
Rosalinda memandang ke arah jalan di depan kosannya. Di sana terparkir sebuah mobil sport, dengan seorang pemuda berpakaian rapi membawa sebuket bunga. Pemuda itu duduk di kap mobilnya sembari melihat ke arah Rosalinda yang kini tengah mengintip dari jendela kamarnya.
“Ck.” Rosalinda berdecak lidah. “Kenapa sih tuh cowo masih di sini.” Gerutu Rosalinda tidak suka dengan apa yang kini dilihatnya.
“Kenapa nggak kamu samperin aja sih?” tanya Mentari yang sekarang duduk di ranjang Rosalinda.
Rosalinda hanya menggelengkan kepalanya pelan. “Buat apa di samperin? Dia juga ke sini cuma bikin masalah. Udah jelas aku nggak suka, udah sering di tolak juga, tetapi tetap aja dia ngejar-ngejar. Bilangnya suka tapi tiap hari tuh cewe yang turun dari mobilnya tiap ke kampus selalu beda.”
“Kenapa nggak coba kamu terima aja? Meski cuma bentar, kan lumayan di manfaatin. Dia dari keluarga kaya gitu loh. Aku dengar dia royal banget dengan cewek-cewek yang dekat dengannya.”
“Heh.” Rosalinda mendengus pelan. “Aku bukan cewek matre kayak Karina, yang mudah aja jalan sama cowok asalkan cowok itu kaya. Aku nggak peduli kalo dia kayak kek miskin kek. Asalkan dia bukan cowok yang gampang banget gonta ganti cewek, aku pasti bakal pertimbangin.”
“Kalo cowo macem Marcel, sudah jelas aku ogah. Deket aja ogah apalagi aku harus pacaran dengan dia.”
Rosalinda menutup kembali gorden yang sebelumnya ia singkap. Perempuan itu kemudian menghampiri temannya. Ia tidak mau lagi memandang ke arah Marcel yang masih berada di jalan depan kosan. Pemuda itu akan besar kepala jika Rosalinda terus memandanginya.
“Aku salut banget dengan kamu Lin. Banyak banget anak di kampus yang pengen banget di perhatiin sama Marcel atau pun Hermawan. Tetapi, kamu yang diperhatiin sama mereka berdua malah ogah-ogahan kayak gini.”
Rosalinda menarik nafas panjang. “Percuma Tar kalo punya pacar kaya kayak mereka. Di muka publik memang kita pacarnya. Tetapi, di belakang kita, dia memiliki banyak koleksi lainnya. Yang ada bukan bahagia jadi pacar mereka tetapi sengsara.” Jelas Rosalinda.
Ketika mereka tengah mengobrol, terdengar beberapa keributan di depan kosan Rosalinda. Hal tersebut membuat Rosalinda dan Mentari beranjak dari tempat duduk mereka. Keduanya menyibak gorden untuk melihat keributan apa lagi yang terjadi di depan kosan Rosalinda.
Kedua perempuan itu kini bisa melihat mobil sport lainnya terparkir tepat di depan mobil Marcel. Tidak hanya itu, mobil itu hampir saja menghimpit kaki Marcel yang bergelantungan di depan mobilnya. Sontak hal tersebut membuat pemuda dari keluarga Sasongko itu naik pitam. Ia kemudian berdiri di atas kap mobilnya dan kemudian melompat ke kap mobil di depannya.
*****
“Apa-apaan ini Hermawan? Apa kamu mau membunuhku dengan menjepitku seperti itu?” teriak Marcel sembari menunjuk-nunjuk ke arah pemuda yang duduk di balik kemudi mobil berwarna hitam.
Pemuda yang bernama Hermawan yang kini ditunjuk oleh Marcel terlihat memamerkan deretan giginya. Ia kemudian keluar dari mobilnya dan menyilangkan tangan di depan dadanya sembari bersandar di mobilnya.
__ADS_1
“Ternyata Tuan Muda keluarga Sasongko sangatlah lemah. Aku bahkan tidak benar-benar menjepitmu. Sekarang lihatlah, kamu bertingkah seolah aku sudah menyepitmu dan membuatmu lumpuh. Apa itu yang sebenarnya kamu inginkan?”
Hermawan menangguk-anggukkan kepalanya pelan. “Aku rasa membuatmu lumpuh bukanlah ide yang buruk juga.”
Mendengar hal itu, Marcel melemparkan buket bunga yang ada di tangannya ke arah Hermawan. “Sialan kamu Hermawan. Kamu pikir akan semudah itu mencelakaiku hingga membuatku lumpuh. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.”
Melihat hal, langsung saja Hermawan menangkap buket bunga yang hampir mengenai wajahnya itu. Pemuda itu kemudian mengelus-elus buket bunga tersebut dan memastikan bahwa tidak ada kerusakan di sana. Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, Hemawan memandang Marcel dengan seringai lebar menghiasi bibirnya.
“Terimakasih kamu sudah memberiku buket bunga ini. Dengan begini, aku tidak perlu lagi merogoh kantong untuk membelikan Rosalinda bunga.”
Marcel menjadi geram mendengar perkataan Hermawan. Pemuda itu terlihat menggertakkan rahangnya, menahan amarah. “Sialan kamu Hermawan. Kembalikan buket bunga itu?” Ucap Marcel sembari menujuk ke arah buket bunga di tangan Hermawan.
“Ck. Ck. Ck.” Hermawan berdecak lidah mendengar ucapan Marcel. “Aku tidak menyangka Tuan Muda Sasongko ahli menjilat ludah seperti ini. Kamu sudah melemparkan buket bunga ini kepadaku bukan? Lalu, kenapa kamu sekarang memintanya kembali.”
“Sepertinya perangkingan yang disebutkan orang-orang itu benar. Keluarga Sasongko sudah banyak mengalami kemunduran. Lihat saja Tuan Mudanya sudah tidak lagi mampu membeli sebuket bunga. Ia bahkan akan meminta kembali bunga yang sudah diberikan oleh orang lain.”
Setelah berucap demikian, Hermawan mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa uang seratus ribuan dari dalam sana. Ia kemudian mengipas kipaskan uang tersebut ke arah Marcel yang sekarang ini berwajah merah karena amarah.
Marcel semakin geram diperlakukan seperti ini oleh Hermawan. Memang keluarganya adalah keluarga terlemah di antara empat keluarga besar di kota ini. Tetapi, hal tersebut tidak menjadikan Hermawan bisa menginjak-ijak harga dirinya sebagai seorang berdarah Sasongko seperti ini.
Langsung saja Marcel melompat dari kap mobil Hermawan. Ia membuat sebuah gerakan menendang di udara. Pemuda itu berharap tendangannya ini bisa mengenai kepala musuh bebuyutannya itu. Dengan begitu Hermawan akan tumbang. Jelas hal tersebut bisa Marcel manfaatkan untuk menghajar pemuda bermulut besar itu.
Sayangnya, gerakan Marcel itu seolah sudah dibaca oleh Hermawan. Pemuda itu melompat mundur menghindari kaki Marcel yang akan mengenai kepalanya. Setelah berada pada jarak yang cukup aman, Hermawan mengebas-kebaskan bajunya, melakukan tindakan seolahia menghilangkan debu yang ada di bajunya.
“Rupanya Tuan Muda keluarga Sasongko ini tidak memiliki perubahan. Masih saja bergerak dengan emosi. Dipancing sedikit, langsung meledak ledak seperti ini.” Ucap Hermawan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah kecewa karena Marcel bertindak tidak sesuai dengan ekspetasinya.
“Heh.” Marcel mendengus pelan. “Kamu mengatakan seperti itu kepadaku tetapi lupa untuk melihat cermin. Kamu ini laki-laki tetapi bermulut besar kayak cewek. Jika berani sini adu jotosan denganku. Jangan hanya bisa menggurui orang lain dengan perkataanmu.”
Sekali lagi Hermawan menggelengkan kepalanya. Pemuda itu kemudian menunjuk kepalanya sembari memandang tajam ke arah Marcel. “Aku menggunakan otakku untuk berpikir bukan seperti dirimu yang hanya mengandalkan otot.”
__ADS_1
“Kamu mau mengejekku lagi?”
Hermawan mengangkat sebelah tangannya yang bebas, meminta Marcel menghentikan ucapannya. “Orang bodoh sepertimu mana bisa paham. Kamu bahkan tidak tahu bukan bahwa Rosalinda kemarin jalan dengan cowok lain?”
“Apa jalan dengan cowok lain? Siapa itu yang berani-beraninya mendekati cewek yang jadi incaranku. Apa dia sudah bosan hidup.” Ucap Marcel menggebu-gebu.
“Ya memang dia sudah bosan hidup. Dia sudah berani datang tiba-tiba ketika kita berkompetisi memperebutkan Rosalinda.”
Hermawan kemudian menengok ke atas memperhatikan Rosalinda yang mengintip dari balik gorden jendela. Ia kemudian memberikan senyum termanisnya kepada perempuan itu. Hermawan kini bisa melihat Rosalinda yang buru-buru menutup gorden kamarnya.
Sebenarnya, dia sama sekali tidak ada rasa dengan perempuan itu. Dia ikut mengejar-ngejar perempuan itu karena mendengar bahwa Marcel ditolak oleh perempuan itu. Hal itu mengusik rasa penasaran Hermawan. Pemuda itu juga mencoba mendekatinya. Namun, ia mendapatkan respon tidak jauh berbeda dari apa yang Marcel dapatkan.
Seketika itu juga, keduanya berlomba untuk melihat karisma siapa yang lebih unggul. Jika salah satu dari mereka berhasil membuat Rosalinda menjadi pacar, itu berarti orang itu menang.
Selain berkompetisi dengan Marcel, Hermawan memiliki rencana lain. Dia ingin menaklukkan perempuan itu, membuat perempuan itu tunduk di bawahnya. Ketika itu tiba, Hermawan ingin menunjukkan kepada Rosalinda siapa sebenarnya yang berkuasa.
“Sekarang, daripada kamu pusing memikirkan bagaimana Rosalinda mau menjadi pacarmu, lebih baik kita pikirkan bagaimana cara menyingkirkan pesaing baru itu. Aku datang ke sini ingin mengajakmu bekerja sama. Lebih baik kita singkirkan orang ini bersama-sama. Bagaimana?” Tawar Hermawan kepada Marcel.
Sebenarnya dirinya bisa saja menyingkirkan pesaingnya itu sendirian. Tetapi, ia takut hal itu dimanfaatkan oleh Marcel. Ketika dirinya fokus menyingkirkan pesaingnya itu, Marcel bisa saja bertidak cepat merencanakan sesuatu yang membuat Rosalinda tunduk di bawahnya.
Ketika hal itu terjadi, bisa-bisa Marcel akan mengumumkan kepada kalayak umum bahwa ia, Hermawan, telah kalah telak dari seorang Marcel. Hermawan tidak mau hal itu sampai terjadi. Maka dari itu dia meminta Marcel bekerja sama. Dengan demikian, mereka bisa menyingkirkan pesaing itu dengan cepat.
“Memangnya kamu sudah tahu siapa orang itu yang sudah berani-beraninya mendekati Rosalinda?” Tanya Marcel.
Hermawan menggelengkan kepalanya. “Belum. Aku belum menyelidikinya sejauh itu. Yang aku tahu, dia mengajak berbelaja Rosalinda di salah satu supermarket milik keluargaku. Salah seorang anak buahku mengetahui hals itu dan melaporkannya kepadaku. Jadi bagaimana? Apakah kamu ikut?” tanya Hermawan sekali lagi.
“Tentu saja aku ikut. Aku tidak sabar menghajar orang itu.”
Hermawan tersenyum lebar mendengar hal itu. Dia berhasil menjebak Marcel masuk dalam perangkapnya. Di permukaan, yang terlihat adalah dirinya yang mengajak bekerja sama. Tetapi dalam kenyataannya nanti, Hermawan akan membuat Marcel mengerjakan semuanya. Ia kan memanfaatkan hal itu untuk melaksanakan rencananya yang lain.
__ADS_1
Hermawan sekali lagi memandang ke arah kamar Rosalinda. ‘Tunggu saja Rosalinda, aku akan mendapatkanmu. Setelah kamu ada dalam gengamanku, aku akan memberimu pelajaran yang tidak akan pernah kamu lupakan. Berani sekali upik abu sepertimu menolak Tuan Muda dari keluarga Sanjoyo sepertiku.’ Gumam Hermawan dalam hati.