknya selesai mandi dan berganti pakaian, Andi membawa mereka ke toko komputer langganannya. Andi sudah cukup nyaman belanja di sana. Ketika memasuki toko komputer tersebut, Andi bisa melihat mata kedua adiknya berbinar.
“Kakak, apakah kakak akan membelikanku laptop?” Tanya Amira cukup antusias.
Bicara soal laptop, Andi teringat belum menyerahkan salah satu laptop yang ia beli bulan lalu kepada adik-adiknya. Sepertinya laptop tersebut akan menjadi milik Amira. Bukankah sekarang dirinya akan membelikan unit komputer untuk Arfan. Jika dilihat dari nilai, apa yang akan Andi belikan untuk Arfan kali harganya lebih tinggi dari ponsel dan laptop yang menjadi milik Amira.
Lagipula, Arfan belum terlalu membutuhkan laptop untuk sekolahnya. Beberapa bulan lagi memang anak laki-laki itu sudah duduk di bangku SMP. Tetapi, seingat Andi siswa SMP tidak terlalu banyak membutuhkan laptop jika dibandingkan dengan siswa SMA.
“Tidak. Laptop untukmu sudah ada di apartemen. Aku lupa membawanya pulang dan memberikannya untukmu. Kali ini kita mau membelikan sesuatu untuk Arfan.”
“Untukku?” Tanya Arfan sembari menujuk dirinya.
__ADS_1
“Ya untukmu. Aku akan membelikan peralatan gambar digital untukmu.”
“Benarkah itu Kakak?” Tanya Arfan dengan cukup antusias.
“Tentu saja.”
Andi kemudian berkonsultasi dengan teknisi yang ada di sana. Andi ingin membuat unit komputer dengan spek yang sesuai keinginannya. Sudah jelas tidak ada produk jadinya di sini. Maka dari itu ia perlu mengatakan spek yang ia inginkan kepada teknisi yang ada di sana.
Andi memutuskan untuk membeli dua unit komputer untuk saat ini. Satu untuk Arfan yang akan Andi bawa pulang ke kota asalnya, dan satu lagi untuk dirinya memprogram gamenya. Rencananya akan ia taruh di rumah barunya di Surabaya. Kata para teknisi itu, unit komputer pesanan Andi akan selesai sore hari nanti.
Selain unit komputer, Andi juga membelikan adiknya pen tablet yang nantinya akan dihubungkan ke perangkat komputernya. Untuk semua itu, Andi mengeluarkan uang dua ratus empat puluh juta. Ketika Andi hendak membayar semua itu, Andi mendengar sedikit keributan tidak jauh dari meja kasir.
“Ah kenapa harganya naik sekarang? Aku sudah menabung cukup lama ternyata tidak juga cukup untuk membelinya.” Ucap seorang pemuda yang kini tengah berbicara dengan pelayan toko.
“Bukannya bulan lalu harganya tidak segini? Biasanya barang elektronik semakin lama semakin murah bukan? Kenapa yang ini mengalami kenaikan?”
“Maaf Mas, tetapi barang yang Mas tanyakan itu sudah tidak diproduksi lagi. Sekarang produsennya mengeluarkan produk baru. Dan ini harganya jelas berbeda dengan produk yang sebelumnya. Jika uang Mas nggak cukup, kami masih punya merek lain kok. Ini nggak kalah dengan merek yang Mas inginkan. Harganya juga jauh lebih murah.” Ucap pelayan toko tersebut mencoba memberikan penjelasan.
“Ah tetapi aku hanya menginginkan produk itu. Produk dengan merek itu memberikan performa yang lebih bagus daripada merek yang lainnya. Jika tau seperti ini, seharusnya minggu lalu aku terima saja ajakan temanku untuk menjadi freelancer.” Setelah berucap demikian, pemuda itu pun pergi meninggalkan toko.
Tiba-tiba saja Andi merasa penasaran dengan pemuda itu. Ia kemudian mengahmpiri pelayan toko yang sebelumnya melayani pemuda tadi.
“Itu tadi kenapa Mbak?” Tanya Andi.
Pelayan tersbut langsung memberikan senyum terbaiknya kepada Andi. Bagaimanapun juga, Andi sudah menjadi pelanggan VIP toko mereka. Dalam dua bulan ini saja dia sudah mengahbiskan ratusan juta di toko ini. Apalagi hari ini Andi tanpa berpikir panjang membayar dua ratus empat puluh juta. Sudah pasti dia adalah orang yang perlu diberikan pelayanan terbaik agar besok-besok kembali lagi ke toko mereka.
“Ah dia itu anak desain Mas, masih kuliah dia. Setiap akhir pekan dia sering ke sini ngecek barang baru. Beberapa bulan terakhir ini dia mengincar salah satu pen tablet yang kita punya. Tapi kayaknya uang dia gak cukup buat beli pen tablet merek incarannya. Dan dia nggak mau beli yang lainnya.” Jelas pelayan tersebut.
Entah kenapa Andi ingin membantu pemuda tadi. Tentu saja Andi tidak semata-mata akan membelikan barang keinginan pemuda tadi. Pelayan ini bilang bahwa pemuda tadi adalah anak desain bukan? Jika dia memiliki gambar yang bagus, mungkin Andi akan mengajaknya bekerja sama.
Andi berencana membuat game, ia memerlukan gambar pendukung bukan? Memang ia berencana bekerja sama dengan Arfan. Tetapi, adiknya itu belum menyelesaikan ujiannya. Jadi, Andi tidak bisa melakukan hal itu.
__ADS_1
Jika gambar yang dibuat oleh pemuda tadi sesuai dengan keinginannya, maka Andi tidak keberatan bekerja sama dengannya.
“Baiklah Mbak terima kasih informasinya.”