
“Jadi, apa yang membuatmu berubah pikiran dan memilih kuliah di Paris?” Tanya Andi ketika ia ssedang berada bersama dengan Brian di kamar hotelnya.
“Hehehe.” Brian tertawa mendengar pertanyaan Andi. “Kamu memang sahabatku. Seperti ini saja Kamu sudah tahu bahwa aku memiliki alasan sehingga berubah pikiran seperti ini.”
“Udahlah katakan saja apa alasanmu?” Tanya Andi sekali lagi.
“Itu karena keluargaku ingin membuka bisnis di Eropa. Tentu saja aku di sini sebagai salah satu perwakilan mereka dalam menjalankan bisnis.”
Mendengar penjelasan Brian, Andi memicingkan matanya. Dipandang seperti itu oleh Andi membuat Brian menyerah.
“Oke, oke, itu memang bukan alasan utamaku. Tapi itu memang salah satu alasanku kuliah di sini. Alasan utamaku sebenarnya ingin mengejar Mia. Aku ingin menjadikan dia sebagai pacarku. Sekarang ini, pendekatan yang aku lakukan selama dua minggu ini cukup berhasil.” Jelas Brian.
“Kamu tidak berniat bermain-main dengannya bukan? Aku tidak mau hanya karena asmara, kerja sama di antara kita bertiga akan berantakan.”
Biasanya jika sepasang kekasih melakukan kerjasama bisnis, ketika mereka putus bisnis yang mereka jalankan akan terganggu.
Jika mereka putus baik-baik dan tidak ada permusuhan di antara mereka, maka kerja sama bisnis mereka tidak banyak mengalami gangguan. Tetapi jika mereka putus dan berubah menjadi musuh, maka kerja sama mereka bisa berantakan.
Meski Brian adalah sahabatnya sendiri, Andi tidak mau hal itu terjadi. Itu juga demi kebaikan Brian. Andi takut Brian hanya bermain-main saja dengan Mia.
“Tenang saja aku tidak akan merusak kerja sama yang terjalin di antara kita bertiga. Aku sekarang cukup serius dengan Mia, tidak bermain-main. Jika aku hanya bermain-main dengannya, aku tidak akan sampai memutuskan untuk pindah tempat kuliah seperti sekarang.” Jelas Brian.
“Baguslah jika begitu. Ah ya Brian setelah Kakak Mia selesai mengurusi akuisisi beberapa perusahaan untukku, aku berniat pergi ke rumah Pamanmu di Spayol. Apakah Kamu mau ikut?” Tanya Andi.
“Eh ada perlu apa lagi Kamu ke sana?”
“Aku akan mengambil beberapa pengawal lagi. Aku membutuhkan pengawal tersebut untuk beberapa angota keluargaku yang lainnya.”
“Pass. Aku tidak akan ikut. Aku berencana mendekati Mia sekarang. Aku belum benar-benar mendapatkan dia. Jadi aku nggak akan kemana-mana jika tidak ada Mia di situ.”
“Dasar bucin.”
“Biarin. Kamu mah yang jomblo dari lahir nggak akan pernah tahu rasanya pacaran. Mangkanya sana cari cewek buat jadi pacarmu. Entar kalo Kamu pacaran terus nggak bucin aku bakal salut ke kamu.”
*****
__ADS_1
Sementara menunggu Kakak dari Mia menyelesaikan proses akusisi beberapa perusahaan di Eropa, Andi mengambil sebuah penerbangan ke Spayol. Dengan begitu, dirinya bisa segera pulang ke Indonesia dan tidak berlama-lama di Eropa.
“Kau datang lagi rupanya.”
Dari nada bicara yang Andres gunakan, Andi bisa mengetahui bahwa pemuda itu masih tidak menyukainya. Mungkin pemuda itu masih belum menerima Andi mengalahkannya dalam pertarungan waktu itu.
“Ya aku ada urusan dengan ayahmu. Apakah dia ada di sini?” Tanya Andi.
“Kau terlambat. Ayahku sudah pergi ke Inggris pagi tadi. Jika Kau ingin menemuinya, kembalilah minggu depan.”
“Sayang sekali. Aku ingin mengambil beberapa pengawal dari ayahmu. Pengawal yang dulu aku ambil dari ayahmu, masih kurang untuk memenuhi kebutuhan keamanan keluargaku.”
“Memangnya di negaramu sendiri tidak ada yang membuka jasa seperti itu? Kenapa Kau tidak mengambil dari negaramu saja?”
“Memang ada perusahaan keamanan di negaraku yang menyediakan jasa pengawalan. Tetapi, aku ada masalah kepercayan dengan orang-orang dari negaraku. Memang aku bisa mempercayai mereka jika berhubungan dengan bisnisku.”
“Tetapi jika sudah berhubungan dengan keluargaku, aku belum bisa mempercayai orang dari negaraku. Jadi, pilihanku adalah mengambil pengawal asing. Karena Ayahmu adalah pemilik perusahaan keamanan asing yang aku tahu, maka aku datang kemari.”
“Ck.” Andres berdecak lidah mendengar ucapan Andi. “Ternyata orang sepertimu memiliki krisis kepercayaan. Jika Kamu memang ingin mengambil beberapa orang dari perusahaan Ayahku, Kau bicara saja langsung padanya. Tidak ada yang bisa mengambil keputusan itu selain ayahku.” Jelas Andres.
Sebenarnya ada kaki tangan ayahnya yang bisa menggantikan ayahnya dalam urusan ini. Namun, Andres tidak mau Andi dengan mudahnya mendapatkan apa yang ia inginkan. Pemuda itu ingin mempersulit Andi dalam hal ini.
“Andres, tidak bisakah Kau menggantikan Ayahmu dalam urusan ini? Atau anak buah ayahmu yang lainnya?” Pinta Andi.
Jika memang dirinya harus menunggu kembalinya Roy ke Spayol, maka Andi akan membuang waktunya hanya untuk menunggu.
“Tidak ada. Ayahku berangkat ke Inggris bersama dengan semua orang kepercayaannya. Sedangkan aku, meskipun aku adalah anak Ayahku, aku hanya anak di bawah umur. Aku tidak memiliki kekuasaan atas apa yang Kau minta.” Jelas Andres.
‘Lihatlah Andy, Kau tidak bisa melakukan apa pun setelah ini. Kau memang jago dalam bertarung. Tetapi pada akhirnya Kau masih bisa aku permainkan seperti ini.’ Gumam Andres dalam hati.
“Kalau begitu, coba hubungi Ayahmu. Siapa tahu dia memberikan lampu hijau untukku mengambil beberapa anak buahnya.” Pinta Andi.
Andi memang tidak memiliki kontak Roy. Jadi, ia tidak bisa menghubungi laki-laki itu. Jika ia bisa melakukannya, sudah pasti Andi akan langsung menghubungi Roy dan menjadwalkan pertemuan untuk membicarakan hal ini.
“Tidak bisa. Aku tidak bisa menghubunginya.”
__ADS_1
Sekarang Andi sadar bahwa Andres sengaja mempersulit dirinya. “Kalau Kau tidak mau menghubungi ayahmu, biarkan aku saja yang menghubunginya. Berikan kontak Ayahmu padaku. Jika Kau masih menolak memberikannya, aku bisa meminta bantuan Brian untuk mendapatkan kontak Ayahmu.”
Dengan mengatakan hal itu, Andi yakin Andres akan mau membantunya. Benar saja Andres langsung merespon perkataan Andi barusan.
“Hem….Mungkin aku akan mempertimbangkan untuk membantumu jika Kau bisa mengalahkanku.” Ucap Andres sembari mengangkat dagunya tinggi-tinggi.
Andi sedikit mengerutkan keningnya mendengar perkataan Andres. Pemuda ini benar-benar belum bisa menerima kekalahannya rupanya. Padahal waktu itu dia sudah kalah telak dari Andi. sekarang dia masih berani menantangnya?
Apa yang membuat dia begitu percaya diri menantang Andi? Setelah pertarungan mereka waktu itu, jelas Andres sudah mengetahui bagaimana kekuatan dari Andi. Andi jadi pensaran, kartu as apa yang dimiliki oleh Andres sekarang.
“Kau ingin menantangku lagi? Bukankah dalam pertarungan kita waktu itu Kau kalah telak dariku. Jadi apa yang membuatmu percaya diri bisa mengalahkanku?”
“Siapa yang bilang aku menantangmu bertarung. Aku tidak mengatakan hal itu. Aku sadar diri bahwa perbedaan kekuatan kita cukuplah besar.”
Jika diingat-ingat lagi, memang Andres tidak mengatakan akan menantang Andi dalam pertarungan bela diri. Pemuda itu hanya meminta Andi mengalahkannya tanpa mengatakan apa tantangan yang ia ajukan.
“Memangnya Kau ingin aku kalahkan dalam bidang apa?”
“Balapan mobil. Apa Kau berani menerima tantanganku itu?” Tantang Andres dengan penuh percaya diri.
Sebelum ini Andres sudah mencari informasi umum mengenai Andi. Brian sudah menceritakan banyak hal mengenai pemuda di depannya ini. Jadi, Andres tahu bahwa Andi baru bisa menyetir mobil setelah lulus sekolah.
Itu hanya beberapa bulan saja. Tidak lebih dari tiga bulan. Andres yakin dirinya bisa mengalahkan Andi yang memiliki kemampuan menyetir seperti itu.
Meski belum memiliki surat ijin mengemudi, tetapi Andres sudah sering memacu mobil sport miliknya di arena balap. Jadi Andres yakin dirinya akan keluar menjadi pemenang. Kemenangannya itu akan Andres pakai untuk menampar wajah sombong Andi itu.
Entah kenapa setiap melihat wajah Andi, Andres selalu saja ingin memukulnya. Ekspresi apapun yang Andi buat, di mata Andres, Andi selalu menampakkan wajah sombongnya.
Andi cukup terkejut mendengar tantangan apa yang ingin Andres lakukan. “Apa Kau yakin ingin menantangku dalam balapan mobil? Apa Kau tidak ingin memberikan tantangan yang lain padaku?” Tanya Andi memastikan.
Mendengar respon Andi yang seperti itu, rasa percaya diri Andres semakin meningkat. Ia menganggap Andi mengatakan hal itu karena takut kalah darinya. Jadi Andres semakin yakin dengan pilihan tantangannya sekarang.
“Tidak. Aku akan tetap melakukan balapan mobil denganmu. Kenapa Kau menanyakan hal itu padaku? Apa Kau takut kalah dariku?”
“Aku,” ucap Andi sembari menunjuk dirinya, “takut kalah darimu? Jangan bercanda. Justru aku yang takut Kau mengalami kekalahan lagi. Jika begitu, Kau pasti akan jengkel dengaku.”
__ADS_1
Tentu saja Andi tidak takut. Sekarang ini kemampuan seorang pembalap miliknya sudah berada di level lima, level tertinggi yang bisa dicapai. Jadi, Andi tidak takut kalah dari Andres.
Meskipun Andi tidak pernah benar-benar mengikuti balapan, tetapi ia mempercayai sistem. Dulu dirinya bisa mengalahkan Arya di jalan tol hanya mengunakan mobil SUV. Itu saja level kemampuannya baru level satu. Sekarang dirinya sudah mencapai level lima jelas balapan dengan Andres adalah hal yang mudah.