
Setelah melihat Andi dan adik-adiknya pergi, Jony merogoh kantongnya untuk mengambil ponselnya. Ia perlu menghubungi seseorang kali ini. Sebelum berperang, seorang jendral perlu mengenali dengan baik musuhnya. Dengan begitu, jendral tersbut bisa dengan mudah mengalahkan musuhnya.
“Hallo, Jony.” Ucap seorang di ujung telfon. Suara orang tersebut sedikit bergetar, seperti seseorang yang takut akan sesuatu.
“Rendy, jika kamu ingin aku memaafkanmu atas kejadian tempo hari, maka kamu perlu menebusnya sekarang.”
“Kamu minta aku melakukan apa?” Tanya Rendi.
Rendi sangat tahu bahwa Jony menghubunginya ketika membutuhkan seseorang untuk melakukan perbuatan jahat untuknya. Pasti Jony akan menyuruhnya melakukan sesuatu yang illegal.
Sejak kejadian pengeroyokan itu, Jony tidak lagi menghubunginya. Rendi tahu bahwa anak kaya itu tengah marah padanya. Tetapi, meski Jony marah dirinya tidak bisa berbuat apa-apa untuk membalas Rendi. Jony tidak memiliki banyak akses dengan para preman, dan ayah Jony sendiri tidak mau ambil pusing dengan Rendi.
Kejadian Jony yang mendapatkan panggilan kepolisian membuatnya sedikit kalang kabut. Laki-laki itu sibuk memikirkan cara agar dirinya tetap bisa maju dalam pemilihan walikota. Banyak orang yang mengawasinya sehingga ayah Jony tidak berbuat banyak dalam membalaskan anaknya.
Oleh karena itu, Rendi saat ini masih selamat. Jika tidak, pasti dirinya akan kembali bermalam di rumah sakit tepat di hari ia keluar dari sana. Ia tahu betul watak Jony. Jadi, hal seperti itu bisa saja terjadi.
Jadi, meski sekarang ia tahu bahwa Jony menyuruhnya melakukan hal illegal, Rendi tidak bisa menolak. Jika menolak, hari di mana ayah Jony berhasil menjadi walikota, itu akan menjadi hari kematiannya. Rendi hanya berharap, tugas dari Jony kali ini tidak memberikan masalah besar untuknya.
“Jika kamu ingin aku memaafkanmu dan melupakan kejadian tempo hari, maka lakukan tugas dariku. Besok sore aku ingin informasi lengkap mengenai keluarga cecunguk itu. Kamu tahu bukan siapa yang aku maksud?”
“Ya aku tahu.”
Sial. Si Jony ini apa tidak tahu kata menyerah? Bukankah dia sudah babak belur dihajar anak buah Damar tempo hari? Andi yang tidak mengalami luka sedikit pun saja, mereka mengalami beberapa patah tulang.
Lalu sekarang Jony ingin informasi mengenai keluarga Andi? Rendi yakin Jony memiliki niat jahat kepada keluarga Andi. Ini sama saja dengan mengirimkan surat untuk dewa kematian, agar segera mencabut nyawa mereka. Mungkin Jony tidak takut tetapi Rendi, dia hanyalah orang biasa yang tidak bisa berlindung dibalik kekayaan orang tuanya.
“Aku ingin kamu mencari tahu semua informasi keluarganya. Mulai dari di mana biasanya Bapaknya mangkal, siapa saja pelanggan kateringnya, juga sekolah dari kedua adiknya. Jangan lupa informasi alamat rumahnya. Aku ingin besok sore sudah mendapatkan semua informasinya. Jika tidak, tunggu saja akibatnya. Aku belum membuat perhitungan denganmu mengenai kejadian tempo hari.”
*****
Rendi menutup panggilannya bersama dengan Jony. Sekarang ia cukup bimbang dengan hal ini. Apakah ia akan menuruti perintah Jony atau membangkang. Rendi masih ingin hidup. Sekarang ini dirinya berada pada pilihan yang cukup sulit.
Dari beberapa teman premannya Rendi tahu bahwa paman Andi itu bukan orang biasa. Dia adalah pimpinan dari gang besar di provinsi ini. Gang tersebut memiliki cabang di berbagai kota di provinsi ini. Bahkan dari rumor yang Rendi dengar, kekuasaan gang pimpinan paman Andi itu sudah merambah ke provinsi lainnya.
Jadi, jika dirinya mengganggu keluarga Andi, otomatis dirinya tidak memiliki tempat untuk bersembunyi. Mau bersembunyi di mana pun juga, pasti akan ketahuan karena jaringan informasi mereka yang layaknya sebuah jaring laba-laba. Selama berada di wilayah kekuasaan mereka, apapun gerakan yang kamu lakukan, ada laba-laba yang mengintaimu.
__ADS_1
Pada akhirnya, Rendi memutuskan untuk membangkang perintah Jony. Bagaimanapun juga, kekuasaan Jony tidak seluas itu. Jony dan keluarganya hanya memiliki kekuasan di kota ini. Perusahaan mereka pun tidak sebesar itu. Hanya beberapa pabrik yang memproduksi karton. Kekuasaan mereka tidak sebesar itu.
Jika Rendi pergi ke luar kota pun Jony tidak akan bisa berbuat banyak kepadanya. Jadi, jika dibandingkan dengan menyinggung gunung besar yaitu Andi dan orang-orang di belakangnya, lebih baik dirinya menyinggung keluarga Jony yang hanya bukit kecil.
Sebelum itu, Rendi perlu melakukan sesuatu. Meski dirinya akan membangkang perintah Jony dan pergi dari kota ini, ia perlu melakukan sesuatu. Hal ini agar kehidupannya di kota yang ia tuju tidak banyak mengalami hambatan.
Rendi buru-buru mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Pada deringan kelima, panggilannya itu tersambung.
“Ngapain telfon-telfon aku lagi. Aku nggak mau lagi berurusan dengamu. Gara-gara dirimu, aku mendapatkan hukuman dari Mas Damar. Jangan telfon-telfon aku lagi.”
Sebelum orang yang Rendi hubungi menutup panggilan mereka, Rendi mencoba menghentikannya. “Tunggu dulu Rambo, aku memiliki informasi penting yang perlu Mas Damar ketahui. Tolong beritahu aku di mana Mas Damar sekarang. Aku janji, setelah ini aku tidak akan lagi mengganggumu.”
“Untuk apa lagi kamu mencari Mas Damar? Mau memberinya masalah lagi? Aku tidak akan memberitahumu di mana Mas Damar berada. Cukup sekali aku membuat kesalahan. Aku tidak mau mengulanginya lagi.” Jelas orang yang mendapatkan panggilan Rambo itu.
“Ini ada informasi penting untuk Mas Damar. Ia perlu tahu mengenai hal ini.”
“Informasi apa lagi? Jika kamu ingin memberikan informasi, katakan saja sekarang. Biar nanti aku yang akan menyampaikannya kepada Mas Damar.” Ucap Rambo tidak sabaran.
“Tidak bisa. Aku perlu memberitahukan ini secara langsung. Jika aku memberitahumu dannantinya kamu yang menyampaikannya kepada Mas Damar, aku takut ada informasi yang terlewatkan. Ini informasi yang sangat penting.”
“Ini tentang keponakan dari Bos Besar kalian. Yang tempo hari sudah menghajar kalian itu. Ada infomasi terkait dia yang aku punya. Dan aku rasa, Mas Damar perlu mengetahui hal ini.” Jelas Rendi.
Mendengar perkataan Rendi, Rambo terdiam. Beberapa saat kemudian, pemuda itu kembali bersuara. “Aku akan menghubungi Mas Damar terlebih dahulu. Biar dia sendiri yang memutuskan apakah dia mau menemuimu atau tidak.”
*****
Saat ini Rendi menunggu kedatangan Damar. Mereka sudah janjian untuk bertemu di pergudangan lama. Ini adalah lokasi yang sama di mana ia dan Jony dihajar oleh kelompok Damar. Bedanya, kali ini . Rendi memilih tempat yang lebih dekat dengan jalan raya. Dengan begini, tempat pertemuan mereka tidak akan gelap gulita.
Tidak lama kemudian, Rendi melihat Damar datang kepadanya menaiki sebuah motor dengan diikuti oleh beberapa motor di belakangnya. Sepertinya Damar mengira bahwa dirinya saat ini akan menjebaknya. Lihat saja dia membawa anak buah sebanyak itu. Mungkin ia mengira bahwa akan ada pertarungan ketika menemui Rendi. Padahal, Rendi hanya sendirian di sini.
“Informasi apa yang ingin kamu katakan padaku?” Tanya Damar setelah turun dari motornya. Laki-laki itu tidak berbasi-basi lagi ketika berbicara dengan Rendi. Ia langsung membahas ke inti permasalahan.
“Aku memiliki informasi mengenai Jony. Dia memilki rencana lain untuk Andi.”
‘Si anak kaya itu? Memang benar kata Tuan Mu… ah Mas Andi, bahwa si anak kaya itu tidak mengerti kata menyerah. Seharusnya kemarin aku menghajarnya hingga dia tidak bisa keluar dari rumah sakit. Mau apa lagi si anak kaya itu?’ Gumam Damar dalam hati.
__ADS_1
“Informasi apa yang kamu miliki? Cepat katakan saja jangan berbelit-belit.”
“Ah itu, sepertinya Jony sekarang mengincar keluarga Andi. Aku tidak tahu apa yang dia rencanakan. Yang jelas, dia memintaku untuk mencari informasi mengenai keluarga Andi, terutama adik-adiknya.” Jelas Rendi.
“Apa kamu bilang?” Saat ini Damar sudah menarik baju yang Rendi kenakan. Karena besarnya kekuatan yang Damar gunakan, tubuh Rendi sampai tidak menapak pada tanah karena terangkat oleh Damar.
“Kamu sudah memberikan informasi mengenai keluarga Mas Andi kepada si anak kaya itu?”
Rendi buru-buru mengangkat kedua tangannya. “Bukan seperti itu Mas Damar. Tunggu aku menjelaskan semuanya terlebih dahulu. Jadi, jangan memukulku dulu.”
Mendengar hal itu, Damar melepaskan cengkaramannya pada baju Rendi sembari sedikit memberikan dorongan. Hal itu membuat Rendi mundur beberapa langkah sebelum dirinya terjatuh dengan p**atnya yang menyentuh tanah.
“Cepat jelaskan. Jangan lagi berbelit-belit kalo tidak tinjuku akan mencium kulitmu.”
“Iya Mas, iya. Jony menyuruhku untuk mencari informasi mengenai keluarga keluarga Andi. Tetapi aku belum melakukannya Mas. Suwer.” Ucap Rendi sembari mengangkat jarik telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.
“Aku tahu jika aku melakukan hal itu, aku akan mati karena diburu oleh kelompok kalian. Jadi, aku tidak melakukan hal itu. Aku memilih untuk melaporkan hal ini kepada Mas Damar. Aku hanya minta jejakku yang pergi dari kota ini dihapuskan itu saja. Aku tidak mau Jony mengetahui keberadaanku. Bagaimana pun juga, aku sudah menyuinggung Jony dengan melakukan hal ini.” Jelas Rendi.
Rendi kehilangan orang tuanya ketika masih kecil. Di kota ini dirinya dibesarkan oleh adik ayahnya. Sekarang ia sudah lulus SMA, dengan ijasah SMA-nya ia bisa mencari kerja di kota lain. Untuk keluarga pamannya itu, Rendi akan memikirkannya lain waktu. Yang penting dirinya bisa selamat dari masalah ini.
“Apa kamu berkata jujur?”
Damar tahu bagaimana pemuda ini dengan mudahnya melompat kapal, pindah dari satu kapal ke kapal lain. Pemuda ini ahlinya. Sekarang bisa saja dia memihak kita, besok bisa jadi dia akan memihak pada musuh. Jadi, Damar tidak bisa seratus persen mempercayai pemuda ini.
“Aku berkata jujur Mas Damar. Aku sama sekali tidak bohong.”
Jika demikian, Damar perlu membicarakan ini dengan Andi dan ayahnya. Ia tidak mau mengambil keputusan sepihak seperti sebelumnya. Bisa-bisa, bukannya membantu ia akan menambah masalah seperti sebelumnya.
Damar juga sudah melaporkan hal ini ke markas pusat. Mereka bilang besok Bos Besar akan ke kota ini. Jadi, Damar bisa melaporkan hal itu langsung kepada Bos Besar. Damar tidak sabar untuk segera bertemu dengan Bos Besar. Pasalnya selama ia mengikuti gang pimpinan Bos Besar, ia tidak pernah berbicara secara langsung dengannya.
Pertemuannya besok akan menjadi pertemuan yang luar biasa. Ia bisa menyobongkan hal ini kepada pimpinan cabang lainnya. Diantara pimpinan cabang di kota ini, hanya dirinyalah yang berkesempatan berbicara langsung dengan Bos Besar. Selama ini, mereka hanya memberikan laporan kepada bawahan Bos Besar. Jadi, ini adalah hal yang cukup membanggakan bagi Damar.
Untuk saat ini, Damar perlu mengesampingkan hal itu. Ada hal penting yang perlu ia lakukan. Ia perlu menghubungi Andi dan bertemu dengannya secepatnya. Masalah dengan si anak kaya itu tidak bisa lagi ditunda. Harus segera dicari penyelesaiannya.
Padahal menurut Damar, penyelesaiannya cukup mudah. Cukup bunuh si anak kaya itu dan buang ke jurang. Dengan begitu tidak akan ada masalah lainnya. Tapi kenapa Aripto malah menolak dan tidak mau memakai cara yang praktis itu.
__ADS_1