Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 47 Bertetangga dengan Brian


__ADS_3

Ketakutan Andi ternyata terjadi juga. Brian membawa mobil sportnya menuju pelataran gedung apartemen yang sama dengan apartemen milik Andi. Di depan mereka masih ada beberapa mobil lagi. Hal ini ingin Andi manfaatkan untuk membujuk Brian agar pemuda itu tidak membawanya ke apartemen ini.


“Bro, sepertinya kamu tidak perlu membawaku kemari. Tempat yang aku tinggali saat ini sudah cukup memberikan kenyamanan untukku. Kamu tidak perlu membawaku menginap di apartemen ini. Ini tidak cocok untuk orang miskin sepertiku.”


“Bicara apa kamu ini. Kamu ini temanku, mau kaya atau miskin kamu ini tetap temanku. Kalo menurutmu apartemen ini kurang pantas, maka kita perlu memantaskannya. Jika kamu tidak suka dengan interiornya, kamu tinggal bilang. Aku bisa mencari seorang desainer interior untuk mengubah semuanya sesuai seleramu.”


“Jadi kamu nggak perlu menolak. Lebih enak kamu tinggal di sini. Aku tenang, ibu tenang. Kami nggak perlu mengkhawatirkan keadaanmu, tentang di mana kamu tinggal, apakah kamu sudah makan. Kami akan sangat mengkhawatirkanmu jika kamu tidak berada di tempat yang kami ketahui. Jadi kamu tinggal saja di sini.”


Andi mengela nafas panjang. Sepertinya ia tidak bisa mengubah keinginan Brian. Sekarang ia pasrah. Andi hanya berharap, satpam yang berjaga kali ini bukan satpam yang mengenalnya. Dengan begitu, Andi bisa mengulur rahasia ini lebih lama lagi.


“Baiklah. Aku akan mengikuti permintaanmu.”


Andi sedikit bernafas lega ketika Brian membawa mobilnya menuju parkiran yang ada di basement. Ini akan semakin memperkecil kemungkinan dirinya bertemu dengan satpam yang ia kenal. Setelah memarkirkan mobilnya, Brian dan Andi menuju lift yang ada di sana. Dengan kartu akses miliknya, Brian membawa lift tersebut menuju lantai di mana apartemennya berada.


Andi cukup kaget ketika melihat lantai yang di tuju Brian. Itu adalah lantai sepuluh, lantai yang sama dengan apartemen miliknya. Kebetulan seperti apa ini? Kenapa dirinya memiliki apartemen di gedung yang sama dengan Brian. Tidak hanya itu, lantai apartemen mereka juga sama. Ini seperti ada yang mengatur agar apartemen mereka berada di gedung yang sama dan lantai yang sama.


“Sebenarnya mulai hari ini aku akan pindah ke sini.” Ucap Brian tiba-tiba ketika mereka berada di lift. “Mungkin aku hanya akan pulang ke kota kita dua minggu sekali. Sekarang ini ayahku ingin menggembleng diriku dengan ilmu bisnis. Jadi aku perlu sering berkunjung ke perusahaan ayah.”


“Kau tahu sendiri bukan bahwa perusahaan ayahku berada di kota ini. Jadi akan lebih muda jika aku juga tinggal di kota ini. Aku ingin hidup mandiri dengan tinggal sendirian tanpa tinggal bersama dengan orang tuaku. Jadi aku nantinya akan tinggal di sini bersamamu.”


Ini malah akan memperburuk semuanya. “Jadi, kamu akan tinggal di sini kedepannya.”


“Ya. Apa kamu keberatan? Apa kamu masih kepikiran dengan perkataan orang-orang di kafe tadi? Tenang saja aku bukan pelangi, aku bukan penyuka batang. Aku masih menukai bukit, jadi kamu tidak perlu menakutkan hal itu. Atau jangan-jangan kamu ini penyuka batang dan dengan tinggal denganku kamu takut tidak bisa nenahan semuanya?”


“Ck.” Andi berdecak mendengar perkataan Brian. “Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku juga menyukai bukit. Kamu jangan membicarakan ini lagi. Jika kamu membicarakan hal ini terus menerus, itu malah akan membuatku curiga dengan orientasi seksualmu.”


Brian mengangkat kedua tangannya, menyerah. “Baiklah, baiklah. Aku tidak akan lagi membicarakan hal itu. Sekarang kamu harus terima bahwa aku akan menjadi teman serumahmu yang baru. Jika kamu kuliah nanti, kamu tetap bisa tinggal di sini. Jadi, aku sarankan kamu memilih berkuliah di kampus yang ada di Surabaya.”


“Itu memang tujuanku, untuk berkuliah di salah satu kampus yang ada di Surabaya.”


Lift yang mereka naiki sampai di lantai tujuan mereka. Ketika pintu lift terbuka, Andi cukup kaget dengan apa yang dilihatnya. Di sana terlihat beberapa orang membawa beberapa kotak kardus dan menaruhnya di depan pintu salah satu apartemen. Bukan barangnya yang membuat Andi kaget. Tetapi orang yang membawa kardus-kardus tersebut.


Mereka adalah dua orang satpam yang beberapa kali membantu barang belanjaan Andi masuk ke apartemen. Mungkin karena uang tip yang Andi berikan cukup besar, kedua satpam itu mulai mengajak Andi berkenalan. Jadi bisa dibilang, diantara semua orang yang ada di gedung ini, kedua satpam inilah orang yang paling tidak ingin Andi temui.


“Ah sepertinya barang yang aku pesan sudah datang.” Ucap Brian.

__ADS_1


Ternyata mereka mengirimkan barang-barang milik Brian. Andi kembali mengecek lokasi tersebut. Apartemen milik Brian berada tepat di depan apartemen Andi. Pintu apartemen mereka pun berhadap-hadapan. Kebetulan apalagi ini?


Brian memimpin berjalan mendekati ke arah apartemennya. Ketika kedua pemuda itu mulai dekat, kedua satpam yang ada di sana menghentikan aktifitas mereka dan mengecek siapa yang datang kali ini.


“Ah rupanya Anda sudah datang Mas Brian. Semua paket atas nama Mas Brian udah kami taruh di sini. Kapan-kapan kalau ada paket lagi, Mas Brian tinggal bilang ke satpam yang di bawah. Biar kami atau siapa pun yang berjaga nanti akan membawa paket Mas ke sini.” Jelas salah satu satpam.


“Terimakasih Pak Simon sudah membantu membawa semua barang-barangku.” Ucap Brian setelah melihat nama yang tertera pada baju satpam tersebut. Brian kemudian mengeluarkan dua uang seratus ribuan dan kemudian menyerahkannya kepda Simon.


“Dibagi ya Pak sama temennya.”


Simon menerima uang tersebut dengan senyum lebar. Pekerjaan remeh seperti ini lah yang sering memberikannya pendapatan tambahan. Membantu membawakan beberpa barang penghuni apartemen membuatnya mendapatkan uang tip. Terkadang dalam sebulan besarnya uang tip hampir sama atau lebih dari gajinya. Itu sangat membantunya.


Simon baru menyadari keberadaan seseorang di belakang Brian. Ia mengenali pemuda tersebut. “Eh Mas Andi. Sudah pulang Mas? Katanya mau cari makan. Udah selesai cari makannya?” sapa Simon kepada Andi.


Mendengar sapaan Simon, Andi melirik ke arah Brian. Ia ingin melihat respon dari sahabatnya itu. Benar saja mendengar Simon menyapa Andi, Brian langsung menolehkan kepalanya memandang ke arah Andi.


“Eh iya Pak Simon. Aku nggak jadi makan di luar.”


“Kalian berdua saling kenal?” tanya Brian tiba-tiba. Pemuda itu memandang Andi dan Simon secara bergantian.


Mendengar hal tersebut Brian memandang ke arah Andi. “Oh, jadi kita bertetangga sekarang. Hallo tetangga apa kabar. Namaku Brian, aku harap kedepannya kita bisa saling membantu.” Ucap Brian sembari tersenyum dengan penuh arti kepada Andi. Pemuda juga mengulurkan tangannya seolah tengah mengajak Andi berkenalan.


“Ah. Hai aku Andi. Senang berkenalan denganmu.”ucap Andi menanggapi Brian.


Andi tahu dirinya terlibat masalah besar sekarang. Meski begitu, dirinya dan Brian tidak bisa membahas semua ini begitu saja di depan orang asing. Jadi, Andi mengikuti permainan Brian yang berpura-pura tidak saling kenal itu.


“Baiklah kalau begitu kami undur diri dulu Mas Brian, Mas Andi. Kalau kalian membutuhkan kami, tinggal telfon ke pos satpam di bawah saja. Permisi.”


Kedua pemuda itu memandangi kepergian Simon dan temannya. Ketika sudah memastikan bahwa lift yang dinaiki Simon dan temannya sudah membawa mereka turun ke bawah, Brian menolehkan pandangannya ke arah Andi.


“Oh, jadi kita sekarang bertentangga ya. Hemm….” Brian melipat kedua tangannya di dadanya sembari memandang ke arah Andi. Tubuhnya ia sandarkan di tembok yang ada di sana, matanya memandang Andi dengan tatapan yang menelisik.


Andi menarik nafas panjang. “Aku bisa menjelaskan semuanya Bro.”


“Jelaskan semuanya. Telingaku sudah siap mendengarkan.”

__ADS_1


“Ah, tidak bisakah kita membicarakan ini di dalam ruangan saja? Kamu tahu, jika kita berbicara di sini dan ada orang ketiga yang mendengarkan, itu tidak akan berakhir baik. Aku yakin kamu masih ingin tinggal di sini dengan tenang dan tidak dipandang aneh oleh tetangga lainnya.”


“Aku tidak ingin kejadian di kafe terulang kembali.”


Brian bergidik ngeri mendengar perkataan Andi. Mereka yang ia temui di kafe tadi belum tentu kemudian hari bertemu lagi dengannya. Tetapi itu akan sangat berbeda dengan tetangganya. Jika ada kesalah pahaman seperti tadi terjadi lagi, sudah pasti dirinya tidak akan bisa tinggal di sini.


Sudah jelas para tetangganya akan memandangnya dengan tatapan aneh. Belum lagi jika ada orang yang kenal dengannya dan melaporkan hal itu kepada orangtuanya. Ini bisa bahaya. Bisa-bisa dirinya akan diuleg oleh ibunya.


“Ah, kau benar. Ini kesalah pahaman itu tidak bisa terulang kembali. Lebih baik kita membicarakan ini di tempat yang tertutup.” Ucap Brian. “Jadi, di mana kita akan membicarakan hal ini? Tempatku atau tempatmu?”


“Di tampatku saja. Aku punya makanan di tempatku. Dan sekarang aku juga sangat lapar. Kamu membawaku pergi dari kafe, jadi aku belum sempat untuk makan. Aku perlu mengisiperutku sebelum membicarakan semua ini.”


“Tidak masalah untukku. Yang jelas aku ingin kamu menjelaskan semuanya hingga akar-akarnya.”


“Tentu.”


Andi mengajak masuk Brian ke dalam apartemennya. “Kamu duduk aja dulu, aku mau ke kamar mandi sebentar.”


Andi tidak mempedulikan tentang Brian yang sekarang terlihat meperhatikan apartemen miliknya. Ada yang lebih penting yang perlu Andi lakukan. Pemuda itu segera menuju ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Dia ke kamar mandi bukan untuk membuang hajat melainkan untuk berbicara dengan sistem.


“Sistem.” Andi mencoba memanggil sistem. Namun tidak ada respon yang Andi dapatkan.


“Sistem.” Beberapa kali Andi mencoba untuk memanggil sistem, tetapi sampai suaranya menjadi serak pun Andi belum mendapatkan respon yang diinginkannya.


“Ah, kamu sudah memberikanku masalah seperti ini tetapi kamu tidak mau bertanggung jawab. Jika kamu tidak memberikanku apartemen yang sama dengan milik Brian, sudah pasti hal ini tidak akan terjadi.”


“Sistem, jika kamu tidak memberiku respon, maka aku akan memberitahukan tentang dirimu kepada Biran.” Setelah Andi mengatakan hal ini, ia mendengar pemberitahuan yang khas dari sistem miliknya.


[Ding]


[Sistem mendeteksi kenginan Host untuk membocorkan keberadaan sistem kepada pihak ketiga]


[!!! PERINGATAN !!!]


[Jika sampai ada pihak ketiga yang mengengetahui keberadaan Sistem, maka host akan kehilangan sistem untuk selamanya]

__ADS_1


[Host jaga rahasia keberadaan sistem baik-baik]


__ADS_2