Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 139 Lima Bahasa Baru


__ADS_3

Andi terbangun dengan kepala yang masih pusing. Ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Saat ini dirinya terbaring di sebuah ranjang yang terlihat seperti sebuah klinik. Ia memijat pelipisnya untuk mengurangi rasa pusing di kepalanya.


Andi mencoba mengingat-ingat kenapa dirinya berada di sini saat ini. Padahal, tadi dirinya tengah melakukan pertandingan dengan Andres. Andi rasa dirinya sudah memenangkan pertarungan tersebut. Tetapi kenapa sekarang dirinya yang berada di klinik?


“Ah sial. Bodoh sekali aku.” Umpat Andi setelah mengingat kenapa dirinya ada di sini.


“Sistem, kenapa nggak ngasih peringatan sih ketika aku akan memakai semua kemampuan bebahasa yang baru aku dapat?” Tanya Andi kepada sistem miliknya.


Andi pikir dengan sistem yang sekarang berbicara dengannya, ia akan mendapatkan beberapa peringatan jika melakukan kesalahan. Namun pada kenyataannya tidak seperti itu. Buktinya sistem sama sekali tidak memberinya peringatan mengenai efek samping jika dirinya memiliki lima kemampuan baru.


[Host, jangan salahkan sistem mengenai hal ini. Bukankah Host sendiri sudah tahu bahwa efek samping memiliki kemampuan baru adalah rasa pusing di kepala? Jadi, jangan salahkan sistem jika Host jatuh pingsan karena menerima kemampuan baru.]


“Ah sial sekali, gara-gara ingin segera bisa berkomunikasi dengan lancar, aku melupakan halitu. Bodoh sekali kamu ini Andi.”


Untungs tadi dirinya pingsan di tempat yang cukup aman. Meski itu di dalam arena, tetapi pertandingannya dengan Andres telah usai. Bayangkan jika Andi pingsan ketika sedang menyetir, sudah jelas nyawanya akan terancam jika hal ituterjadi.


“Kedepannya, peringatkan aku jika aku mengulangi kebodohan yang sama seperti sekarang ini. Aku tidak mau mengalami rasa sakit di kepala seperti tadi.”


[Baiklah Host, kedepannya sistem akan melakukan apa yang Host minta.]


“Lalu sistem, bahasa apa saja yang aku dapatkan?”


Andi tidak tahu bahasa apa yang ia dapatkan selain bahasa inggris. Seingat Andi, sistem akan memberinya kemampuan berbahasa Inggris dan empat bahasa random.


[Bahasa Inggris, Bahasa China, Bahasa Prancis, Bahasa Jepang, dan Bahasa Spanyol.]


“Lima bahasa yang cukup banyak pemakainya. Jadi ke depannya aku tidak akan lagi mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orang lain.”


Tidak lama setelah Andi mengobrol dengan Sistem, Andi mendengar derap langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Lalu, seseorang membuka korden yang menjadi pembatas ranjang Andi dan ruangan di sekitarnya. Di sana Andi bisa melihat Brian yang menatapnya dengan pandangan khawatir.


“Bro, akhirnya kamu sadar juga. Kamu nggak papa kan? Nggak ada yang sakit? Apakah kamu punya penyakit bawaan? Apakah kita perlu ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut?” Brian langsung saja memberondong Andi dengan rentetan pertanyaan.


Pemuda itu cukup khawatir dengan keadaan temannya ini. Andi sudah tidak sadarkan diri selama setengah jam, hal itu sangat mengkhawatirkan Brian. Untung saja sekarang ketika mengecek kembali keadaan Andi, Brian bisa melihat temannya itu sudah sadar sekarang.


“Tenang aja, aku baik-baik saja sekarang. Aku nggak ada penyakit apa pun. Jadi, kita nggak perlu ke rumah sakit.”


“Tapi kenapa kamu bisa pingsan? Tadinya kamu baik-baik saja bukan? Jadi, kenapa kamu tiba-tiba pingsan kayak gitu.”

__ADS_1


“Aku baik-baik saja sungguhan. Kalau nggak percaya lihat ini.”


Andi langsung turun dari ranjang tempatnya berbaring. Ia lalu melompat-lompat cukup tinggi, mencoba menunjukkan kepada Brian bahwa dirinya baik-baik saja saat ini.


“Lihat bukan aku baik-baik saja. Jadi kamu nggak perlu khawatir seperti itu. Sekarang di mana pakaianku?” Tanya Andi.


Saat ini dirinya tidak memakai pakaian apapun. Hanya celana pendeknya yang ia pakai tadi. Tidak mungkin bukan dirinya berkeliaran hanya dengan pakaian seperti ini.


“Ah ya, pakaianmu di laci situ.” Ucap Brian sembari menujuk nakas yang ada di dekat ranjang Andi.


Langsung saja Andi memakai pakaiannya tersebut. Setelah berpakaian cukup rapi, Andi kemudian menghadap ke arah Brian.


“Ayo sekarang kita temui pamanmu. Aku ingin segera menyelesaikan urusan kita.”


“Apa kamu nggak berniat istirahat dulu? Kamu baru saja siuman dari pingsanmu bukan?”


Andi langsung mengibaskan sebelah tangannya. “Tidak masalah. Aku baik-baik saja sekarang. Kamu tidak perlu khawatir.” Jawab Andi.


Brian memandang lekat ke arah Andi. Setelah memastikan bahwa temannya itu baik-baik saja, Brian mengajaknya menuju ke tempat Roy berada.


Ketika kembali ke mansion Roy, Brian membawa Andi ke ruang tamu yang ada di lantai dua. Pada sofa yang ada di sana, terlihat seorang laki-laki dan perempuan mengobrol. Sementara itu, di sofa yang lain, Andres terlihat mendengarkan percakapan di antara kedua orang tersebut.


“Uncle Roy, Aunty Elena. Ini temanku, namanya Andi.” Ucap Brian memperkenalkan Andi kepada mereka.


“Buenas tardes, Senor, Señora.” Sapa Andi kepada pasangan suami istri tersebut.


Mata Brian melebar ketika mendengar Andi yang menyapa paman dan bibinya menggunakan bahasa Spanyols. Tidak hanya itu saja, ketika Andi mengucapkannya, Brian seolah mendengar orang lokal yang mengatakan hal tersebut. Bukan Andi yang notabenenya merupakan orang asing.


“Siang juga Andy. Apakah Kau bisa berbahasa spayol?” Tanya Roy dalam bahasa Spanyol.


“Sí, meski tidak terlalu lancar tetapi aku bisa sedikit berbahasa Spanyol.”


“Hahaha.” Roy tertawa pelan. “Ayo duduklah di sini. Jangan berdiri di situ.”


Mendengar percakapan singkat antara Andi dan Roy membuat Brian menatap Andi dengan tidak percaya. “Kapan kamu belajar bahasa Spayol? Perasaaan kamu sebelum nggak bisa deh ngomong bahasa Inggris lancar. Eh sekarang bisa bahasa Spayol selancar ini.”


Andi mengangkat kedua bahunya. “Mungkin setelah aku pingsan tadi kemampuan berbahasa asingku mengalami peningkatan. Aku tidak tahu.” Tanpa menunggu respon Andi berjalan menuju ke arah Roy dan istrinya.

__ADS_1


Sementara itu, Andres memandangnya dengan tatapan tajam. Anak laki-laki itu merasa tidak terima dengan kekalahannya tadi. Masalahnya adalah, tidak lama setelah dirinya mengaku kalah, Andi jantuh pingsan. Ini berarti dirinya tidak selemah itu.


Jika tadi ia bertahan sedikit lama lagi, pasti ia bisa mengalahkan Andi. Sayangnya ia sudah terlebih dahulu mengaku kalah kepada Andi. Andres ingin sekali kembali menantang Andi bertanding. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya jauh lebih kuat daripada Andi.


Tetapi, ego Andres tidak mengijinkan hal itu terjadi. Jika dirinya sekarang menantang Andi, itu tidak akan memberikan hasil yang ingin ia capai. Andi baru saja siuman dari pingsannya. Jika nanti dirinya menang, sudah pasti ia dianggap memanfaatkan kondisi terlemah Andi.


“Kenalkan ini istriku, Elena.”


“Senang bertemu denganmu Señora.”


“Senang juga bertemu denganmu Andy. Aku dengar dari Brian, Kau ingin menyewa beberapa pengawal dari kami.”


“Ya Señora, itu adalah alasanku datang kemari. Aku ingin menyewa beberapa pengawal untuk keluargaku dari perusahaan keamanan milik suami Anda. Aku ingin mengetes kemampuan mereka langsung supaya aku bisa menentukan siapa saja yang aku pilih nantinya.”


“Ck.” Andres berdecak mendengar ucapan Andi. “Kau ingin mengetes mereka? Aku rasa itu tidak perlu. Kau yang selemah itu tidak mungkin bisa mengalahkan pengawal terlemah dari keluargaku.” Ejek Andres.


“Apa maksudmu berbicara seperti itu Andres?” Tanya Brian tidak terima temannya diremehkan seperti itu.


“Dia saja langsung pingsan setelah melawanku. Jadi, mana mungkin dia memiliki kemampuan untuk mengetes para pengawal itu. Aku yakin dia dengan mudahnya akan dikalahkan oleh anak buah Daddy.” Jawab Andres.


Andi mengerutkan keningnya mendengar ucapan Andres. Sepertinya anak laki-laki ini tidak terima dengan kekalahannya. Jika Andi dalam posisi Andres, kemungkinan besar dirinya juga akan bersikap demikian. Tidak menerima kekalahan yang baru saja dialaminya.


Sekarang Andi sedikit khawatir setelah Andres berbicara seperti itu. Bukan apa-apa, hanya saja Andi khawatir Roy memiliki pandangan yang sama dengan Andres. Jika demikian, maka Andi tidak akan bisa mengetes secara langsung para pengawal tersebut.


Ini berarti Andi tidak bisa memilih kelompok dengan kemampuan di atas rata-rata. Andi tidak mau hal itu terjadi. Ia membutuhkan kelompok pengawal yang memiliki kemampuan tinggi.


“Cukup Andres.” Ucap Roy dengan sedikit menaikkan nada suaranya. “Kau memang sudah kalah telak dari Andy. Aku melihat pertarungan kalian tadi. Andy sama sekali tidak menggunakan seluruh tenaganya ketika melawanmu.”


“Andy malahan menurunkan kekuatannya agar bisa mengimbangi kekuatanmu. Kau benar-benar sudah kalah. Aku tidak tahu apa yang membuat Andy pingsan, yang jelas dia tidak pingsan karena kelelahan setelah melawanmu.”


“Jadi, Andy berhak mengetes para pengawal itu untuk memilih yang terbaik di antara mereka.” Jelas Roy.


Andi bernafas lega setelah mendengar perkataan Roy tersebut. Ini berarti, dirinya masihmemiliki kesempatan untuk mengetes para pengawal tersebut.


“Gracias Senor. Anda sudah memberikanku kesempatan untuk mengetes para pengawal itu.” Ucap Andi.


Roy mengibaskan sebelah tangannya. “Itu tidak masalah. Bisa dibilang, ini adalah bagian dari pelayanan perusahaan keamananku. Para pelangganku bisa memilih pengawal yang mereka inginkan. Tetapi, semakin kuat pengawal itu, semakin mahal pula bayarannya. Apakah Kau tidak masalah dengan hal itu?”

__ADS_1


“Tentu Senor, aku tidak masalah dengan hal itu.”


__ADS_2