Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 72 Kesalah Pahaman Baru (2)


__ADS_3

“Pokoknya, aku ingin kamu meluruskan hal tersebut dengan Ayahku. Bahwa kamu melakukan semua itu atas kemauanmu sendiri bukan karena perintah dariku.” Pinta Andi.


Damar sedikit bingung dengan permintaan Andi ini. Tetapi bagaimana pun juga, dirinya harus menuruti kemampuan Tuan Muda ini jika tidak ingin Bos Besar, Burhan, menghajarnya. “Tentu saja. Aku bisa melakukan hal itu. Sesegera mungkin aku akan menjelaskan tentang perkara ini kepada Ayah Anda Tuan Muda.” Ucap Damar.


“Hemm…. Apakah kamu tahu hotel yang aman untuk menginap?”


“Hotel untuk menginap? Bukannya Anda berasal dari kota ini kenapa tidak pulang ke rumah saja?” Tanya Damar sedikit heran.


Sependek pengetahuan Damar, keluarga Prayudi berasal dari kota ini. Dan rumah Andi pun juga di sini. Jadi, kenapa dia menanyakan soal hotel? Kenapa pula menanyakan hotel yang aman? Bukankah semua hotel sama saja? Andi tentunya tahu bukan beberapa hotel yang ada di sini? Kenapa menanyakan hal itu kepada Damar?


“Aku mencarikan hotel untuk temanku.” Kilah Andi. Ia tidak ingin orang lain tahu kejadian yang baru saja dialaminya. Jadi, pemuda itu memakai alasan temannya lah yang mencari hotel.


“Sebelumnya dia mengunjungi hotel AAA. Di sana dia bertemu dengan tante-tante genit yang mengira temanku ini seorang gigo lo. Jadi, dia ingin dicarikan hotel yang aman. Dia sedikit trauma dengan kejadian itu.”


Damar tertawa pelan mendengar ucapan Andi. “Hahaha…. Hotel AAA memang terkenal sebagai hotel yang seperti itu. Biasanya para gigo lo dan lon te yang berkelas sering menginap di sana. Jadi, mereka-mereka yang ingin memakai jasa mereka biasanya dateng ke hotel itu.”


Mendengar ucapan Damar, Andi mulai mengerutkan keningnya. “Mereka nggak takut gitu di ringkus pihak berwajib?”


Jika benar ada praktek seperti itu di hotel tersebut, lama kelamaan pihak berwajib jelas akan mengendus praktek tersebut. Jaman sekarang yang seperti itu cepat sekali diendus pihak berwajib, apalagi yang berada di hotel seperti itu.


Damar mengibaskan sebelah tangannya. “Tentu saja itu mungkin. Mereka sudah memikirkan cara mengelabuhi pihak berwajib. Tidak akan ada ger monya di sini. Itu hanya penyedia jasa dan pemakai jasa saja tidak ada pihak ketiga.”


“Jika seperti itu, bagaimana bisa mereka melakukan transaksi?” Bukannya hal seperti itu biasanya dilakukan dengan perantara pihak ketiga? Biasanya si ger mo akan menawarkan anak buahnya dengan menunjukkan foto mereka bukan? Lalu, jika tidak ada pihak ketiga, bagaimana mereka melakukannya?


“Itu mereka akan bertemu di meja resepsionis. Si penyedia jasa atau pun pengguna jasa biasanya akan menunggu di lobby. Nanti, jika ada cewek atau cowok yang ke meja resepsionis sendirian, mereka akan mendekatinya. Biasanya mereka akan menyewa kamar yang berbeda.”


“Tawar menawar biasanya di lakukan secara verbal di lift. Jadi, pihak berwajib tentu akan kesulitan mengendus hal tersebut. Di buku tamu, tidak akan ada dua orang, yang bukan suami istri, yang menginap di sana. Karena mereka sudah memesan kamar mereka masing-masing. Praktek itu sudah ada tiga tahunan ini.” Jelas Damar.


Mendengar hal itu Andi bergidik ngeri. Ternyata ada juga hotel seperti itu. Bisa saja hotel seperti itu tidak hanya di kotanya saja. Hal ini berarti, ke depannya jika dirinya ingin menginaps di hotel, dirinya perlu mengajak seseorang, agar kejadian seperti ini tidak terulang.


Untung saja tadi dirinya memutuskan untuk kabur dari sana. Jika tidak, Andi tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya. Ia bisa membayangkan jika keperjakaannya hilang dengan cara seperti itu.

__ADS_1


“Apakah semua hotel kayak gitu?” tanya Andi memastikan.


Damar menggelengkan kepalanya pelan. “Nggak semuanya kayak gitu juga lah. Kalo semua kayak gitu pihak berwajib jelas mengendus praktek kek gitu.”


Andi bernafas lega mendengar ucapan Damar. Jadi, dirinya hanya perlu menghindari satu hotel itu saja. Berarti setelah ini ia bisa pergi ke hotel lainnya dengan tenang.


*****


Pagi-pagi sekali Andi sudah berada di kafe miliknya. Bisa dibilang ini adalah pertama kalinya dia mengecek keadaan bangunan ini setelah renovasi. Ia memiliki kunci cadangan kafe ini, sementara kunci lainnya dipegang oleh Anisa.


Interior ruang tersebut sangat nyaman menurut Andi. Dengan konsep industrial kafe ini jelas akan memberikan suasana yang berbeda jika dibandingkan dengan kafe-kafe lainnya di kota ini. Andi pun menuju ke arah dapur. Pemuda itu ingin melihat jantung dari kafe ini.


Bagaimana pun juga, banyak atau sedikitnya pengunjung kafe ini nantinya, itu sangat dipengaruhi oleh makanan yang keluar dari sana. Jadi, tidak salah jika Andi mengatakan bahwa dapur adalah jantung dari kafe ini.


Peralatan dapur yang dipesan oleh Brian ini datang sehari lebih cepat dari yang dijadwalkan. Semua peralatan dapur sudah tertata rapi di sana. Oven, mixer, dan beberapa peralatan membuat kue juga ada di sana. Andi kembali berkeliling di dapur itu untuk mengecek lagi semuanya. Lengkap. Pelaratannya cukup lengkap.


Ini berarti Andi tinggal memberikan latihan kepada para pekerjanya hari ini. Kata ibunya, beberapa bahan dasar juga sudah ada di gudang kafe ini. Jika hari para pekerjanya bisa menguasai resep miliknya, berarti besok kafenya bisa dibuka.


Setengah jam kemudian, Andi mendengar suara deru motor yang mendekat. Pemuda itu kemudian mengecek siapa itu yang datang. Ternyata yang datang itu adalah Anisa, ibunya. Melihat kedatangan ibunya, Andi buru-buru menghampiri wanita tersebut.


“Eh ibu sudah datang.” Sapa Andi kepada Anisa. Tidak lupa pemuda itu mencium tangan ibunya.


“Iya. Ibu ingin datang lebih awal. Kemarin ibu sudah menginformasikan semuanya untuk datang jam delapan, terutama yang bagian dapur harus datang. Lainnya sih ibu rasa nggak terlalu masalah.” Jelas Anisa.


“Itu seragamnya Bu. Aku sudah pesankan semuanya. Seragam kafe ini cuma apron aja. Jadi untuk bajunya, untuk saat ini mereka bebas memakai baju apapun asalkan sopan. Soalnya seragam lainnya masih aku pesankan. Aku kira apron ini aja juga nggak masalah untuk saats ini.” jelas Andi.


“Tentu saja nggak masalah. Nanti ibu akan bagikan semua apron ini ke para pegawai. Jadi bagaimana semuanya, apakah semua peralatan dapurnya lengkap?” Tanya Anisa.


Andi mengangguk pelan. “Lengkap kok Bu. Aku sudah cek barang yang ada di sana sama daftar barang yang dipesan Brian. Semuanya lengkap nggak kurang. Hari ini aku akan melatih mereka untuk mendapatkan masakan yang sesuai dengan standar tempat kita.”


“Jika mereka bisa membuat makanan yang sesuai standar, maka besok pun kita bisa membuka kafe ini. Aku rasa kebanyakan menu kita nantinya adalah dessert. Jadi, mereka bisa membuat dessert itu di pagi hari. Aku yakin itu bisa bertahan sampai sore. Untuk menu yang perlu dimasak, kita memakai makanan yang cukup mudah dibuat dan sudah cukup umum saja.” Jelas Andi.

__ADS_1


“Ibu menurut saja denganmu. Bagaimana pun juga ini kan bisnis milikmu dan Brian. Ibu hanya akan menjalankannya saja.” Jawab Anisa.


“Oh ya, kamu balik ke sini kapan?”


“Semalam Bu memangnya kenapa?”


“Apakah kemarin kamu ketemu dengan ayahmu?”


Andi sedikit mengerutkan keningnya. Sepertinya ada masalah baru. Jika tidak, Anisa tidak akan bertanya seperti ini. “Tidak. Aku kemarin tidak bertemu dengan ayah. Setelah sampai, aku langsung ke hotel.” Jawab Andi.


Semalam dirinya memang tidak menemui Aripto. Dirinya hanya bertemu dengan Damar, ketika dirinya tengah menghibur diri, setelah mengalami kejadian kurang menyenangkan. Apakah kemarin ayahnya itu melawati Jalan Benteng Pancasila? Jika memangs begitu, apakah laki-laki itu melihatnya mengobrol dengan Damar ketika ia berada di sana?


Anisa menghembuskan nafas panjang. “Semalam ayahmu uring-uringan. Dia bilang kamu ini benar-benar memilki hubungan dengan Burhan dan para preman-premannya. Apakah kamu masih berhubungan dengan mereka? Jika masih, ibu minta kamu memutuskan hubungan dengan mereka.”


“Kemarahan ayahmu kali ini akan lebih lama dari yang sebelumnya. Ibu tidak tahu lagi harus bagaimana.” Ucap Anisa pasrah.


Di satu sisi ada anak pertamanya, dan di sisi lain adalah suaminya yang sudah sembilan belas tahun ia nikahi. Anisa saat ini berada di antara kedua orang yang disayanginya itu. Ia bingung harus bersikap seperti apa. Sudah jelas ia tidak bisa memihak siapapun. Namun, wanita itu tidak yakin dirinya bisa bersikap benar-benar adil.


Sementara itu, Andi merasa bahwa permasalahan dengan ayahnya akan semakin memanjang. Tadinya ia berpikir dengan meminta bantuan Damar, untuk mengklarifikasi semua ini, semuanya akan beres. Ternyata tidak semudah itu. Itu malah meperpanjang masalah.


Pertemuan tidak sengaja antara dirinya dengan Damar sepertinya disalah artikan oleh Aripto. Andi sendiri tidak menyangka bahwa ayahnya itu ada di sana ketika dirinya bertemu dengan Damar. Jika seperti ini, Andi akan lebih sulit menjelaskan semuanya. Bahkan ketika Damar menjelaskan semuanya pun tidak akan lagi bisa Aripto percaya.


Pembicaraan ibu dan anak itu terhenti ketika salah satu pegawai kafe yang akan mengikuti pelatihan tiba. Dengan adanya orang lain, sudah jelas mereka tidak bisa melanjutkan pembicaraan keluarga begitu saja.


“Lain kali kita bicarakan hal ini Bu. Sekarang kita perlu menyelesaikan pekerjaan ini.” Ucap Andi yang dibalas dengan anggukan oleh Anisa.


Seharian itu, Andi memberikan pelatihan mengenai resep masakan kepada pegawainya. Kebanyakan adalah resep-resep dessert. Andi memasukkan bebapa masakan lainnya yang cukup mudah dibuat. Menurutnya, resep-resep makanan ini sudah cukup untuk mengisi menu dari kafenya.


Jika terlalu banyak, maka kualitasnya akan tidak terkontrol. Lebih baik sedikit tetapi berkualitas, daripada banyak tetapi tidak berkualitas.


Setelah semuanya sesuai dengan standar yang ia buat, Andi memutuskan untuk membuka kafenya pada senin minggu depan. Mereka hanya perlu latihan sekali lagi agar semuanya benar-benar siap. Sekarang dirinya hanya perlu melakukan promosi melalui akun sosial media di kotanya yang sudah memiliki banyak follower. Andi rasa cara seperti itu bisa menarik perhatian para muda mudi. Apalagi jika dia memberikan banyak promo di kafenya. Andi berharap bisnisnya ini akan berjalan lancar nantinya.

__ADS_1


__ADS_2