Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 82 Bonus Penjualan (Lagi?)


__ADS_3

Ketika sampai di kafenya, Andi melihat beberapa karangan bunga berbaris rapi. Dari nama pengirimnya, Andi tahu itu adalah ucapan selamat dari beberapa perusahaan di bawah keluarga Brian. Sepertinya Brian memberitahukan kepada keluarganya mengenai pembukaan kafe ini.


Tidak banyak yang hadir di sini. Hanya ada para pekerja dan beberapa media online yang Andi undang untuk meliput pembukaan kafe miliknya. Menurutnya ini tidak masalah. Ini masih cukup pagi. Andi yakin dengan promosi yang ia lakukan diberbagai akun sosial media bisa membawa pelanggan kemari.


Setelah beberapa persiapan, pada jam setengah sembilan akhirnya Andi meresmikan kafe dan dessert shop miliknya itu. Karena tangnya terluka, otomatis Andi tidak bisa melakukan ritual potong pita. Hal itu diwakilkan oleh ibunya.


Mau Andi atau ibunya yang melakukan hal itu, itu sama saja. Toh yang mengurus tempat ini nantinya adalah ibunya. Jadi, tidak masalah jika bukan Andi yang melakukan ritual potong pita. Ketika ibunya selesai memotong pita, terdengar tepuk tangan yang cukup meriah dari orang disekitar mereka.


Andi pun juga sangat senang. Bukan hanya pembukaan kafenya yang membuat Andi senang. Tetapi, sebuah pemberitahuan dari sistemlah yang membuat Andi cukup senang.


[Ding]


[Modul sistem mendeksi Host membuka toko pertamanya]


[Ding]


[Selamat host mendapatkan bonus penjualan sebesar 5-10 kali dari pendapatan yang toko Host miliki. Berlaku hanya untuk satu minggu kedepan. Berlaku hanya untuk toko pertama]


[Selamat berjuang mengumpulkan uang Host]


‘Wow aku tidak menyangka akan memicu munculnya bonus seperti ini lagi. Ini sama seperti yang waktu itu. Hanya saja sekarang ini masa berlakunya satu minggu ke depan. Mungkin ini karena banyaknya promo yang aku berikan pada pembukaan kafe dan dessert shop ini. Semoga saja pendapatan harian tokoku banyak. Dengan begitu, aku juga akan mendapatkan lebih banyak uang lagi.’ Gumam Andi dalam hati.



Meski baru buka beberapa jam, pengunjung kafe dan dessert shop-nya mulai banyak berdatangan. Kebanyakan dari mereka adalah pelanggan setia Lidah Manis yang selama ini memesan dessert box secara online.


Dengan adanya dessert shop ini, mereka bisa langsung memilih dessert box kesukaan mereka dan menikmatinya. Tidak seperti sebelum-sebelumnya yang perlu menunggu satu hingga dua hari untuk bisa merasakan dessert box yang mereka inginkan.


Ketika Andi tengah sibuk memperhatikan para pelanggannya itu, seseorang menepuk sebelah pundaknya. Andi langsung menolehkan kepalanya untuk melihat siapa gerangan yang menepuk pundaknya.


“Dinda, kamu datang?”


“Iya lah. Kan aku kemarin sudah bilang bakal mampir. Tadinya mau mampir waktu kamu potong pita tapi nggak jadi. Gegara pesta semalam aku jadi bangun kesiangan.” Ujar Dinda.


“Santai aja lah. Kan acara potong pitanya juga nggak resmi-resmi amat. Yang penting kamu udah mampir aja aku udah seneng.”


Dinda kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling kafe. “Tempat ini nyaman kayaknya. Enak kalo dibuat nongkrong.”


Andi menganggukkan kepalanya pelan. “Di lantai satu ruangannya terbuka kayak gini. Tapi kalo di lantai dua ruangnya nggak terlalu luas. Soalnya di atas ada ruang VIP buat mereka yang kumpul dengan orang terdekat dan nggak mau bercampur dengan yang lainnya.” Jelas Andi.


“Kamu mau pesan apa? Pesen aja, aku yang bayar.”


“Duh nggak bisa gitu dong. Kan ini hari pertama kamu buka. Jelas aku akan bayar sendiri buat dukung teman. Lain kali aja kalo aku ke sini lagi aku minta gratisan. Hehehe.” Ucap Dinda sembari tertawa pelan.


Ketika keduanya asyik berbicara, Andi tidak menyadari bahwa ibunya datang mendekat ke arahnya. Anisa ingin mengetahui siapa gadis yang kelihatannya cukup akrab dengan anak laki-lakinya itu.


“Andi ini siapa?” Tanya Anisa ketika sudah berada di dekat Andi dan Dinda.

__ADS_1


“Ah Ibu, datang tiba-tiba ngagetin aja. Dia ini temen sekolah Andi Bu, ketua kelas Andi lebih tepatnya. Kenalin Bu Dinda, Dinda ini Ibu aku.”


“Dinda tante.” Ucap Dinda sembari mencium punggung tangan Anisa.


“Cuma temen sekolah?” Tanya Anisa sembari menggerak-gerakkan alisnya.


“Beneran cuma temen kok Bu.” Tegas Andi.


Andi tahu apa yang ibunya maksudkan. Pastinya ibunya berpikir bahwa dirinya dan Dinda berpacaran. Tetapi kenyataannya mereka berdua tidak memiliki hubungan seperti itu selain hanya hubungan pertemanan.


Dulu mungkin Andi berharap menjadi pacar Dinda. Tetapi setelah dirinya berkenalan dengan orang-orang baru, Andi tidak lagi mengharapkan hal itu. Biarkan saja takdir yang menuntunya ke jodohnya. Untuk sekarang dirinya hanya ingin memperbanyak teman.


Kita tidak akan pernah tahu jodoh kita siapa. Bisa saja kita sangat dekat dengan satu orang, nyatanya diakhir malah menikah dengan orang lain. Lebih baik jalani aja semuanya. Seperti kata pepatah, jodoh tidak akan kemana.


“Saya hanya temen sekelasnya aja Tante.”


“Oh begitu. Ya udah, ajak duduk gih temennya. Kamu bilang aja ama pelayan mau pesen apa. Dan kamu Andi, temenin temenmu itu. Lagi pula kamu juga nggak bisa bantu banyak di sini. Jadi, temanin Dinda aja.” Ucap Anisa seolah mengusir Andi.


“Baiklah Bu.” Jawab Andi. “Yuk Din duduk dulu. Kamu mau pesen apa?”


“Nggak usah Tante. Saya ke sini cuma mau beli beberapa cake saja. Saya masih ada urusan lain jadi tidak bisa berlama-lama di sini. Lain kali aku akan nongkrong di sini.” Jawab Dinda.


“Ah sayang sekali.” Gumam Anisa pelan yang masih bisa didengar oleh Andi.


Kedua ibu dan anak itu lalu memandangi Dinda yang membeli beberapa kue dari dessert shop milik Andi. Setelah kepergian itu, Andi bisa mendengar ibunya mengela nafas panjang.


“Ibu pikir tadi itu pacar kamu. Dia cantik loh, kelihatannya juga baik. Sayang banget ternyata dia cuma temanmu. Jadi, apakah kamu udah punya pacar?” Tanya Anisa tiba-tiba.


Dari arah pembicaraan Anisa, Andi tahu bahwa ujung-ujungnya ibunya akan melayangkan pertanyaan itu. Sangat mudah ditebak.


Andi menggelengkan kepalanya pelan. “Belum punya Bu.”


“Ish masak anak ibu yang ganteng ini belom punya pacar sih?” Menurut Anisa anaknya ini cukup tampan. Jadi, ia sedikit heran bahwa Andi belum memiliki pacar.


“Waktu SMA, aku fokusnya ke sekolahkus, ke pendidikan. Sekarang udah lulus SMA, aku mau fokus ke bisnisku aja dulu. Lagian aku masih muda Bu, jadi nggak buru-buru amat nyari pacar. Entar deh kalo aku udah punya pacar lansung aku kenalin ke ibu.” jawab Andi.


“Ya udah jika itu maumu. Ingat kalo cari pacar itu dia yang mandang kamu apa adanya, bukan ada apanya. Dia nggak perlu cantik juga, yang penting baik. Nggak perlu dari keluarga kaya, yang penting dia setia.” Nasehat Anisa.


Andi hanya manggut-manggut mendengarkan ucapan ibunya. Andi berencana jika dirinya memiliki pacar, ia akan mengenalkan pacarnya itu kepada ibunya. Mungkin saja rasa suka akan membutakan Andi dan tidak bisa menilai kepribadian asli dari seseorang. Jadi, Andi berharap jika ia sudah memiliki pacar nantinya, Anisa akan memberikan penilaian jujur mengenai pacarnya itu.


“Kalo begitu aku ke atas bu. Aku mau ke ruang VIP no 3. Ada sesuatu yang perlu aku lakukan. Lagian Aku kan nggak Ibu bolehin bantu-bantu di sini.” Ucap Andi.


Andi perlu mengurusi bisnisnya yang ada di Surabaya. Hari ini ada rapat mingguan yang dilaksanakan oleh perusahaanya. Bisa saja Andi menyerahkan semua ini kepada Purnomo, tetapi, Andi masih ingin memantau semua perkembangan bisnisnya. Karena dirinya berada di luar kota, maka Andi mengikuti rapat melalui zoom meeting.


Selama satu jam Andi melakukan rapat dengan para manager dari setiap divisi di perusahannya. Mereka melaporkan bahwa semua tugas yang Andi berikan pada minggu lalu telah selesai. Hal ini berarti, dalam minggu ini perusahaan milik Andi sudah mulai beroprasi.


Banyak iklan yang sudah dibuat, menurut sang manager keuangan, uang yang ada di rekening perusahaan masih kurang untuk operasional perusahaan. Andi hanya mengatakan akan menambahkan uang perusahaan dalam minggu ini.

__ADS_1


“Panel status.”


[Ding]


[Modul Menjadi Kaya]


[Level 7 (338.675.200/1.000.000.000)]


[Saldo Host : Rp 590.526.868,-]


[Tingkat Konversi : 1 kali nafas \= 22 rupiah]


[Misi : -]


[Target Bulanan : Capai saldo Rp 1.000.000.000,- (590.526.868/1.000.000.000)]


[Penyimpanan : - Kartu kemampuan karyawan (3/10)]


[Kemampuan : - Lidah Manis : Selamanya



Pengalaman Pembalap : Tingkat 1


Pengalaman Juru Masak : Tingkat 1


Pengalaman Direktur Utama : Tingkat 1


Pengalaman Pialang Saham : Tingkat 1]



[Aset : - Apartemen



Mobil sport]



[Selamat berjuang menghabiskan uang Host]


“Bisakah aku menaikkan saldoku hingga satu milyar dalam minggu ini?”


Andi mencoba menghitung jumlah uang yang dapatkannya jika ia mengunakan seluruh uangnya untuk membeli saham. Selama ini Andi hanya menggunakan uang dua ratus juta sebagai modalnya dalam membeli saham.


“Aku rasa jika aku menggunakan semua uang ini, aku bisa mendapatkan seratus juta dalam sehari. Itu jika aku beruntung menemukan saham yang memberikan return besar dalam beberapa saat. Jika kurang beruntung, setidaknya aku bisa mendapatkan uang lebih dari lima puluh juta dalam sehari.”

__ADS_1


“Baiklah, jika dalam minggu ini saldoku mencapai target satu milyar, maka aku akan mengirimkan setengahnya sebagai modal perusahaanku.”


__ADS_2