
“Aku nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini.” Ucap perempuan itu setelah duduk di depan Andi.
Andi mengangkat alisnya melihat hal itu. “Maaf, apakah kita pernah bertemu sebelumnya.”
Perempuan di depan Andi tersebut memutar bola matany ketika menengar ucapan Andi barusan. “Kita baru bertemu hari minggu lalu di car free day, kamu ingat? Yang ada di Benpas.”
Ketika Andi mendengar perempuan di depannya mengatakan bahwa mereka bertemu minggu lalu ia langsung bisa menghubungkan semuanya. Perempuan ini adalah pelanggan pertamanya di car free day minggu kemarin. Ia adalah perempuan yang Andi komentari karena memakai riasan wajah ketika ingin olahraga.
“Mbak yang beli banyak dessert box itu kan?”
“Ya. Akhirnya inget juga. Gimana, kamu jadi buka cabang jualan dessert box di Surabaya? Dessert box buatanmu enak dan sesuai dengan seleraku. Aku udah pengen nyobain lagi. Sayangnya minggu ini aku banyak tugas jadinya nggak bisa pulang. Jadi gimana?”
Andi sedikit canggung di cerca pertanyaan seperti itu oleh perempuan di depannya. Bisnisnya saja baru saja berjalan satu minggu. Jadi dirinya belum bisa mempersiapkan membuka cabang jualan di kota lain. Toko fisiknya saja belum juga beres jadi Andi tidak bisa membuka cabang jualan di kota lain.
Andi memang berniat untuk membuka cabang di kota pahlawan itu. Namun, itu nanti ketika dirinya sudah berkuliah di kota pahlawan. Sekarang tidak mungkin. Dirinya tidak tinggal di kota ini, jadi untuk saat ini Andi belum bisa membuka cabang di kota lain. Dan pemuda itu sulit menjelaskan hal tersebut kepada perempuan di depannya.
“Maaf Mbak, aku nggak tinggal di kota ini. Jadi aku belum bisa membuka cabang di Kota Surabaya. Aku bakal buka cabang di Surabaya kalo udah kuliah nanti.”
Perempuan itu memanyunkan bibirnya. Ia sedikit terlihat kesal dengan jawaban yang diberikan oleh Andi barusan. “Aku kira dengan kamu bilang gitu minggu kemarin kamu bakal segera membuka cabang di Surabaya. Eh nggak tahunya masih nunggu kamunya masuk kuliah.”
Melihat perempuan itu memanyunkan bibirnya entah kenapa Andi memiliki keinginan untuk menarik bibir tersebut. Itu adalah hal yang biasa ia lakukan jika Amira adiknya melakukan hal yang sama. “Ah Kawaii.” Gumam Andi dalam hati.
Perempuan tersebut terlihat menghitung dengan jari tangannya. “Sekarang bulan April, biasanya kuliah masuk di bulan September. Itu berarti masih empat bulan lagi. Lama sekali. Tidak bisakah kau mempercepatnya?” ucap perempuan tersebut.
Sekali lagi Andi menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “Aku juga belum tahu Mbak. Aku aja belum nentuin universitas mana sebagai tempat kuliahku. Mungkin kalo semua urusan beres aku bisa lebih cepat buka cabang di sini. Di kota asal kita, aku masih mengurusi renovasi toko. Jadi dalam waktu dekat ini aku masih belum bisa membuka cabang di sini.” Jelas Andi dengan sedikit canggung.
“Memangnya, jurusan apa yang kamu inginkan?” tanya perempuan itu dengan cukup antusias. Sangat kontras dengan sebelumnya yang terlihat cemberut.
“Ehm…. Sepertinya managemen Mbak.”
“Pilih ke fakultas ekonomi di universitasku saja. Aku jamin kualitasnya bagus. Kamu juga bisa jualan dessert box milikmu di kampus. Aku yakin anak-anak fakultas ekonomi akan banyak yang membeli dessert box milikmu.”
“Oh ya aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Rosalinda kamu bisa mmeanggilku Rosa atau Linda. Aku anak fakutas hukum semester keempat. Fakultasku berada di seberang fakultas ekonomi. Jadi jika kamu nanti mengalami kesulitan menjual dessert box milikmu, aku bisa membantumu membeli beberapa dessert box milikmu.” Perempuan bernama Rosalinda itu mengulurkan tangannya ke arah Andi.
“Ehm…. Namaku Andi, ehm… calon mahasiswa baru mungkin.” Ucap Andi menjabat tangan Rosalinda.
Melihat hal itu Rosalinda mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sekarang berikan ponselmu padaku.” Rosalinda menengadahkan tangannya ke arah Andi yang terlihat bingung.
“Untuk apa Mbak?”
__ADS_1
“Minta nomormu. Kamu juga perlu menyimpan nomorku. Siapa tahu kamu nanti ingin bertanya-tanya tentang fakultas ekonomi universitasku. Jadi dengan kita bertukar nomor, kita akan dengan mudah menghubungi satu sama lainnya.”
*****
Andi berjalan menuju ke toko elektronik dengan sedikit linglung. Ia tidak percaya ada seorang perempuan yang berinisiatif meminta nomor ponselnya. Ya meskipun alasannya sedikit aneh menurut Andi tetapi tetap saja Rosalinda adalah perempuan pertama yang meminta nomor ponselnya.
Bukannya narsis, tetapi Andi merasa bahwa dirinya tampan. Tetapi selama ini dengan ketampanannya ini belum ada satu pun perempuan yang berinisiatif meminta nomor ponselnya. Pemuda itu bingung mendefinisikan perasaannya saat ini. Senang, bingung, bangga, perasaan itu bercamur aduk dalam diri Andi.
Setelah tadi bertukar nomor, Rosalinda kembali ke meja di mana teman-temannya duduk. Andi memanfaatkan hal itu untuk melarikan diri dari food court. Ia langsung melangkahkan kakinya menuju toko elektronik yang ada di mall tempat Andi berada.
Andi baru tersadar dari perasaan linglungnya ketika seorang pelayan toko menyapanya. “Selamat siang, apakah ada yang bisa saya bantu Kak.”
“Ah…. Siang Mbak. Saya mau cari laptop Mbak.”
“Apa Kakak sudah punya spesifikasi khusus untuk laptop yang Kakak inginkan?”
Jujur, Andi tidak banyak mengetahui tentang sepesifikasi laptop. Ia belum melakukan riset laptop seperti apa yang ia inginkan. Jadi sekarang Andi bingung dengan pilihan yang harus ia buat.
“Mau lihat dulu Mbak spesifikasi laptopnya gimana aja. Soalnya laptopnya buat kuliah nantinya.”
Pelayan toko tersebut tersenyum dan mengajak Andi duduk mendekat ke laptop yang ada di toko tersebut. Ada berbagai macam laptop di sana dan Andi jadi bingung dengan apa yang harus ia pilih. Seharusnya kemarin ia memikirkan lebih jauh tentang apa yang perlu ia beli.
“Kakak nantinya mau ambil jurusan apa kuliahnya? Biar saya bisa kasih pilihan yang sesuai.”
“Jurusan managemen Mbak. Laptop apa yang cocok?”
“Saya sarankan ambil ambil Asus Zenbook Duo yang ini Kak.” Pelayan toko tersebut membawa Andi ke sebuah laptop yang ada di sana. Laptop tersebut memiliki dua layar. Satu seperti layar laptop pada umunya dan satu pada bidang keyboard.
“Laptop yang ini punya RAM 16 GB cukup besar untuk kakak gunakan. Ini juga udah pake SSD 1 TB jadi Kakak kalo nyimpan file jauh lebih cepat dari pada laptop dengan menggunakan HDD.”
Andi sedikit kebingungan dengan penjelasan dari pelayan toko. Namun dari penjelasan tersebut Andi tahu ini adalah laptop yang cukup bagus.
“Kalau laptop gaming ada nggak Mbak?”
Andi ingat pernah mencoba bermain game di laptop gaming milik Brian. Hal itu membuat pemuda itu terpikirkan untuk membeli laptop gaming. Sudah jelas laptop gaming memiliki spesifikasi yang bagus. Dan sudah jelas juga bahwa laptop gaming sudah sangat mendukung kebutuhannya sebagai mahasiswa fakultas ekonomi. Jadi, kenapa tidak sekalian membeli laptop gaming?
“Oh jadi Kakak mencari laptop gaming. Baiklah mari saya tunjukkan.” Pelayan toko membawa Andi ke sebuah laptop yang tidak jauh dari mereka berdiri.
Tanpa menunggu penjelasan dari pelayan toko, Andi langsung menanyakan harganya. Ia tahu bahwa pelayan toko ini pasti akan membawanya ke laptop dengan harga yang mahal ke yang murah. Sudah jelas bukan bila barang yang lebih mahal memiliki kualitas yang lebih baik.
__ADS_1
“Berapa harga laptop ini?”
“Laptop ini tiga puluh satu juta Kakak. Apa Kakak berminat membelinya?”
Andi mengangguk. Dengan begini ia perlu membeli sesuatu dengan harga sembilan belas juta dari toko ini. “Apakah ada laptop gaming di bawah ini yang memiliki harga sembilan belas juta?” tanya Andi.
Andi berniat memberikan laptop ini untuk kedua adiknya. Sebenarnya ia ingin membelikan keduanya masing-masing satu laptop. Namun untuk saat ini Andi tidak bisa melakukannya. Ia tidak menemukan alasan yang tepat untuk diberikan kepada orangtuanya tentang asal usul uang yang ia pakai untuk membeli laptop.
Alasan untuk pakaian yang sebalumnya ia beli saja belum Andi pikirkan apalagi dengan laptop yang tentu saja harganya jutaan. Jadi untuk saat ini pemuda itu hanya perlu membeli satu buah laptop untuk kedua adiknya. Ia juga bisa menggunakan laptop ini ketika di rumah.
Andi bisa beralasan bahwa laptop itu adalah pinjaman dari Brian. Sekarang Andi mendapatkan manfaat memiliki sahabat orang kaya. Ia bisa “memanfaatkan” sahabatnya itu sebagai kambing hitam mengenai semua barang, yang terbilang mewah bagi keluarganya, yang ia beli.
Andi keluar dari toko elektronik tersebut dengan membawa dua box berisikan laptop barunya. Sepertinya ia perlu mengamankan kedua barang ini. Barang elektronik seperti laptop yang Andi barusan beli bisa menarik beberapa pasang mata yang memiliki niat buruk. Dan Andi tidak mau mendapatkan masalah untuk saat ini.
[Ding]
[Sistem telah mendeteksi bahwa ini adalah pertama kalinya host memiliki saldo mencapai Rp 100.000.000,-]
[Hadiah pencapaian telah sistem kirim ke kotak penyimpanan]
[Host berjuanglah menumpuk kekayaan dan kumpulkan semua hadiah pencapaian]
[Ding]
[Modul Menjadi Kaya]
[Level 5 (88355200/100000000)]
[Saldo Host : Rp 100.057.840,-]
[Tingkat Konversi : 1 kali nafas \= 11 rupiah]
[Misi : --- ]
[Penyimpanan : - Voucer Cashback 200% (1/3)
- Tiket Lucky Draw (1)]
[Kemampuan : - Lidah Manis : Selamanya]
__ADS_1
[Selamat berjuang menghabiskan uang Host]