
“Kamu beneran nggak mau ikut pulang dulu?” Tanya Anisa kepada Andi setelah semua pegawai kafe pulang.
Andi menggelengkan kepalanya. “Untuk sekarang nggak dulu deh kayaknya.”
“Tenang aja, sore-sore gini Ayahmu belum pulang. Jadi, apa yang kamu takutkan?”
Sekali lagi Andi menggelengkan kepalanya. “Terlalu beresiko Bu. Ibu sendiri kan bilang, kalo Ayah sekarang makin uring-uringan. Jadi, lebih baik aku nggak ambil resiko. Kalo sampe tahu aku pulang ke rumah, jelas Ayah akan lebih marah lagi.”
“Baiklah jika kamu memang nggak mau mampir pulang.” Ucap Anisa pasrah. Ia sudah beberapa kali membujuk anak sulungnya ini untuk mampir ke rumah. Tetapi, hasilnya nihil. Anisa jelas tidak bisa memaksakan hal ini kepada Andi.
“Tapi, bisakah besok aku ngajak Amira dan Arfan jalan-jalan? Ibu hanya perlu mengantar mereka berdua ke hotel tempatku menginap. Hanya sampe sore aja kok nggak lama-lama. Palingan aku ajak mereka ke kolam renang.”
“Baiklah. Jika kamu maunya begitu besok ibu akan antar adik-adik kamu ke hotel di mana kamu menginap. Mumpung kamu ke kolam renang, sekalian ajarin Arfan berenang. Ayahmu terlalu sibuk untuk bisa menyempatkan waktu mengajari adikmu itu berenang.” Pinta Anisa.
“Baiklah tidak masalah untukku ibu.”
*****
Andi baru saja menyelesaikan makan malamnya ketika ponselnya berbunyi. Ia melihat ke arah layar gadget tersebut dan melihat nama Arya tertera di sana. Langsung saja Andi mengangkat panggilan tersebut.
“Hallo Arya, ada apa menelfon?”
“Hallo Andi my Man, apakah kamu sekarang ada di kotamu?”
“Ya, memangnya kenapa?”
Andi sudah bisa menebak apa yang pemuda itu inginkan. Pasti mengajaknya untuk lomba. Bukankah Andi sudah mengatakan bahwa dirinya tidak akan mencoba mengikuti lomba jika ada taruhan di dalamnya?
“Jam sembilan nanti akan ada balapan di kaki Gunung Penanggungan. Ini balapan rutin yang di lakukan di jalur gunung. Apakah kamu tidak berniat ikut?” Tanya Arya.
__ADS_1
“Apakah balapan kali ini tidak melibatkan taruhan?”
“Tentu saja ada. Aku mengundangmu bukan untuk menjadi joki mobilku. Tetapi, aku mengundangmu untuk datang melihat. Tidak ada salahnya bukan kamu melihat. Hari ini aku akan ikut balapan. Jadi, setidaknya datanglah dan dukung aku.” Pinta Arya.
Andi diam sejenak berpikir. Tidak ada salahnya memang dirinya menonton balapan itu. Pemuda itu juga penasaran bagaimana balapan di jalur gunung itu berlangsung. Dia hanya akan menonton dan tidak akan terlibat dalam taruhan yang ada di sana. Jadi, tidak masalah bukan jika Andi datang?
“Baiklah aku akan datang ke sana.”
“Bagus. Satu jam lagi kita bertemu di sana. Aku akan mengirimkan padamu lokasi yang menjadi garis start balapan.” Ucap Arya.
Di lain sisi, setelah menutup sambungan telfonnya, Arya tersenyum lebar. Awalnya dia hanya akan meminta Andi ikut melihat jalannya balapan. Tetapi, Arya yakin lama-lama Andi akan memiliki ketertarikan terhadap balapan. Arya yakin Andi akan penasaran dengan sensasi mengikuti balapan. Ketika itu tiba, bukankah Andi akan dengan sendirinya ingin ikut balapan?
*****
Karena Andi tidak memiliki janji lainnya, setelah mendapatkan alamat dari Arya, Andi langsung mengemudikan mobilnya ke lokasi. Ia hanya membutuhkan waktu empat puluh lima menit untuk sampai di lokasi.
Di sana sudah ada beberapa mobil sport yang terparkir rapi membentuk barisan. Beberapa orang muda mudi juga terlihat berada di sana. Langsung saja Andi mencari lokasi yang kosong untuknya memarkirkan mobilnya.
“Hey kamu, apa kamu nggak tahu kalo di sini mau ada balapan?” Tanya salah seorang di antara mereka.
“Ya, aku tahu di sini akan ada balapan. Memangnya kenapa? Apakah aku tidak boleh menontonnya? Apakah ini balapan tertutup?” Andi bertanya seperti ini karena ia tidak tahu apakah ada syarat untuk melihatnya. Seperti tiket masuk mungkin. Tetapi, jika ini adalah balapan terbuka, tidak ada salahnya bukan dirinya ikut melihat.
“Ini adalah balapan terbuka.”
“Jika ini balapan terbuka, kenapa kalian bersikap seolah ingin mengusirku dari sini?” Tanya Andi.
Jika tahu akan ada kejadian seperti ini, seharusnya ia datang bersamaan dengan Arya. Dengan begitu ia tidak akan mendapatkan banyak masalah. Bukannya Andi takut dengan mereka, hanya saja menghadapi permasalahan sepele seperti ini sangat merepotkan dan membuang tenaga.
“Tentu saja kami perlu mengusirmu. Yang boleh parkir di sini hanya mereka yang memiliki mobil sport. Mobil SUV milikmu itu tidak diterima di sini. Jadi, lebih baik kamu pindahkan mobil jelekmu itu. Mobilmu itu sangat mengganggu pemandangan.”
__ADS_1
Andi mengerutkan keningnya. Ia kira karena masalah apa, ternyata hanya perkara mobilnya yang bukan mobil sport. Hal sepele seperti itu dipermasalahkan. Di mata Andi, baik mobil sport, SUV, dan jenis mobil lainnya sama saja. Kesemuanya adalah kendaraan yang membantu mobilitas seseorang. Tetapi, sepertinya para pemuda ini memiliki pandangan yang berbeda.
Ketika Andi menanggapi para pemuda di depannya ini, sebuah keributan kecil terjadi. Beberapa orang terdengar setengah berteriak kepada yang lain. Andi pun gerombolan orang di depannya pun melihat ke arah sumber keributan tersebut.
Ternyata keributan itu berasal dari dua mobil sport yang baru memasuki area parkir. Banyak bisik-bisik yangs terjadi dengan kedatangan kedua mobil tersebut.
“Apakah itu mobil dari dua Tuan Muda dari empat keluarga besar?” Tanya salah seorang.
“Dari plat mobilnya itu memang milik keluarga besar. Aku tidak menyangka balapan kali ini mereka akan datang kemari.”
“Ya kamu benar. Kota kita ini sebenarnya terlalu kecil untuk mereka. Jika bukan karena jalur gunung yang kita punya, sudah pasti para Tuan Muda itu tidak akan jauh-jauh dari Surabaya ke sini.” Imbuh seseorang.
“Apa kamu tahu siapa mereka?”
“Jika tidak salah mereka dari keluarga Wijoyokusumo dan Jayantaka. Dua keluarga terkuat dari empat keluarga besar. Aku dengar kedua keluarga ini memiliki hubungan harmonis di antara empat keluarga besar.”
Di sisi lain, Andi hanya diam mendengarkan sembari menyerap informasi. Dirinya tidak tahu banyak mengenai empat keluarga besar. Ia hanya memiliki sedikit informasi mengenai mereka dari mulut Brian. Setidaknya, dari mulut orang-orang ini Andi bisa tahu tentang hubungan dua dari empat keluarga besar.
Diantara keempat keluarga besar itu pun, Andi hanya pernah bertemu dua orang dari keluarga Sasongko. Dan keduanya pun memiliki konflik dengan Andi. Andi berharap kedua orang dari keluarga Sasongko itu bukanlah orang pendendam dan membalas kekesalan mereka kepada Andi di suatu hari nanti.
Kini pandangan Andi memperhatikan dua mobil yang sudah terparkir itu. Ia menunggu penumpangnya keluar dari sana. Ia ingin mengetahui siapa dua tuan muda itu. Kaca kedua mobil itu cukup gelap sehingga Andi tidak bisa melihat ke dalam. Apalagi dengan kerumunan orang di depannya. Itu mengganggu pandangannya.
Andi perlu melihat para tuan muda itu untuk menghafal wajah mereka. Pemuda itu ingin menghindari konflik di kemudian hari dengan mereka. Sudah cukup dirinya memiliki konflik dengan anggota keluarga Sasongko, ia tidak mau menambah musuh.
Betapa kagetnya Andi ketika melihat siapa yang ada di sana. Salah satunya adalah orang yang dikenalnya. Ah tidak, sepertinya ada dua orang yang ia kenal dari penumpang kedua mobil tadi. Ia tidak menyangka mereka berdua adalah anggota keluarga besar. Di sana berdiri Arya, Widya, dan seseorang yang belum Andi kenal.
Tentu saja seperti itu. Kenapa Andi tidak berpikir kesana. Bagaimana mungkin Arya berani membelanya dan mengatakan kalimat sarkas, di depan Marcel tempo hari, jika dia bukan berasal dari keluarga besar. Hanya seseorang yang pemberani atau memiliki kedudukan yang sama yang bersikap seperti yang dilakukan Arya tempo hari.
Kenapa dirinya melewatkan hal kecil itu. Jika Widya juga berasal dari empat keluarga besar, ini memberikan pencerahan kepada Andi. Gayatri bisa mengusir kedua angota keluarga Sasongko dengan mudahnya, jelas dia tidak takut mereka. Jika Gayatri seberani itu, berarti kedudukannya lebih tinggi dari keuarga Sasongko.
__ADS_1
Keluarga Jayantaka. Wow, Andi tidak menyangka dirinya bisa kenal dengan mereka. Sudah dengan kedudukannya yang masih biasa-biasa saja ini, Andi tidak memiliki kesempatan mengenal mereka. Namun, keadaan membantunya mengenal mereka.
Yang Andi tidak ketahui adalah, ada tangan tidak kasat mata yang membuatnya mengalami kejadian-kejadian tersebut. Tangan itu seolah menarik beberapa benang takdir agar pemuda itu bisa bertemu dengan mereka dari empat keluarga besar. Andi hanya tinggal menungu waktunya tiba untuk dirinya menyelesaikan semua tugasnya dalam ikatan takdir ini.