Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 120 Pertemuan Di Rumah Putra


__ADS_3

Pada akhirnya ketika bursa tutup, Andi berhasil menghabiskan uang enam puluh tiga milyar rupiah untuk membeli semua saham yang ada. Dengan begini, presentase saham milik Andi pada perusahaan keluarga Jony adalah empat belas persen.


Sekarang bisa dibilang, Andi bukanlah pemegang saham biasa di perusahaan keluarga Jony. Bisa dibilang, Andi sekarang adalah pemegang saham yang memikili cukup banyak kekuasaan pada perusahaan keluarga Jony.


Tetapi, tujuan Andi bukan itu. Ia ingin menjadi pemegang saham mayoritas pada perusahaan keluarga Jony. Ia ingin merubah perusahaan itu menjadi perusahaan milik keluarganya. Bisa dibilang, ini akan menjadi kerajaan bisnis kecil yang menjadi target pertama penaklukkannya.


Jika ingin membuat kerajaan bisnis yang berkuasa di planet ini, maka Andi nantinya perlu menaklukkan kerajaan bisnis lainnya. Baik besar maupun kecil, akan Andi taklukkan semuanya. Andi akan jadikan perusahaan keluarga Jony sebagai batu loncatannya mencapai titik puncak.


Andi menunggu Amira keluar dari kelasnya dengan duduk di taman yang ada di depan kelas adiknya itu. Lima menit lagi Andi yakin bel pulang akan segera berbunyi. Benar saja, lima menit kemudian, Andi melihat beberapa orang anak berhamburan keluar dari kelas mereka tepat setelah jam sekolah selesai berbunyi.


“Kita langsung pulang Kak?” Tanya Amira yang mendekat ke arah Andi.


“Ya. Kamu perlu ganti baju dulu. Lalu, kamu kakak antar pergi ke kafe. Soalnya kakak mau keluar abis ini.”


“Memangnya Kakak mau ke mana?” Tanya Amira penasaran.


“Mau ke rumah Putra.”


“Ke rumah Mas Putra? Aku boleh ikut nggak? Udah lama nggak maen ke rumah Mas Putra.” Pinta Amira kepada Andi.


“Baiklah.”


Meski Amira akan ikut dengannya, tetapi setelah kakak beradik itu mengganti pakaian mereka, Andi tetap mampir ke kafe miliknya. Bukan tanpa alasan. Andi ingin datang ke rumah Putra dengan membawa beberapa kue untuk keluarga Putra. Selain itu, kue-kue ini juga bisa dihidangkan pada pertemuan mereka nanti.


Setelah semua makanannya siap, Andi segera saja melajukan mobilnya menuju ke rumah Putra. Andi tetap mengendarai mobil yang ia peruntukkan untuk orang tuanya. Mobil sport miliknya terlalu mencolok jika digunakan di kota ini.


Di depan rumah Putra sudah ada beberapa motor yang terparkir di sana. Mungkin itu adalah motor dari teman-teman Putra. Langsung saja Andi memarkirkan mobilnya di lahan kosong yang tidak jauh dari rumah Putra.


Jika ia memarkirkan mobilnya di depan rumah Putra, itu akan menghalangi jalan. Jalan di depan rumah Putra tidak begitu luas, jadi ia hanya bisa memarkirkan mobilnya di tempat lain. Setelah itu Andi dan Amira berjalan menuju ke rumah Putra.


Beberapa meter dari rumah Putra, Andi bisa mendengar pembicaraan beberapa pemuda di sana.

__ADS_1


“Put beneran nih kamu ada proyek dengan gaji yang lumayan?”


“Iya beneran aku nggak bohong. Temanku sendiri yang menawarkan pekerjaan itu padaku. Jadi, itu beneran.”


“Terus kenapa temenmu itu nggak datang-datang juga? Katamu rumah kalian cukup dekat. Tapi kok belum ke sini temenmu itu?” Tanya yang lain.


Ketika Putra akan menjawab pertanyaan temannya itu, ia melihat kedatangan Andi yang ditemani dengan Amira. Di tangan Andi terdapat sebuah tas kresek berwarna kuning coklat.


“Itu temanku sudahs datang. Aku bilang juga apa, dia pasti datang. Aku nggak bohong sama kalian.” Jelas Putra.


“Ayo sini An, masuk dulu. Aku nggak nyangka kamu juga ngajak Amira.” Sambut Putra.


“Dia sendiri yang minta ikut. Ini sedikit camilan buat keluargamu.” Ucap Andi sembari menyerahkan kue yang ia bawa.


“Wah, kenapa repot-repot segala. Kayak sama siapa aja sih. Pake bawa-bawa ginian.”


“Nggak papa. Terima aja.”


“Tapi makasih loh. Ayo-ayo masuk.”


“Kenapa Kakak nggak bilang kalo di sini banyak cowok?”


Amira kira kakanya hanya mengunjungi rumah Putra seperti biasanya. Tetapi gadis itu tidak menyangka bahwa kunjungan mereka ini memiliki tujuan lain. Jika tahu begini, maka Amira tidak akan mau ikut Andi. Lebih baik dirinya pergi ke kafe dan membantu ibunya di sana.


“Aku lupa ngasih tahu itu. Ya udah nggak papalah. Ini juga nggak lama kok. Sebagai permintaan maafku, Sabtu ini kamu akan aku ajak ke Surabaya. Kamu bisa jalan-jalan dan berbelanja sepuasmu.” Ucap Andi terdengar sedikit terpaksa.


Meski sebelumnya Andi sudah berniat mengajak adiknya ke Surabaya, tetapi ia tidak mengatakan hal itu. Setidaknya dengan begini, adiknya ini tidak akan marah karena Andi telah mengajaknya dalam pertemuan yang berisi kaum adam itu.


“Bagus. Aku pegang janji Kakak ini. Kalau begitu, kakak segera selesaikan urusan kakak dengan mereka. Aku akan menunggu di teras.”


“Baiklah.”

__ADS_1


Di ruang tamu rumah Putra, sudah ada lima pemuda yang tidak Andi kenal. Putra langsung saja mengenalkan teman-temannya itu. Kevin, Alif, Rosyid, Nando, dan Rizaldi. Itu adalah nama dari kelima teman Putra.


“Jadi, aku rasa Putra sedikit banyak sudah menjelaskan kenapa kalian ada di sini. Tetapi, aku akan kembali menjelaskannya. Aku berencana membuat sebuah game. Game ini adalah game yang memakai kartu sebagai inti permainannya.”


“Sebagai referensinya adalah game kartu Yu Gi Oh. Aku akan membuat game sekelas itu. Aku sudah menyuruh seseorang untuk membuat ilustrasi dari setiap karakternya. Jadi, kita tinggal membuat program untuk game itu sendiri. Jadi, apakah kalian mau bergabung denganku?”


“Apakah kamu beneran ngasih gaji tiga setengah juta kepada kami?” tanya Kevin.


“Ya. Aku akan memberikan kalian gaji sebesar itu. Tetapi, untuk sekarang aku akan menandatangi kontrak dengan kalian selama tiga bulan. Jika dalam tiga bulan ini kinerja kalian bagus, aku bisa memperpanjang kontrak kalian.”


“Hanya tiga bulan?”


“Iya tiga bulan. Itu adalah tenggat waktu untuk menyelesaikan game ini. Jadi, diperpanjang atau tidaknya kontrak kalian, itu tergantung kinerja kalian. Yang aku janjikan tadi hanya gaji pokok. Itu belum termasuk bonus.”


“Aku beniat game ini merupakan game online. Lalu, aku akan membuat sebuah kotak gacha yang bisa dibeli oleh pemain. Di situ nanti pendapatan kita. Jika game yang kalian buat bisa meraup banyak keuntungan, maka kalian akan mendapatkan bonus setelah game itu launching.”


“Tetapi, bagaimana jika setelah tiga bulan kami keluar? Apakah kami akan mendapatkan bonusnya?” Tanya Rosyid.


Dari perkataan Andi, Rosyid menangkap bahwa kemungkinan besar mereka hanya akan dipekerjakan selama tiga bulan. Bagi Rosyid itu tidak masalah untuknya. Tetapi, setelah game launching, mereka bisa mendapatkan bonus. Bagaimana dengan bonus mereka jika mereka sudah tidak lagi bekerja dengan Andi?


Andi tersenyum mendengar hal itu. “Tenang saja aku tetap akan membayarkan bonus kalian meskipun kalian tidak lagi bekerja padaku. Ah ya aku perlu juga mengatakan ini. Perusahaanku berada di Kota Surabaya. Jadi, jika kalian bekerja padaku, kalian juga perlu memikirkan tempat tinggal.”


“Apakah kamu nggak nyediain tempat tinggal untuk karyawan?” Tanya Alif.


“Untuk saat ini belum. Mungkin kedepannya akan ada itu.”


Pertanyaan Alif ini membuat Andi memikirkan hal itu. Mungkin ia bisa memberikan subsidi tempat tinggal untuk para karyawannya. Meskipun ia tidak menyediakan tempat tinggal untuk para pekerjanya, tetapi memberikan subsidi tempat tinggal sama saja dengan hal itu.


Andi akan memberikan tambahan diluar gaji pokok untuk para karyawannya. Andi perlu menanyakan hal ini kepada Diana, HRD perusahaannya, apakah dia sudah menambahkan hal ini pada tembahan gaji karyawannya atau belum. Jika belum, Andi akan meminta Diana melakukan hal itu.


Dengan begini, para karyawannya akan merasa diperlakukan dengan baik oleh perusahaannya. Andi yakin dengan cara begini, para karyawannya itu bisa lebih giat lagi dalam bekerja. Tidak hanya itu, mereka akan lebih setia kepada perusahaan karena merasa di luar sana tidak akan ada yang memberikan perlakuan layaknya perusahaan milik Andi.

__ADS_1


“Apakah ada pertanyaan lain? Jika belum, Senin besok kita akan bertemu lagi untuk menandatangani kontrak. Aku akan memberikan waktu untuk kalian memikirkan hal ini.”


Setelah menjelaskan beberapa hal lain, Andi kemudian pamit kepada Putra. Ia tidak bisa membiarkan Amira menunggunya sendirian di teras rumah Putra.


__ADS_2