Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 226


__ADS_3

Angin dingin yang menerpa tubuhnya, membuat Andi tersadar dari pingsannya. Pemuda itu menerjabkan matanya mencoba membiasakan matanya yang semula tertutup, dengan cahaya yang ada di ruangan tempatnya berada.


Andi melihat ke arah tubuhnya, yang sekarang tanpa sehelai pakaian pun. Pantas saja dirinya merasa badannya dingin. Tubuhnya tidak terlindung apa pun sekarang.


Pemuda itu lalu mencoba menggerakkan tangan dan kakinya. Tetapi itu sangat sulit ia lakukan. Tangan dan kakinya terikat cukup kuat. Sebenarnya, dengan segala kekuatan yang ia dapatkan dari sistem, Andi bisa melepaskan dirinya dari tali-tali yang mengikatnya.


Ia tinggal menarik tangannya dengan kuat hingga ranjang yang menjadi tempatnya diikat akan ikut tertarik. Sayangnya, sekarang ini Andi merasakan badannya sangat lemas. Seperti tidak ada tenaga yang ia miliki saat ini.


“Sial. Aku tidak percaya Dinda melakukan ini padaku.” Gumam Andi dengan suara lemah.


“Sistem, apa yang sebenarnya terjadi padaku?” Tanya Andi kepada Sistem. Jelas sistem bisa mengetahui apa yang sekarang terjadi padanya.


[Sistem mendeteksi bahwa dalam tubuh Host saat ini ada senyawa asing yang menyebabkan Host kehilangan tenaganya]


[Sistem memperkirakan efek dari senyawa itu akan hilang dalam dua jam lagi]


[Jadi ketika efek senyawa itu sudah menghilang, Host bisa mencoba menyelamatkan diri]


Pantas saja Andi merasa tubuhnya merasa lemas dan tidak bertenaga. Ini pasti efek dari cairan yang Dinda suntikkan padanya.


“Sistem, kenapa Kamu tidak memperingatkanku lebih awal mengenai Dinda yang berniat mencelakaiku?”


Jika saja dari awal sistem memberitahunya tentang bahaya itu, maka Andi bisa lebih waspada lagi dan mencurigai siapa pun yang berada di dekatnya. Tetapi Sistem memberinya peringatan ditengah-tengah ia mengobrol bersama Dinda. Jadi Andi sama sekali tidak mencurigai pacarnya itu.


Tetapi jika Andi memikirkan lebih lanjut mengenai semua ini, ia bisa menghubungkan kejadian yang baru ia alami ini dengan apa yang tengah keluarganya hadapi.


Semakin Andi memikirkannya, semakin ia merasa punggung perempuan yang ia lihat di basement apartemen musuhnya itu sama dengan punggung Dinda.


Andi cukup hafal punggung Dinda karena sudah dua tahun dia hanya memandangai punggung itu dari kejauhan. Pantas saja ia merasa mengenali punggung itu.


[Karena peringatan yang diberikan oleh sistem itu berdasarkan dengan adanya niatan dan tindakan dari pelaku]


[Ketika Host masuk ke ruangan tadi, pelaku memang sudah memiliki niatan mencelakai Host]


[Tetapi dia masih ragu akan melakukannya atau tidak]


[Barulah ketika dia sudah memantapkan niatnya, sistem memberitahukan hal itu kepada Host]

__ADS_1


Jawaban sistem itu sudah menjawab semua pertanyaan yang muncul di benak Andi. Jika memang Dinda musuhnya, kenapa selama ini sistem tidak memberinya peringatan. Sekarang Andi mengetahuinya.


Sekarang Andi hanya tinggal mencari cara untuk bisa kabur dari sini. Atau mungkin ia bisa membujuk Dinda untuk melepaskannya. Mungkin saja dia mau melakukannya.


“Sistem, apakah nyawaku terancam sekarang? Masudku apakah Dinda tengah memiliki niatan untuk membunuhku?” Tanya Andi ingin memastikan.


Jika nyawanya terancam, itu berarti Andi harus mencari segala macam cara untuk bisa keluar dari sini. Jika tidak, mungkin dia bisa mengulur sedikit waktu sampai keluarganya mencarinya.


Sayangnya, Andi tidak memiliki perangkat yang memancarkan sinyal GPS di tubuhnya. Jika ia punya, pasti keluarganya akan lebih mudah menemukan dirinya sekarang.


[Seseorang memang menginginkan kematian Host]


[Tetapi itu orang yang berbeda dengan yang sekarang menyekap Host]


Jawaban dari sistem tersebut cukup melegakan Andi. Setidaknya Dinda tidak menginginkan nyawanya sekarang. Lalu Andi memandangi tubuh telanjangnya. Apa ini perbuatan Dinda juga?


Tepat ketika Andi memikirkan hal itu, pintu kamar tempatnya disekap, terbuka dari luar. Di sana Andi bisa melihat Dinda berdiri menggunakan bathrobe. Rambutnya sekarang terbungkus handuk. Semua itu menandakan bahwa Dinda selesai mandi.


Seketika itu juga Andi ingin tanganya bebas dan bisa menutupi tubuh telanjangnya. Bagaimanapun juga, Andi malu tubuhnya dilihat seperti ini. Apalagi ketika Dinda memandai tubuhnya dengan tatapan lapar. Itu cukup mengerikkan bagi Andi.


“Ternyata Kamu sudah bangun ya.” Ucap Dinda yangsekarang berjalan mendekat ke arah Andi.


“Yang memiliki dendam besar dan ingin sekali menghancurkan keluargamu adalah Kakek dan Ayahku. Sedangkan aku, yang aku inginkan adalah Kamu. Aku hanya pelaksana tugas mereka saja.” Ucap Dinda sembari menyetuh tubuh Andi.


“Setelah aku menghancurkan keluargamu, aku akan memiliki Kamu untuk diriku seorang.” Imbuh Dinda.


Ucapan Dinda itu membuat Andi bergidik ngeri. Ia tidak menyangka Dinda memiliki pemikiran seperti ini.


“Apa Kamu tidak pernah berpikir bahwa aku akan membencimu, jika Kamu melakukan hal itu?” Ucap Andi dengan nada dingin.


“Itu cukup mudah. Aku tinggal mencuci otakmu hingga Kamu melupakan mereka. Dengan begitu, dalam kepalamu hanya ada aku seorang. Tidak ada yang lainnya.”


“Kamu sudah gila.” Teriak Andi kepada Dinda.


Andi tidak menyangka Dinda memiliki pemikiran seperti itu. Sangat gila namanya. Sepertinya perempuan ini sangat terobsesi padanya sehingga melakuka hal itu.


“Hahaha….” Dinda tertawa cukup keras setelah mendengar ucapan Andi itu. Setelah itu, Dinda memandang lekat ke arah Andi.

__ADS_1


“Iya memang, aku gila. Aku sudah tergila-gila padamu. Belasan tahun aku sudah mencintaimu tetapi kamu melupakan aku begitu saja. Sekarang, aku akan membuatmu hanya mengingat diriku dan tidak lagi melupakanku.”


“Belasan tahun? Apa maksudmu?”


Seingat Andi, pertama kali ia bertemu dengan Dinda adalah ketika SMP, sebelum itu, ia tidak pernah bertemu dengan Dinda. Jadi, bagaimana mungkin Dinda bilang sudah mencintainya semenjak belasan tahun.


“Kamu benar-benar tidak ingat bukan? Hemm…. Tidak masalah jika Kamu tidak mengingatnya. Aku tinggal membuat ingatan-ingatan indah agar kamu terus mengingat diriku.”


Setelah berucap demikian, Dinda mengambil sebuah pil dari dalam laci yang ada di sana. Ia kemudian memaksa Andi membuka mulutnya dengan menutup hidung Andi. Ketika Andi membuka mulutnya, Dinda memasukkan pil itu dan memaksa Andi menelannya.


Jika Andi dalam kondisi normal, maka dirinya bisa saja memberontak dan megagalkan rencana Dinda yang sedang meminumkan obat kepadanya. Sayangnya, tubuhnya sekarang sangat lemas jadi Andi tidak bisa melawan. Ia hanya bisa membiarkan Dinda melakukan apa pun dengan tubuhnya.


“Apa yang Kamu minumkan padaku tadi.” Tanya Andi dengan sedikit terbatuk-batuk.


Jika sebelumnya sistem tidak memberitahunya bahwa Dinda tidak memiliki niatan membunuhnya, maka Andi akan berpikir bahwa pil yang Dinda minumkan padanya adalah sebuah racun. Meski begitu, Andi penasaran pil apa yang Dinda berikan kepadanya.


“Itu pil yang membuat kita sama-sama senang. Aku akan membuat kenangan-kenangan indah bersamamu agar Kamu tidak melupakan aku. Kamu tunggu saja. Sebentar lagi Kamu akan merasakannya.” Bisik Dinda di telinga Andi.


Setelah berucap demikian, Dinda hanya duduk di samping tubuh Andi sembari sesekali mengelus tubuhnya. Ia menunggu reaksi obat itu muncul. Dinda yakin itu tidak akan lama lagi.


Lima menit kemudian, Andi merasakan tubuhnya memanas. Ia seperti ingin merendam tubuhnya dengan air dingin sekarang. Tidak hanya itu, Andi merasakan tubuh bagian bawahnya berdiri. Hal itu membuat Andi tahu obat apa yang sudah Dinda berikan padanya.


“Sepertinya Kamu sudah siap. Sudah saatnya kita bersenang-senang sekarang.”


Setelah berucap demikian, Dinda melepas bathrobe yang membungkus tubuhnya. Di balik bathrobe itu Dinda tidak memakai pakaian apa pun. Tanpa mempedulikan Andi yang merasa terhina dengan semua ini, Dinda melakukan penyatuan tubuh mereka.


Ia bergerak-gerak di atas tubuh Andi. Suara lenguhan dan ******* Dinda pun memenuhi ruangan itu. Sementara itu, Andi hanya memejamkan matanya ketika semua itu terjadi. Sudut mata Andi pun mengeluarkan air mata.


Sebagai seorang laki-laki, ia merasa terhina diperlakukan seperti ini. Meski sekarang Dinda memang berstatus sebagai pacarnya, ia tidak menyangka akan melakukan hal ini dengan cara yang seperti ini.


Bayangannya mengenai pengelaman pertamanya, sangat jauh dari apa yang ia rasakan sekarang. Bahkan ketika dirinya mencapai pelepasan pun, Andi sama sekali tidak memiliki rasa senang sedikit pun.


“Aku senang sekali telah melakukan hal ini denganmu. Aku sudah menunggu-nunggu saat ini tiba. Akhirnya kesampaian juga.” Bisik Dinda di telinga Andi.


Sekarang tubuh perempuan itu menindih tubuh Andi. Ia tidak peduli pemuda di bawahnya ini hanya diam tidak merespon apa pun.


“Ada alasan aku memilih hari ini sebagai hari penyatuan kita.” Lanjut Dinda.

__ADS_1


“Ini karena sekarang adalah masa suburku. Jadi, bersiap-siaplah Kamu untuk menjadi seorang ayah sembilan bulan lagi.”


Setelah berucap demikian, Dinda mengecup bibir Andi. Meski yang dikecup tidak memberi respon apa pun, tetapi Dinda senang melakukan hal itu.


__ADS_2