
“Kalian duduklah dulu.” Ucap Sang Penerus.
Keenam tamu tersebut, kemudian duduk di kursi yang ada di aula tersebut. Keluarga Sasongko memilih kursi yang berada barisan sebelah kanan dari Sang Penerus. Sedangkan keluarga Sanjoyo memilih barisan sebelah kanan.
Urutan duduk dari kedua keluarga itu juga sama. Mereka yang paling tua berada di dekat Sang Penerus. Sementara itu, mereka yang masih muda berada di paling ujung.
“Maaf Tuan, kali ini ada perlu apa sehingga Anda memanggil kami kemari?” Tanya Bayu kepada Sang Penerus.
“Tentu saja seperti biasanya. Aku menawarkan kerjasama dengan kalian. Kali ini aku akan bermain lebih besar dari biasanya. Jadi, aku membutuhkan bantuan dari kalian.”
“Memangnya, kali ini berapa dana yang Anda inginkan?” Tanya Bayu.
“Aku tidak akan meminta nominal tertentu kepada kalian. Seperti biasanya, aku akan mengembalikan uang kalian beserta keuntungan sepuluh persen. Lebih banyak yang yang kalian berikan, bukankah keuntungan yang kalian dapat juga lebih banyak lagi?”
Ketika berucap demikian, Sang Penerus tetap memandang lurus kedepan. Dia terlihat sangat angkuh karena tidak sedikit pun mau memandang ke arah Bayu yang mengajaknya berbicara.
“Sang Penerus, keluarga Sasongko akan berinvestasi dua ratus milyar kali ini.” Ucap Darsono
“Keluarga Sanjoyo akan berinvestasi tiga ratus lima puluh milyar.”
Bayu tidak mau kalah dengan Darsono. Keluarganya memiliki uang lebih banyak daripada keluarga Sasongko. Ini adalah keseluruhan uang yang bisa mereka keluarkan tanpa mengganggu keuangan bisnis mereka.
Menginvestasikan uang mereka kepada Sang Penerus sangat menguntungkan menurut Bayu. Sepuluh persen adalah angka yang cukup tinggi. Biasanya, dalam waktu kurang dari satu bulan, Sang Penerus akan mengembalikan uang yang mereka investasikan beserta keuntungan.
Jadi, mereka suka bekerja sama dengan Sang Penerus. Ternyata apa yang diucapkan oleh leluhur mereka ada benarnya. Mengikuti Sang Penerus bisa memberikan keuntungan besar bagi mereka. Sekarang ini, Sang Penerus belum menyuruh mereka mengelola bisnis miliknya.
Itu mungkin karena Sang Penerus belum sepenuhnya mempercayai mereka. Mereka baru satu tahun saling mengenal. Meski begitu, kedua keluarga itu sudah merasakan keuntungan besar yang mereka terima dari Sang Penerus.
“Baiklah. Aku menunggu transfer uang dari kalian. Jangan lupa mengirimkannya ke rekening Bank Swiss milikku.”
“Tentu Sang Penerus. Aku akan segera mengirim uangnya.”Jawab Bayu.
Sang Penerus mengangguk-angguk pelan. Dia kemudian menyapukan pandangannya ke arah dua orang yang berada di ujung barisan kursi.
“Jadi ini generasi muda keluarga kalian?” Tanya Sang Penerus.
__ADS_1
“Iya Tuan. Ini Hermawan cucuku. Untuk apa Tuan menyuruh kami membawa generasi muda di keluarga kami?” Tanya Bayu.
“Dan ini Marcel cucuku.” Imbuh Darsono.
“Aku ingin, kalian, dua keluarga ini, mulai menekan keluarga Wijoyokusumo dan keluarga Jayantaka. Tidak hanya bisnis mereka saja. Tetapi, aku ingin kalian juga menekan anggota keluarga mereka. Jadi, aku ingin generasi muda di keluarga kalian menekan mereka yang berasal dari keluarga Wijoosyokusumo dan keluarga Jayantaka.”
“Kalau perlu, kalian pikirkan cara untuk mencelakai mereka. Sedikit demi sedikit kalian eliminasi anggota keluarga mereka. Kalian bisa memulainya dari generasi muda kedua keluarga itu. Itu alasanku menyuruh kalian mengajak generasi muda keluarga kalian.” Jelas Sang Penerus.
Keenam tamu yang ada di sana cukup bingung dengan ucapan Sang Penerus. Bukankah kedua keluarga itu juga anak buah dari Sang Penerus di generasi sebelumnya? Kenapa tiba-tiba Sang Penerus sekarang meminta mereka untuk menekan keluarga Wijoyokusumo dan keluarga Jayantaka?
Apakah kedua keluarga itu akan dieliminasi oleh Sang Penerus? Bayu ingat dari cerita Ayahnya bahwa dulu ada sebuah keluarga yang cukup besar, lebih unggul dari keluarga Jayantaka, dieliminasi oleh Sang Penerus karena keluarga itu sudah berhianat.
Tidak hanya keluarga itu, ada beberapa keluarga juga yang dieliminasi oleh Sang Penerus. Jika digabungkan semuanya, kekuatan mereka sangatlah besar. Meski begitu, Sang Penerus masih bisa mengeliminasi para penghianat itu.
Sekarang, Sang Penerus kembali ingin mengeliminasi keluarga yang sudah menjadi anak buah dari Sang Penerus di generasi sebelumnya. Kemungkinan besar, kedua keluarga tersebut sudah membuat menyinggung Sang Penerus, sehingga beliau marah besar sampai berpikir untuk mengeliminasi mereka.
Bukankah itu sebuah kabar bagus? Dengan Sang Penerus yang ingin mengeliminasi keluarga Wijoyokusumo dan keluarga Jayantaka, di kota ini yang tersisa hanyalah keluarga Sasongko dan keluarga Sanjoyo.
Tidak akan ada lagi empat keluarga besar. Kedepannya, orang hanya mengenal dua raksasa Surabaya. Memikirkan hal itu saja membuat mereka yang berasal dari keluarga Sasongko dan keluarga Sanjoyo sangat senang.
“Baiklah Tuan. Kami bisa melakukan hal itu. Jika Anda ingin mengeliminasi mereka, maka kami akan dengan senang hati membantu Anda. Serahkan saja semuanya kepada kami.” Ucap Bayu dengan penuh percaya diri.
….
Setelah menemui Sang Penerus, keenam orang tersebut keluar dari aula bersama-sama. Kebahagiaan terpancar jelas di wajah mereka. Bahkan Hermawan dan Marcel yang sebelumnya memendam kekesalan di hati masing-masing juga merasa senang sekarang.
Sebentar lagi, keluarga mereka akan bersaing secara besar-besaran dengan keluarga Wijoyokusmo dan keluarga Jayantaka. Selama ini, meskipun mereka bersaing, itu hanya persaingan sehat. Mereka sama sekali tidak menggunakan cara kotor dalam persaingan antar keluarga mereka.
Itu semua karena masing-masing dari keempat keluarga tersebut paham bahwa mereka masihlah menjadi anak buah Sang Penerus. Mereka tidak bisa bersaing dengan cara kotor hingga sampai membunuh anggota keluarga lain.
Sekarang sudah berbeda. Sang Penerus sudah memberikan mereka lampu hijau untuk melakukan itu. Bahkan Sang Penerus sendiri yang menyuruh mereka melakukan hal ini. Jadi, tidak ada lagi yang perlu mereka khawatirkan.
Sekarang mereka bisa dengan bebas memakai cara apapun untuk bersaing dengan keluarga Wijoyokusumo dan keluarga Jayantaka. Bahkan jika mereka membunuh mereka sekalipun itu tidak terlalu menjadi masalah.
“Sekarang kita perlu bekerja sama dalam menghancurkan keluarga Wijoyokusumo dan keluarga Jayantaka. Jika kita tidak bekerja sama, maka akan sulit bagi kita mengalahkan kedua keluarga tersebut.” Ucap Bayu.
__ADS_1
“Tentu saja kita perlu bekerja sama. Meski aku tidak suka, tetapi harus aku akui bahwa kekuatan kedua keluarga kita jika disatukan pun belum bisa menglahkan keluarga Wijoyokusumo. Apalagi kita juga perlu mengalahkan keluarga Jayantaka.” Ucap Darsono.
“Kita perlu melakukan ini diam-diam. Seperti seekor harimau yang bersabar dalam berburu, kita juga perlu melakukan hal yang sama. Jika kita sampai ketahuan memiliki niatan mengeliminasi keluarga mereka, yang ada malah sebaliknya. Kedua keluarga itu yang mengeliminasi kita.” Imbuh Rusdi.
“Kamu benar Rusdi. Meski kita mendapat dukungan dari Sang Penerus, tetapi kekuatan kita belumlah besar. Aku tidak tahu kenapa Sang Penerus yang ini sedikit berbeda daripada Sang Penerus yang Kakek ceritakan.”
“Sang Penerus yang ini terlihat tidak terlalu banyak mengambil tindakan. Dia malah sering meminta uang dari kita. Meskipun nanti dia akan mengembalikannya beserta dengan tambahan sepuluh persen, tetap saja dia sangat berbeda dari cerita yang aku dengar.”
“Kakek dulu bilang bahwa bagi Sang Penerus, uang dianggapnya seperti air. Dia sering membagi-bagikan uang seperti uang tidak ada artinya baginya. Tetapi, kenapa Sang Penerus yang sekarang malah meminta uang dari kita?” Ucap Arman.
Mendengar ucapan anaknya, Bayu sedikit khawatir. Ia melihat ke sekeliling. Mencoba melihat apakah ada orang lain yang mendengar ucapan Arman atau tidak. Bayu tidak mau ada anak buah dari Sang Penerus yang mendengar ucapan Arman barusan.
“Jaga bicaramu itu Arman. Apa Kamu mau ucapanmu itu terdengar oleh Sang Penerus? Kamu harus jaga ucapanmu.” Bentak Bayu.
Mendengar bentakan dari ayahnya, Arman sadar bahwa dirinya salah berucap. “Maaf Ayah aku tidak sengaja.”
“Tetapi Bayu, ucapan anakmu itu sedikit ada benarnya. Sang Penerus yang sekarang sangat jauh berbeda dari cerita yang kita dengar. Dia tidak memberikan kita keuntungan apapun selama ini. Apa yang dia berikan kepada kita selama ini hanyalah keuntungan dari uang yang kita investasikan.”
“Sekarang, aku merasa kita sedang dimanfaatkan oleh Sang Penerus.” Jelas Darsono.
“Apa Kamu curiga bahwa orang ini bukanlah Sang Penerus?” Tanya Bayu setengah berbisik kepada Darsono.
“Aku rasa begitu.”
“Tetapi, sebelumnya kamu sendiri sudah yakin bahwa dia adalah Sang Penerus. Kamu sendiri bukan yang mengajakku menemuinya. Dan sekarang Kamu bilang dia bukanlah Sang Penerus. Apa maksudmu Darsono?”
“Aku hanya kesal Bayu. Dari cerita yang aku dengar Kakek kita dulu tidak mengeluarkan uang sepeser pun dan tetap mendapatkan uang banyak. Sedangkan kita? Untuk mendapatkan uang itu, kita perlu mengeluarkan uang.”
“Sebelumnya aku sudah mengecek kalung dari Sang Penerus tersebut. Kalung itu memiliki semua ciri-ciri yang sama dengan kalung Sang Penerus. Jadi aku yakin dia adalah Sang Penerus. Hanya saja, kenapa Sang Penerus generasi ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya.”
Mendengar ucapan Darsono membuat Bayu terdiam. Setelah dipikir-pikir, apa yang Darsono ucapkan ada benarnya. Sang Penerus di generasi ini sangat jauh berbeda dengan Sang Penerus yang mereka kenal dari cerita Kakek mereka.
Jadi, apakah orang ini benar-benar Sang Penerus, atau hanya orang yang berpura-pura sebagai Sang Penerus? Jika dia bukan Sang Penerus sebenarnya, siapa dia sebenarnya? Kenapa dia memiliki kalung yang sama dengan milik Sang Penerus?
“Kita bersabar sedikit lagi. Mungkin ini hanyalah awalan. Mungkin saja Sang Penerus nanti mempercayakan kepada kita beberapa bisnis miliknya. Kita tidak tahu bukan bagaimana perjalanan bisnis dari Sang Penerus yang sesungguhnya.”
__ADS_1
“Yang kita tahu, leluhur kita mengelola bisnis dari Sang Penerus dan mendapatkan keuntugan besar. Jadi, untung sekarang kita hanya perlu bersabar.” Jelas Bayu.