
Sementara Andi sibuk mengobrol dengan Kakek Buyut Adipramana, di tempat lain Jony juga memiliki kesibukannya sendiri. Kali ini ia akan pergi menuju Kota Surabaya. Jony ingin mencari preman yang bisa membantunya melaksanakan rencananya.
Hal ini cukup sulit bagi Jony yang tidak memiliki banyak kenalan di dunia bawah. Selama ini di kotanya, Jony mengandalkan Rendi untuk menghubungkan dirinya dengan para preman. Sekarang, ia tidak memiliki seseorang yang bisa menggantikan peranan Rendi tersebut.
Dari sedikit informasi yang ia punya, di provinsi ini, ada dua gang besar yang cukup ditakuti. Gang Macan Putih dan Gang Rajawali Hitam. Jony tentu saja tidak bisa datang kepada anggota Gang Macan Putih. Itu adalah gang yang dipimpin oleh Paman Andi.
Jika Jony pergi ke mereka, itu sama saja dengan melakukan bunuh diri. Jony tidak sebodoh itu. Jadi, pilihannya adalah Gang Rajawali Hitam. Tetapi, Jony tidak tahu di mana dirinya bisa menemui mereka yang berasal dari Gang Rajawali Hitam.
Jony pernah mendengar bahwa para gang itu memiliki bisnis yang mereka kelola. Jony hanya cukup mendatangi bisnis yang dikelola oleh Gang Rajawali Hitam. Para anggota Gang Rajawali Hitam memiliki sebuah ciri yaitu tato bergambar bulan bintang di punggung tangan sebelah kiri.
Jadi, jika Jony mendatangi bisnis yang dikelola Gang Rajawali Hitam, ia bisa dengan mudahnya mengenali para anggota Gang Rajawali Hitam. Sayangnya Jony tidak mengetahui apa saja bisnis dari Gang Rajawali Hitam.
“Ah mungkin mala mini aku akan mengunjungi semua club malam yang ada di kota ini. Aku yakin dengan begini, aku bisa mengetahui mana club yang dikelolah oleh Gang Rajawali Hitam. Aku tinggal melihat tangan kiri dari pekerja di sana.”
“Jika aku tidak bisa menemukan satu orang Gang Rajawali Hitam pada club tersebut, maka aku akan beralih ke club yang lainnya. Brilian sekali caraku ini.”
Yang bisa Jony lakukan saat ini adalah menunggu hingga malam tiba. Dengan begitu, ia bisa berkunjung ke club malam yang ada di Kota Surabaya.
“Ah, jika tahu seperti ini, lebih baik aku ke Surabaya lebih sore saja. Tidak pagi-pagi seperti ini.” Sesal Jony.
Untuk mengisi waktu luangnya, Jony memilih tidur. Oleh karena itu ia pergi ke hotel terdekat dari tempatnya sekarang agar dirinya bisa segera tidur. Setidaknya nanti malam dirinya perlu begadang. Jadi, lebih baik ia tidur sekarang.
Jony bangun dari tidurnya pada pukul tiga lebih lima belas menit. Ia lalu bergegas mandi. Setelanya, Jony pergi ke restoran yang ada di lantai bawah untuk mengisi perutnya. Rencananya, setelah ini ia akan menghabiskan sore di mall dan malamnya pergi ke club malam.
Namun, ketika Jony memarkirkan mobilnya seseorang menghubunginya. Segera saja ia mengangkat panggilan yang ternyata dari ayahnya itu.
“Hallo, ada apa ayah?” Tanya Jony kepada ayahnya.
__ADS_1
“Di mana kamu sekarang?”
Dari nada suara ayahnya, Jony bisa tahu bahwa saat ini ayahnya dalam keadaan gusar. Jony tidak tahu apa yang terjadi. Tetapi, sepertinya ada sebuah masalah di rumah pada saat ini.
“Aku sedang di Surabaya sekarang.”
“Untuk apa kamu ke sana? Sekarang cepat pulang ada masalah yang cukup serius di rumah.” Bentak Marcel kepada anaknya.
“Tapi ayah, ada urusan yang cukup penting yang harus aku lakukan.”
“Tidak perlu tapi-tapian. Memangnya lebih penting mana urusanmu itu dengan masa depan keluarga kita. Cepat pulang. Aku mau dua jam lagi kamu sudah berada di rumah.”
Setelah Marcel berucap demikian, panggilan tersebut terputus. Jika begini, Jony hanya bisa menuruti perintah ayahnya. Mendengar nada suara dari ayahnya tadi, Jony tahu bahwa ada masalah yang cukup serius yang sedang keluarganya hadapi.
Mau tidak mau Jony harus pulang saat ini. Ia tidak bisa pergi mencari seseorang dari Gang Rajawali Hitam untuk saat ini. Mungkin jika masalah keluarganya terselesaikan, baru dirinya akan mencari orang-orang dari Gang Rajawali Hitam.
*****
Selama tiga hari berturut-turut, nilai sahamnya mengalami kenaikan. Awalnya, nilai saham perusahaannya yang dijual sepuluh ribu seratus per lembar di bursa. Lalu pada siang hari tadi harga sahamnya sudah mencapai sebelas ribu lima ratus per lembarnya.
Lalu sekarang, anak buahnya melaporkan bahwa ada dua puluh persen saham mereka dijual dengan harga lima ribu rupiah perlembarnya. Itu penurunan yang sangat tidak wajar. Perusahaannya berjalan baik-baik saja selama ini. Performa mereka juga sudah baik. Tetapi kenapa nilai saham mereka menurun
Marcel merasa sekarang ini ada yang menargetkan perusahaannya. Tidak mungkin bukan sahamnya turun begitu saja. Dan orang yang menargetkannya, memiliki kekuasaan yang cukup besar. Dua puluh persen saham perusahaannya itu sama lebih kurangnya setara dengan uang seratus dua puluh lima milyar.
Itu bukanlah angka yang sedikit. Orang yang mau mengeluarkan uang sebanyak itu untuk menurunkan nilai saham perusahaannya, menurut Marcel bukanlah orang yang biasa. Setidaknya orang tersebut memiliki aset triliyunan.
Tetapi, selama ini Marcel merasa dirinya sama sekali tidak menyinggung siapapun yang berasal dari keluarga yang lebih kaya darinya. Marcel adalah tipikal orang yang takut pada orang yang lebih kuat, dan menindas orang yang lemah.
__ADS_1
Marcel memijat keningnya yang terasa pening itu. Tidak lama kemudian, pintu ruangnnya diketuk oleh seseorang dari luar. “Masuk.”
Di sana Marcel bisa melihat sekertarisnya Rudi memasuki ruangannya. Dari ekspresi yang ditampilkan Rudi, Marcel tahu bahwa tugas yang ia berikan kepada Rudi untuk meneyelidiki masalah ini tidak membuahkan hasil yang cukup memuaskan.
“Bagaimana hasilnya?” Tanya Marcel.
Rudi menggelengkan kepalanya pelan. “Maaf Bos. Tetapi sampai sekarang penyelidikan yang aku lakukan belum mendapatkan hasil. Aku sudah mencoba mencari tahu tetapi, aku belum mendapatkan informasi mengenai siapa yang menjual saham sebanyak itu.” Lapor Rudi.
“Bos, apakah ini ada hubungannya dengan Tuan Kedua Bos? Maksudku, bukannya selama ini dia juga mengincar kursi direktur utama. Apalagi ketika Bos akan mencalonkan diri sebagai wakil wali kota. Dia selalu saja mengusulkan di rapat umum pemegang saham untuk meminta Bos mundur dari jabatan direktur utama?”
Marcel menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak mungkin. Ini tidak mungkin ada hubungannya adikku. Aku tahu berapa banyak harta milik adikku. Tidak mungkin dia memiliki aset likuid sebanyak itu. Seratus dua puluh lima milyar lebih itu bukan uang yang sedikit.”
“Lagi pula, jika adikku benar-benar melakukannya, dia akan rugi sangat besar. Jika adikku memiliki uang sebanyak itu dan bisa ia belikan saham, ia tidak akan menjual saham tersebut. Apalagi sampai menjualnya dengan harga murah.”
Marcel menarik nafas panjang. “Dengan mempunyai empat puluh lima persen saham, sudah pasti adikku bisa dengan mudahnya menyingkirkanku dari jabatan direktur utama. Jadi ia tidak akan melakukan semua ini.”
“Menurutku ini dilakukan oleh orang yang sedang menargetkan perusahan kita. Aku tidak tahu siapa orang itu.”
Memang keluarga besarnya memiliki lima puluh lima persen saham pada perushaan mereka. Tiga puluh persen dipegang Marcel, dua puluh lima persen dipegang oleh adikya. Sisanya dipegang oleh orang lain. Dengan begini, keluarga mereka masih memiliki kekuasan yang besar dalam mengambil keputusan.
Marcel paham betul, meski pun adiknya itu ingin sekali melengserkannya dari jabatan direktur utama, adiknya itu tidak akan membuat dirinya rugi apalagi merugikan perusahaan. Penurunan nilai saham mereka saat ini sangat merugikan perushaan mereka.
Dengan nilai saham mereka yang turun, maka investor tidak akan tertarik untuk menanamkan uang mereka kepada perusahaan mereka. Tidak hanya itu, ada juga kemungkinan para investor menarik uang investasi mereka jika perusahaan mereka memiki nilai yang menurun.
Jika sampai para investor menarik uang mereka, maka perusahaan mereka akan mengalami kerugian yang cukup besar. Proyek-proyek yang sudah mereka ambil bisa saja gagal terlaksana karena terkendala dana. Jadi, ini sangat membahayakan perusahaan mereka.
“Sekarang kamu lanjutkan mencari tahu siapa yang melakukan hal ini dan apa motif mereka. Kita masih memiliki waktu hingga Minggu malam. Jika pada hari Senin kita belum mengetahui siapa pemilik dua puluh persen saham tersebut, keadaan akan lebih berbahaya. Kita sekarang sedang dikejar waktu.”
__ADS_1
Setelah Marcel berucap demikian, pintu ruangannya dibuka begitu saja tanpa ada ketukan. Di sana terlihat Anton, sekertarisnya yang lain terlihat sedang cemas. Melihat hal itu, membuat kepala Marcel semakin pening.
Masalah apalagi yang terjadi. Sekertarisnya Anton yang biasanya mengetuk pintu, sekarang masuk begitu saja tanpa menunggu ijin dari Marcel.