Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 160 Rencana Andi untuk Keluarga Prayudi


__ADS_3

Langit sore itu telihat cukup mendung. Mungkin saja alam ikut berduka dengan kepergian Kakek Buyut Adipramana.


Beberapa keturunan dari Kakek Buyut Adipramana terlihat sudah banyak yang berkumpul di area pemakaman keluarga tersebut. Liang lahat juga sudah siap.


Tidak hanya keturan Kakek Buyut Adipramana, Andi juga melihat beberapa pelayat terlihat berkumpul di area pemakaman keluarga tersebut. Hampir semua dari mereka yang ada di sana memakai baju putih dengan bawahan hitam.


Pemakaman itu berjalan dengan lancar. Setelah jasad Kakek Buyut Adipramana tiba di area pemakaman, langsung saja beliau dimasukkan ke dalam liang lahat. Setelahnya, sedikit demi sedikit tanah dikembalikan ke dalam liang lahat tersebut untuk menutupi tubuh Kakek Buyut Adipramana.


Setelah Kakek Buyut Adipramana selesai dikebumikan, lantunan doa diucapkan dengan dipimpin oleh salah satu pemuka agama, untuk melepas kepergian Kakek Buyut Adipramana. Doa yang khusyuk itu diiringi dengan sesenggukan dari beberapa orang yang ada di sana.


Para pelayat satu persatu pergi meninggalkan area pemakaman tersebut setelah doa selesai melantunkan rangkaian doa. Yang tersisa di sana hanya mereka anggota keluarga Prayudi. Mereka masih berdiri di sana sembari menatap batu nisan dari Kakek Buyut Adipramana.


“Sebaiknya kita kembali sekarang. Ada yang perlu kita bicarakan setelah ini.” Ucap Harmuji memecah keheningan di area pemakaman tersebut.


Satu persatu mereka pun pergi meninggalkan area pemakaman tersebut. Mereka menuruti perintah yang Harmuji ucapkan. Saat ini, Harmuji adalah orang yang tertua di keluarga mereka. Jadi, mau tidak mau mereka menuruti ucapan laki-laki tersebut.


Lagi pula, ada yang ingin mereka tanyakan mengenai kematian Kakek Buyut Adipramana yang cukup cepat ini. Sebelum Kakek Buyut Adipramana dimakamkan, tidak ada satu pun yang membuka suara untuk menceritakan penyebab kematian beliau. Jadi sekarang saatnya mengetahui hal itu.


Sebagaian mengikuti ke langkah Harmuji, sebagian lagi memilih pergi ke ruang tamu. Meski pun Kakek Buyut Adipramana sudah dimakamkan, tetapi masih ada pelayat yang datang. Jadi, seseorang perlu tinggal untuk menemui para tamu.


Harmuji membawa mereka ke halaman belakang. Tempat di mana pertemuhan tahunan keluarga mereka dilakukan. Di sana satu persatu keturunan Kakek Buyut Adipramana memilih tempat duduk masing-masing.


“Sebenarnya, kenapa Kakek bisa meninggal secepat ini Ayah?” Tanya Dayu, putra kedua dari Harmuji.


Harmuji menarik nafas panjang. Ia sendiri juga tidak menyangka bahwa ayahnya akan pergi secepat ini. Meski pun sudah mencapai usia sembilan puluh enam tahun, tetapi ayahnya terlihat segar bugar. Ia selalu menjaga pola makannya dan berolahraga untuk menjaga kesehatannya.


Namun Harmuji tidak menyangka bahwa penyebab ayahnya meninggal adalah sebuah kemarahan yang besar. Dan, yang membuat Adipramana marah besar seperti itu adalah cucunya sendiri, Burhan.


Setelah tidak sadarkan diri tadi pagi, Harmuji dan saudaranya yang lain mencoba membawa ayah mereka ke rumah sakit. Kemarahan Adipramana yang besar itu membuat tekanan darahnya naik. Hal itu membuat salah satu pembuluh darah di otaknya mengalami pendaharahan.


Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Adipramana saat itu adalah operasi. Namun, dengan usianya yang sudah tua itu, akan sangat beresiko untuk menjalankan operasi. Tingkat keberhasilannya sangat kecil.


Harmuji dan kedua saudaranya sepakat untuk melakukan operasi. Namun, sebelum operasi itu dilakukan, nyawa Adipramana tidak lagi tertolong. Laki-laki itu menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit.

__ADS_1


“Kakekmu pengalami pendarahan otak. Dia tidak sudah pergi lebih dahulu sebelum dokter memberikan penanganan lanjutan.” Jelas Harmuji.


“Tetapi kenapa bisa begitu Pakde? Bukankah Kakek baik-baik saja? Kemarin aku mampir kemari melihat keadaan kalian. Kakek masih baik-baik saja. Dia sangat sehat malahan menurutku. Tetapi kenapa tiba-tiba dia mengalami pendarahan otak. Ini pasti ada penyebabnya. Katakan saja Pakde, apa penyebabnya?” Tanya Aripto.


“Itu semua ulah Burhan.” Ucap Bagus tiba-tiba.


“Burhan? Apa hubungannya dengan Burhan Mas?” Tanya Dayu cukup heran mendengar ucapan dari Kakaknya itu.


“Pagi ini Burhan datang kemari. Ia membuat masalah lagi. Ia membuat Kakek marah hingga pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit.”


“Burhan lagi, Burhan lagi. Mau sampai kapan anak itu membuat masalah? Belum lama ini dia membuat Pakde marah hingga masuk rumah sakit. Sekarang dia berulah lagi hingga menyebabkan Kakek meninggal.”


“Apakah anak itu tidak tahu kapan harus berhenti? Selalu saja membuat masalah di keluarga. Apakah dia baru berhenti jika seluruh anggota keluarga kita meninggal?” Ucap Aripto geram.


Aripto tidak menyangka kematian Kakeknya ada hubungannya dengan Burhan. Ia kira Adipramana terjatuh hingga pendaharahan otak atau alasan lainnya. Tetapi ternyata penyebabnya adalah cucunya sendiri Burhan.


“Sebelumnya, dia mengobrol dengan Kakek meminta sesuatu yang diwariskan dari leluhur kita. Sesuatu itu sekarang ada di tangan anakmu Arip. Burhan ingin merebutnya dari tangan anakmu, dan kakek melarangnya.”


Andi cukup kaget mendengar namanya disebut oleh Pamannya. Ia tidak menyangka bahwa dirinya ikut terlibat dalam masalah ini.


‘Apa tadi Om Bagus mengatakan bahwa Om Burhan ingin merebut warisan leluhur mereka yang sekarang ada di tanganku? Apakah yang mereka maksud itu sistem? Kenapa Om Burhan bisa tahu mengenai keberadaan sistem? Siapa yang memberi tahu Om Burhan mengenai hal itu?’ Gumam Andi dalam hati.


[Sebelum ini Burhan adalah Host dari sistem ini. Sistem terikat dengan Burhan selama seratus hari.]


Suara sistem tiba-tiba terdengar di telinga Andi. ‘Jadi, sebelum ini kamu terikat dengan Om Burhan?’ Tanya Andi keapda sistem.


[Ya]


‘Kenapa tidak memberitahuku?’


[Karena Host tidak menanyakan siapa saja yang sudah terikat dengan sistem ini sebelum Host]


Andi masih ingin menanyakan hal ini kepada sistem. Tetapi Andi mengurungkannya. Saat ini beberapa pasang mata tertuju pada Andi. Mata-mata itu memancarkan tanda tanya besar. Di dalam kepala mereka muncul pertanyaan, apa warisan dari leluhur mereka yang jatuh ke tangan Andi.

__ADS_1


“Apa maksud mereka Andi?” Tanya Aripto kepada Andi.


Aripto sendiri tidak mengetahui bahwa leluhur mereka memberikan warisan turun temurun kepada keturunannya. Dan yang menerima warisan tersebut adalah anaknya. Kenapa selama ini Andi tidak menceritakan apa pun kepada dirinya?


Andi berniat memberikan sedikit penjelasan mengenai hal itu kepada keluarganya. Penjelasan yang akan ia berikan tidak jauh berbeda dengan penjelasan yang dulu diberikan oleh Kakek Buyut Adipramana. Dengan begini, dirinya tidak perlu menceritakan lebih detail mengenai sistem.


Tetapi, sebelum Andi menjelaskan hal itu, Haryanto, Kakeknya sudah mengambil alih hal itu. “Itu adalah warisan dari leluhur kita. Warisan tersebut berupa sebuah makluk asing yang terikat dengan Andi. Makluk itu terikat dengan Andi untuk mencapai impian yang leluhur kita gagal capai.”


Haryanto kemudian memberikan penjelasan mengenai asal usul keluarga mereka, impian dari leluhur mereka, sampai dengan identitas sang penerus. Haryanto juga menceritakan apa yang terjadi kepada keluarga Prayudi di masa muda Kakek Buyut Adipramana.


Penjelasan yang diberikan oleh Haryanto tidak jauh berbeda dengan apa yang Andi dengar dari Kakek Buyut Adipramana. Sepertinya, Kakek Buyut Adipramana sudah menjelaskan mengenai hal ini kepada anak-anaknya. Buktinya Haryanto bisa menjelaskan mengenai hal ini secara mendetail.


“Sebelum Andi mendapatkan warisan itu, Burhan juga mendapatkannya. Anak itu terikat dengan makhluk tersebut hanya tiga bulan. Lalu makhluk tersebut meninggalkan Burhan. Kata Ayah, tujuan Burhan sangat bertentangan dengan impian leluhur kita.”


“Jadi, makhluk tersebut meninggalkan Burhan. Dari seluruh keturunan keluarga Prayudi yang lainnya, makhluk tersebut kemudian memilih Andi.”


“Sekarang Burhan berniat mengambil makhluk tersebut dari Andi. Aku sendiri juga tidak tahu apakah makhluk tersebut bisa dipindah tangankan dengan mudahnya, tetapi Burhan bersikekeuh mengambil kembali makluk tersebut.”


“Mendengar hal itu Ayah marah dan melarang Burhan melakukannya. Ia takut Burhan mengambil makhluk tersebut dengan kekerasan. Kalian tahu sendiri bahwa Burhan sekarang ini menjadi seorang preman. Ayah takut terjadi pertumpahan darah karena perebutan makhluk tersebut.”


“Karena Burhan tidak mau mendengar ucapan Ayah. Hal itu membuat Ayah marah hingga dia jatuh pingsan.” Jelas Haryanto kepada keluarganya.


Andi cukup kaget mendengar penjelasan Kakeknya itu. Ia tidak menyangka bahwa Burhan berniat meminta kembali sistem dari tangannya. Seingat Andi, sistem miliknya ini memang bisa dipindah tangankan. Tetapi, Andi tidak akan memberikannya kepada seseorang seperti Burhan.


Laki-laki itu tidak pantas mendapatkan sistem. Jika Burhan mendapatkan sistem, maka laki-laki itu akan menggunakannya untuk hal yang kurang baik. Sistem saja meninggalkan Burhan setelah seratus hari bukan? Itu pasti ada hubungannya dengan Burhan yang menjadi pimpinan gang preman.


Di paksa seperti apapun, Andi tidak akan memberikan sistem miliknya kepada Burhan. Jika nanti Andi terdesak, kemungkinan besar Andi akan melepaskan sistem miliknya dan meminta sistem memilih keturunan keluarga Prayudi di masa mendatang.


Setidaknya dengan begini di masa ini tidak akan ada perkelahian memperebutkan sistem. Andi takut, keluarga Prayudi terancam punah karena perkelahian tersebut.


Sekarang, keluarga besarnya mengetahui keberadaan sistem, atau yang mereka sebut makhluk lain. Andi takut, tidak hanya Burhan saja yang ingin merebut sistem darinya. Bisa jadi ada keluarganya yang lain yang iri dan ingin juga mendapatkan sistem.


Sekarang mungkin mereka tidak banyak mengetahui apa yang bisa Andi dapatkan dengan memiliki sistem. Tetapi, setelah ini, setelah mereka melakukan sedikit penyelidikan, pasti mereka akan tahu bahwa keluarga Andi berubah menjadi kaya dengan cara yang cukup cepat.

__ADS_1


__ADS_2