Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 130 Pertemuan di Warung Kaki Lima


__ADS_3

Jangan lupa vote, like, komen dan tambahkan favorit


---


Warung pecel lele yang Andi pilih adalah warung yang memiliki lokasi yang cukup luas untuk memarkirkan mobilnya. Tidak mungkin bukan dirinya memarkirkan mobilnya sembarangan dan menutup hampir setengah badan jalan?


Jika seperti itu, bisa-bisa mobilnya akan tergores karena terserempet kendaraan yang lewat. Oleh karena itu, Andi memilih warung yang memiliki tempat untuk memarkirkan mobilnya.


Di dalam warung cukup sepi pengunjung. Hanya ada seorang laki-laki yang sepertinya sudah akan menyelesaikan makanannya. Langsung saja Andi memesan makanan untuknya dan kedua adiknya. Sembari menunggu makanannya tersaji, Andi menatap layar ponselnya.


Saat ini dirinya mempelajari laporan keuangan sebuah perusahaan. Jika perusahaan ini lolos seleksinya, ia akan mepertimbangkan untuk membeli saham perusahaan ini dalam jumlah yang besar. Ketika Andi sibuk dengan ponselnya, laki-laki yang sudah berada di warung lebih awal, terlihat sudah menyelesaikan makanannya.


Entah kebetulan atau apa, ponsel laki-laki berbunyi tepat setelah dirinya selesai mencuci tangannya. Laki-laki itu terlihat mengerutkan keningnya ketika mendapatkan telfon tersebut. Ia terlihat enggan mengangkap panggilan telfon tersebut.


Dengan enggan, laki-laki tersebut menjawab panggilan telfon tersebut. Ia lalu meletakkan ponselnya di meja warung pecel lele.


“Ya hallo.”


“Kapan kamu akan membayar hutangmu?” ucap orang di ujung telfon.


Rupanya laki-laki itu me-loudspeaker panggilan miliknya. Ia terlihat tidak memiliki niatan untuk menempelkan ponsel miliknya di telinganya. Laki-laki tersebut bahkan terlihat tidak malu panggilan telfonnya yang membahas penagihan hutangnya itu terdengar oleh orang lain.


Mendengar percakapan tersebut, Andi menghentikan apa yang dilakukannya. Begitu pula dengan adik-adiknya. Mereka terlihat mencuri dengar apa yang sedang terjadi. Ini bukannya menguping. Suara percakapan laki-laki tersebut dengan orang yang menelfonnya cukup keras.


Jadi, bisa dikatakan apa yang mereka lakukan ini bukan menguping. Siapa juga yang membicarakan masalah pribadinya dengan cukup keras di tempat publik seperti ini. Jika seperti itu, maka jangan salahkan mereka yang tidak sengaja mendengar.


“Aku akan segera membayarnya. Tenang saja Pak Martin. Aku akan segera mencarikan dana untuk membayar semuanya.” Jawab laki-laki tersebut.


“Heh.” Laki-laki bernama Martin itu terdengar mendengus. “Membayarnya? Dengan apa? Lukman, perusahaan milikmu itu sudah diambang kebangkrutan. Mau membayar dengan apa kau. Hutang lagi di tempat lain? Aku rasa tidak akan ada yang berani memberimu hutang sekarang.”


“Jadi, cepat bayar hutangmu itu. Aku beri waktu kau waktu seminggu. Jika dalam seminggu ini kau tidak membayar hutangmu, maka akan aku bawa perkara ini ke polisi.”


“Bukannya jatuh tempo dari hutangku satu bulan lagi? Kenapa kau mempercepatnya menjadi seminggu? Martin, apakah kau mau membunuhku dengan meminta aku menyiapkan uang lima puluh milyar dalam waktu satu minggu?”


“Jika saja perusahaan milik kau itu masih berjalan dengan normal, maka aku akan melonggarkan hutang itu. Tetapi sekarang ini perusahaan milik kau itu sudah mau bangkrut. Jika tidak aku tagih sekarang dan kau mengajukan kepailitan, maka aku akan sulit bagiku mendapatkan uangku kembali.”


“Jadi, cepat bayar hutangmu itu. Aku sedang butuh uang itu.” Setelah berucap demikian Martin menutup panggilan telfonnya dengan Lukman.


Laki-laki bernama Lukman itu mengusap wajahnya kasar setelah penggilan dari Martin terputus. Ia lalu menghabiskan teh manis miliknya dalam beberapa kali tegukan. Kemudian, ia menaruh gelas tersebut dengan cukup keras. Untung saja gelas tersebut baik-baik saja dan tidak pecah.

__ADS_1


“Sial. Dulu saja aku sering membantumu jika kau kesusahan. Tetapi aku tidak menyangka kau ternyata orang yang seperti ini Martin. Wanita j*lang itu juga. Jangan sampai aku menemukanmu. Berani sekali dia membawa kabur uang milikku.”


Lukman kembali mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya. “Bodoh sekali kau ini Lukman sangat bodoh. Kau biarkan dirimu tertipu pesona seorang j*lang yang pada akhirnya menguras semua uangmu.” Lukman menghembuskan nafas panjang.


Setelah berucap demikian, laki-laki bernama Lukman itu membayar makanannya. Lalu ia bangkit dari tempat duduknya berniat pergi meninggalkan warung pecel lele itu.


Melihat hal itu, Andi berdiri dari tempat duduknya berniat menghampiri laki-laki tadi. Ia cukup tertarik dengan cerita laki-laki bernama Lukman itu. Dari yang Andi dengar, Lukman ini memiliki sebuah bisnis. Seseorang menipu dirinya dan membawa pergi uang miliknya.


Andi tidak tahu secara mendetail ceritanya tetapi perusahaannya yang diambang kebangkrutan menarik perhatian Andi. Dirinya tengah dalam misi memiliki lima perusahaan baru selama satu bulan ini bukan? Jadi, ini adalah kesempatan untuknya.


Jika perusahaan milik Lukman ini cukup baik, maka tidak masalah bagi Andi untuk mengakuisisi perusahaan tersebut.


“Tunggu dulu Pak.” Ucap Andi.


Untung saja Andi segera mengejar Lukman. Jika tidak, maka dirinya akan kehilangan laki-laki tersebut. Sekarang Lukman sudah membuka pintu mobilnya. Jadi telat sedikit Lukman sudah pergi dari tempat ini.


Lukman mengerutkan keningnya melihat Andi yang sekarang menghampirinya. Ia sedang cukup kesal kali ini. Lukman ingin cepat pulang dan memikirkan solusi mengenai masalahnya ini. Dan ketika dirinya akan pulang, seseorang malah menghentikannya.


“Ada apa?” Tanya Lukman cukup kesal.


“Maaf Pak, tapi tadi aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Bapak di telfon.”


Mendengar nada suara Lukman yang kurang ramah, Andi segera saja mengangkat kedua tangannya sebagai tanda bahwa dia datang bukan dengan maksud jahat.


“Tidak seperti itu Pak. Tetapi, aku dengar perusahaan milik Bapak diambang kebangkrutan. Kalau boleh tahu, perusahaan milik Bapak ini bergerak di bidang apa ya?”


“Heh.” Lukman mendengus mendengar pertanyaan Andi. “Memangnya apa urusan Kau? Kenapa Kau menanyakan pertanyaan seperti ini padaku.”


“Itu karena aku memiliki niatan mengakuisisi perusahaan milik Bapak. Jadi, aku berhak bukan mengetahui apa bisnis yang saat ini Bapak jalankan?”


“Kau,” ucap Lukman sembari menunjuk ke arah Andi, “mau mengakuisisi perusahaan milikku? Apakah kau punya uangnya? Anak muda, perusahaanku itu bernilai dua ratus milyar. Jika kau ingin mengakuisisinya, kau harus punya uang sebanyak itu.”


Andi cukup lega mendengarnya. Untuk mengakuisisi perusahaan milik Lukman, Andi hanya membutuhkan uang dua ratus milyar. Itu masih dalam batas yang Andi sanggup bayar untuk memiliki sebuah perusahaan.


Saat ini saldo miliknya berada di nominal enam ratus milyar. Bulan depan jika dirinya membuka kotak misteri lagi, ia yakin bisa mendapatkan uang ratusan milyar lagi. Tiga ratus milyar adalah batas akhir dari uang yang Andi keluarkan untuk memiliki perusahaan baru. Jadi dua ratus milyar belum melewati batasnya.


“Dua ratus milyar ya. Tentu tidak masalah untukku. Jika Bapak memang berniat menjual perusahaan Bapak, maka kita bisa bertemu kembali dan membicarakan ini. Aku akan membawa pengacaraku untuk membantu proses akuisisi ini.”


“Tetapi aku perlu tahu lebih dulu mengenai perusahaan milik Bapak sebelum aku memutuskan akan mengakuisisi perusahaan milik Bapak bukan? Bagaimana jika kita bertemu lagi di tempat yang lebih nyaman untuk membicarakan hal ini?” Tanya Andi.

__ADS_1


Tidak mungkin mereka membicarakan bisnis di tampat ini bukan? Berdiri di pinggir jalan di tempat remang-remang seperti ini. Apalagi beberapa pengendara yang lewat terlihat melemparkan tatapan penasaran keapda mereka.


Tentu saja Andi butuh membicarakan hal ini lebih jauh dengan Lukman di tempat yang nyaman. Andi perlu memahami bisnis milik Lukman untuk bisa menentukan apakah perusahaan itu pantas ia akuisisi atau tidak.


Andi lalu mengambil sebuah kartu nama miliknya dari dompet. Dalam kartu nama tersebut, hanya tertera nama Andi beserta kontak teleponnya. Tidak ada identitas lain pada kartu nama tersebut.


“Itu kartu namaku. Jika Bapak memang berniat membicarakan semua denganku sebelum kita melibatkan pengacara, maka Bapak bisa menghubungiku di sini.” Ucap Andi sembari menyerahkan kartu nama miliknya.


“Apa kau sungguh-sungguh dengan hal ini?” Tanya Lukman ingin memastikan.


Lukman tidak mau dengan mudah mempercayai Andi. Ia sudah kapok mempercayai orang lain begitu mudahnya. Akibatnya apa? Modal perusahaannya yang akan ia pakai untuk sebuah proyek kerja, dibawa pergi oleh wanita yang baru tiga bulan ia nikahi.


Maka dari itu, Lukman sulit mempercayai perkataan Andi. Laki-laki itu, tidak mau meninggikan harapannya, lalu jatuh begitu keras ketika mengetahui semuanya tidak sesuai dengan harapannya. Jadi, ia perlu berhati-hati dalam mengambil keputusan.


“Tentu saja aku serius. Jika memang perusahaan Bapak memang pantas diakuisisi, maka kurang dari seminggu aku akan menyelesaikan proses akuisisi tersebut. Bapak akan menerima uangnya secepat mungkin.”


“Apakah Bapak melihat mobil sport itu?” Ucap Andi sembari menunjuk ke arah mobil sport miliknya.


Lukman pun mengikuti arah telunjuk Andi. Ia melihat sebuah mobil terparkir tidak jauh dari warung pecel lele. Mobil itu terparkir tepat di bawah sorot lampu jalan. Sehingga Lukman bisa melihat jelas kendaraan itu.


Meskipun Lukman tidak begitu memahami tentang mobil sport, tetapi dari tempatnya berdiri Lukman bisa melihat dengan jelas logo dari mobil sport tersebut. Mereka mobil ini memiliki harga yang tidak murah. Milyaran rupiah.


Jadi, pemilik mobil ini jelas orang yang memiliki uang. “Apakah mobil itu milikmu?” Tanya Lukman.


“Iya itu adalah mobilku. Jadi, aku tidak main-main ketika aku bilang aku memiliki uang untuk mengakuisisi perusahaan Bapak.” Ucap Andi dengan sedikit rasa bangga. Bukannya Andi berniat sombong dengan memamerkan mobilnya, tetapi jika tidak melakukan hal ini, akan sulit baginya meyakinkan Lukman.


Andi tidak menyangka bahwa keputusannya membawa mobil sport miliknya membawa keuntungan tersendiri. Ia lebih mudah dipercaya sebagai orang yang memiliki uang. Meski begitu, Andi tetap kurang menyukai membawa mobil sport.


Mungkin sesekali dirinya akan memakai mobil sport miliknya ini. Tetapi untuk kesehariannya, ia akan memakai mobil lainnya.


“Baiklah. Besok siang kita akan bertemu lagi. Besok aku akan menghubungimu lagi.”


Setelah Lukman menerima kartu namanya, Andi pamit kepada laki-laki itu dan kembali menuju warung pecel lele. Di sana ia melihat bahwa pesanannya sudah tersaji di meja. Langsung saja Andi kembali duduk di tempat semula.


“Kakak kenapa tadi Kakak keluar?” Tanya Amira melihat Andi yang duduk kembali.


“Tadi mau ngomongin sedikit bisnis dengan Bapak tadi. Kakak ingin mengambil alih bisnis milik bapak tadi.” Jelas Andi singkat.


“Lah bukannya orang yang telpon tadi bilang bahwa perusahaan Bapak tadi akan bangkrut? Kenapa Kakak malah mau ambil alih bisnisnya.”

__ADS_1


“Bisnis mau bangkrut itu belum tentu karena bisnis itu buruk. Tetapi, bisa saja itu diakibatkan karena kesalahan dalam mengambil keputusan, atau karena modal yang kurang. Jadi, jika bisnis Bapak tadi masih bisa tertolong, maka akan aku ambil alih bisnis miliknya. Sekarang lanjutin makanmu.”


__ADS_2