
Bayu dan Arman baru saja sampai di apartemen yang biasanya mereka kunjungi jika menemui Sang Penerus. Tetapi, setelah mereka memencet bel berkali-kali, pintu apartemen itu tidak juga terbuka.
“Kenapa tidak ada yang membukakan pintu Ayah? Kita sudah lima belas menit di sini tetapi tidak ada respon sama sekali. Apakah di dalam tidak ada orang?” Tanya Arman pada Bayu.
Kakinya saat ini sudah mulai lelah jika harus berdiri seperti ini. Di sini juga tidak ada kursi untuk mereka duduk dan menunggu. Selama lima belas menit ini Arman hanya berdiri sembari memencet pintu apartemen itu. Ini membuatnya jengkel karena tidak ada yang merespon.
Jika Arman datang sendirian ke sini, sudah pasti dirinya akan pergi di menit ke lima. Sudah pasti di apartemen itu tidak ada orang. Jadi, untuk apa mereka berdiri menunggu selama ini. Seperti orang bodoh saja.
“Bersabarlah. Kita ini sedang meminta bantuan. Jadi, Kamu perlu bersabar. Tahan amarahmu itu.”
Arman hanya bisa menuruti ucapan Ayahnya. Mereka kembali menunggu sembari menekan bel setiap menitnya. Lima belas menit sudah berlalu, namun pintu di depan mereka ini belum juga terbuka.
“Sepertinya di dalam memang tidak ada orang Ayah. Apakah kita pergi saja dan kembali lagi besok pagi?” Tanya Arman.
“Sepertinya begitu.”
Ketika mereka akan pergi dari sana, pintu apartemen itu terbuka. Seseorang yang memakai topeng silver dengan kalung berliontin nomor satu terlihat berada di balik pintu tersebut.
Meski tidak dapat melihat ekspresi dari wajahnya yang tertutup topeng, tetapi dari nada suaranya Arman dan Bayu tahu bahwa orang itu tengah marah sekarang.
“Ada apa kalian malam-malam datang kemari tanpa membuat janji dulu? Apa kalian tidak tahu bahwa apa yang sudah kalian lakukan itu sangat mengganggu tidurku.” Ucap Nomor Satu.
Nomor satu memang tidak tinggal di sini. Tetapi, ponsel miliknya terhubung dengan sistem keamanan apartemen ini. Jadi, ketika ada yang menekan bel apartemen ini, Nomor Satu pasti akan mendapatkan pemberitahuan di ponselnya.
Pemberitahuan yang masuk begitu banyak sampai menggangunya. Ketika ia mengecek dari kamera pegawas, di depan pintu apartemen sudah berdiri pasangan ayah dan anak ini. Awalnya Nomor Satu ingin menghiraukan semua itu. Ia pikir tidak lama mereka pasti akan pergi.
Sayangnya itu tidak terjadi. Mereka masih saja bertahan dan menekan bel apartemen tanpa mengerti kapan harus menyerah. Sayangnya Nomor Satu tidak bisa mematikan pemebritahuan begitu saja. Oleh karena itu, dia malam-malam begini datang kemari.
Nomor Satu berniat mengusir pasangan ayah dan anak ini agar tidak lagi mengganggu waktunya.
“Maaf Tuan Siji sudah mengganggu waktu istirahatmu. Aku datang kemari karena ada kejadian mendesak. Aku ingin menemui Sang Penerus sekarang. Apakah Beliau bisa ditemui sekarang?” Tanya Rama begitu sopan.
“Di sini bukan tempat tinggal Sang Penerus. Ini adalah tempat di mana Sang Penerus menemui kalian. Bukankah kalian sudah tahu itu?”
Mendengar perkataan Nomor Satu membuat Bayu baru ingat mengenai hal itu. Mungkin karena masalah dengan cucunya itu membuat Bayu melupakan hal sepenting itu.
__ADS_1
“Apakah kalian juga lupa untuk tidak mencari Sang Penerus jika tidak sedang dipanggil?”
“Maafkan aku Tuan Siji. Aku melupakan hal sepenting itu.”
“Jika kalian memang ingin menemui Sang Penerus, buatlah janji dulu. Sang Penerus cukup sibuk untuk mengurusi urusannya yang lain. Waktu miliknya tidak hanya untuk kalian saja.”
“Maafkan aku Tuan Siji.” Ucap Bayu sekali lagi.
“Memangnya kejadian mendesak apa yang membuat kalian seperti ini? Katakan saja semuanya. Nanti aku akan menyampaikan hal itu kepada Sang Penerus.” Ucap Nomor Satu.
“Ini masalah cucuku Tuan Siji. Dia dijebloskan ke penjara oleh Rama dan Dirga. Aku mohon Sang Penerus sudi untuk membantu membebaskan cucuku itu dari penjara.”
“Hem…. Baiklah akan aku sampaikan itu kepada Sang Penerus. Sekarang pulanglah dan jangan kembali lagi ke sini jika tidak membuat janji.” Tanpa menunggu respon dari Bayu dan Arman, Nomor Satu membanting pintu apartemen itu di depan mereka.
Nomor satu tidak perlu mendengarkan penjelasan dari mereka. Mencari tahu sendiri tentang kejadian itu lebih akurat daripada mempercayai ucapan Bayu.
Diperlakukan seperti itu, amarah yang sedari tadi Arman tahan, meletus bagaikan gunung berapi. “Kurang ajar sekali. Kita sudah menunggu tiga puluh menit di sini, dia sama sekali tidak mempersilahkan kita untuk duduk. Malahan dia membanting pintu seperti itu.”
“Ayah apakah Kamu yakin mereka benar-benar bisa diandalkan? Semakin ke sini aku semakin yakin bahwa mereka itu tidak akan membuat keluarga kita berjaya, tetapi semakin dekat dengan kehancuran. Mereka hanya memanfaatkan kita Ayah.”
Bayu tidak menghentikan racauan yang dilakukan oleh Arman. Semakin lama mendengarnya, Bayu merasa apa yang dikatakan oleh anaknya itu ada benarnya. Mereka sepertinya hanya dimanfaatkan saja oleh seseorang bergelar penerus itu.
Hal itu membuat Bayu berpikir, apakah orang itu benar-benar Sang Penerus asli, ataukah hanya seseorang yang mengaku sebagai Sang Penerus. Deskripsi dari Sang Penerus yang diberikan oleh Ayahnya dengan Sang Penerus yang ia temui sekarang sangat jauh berbeda.
“Hah.” Bayu menarik nafas panjang. “Untuk sekarang kita urus masalah ini sebisa mungkin. Sepertinya kita tidak bisa berharap banyak dari Sang Penerus ini. Setelah dia mengembalikan uang kita yang waktu itu, kita akan menghentikan kerja sama kita dengan dia.” Jelas Bayu.
*****
Setelah mengusir Bayu dan Arman, Nomor Satu langsung bekerja menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Ia perlu memahami dengan jelas kasus apa yang sedang menimpa cucu dari Bayu itu. Setelah informasinya terkumpul, barulah Nomor Satu akan melaporkan hal ini kepada Sang Penerus.
Biarkan Sang Penerus sendiri yang memutuskan apakah mereka akan membantu cucu dari Bayu itu atau tidak. Tetapi nomor satu akan melakukan itu besok pagi. Sudah pasti saat ini Sang Penerus sedang beristirahat. Jadi baru besok Nomor Satu akan melaporkan hal ini.
Kebetulan besok adalah jadwal Nomor Satu menyampaikan laporan kepada Sang Penerus. Jadi, ia tidak perlu lagi membuat janji untuk menyampaikan hal ini.
….
__ADS_1
Jam sepuluh pagi Nomor Satu sudah berdiri di depan pintu sebuah apartemen. Ia sudah membunyikan bel. Sekarang ia hanya menunggu orang di dalam sana membukakan pintu untuknya. Tidak lama kemudian, seseorang membuka pintu apartemen itu.
Berdiri di depan nomor satu adalah seorang pemuda yang memakai kaos tidak berlengan. Hal itu membuat otot ditangannya terlihat jelas. Ketika melihat bahwa yang datang adalah nomor satu, pemuda itu mengerutkan keningnya. Ia menampakkan ekspresi tidak sukanya kepada Nomor Satu.
“Tuan Muda.” Sapa Nomor Satu sembari menganggukkan kepalanya kepada pemuda tersebut.
“Heh.” Pemuda itu merespon sapaan nomor satu dengan sebuah dengusan.
“Kamu ingin menemui sepupuku ya.” Tanya pemuda itu.
“Ya Tuan Muda. Aku ingin menemui dia.”
“Dia sedang mandi sekarang. Jadi, kamu tunggulah di sini.”
Pemuda itu menampakkan wajah tegarangnya. Tangannya yang penuh dengan otot, ia lipat di depan dadanya. Pemuda itu sama sekali tidak memiliki niatan untuk mempersilahkan Nomor Satu masuk. Ia membiarkan Nomor Satu berdiri di depan pintu, sementara dirinya menjaga pintu tersebut.
Di antara keduanya tidak ada yang berbicara. Mereka hanya saling pandang tanpa ada yang berniat mengalihkan pandangan. Kegiatan saling pandang itu berhenti ketika seseorang datang dari balik punggung pemuda itu.
“Kamu sudah datang rupanya.” Ucap orang itu.
“Bos.” “Dek.” Sapa Nomor Satu dan pemuda itu secara bersamaan.
Mendengar hal itu, pemuda itu memberikan nomor satu tatapan tajam. Kemudian, pandangannya melembut ketika memandang sepupunya.
“Dek, karena Kamu ada tamu sekarang, aku akan pergi. Aku tidak ingin mengganggu pembicaraan kalian yang sangat rahasia itu.” Ucap pemuda itu sarkas.
Ia kemudian masuk ke dalam apartemen untuk mengambil barang-barang miliknya. Sebelum pergi, pemuda itu memandang ke arah sepupunya.
“Besok aku akan datang lagi kemari. Jangan sampai telat makan lagi. Jangan buang-buang waktumu untuk mengurusi hal yang tidak berguna itu.”
Setelah berucap demikian, pemuda itu pergi meninggkan apartemen sepupunya tanpa menunggu jawaban. Pemuda itu sangat tidak menyukai apa yang sepupunya itu lakukan. Menurutnya, itu semua hanya menguras emosi dan membuang-buang waktu.
Sebenarnya memaafkan tidak seburuk itu. Dengan memaafkan, hati akan jauh lebih tenang dan damai. Tidak akan ada bebean berat di hati.
Balas dendam tidak akan menghentikan masalah. Itu malah akan meperburuk keadaan. Balas dendam akan selalu berputar tanpa ada ujungnya. Kita melakukan balas dendam, lalu pihak sana bisa melakukan yang sama, kemudian pihak kita kan melakukannya lagi.
__ADS_1
Maka dari itu, pemuda itu berpikir sepupunya itu lebih baik melepaskan dendam keluarganya, yang dia sendiri tidak ikut terlibats dalam rantai dendam itu.