Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 167 Laporan Chayan


__ADS_3

“Bos, aku sudah menemukan titik terang mengenai siapa pelaku pembakaran kafe milikmu.” Lapor Kim kepada Andi.


Ini baru jam delapan pagi, tetapi anak buahnya itu sudah berhasil mencari titik mengenai pelaku pembakaran. Andi harap, mereka bisa segera menangkap orang itu dan mencari tahu siapa dalang di balik pembakaran kafe miliknya.


Andi sudah menanyakan kepada sistem berapa kerugian yang ia alami. Dari analisa yang dilakukan oleh sistem, kebakaran ketiga kafenya membuat Andi merugi dua koma delapan lima milyar rupiah. Itu karena setelah kebakaran ini, ada beberapa hal di bangunan kafe miliknya yang perlu dibenai lagi.


Meskipun kafe miliknya sudah mendapatkan keuntungan, tetapi itu belum sepenuhnya membuat modalnya kembali. Dan sekarang, ia malah mengalami kerugian sebesar itu. Jika Andi ingin membangun kembali ketiga kafenya, Andi tidak hanya perlu mengeluarkan uang banyak, tetapi juga waktu.


Belum lagi para karyawan yang sudah ia pekerjakan. Tidak mungkin dirinya tiba-tiba memberhentikan mereka bukan? Setidaknya sampai kafenya bisa dibuka kembali, Andi perlu menunggu satu bulan lagi. Itu berarti, Andi perlu membayar pekerjanya selama sebulan meskipun mereka tidak bekerja.


Memang Andi sanggup membayarnya. Tetapi, itu sama saja dengan dia merugi lagi bukan? Jadi, sekarang Andi cukup senang mendengar bahwa Kim sudah menemukan terduga pelaku pembakaran. Ia hanya perlu mengintrogasi orang itu untuk mengetahui siapa dalangnya.


“Bagus. Sekarang kamu pantau terus pergerakan orang itu. Dan kamu Chayan, informasikan beberapa orang yang ada di rumah. Suruh mereka bersiap. Aku ingin mereka bekerjasama dengan Kim untuk menangkap orang itu.”


“Baiklah Bos. Kami akan segera melakukannya.”


Andi tahu dengan dirinya menyewa pengawal dari luar negeri, akan sulit baginya mencari keberadaan seseorang. Pengawalnya yang berasal dari luar negeri sudah pasti sulit untuk berbaur dengan kondisi di Indonesia. Apalagi mereka baru beberapa hari di sini.


Namun, dengan kemampuan yang dimiliki oleh anak buahnya, Andi yakin kekurangan mereka itu bisa tertutupi. Seperti kemampuan peretas yang dimiliki oleh Kim ini. Dia bisa dengan mudah menemukan orang yang ingin Andi cari dengan cara melihat rekaman kamera pengawas.


Lalu, Kim bisa bekerja sama mengarahkan pengawal yang lain untuk memberitahukan keberadaan orang yang Andi cari. Sekarang ini Andi bersyukur dirinya tidak membuat pilihan yang salah dengan menyewa pengawal dari luar negeri. Mereka bisa dimanfaatkan dengan baik.


Andi sudah menyerahkan urusan penyelidikan kebakaran kepada para manager kafe. Merekalah yang nantinya akan berhubungan dengan para polisi dalam penyelidikan ini. Meskipun Andi sudah menyelidiki sendiri siapa pelakunya, tetapi, ini semua masih perlu proses penyelidikan kepolisian.


Sekarang ini Andi dan kedua orang tuanya kembali pulang ke kota mereka. Bagaimana pun juga, mereka masih dalam kondisi berkabung sekarang. Sore ini mereka juga masih harus menghadiri doa bersama Almarhum Adipramana. Jadi, mereka tidak bisa berlama-lama di Surabaya.

__ADS_1


Andi sendiri sudah berencana untuk cuti. Selama seminggu kedepan, dirinya tidak akan mengurusi bisnis miliknya. Ia akan menyerahkannya kepada anak buahnya. Andi akan turun tangan jika ada masalah yang cukup serius seperti halnya masalah kebakaran ketiga kafe miliknya ini.


“Ayah dan Ibu tenang saja. Urusan kafe serahkan kepadaku. Aku sudah menyuruh anak buahku untuk menyelidiki kebakaran kali ini. Jadi, Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir dengan ursan kafe. Selama masa berkabung tujuh hari ini, Ayah dan Ibu tidak perlu mengkhawatirkan yang lainnya.” Jelas Andi kepada kedua orang tuanya.


“Baiklah, Ibu percaya kamu bisa mengatasi masalah ini.” Ucap Anisa.


“Lalu sekarang, apa rencanamu tentang yang kamu ucapkan waktu itu? Mengenai kamu yang akan memberi modal kepada anggota keluarga Prayudi yang lainnya? Apa kamu sudah memiliki gambaran?” Tanya Aripto.


Sebelumnya, Aripto ingin menanyakan hal ini kepada Andi. Tetapi, dirinya tidak memiliki kesempatan untuk melakukannya. Kemarin Aripto belum sempat menanyakan hal ini kepada Andi. Telepon yang diterima oleh Anisa membuat Aripto mengurungkan niatnya. Lalu mereka harus pergi ke Surabaya.


Jadi, karena sekarang dia ada waktu dan tidak ada orang lain, Aripto bisa menanyakan hal ini kepada anaknya. Ia ingin tahu apa yang Andi rencanakan kedepannya. Mungkin dengan mendengarkan ucapan Andi, Aripto bisa memberikan masukan dari rencana Andi yang kurang pas.


“Seperti yang aku katakan sebelumnya Ayah, siapa pun yang membutuhkan modal usaha, mereka bisa datang kepadaku. Aku akan membantu mereka dengan memberikan modal. Tentu saja aku tetap akan meminta saham dari usaha yang mereka buat.”


“Mungkin aku akan meminta lima puluh satu persen saham dan sisanya dimiliki oleh anggota keluarga kita itu Ayah. Pokonya, aku harus memiliki lebih dari tiga puluh persen saham dan menjadi pemilik saham terbanyak di perusahaan itu.”


“Karena bisnis di dalam negeri nantinya akan dikembangkan oleh anggota keluarga Prayudi yang lainnya, maka aku akan mulai membuka bisnis baru di luar negeri. Mungkin aku akan memulai dengan membeli beberapa saham dari perusahaan luar negeri Ayah.”


“Ayah tidak masalah dengan rencanamu itu. Tetapi kamu harus juga mempertimbangkan dengan baik jumlah uang yang akan kamu berikan sebagai modal. Jangan sampai bisnis milikmu yang lainnya terganggu keuangannya.” Jelas Aripto.


“Tenang saja Ayah. Aku jelas tidak akan melakukan kesalahan seperti itu. Aku akan menyisihkan sebagian uangku untuk modal bisnisku sendiri, sebagian untuk berinvestasi kepada anggota keluarga Prayudi, dan sisanya akan aku sumbangkan kepada yang lainnya.”


“Apakah Ayah ingat mengenai badan amal yang sedang didiran oleh Mas Ganang? Itu adalah salah satu usulan dariku Ayah. Aku ingin keluarga kita memiliki badan amal kita sendiri. Jadi, jika kita nanti ingin berdonasi dalam jumlah besar, kita bisa melakukannya di sana.”


“Jika kita sendiri yang mengelolanya, kita bisa tahu dikemanakan uang-uang tersebut. Kita tidak akan mencurigai mengenai penggunaan uang tersebut. Semakin besar bisnis keluarga kita nantinya, semakin besar dan sering pula donasi yang akan kita lakukan.”

__ADS_1


Aripto cukup senang bahwa anaknya masih ingat berbagai. Tidak hanya pada keluarganya sendiri, tetapi juga berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Untuk urusan berbagai, Aripto tidak akan lagi mengomentari anaknya itu.


“Kalau begitu, aku akan mengajukan diri sebagai salah satu pengurus badan amal. Jadi, itu akan membuatmu lebih tenang lagi dalam mendonasikan uangmu.” Ucap Aripto.


Saat ini dirinya tidak memiliki pekerjaan. Anaknya sudah melarangnya menjadi pengemudi ojek online. Bukan karena malu memiliki Ayah seorang pengemudi ojek online, melainkan karena keamanan keluarga mereka beberapa waktu lalu.


Sekarang, anaknya sudah mulai sukses. Dia juga memberikan mereka pekerjaan yang memiliki pendapatan besar. Anisa sekarang sudah menjadi pengelola kafe, dan Aripto masih belum memiliki pekerjaan.


Sekarang ini kondisi keamanan keluarga mereka sudah terjamin setelah Andi menyewa para pengawal itu. Jika begini, Aripto bisa mencari kesibukan lainnya. Karena pengurus badan amal itu belum sepenuhnya terbentuk, maka ia akan mengajukan diri menjadi pengurus.


“Jika Ayah ingin melakukannya, tidak masalah untukku. Atau ayah ingin membuka bisnis sendiri, itu juga tidak masalah untukku.” Jelas Andi.


“Tidak biar Ibumu saja yang berbisnis. Aku tidak terlalu berbakat dalam melakukannya. Jadi lebih baik aku mengurusi badan amal itu.” Jelas Aripto.


Aripto memang sama sekali tidak memiliki bakat bisnis. Dulu dirinya pernah meminjam uang kepada kedua kakaknya untuk memulai berbisnis. Tetapi, bisnis yang ia jalankan gagal. Oleh karena itu, dibanding kedua kakaknya keluarga Aripto memiliki perekonomian jauh di bawah mereka.


Alasan itu juga yang membuat Aripto enggan menerima bantuan lainnya dari saudaranya. Uang yang ia pinjam sebelumnya saja belum sepenuhnya ia kembalikan. Meskipun kedua kakaknya sudah mengikhlaskan uang tersebut, tetap saja Aripto merasa tidak enak. Jadi, dia tidak lagi mau menerima bantuan mereka.


“Andi, kamu tidak masalah bukan jika uang sisa membeli rumah kemarin Ayah pakai?” Tanya Aripto.


Meski Andi sudah menyerahkan uang tersebut padanya, tetapi Aripto masih perlu mengatakan hal ini kepada Andi. Bagaimanapun juga, itu adalah uang milik Andi. Jadi Andi berhak tahu di kemanakan sisa uang tersebut.


“Tentu saja tidak masalah Ayah. Jika aku sudah mengirimkan uang ke rekening kalian, itu berarti aku sudah memberikan uang itu kepada kalian. Ayah dan Ibu bisa menggunakan uang itu sesuka kalian. Tidak perlu lagi melapor padaku kalian pergunakan untuk apa uang tersebut.” Jelas Andi.


Lalu Andi mengirimkan lagi dua puluh lima milyar ke rekening orang tuanya. Jika Ayahnya berkata seperti ini, kemungkinan dia tengah membutuhkan uang. Andi tidak perlu lagi bertanya apa yang mereka butuhkan sekarang.

__ADS_1


Andi hanya perlu mengirimkan uang ke rekening mereka. Dengan begitu, mereka bisa menggunakan uang itu sesuai kebutuhan mereka.


__ADS_2