
Jangan lupa Vote, Like, komen dan tambahkan favorit
“Jadi Andy, berapa banyak pengawal yang Kau butuhkan?” Tanya Roy.
“Untuk saat ini aku akan membawa lima puluh orang bersamaku, Senor. Kelima puluh orang tersebut haruslah mereka yang berasal dari Tim Alpha. Tetapi aku ingin sepuluh orang perempuan di antara lima puluh orang tadi.”
Andi menginginkan pengawal perempuan sebagai pengawal pribadi Anisa dan Amira. Tidak mungkin bukan Andi memberikan pengawal laki-laki untuk mereka? Jadi Andi perlu menyiapkan pengawal perempuan yang selalu dekat dengan kedua perempuan di keluarganya itu.
“Itu tidak murah. Setiap orang dalam Tim Alpha memiliki bayaran dua ratus ribu dollar setiap tahunnya. Apakah kamu sanggup membayar uang sebanyak itu?”
Andi terdiam sebentar. Ia mencoba menghitung berapa uang yang harus ia keluarkan untuk membayar mereka. Dengan kurs dollar ke rupiah empat belas ribu, berarti Andi perlu mengeluarkan dua koma lima dua milyar rupiah tiap tahun, untuk satu orangnya, dan untuk keseluruhan Andi perlu mengeluarkan uang seratus dua puluh enam milyar rupiah.
Melihat Andi yang terdiam seperti itu, Roy berpikir Andi akan mengurungkan niatnya untuk memilih mereka yang berasal dari Tim Alpha. Dari keponakannya, Roy tahu bahwa Andi ini adalah seorang pengusaha baru.
Tidak mungkin ia mampu mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk menyewa pengawal. Tetapi pada akhirnya Andi menyetujuinya. Jika seperti ini, bisa jadi Andi adalah orang yang bodoh karena tidak berpikir untuk menggunakan uangnya pada bisnis miliknya.
Ataukah Andi sangat percaya diri bahwa kedepannya bisnisnya akan sukses dan ia mampu membayar semua gaji pengawal yang cukup besar itu. Roy tidak tahu teman keponakannya ini termasuk katagori yang mana. Tetapi, ia yakin Andi cukup pantas menjadi teman keponakannya.
“Tidak masalah untukku. Aku sanggup memberi mereka bayaran sebesar itu.”
Uang yang Andi dapatkan dengan bernafas kurang dari dua bulan, sudah bisa membayar gaji mereka. Itu tidak terlalu memberatkan Andi saat ini. Apalagi jika sistem miliknya kembali naik level, akan lebih cepat lagi bagi Andi mengumpulkan uang sebanyak itu.
“Tetapi Senor, bisakah mereka menjadi anak buahku sepenuhnya? Maksudku, mereka tidak lagi memiliki hubungan kerja denganmu. Mereka sepenuhnya bersamaku.”
Andi tidak mau pengawal miliknya memiliki dua tuan. Meski pun sekarang antara Andi dan Roy tidak ada masalah apa pun, tetapi Andi perlu berjaga-jaga. Kita tidak akan tahu kedepannya bagaimana bukan? Jadi, lebih baik Andi menghindari munculnya musuh di balik selimut di masa mendatang.
“Tentu saja itu bisa aku lakukan. Tetapi, jika Kau ingin melakukan hal itu, Kau perlu membayar lima ribu dollar untuk setiap orang yang Kau ambil.”
“Tidak masalah untukku.”
Andi langsung saja menyelesaikan segala urusan pengalihan pengawal dari Roy. Dari daftar orang yang Roy berikan, Andi memilih tiga puluh orang di antara mereka. Sebelum kembali ke Indonesia, Andi perlu mengurus beberapa hal. Termasuk visa dari para pengawalnya.
Andi mengestimasi bahwa minggu depan dirinya baru bisa kembali ke Indonesia. Ia sudah mempercayakan semua urusan bisnisnya kepada anak buahnya. Dan dari laporan terakhir yang ia terima, semuanya baik-baik saja.
Misi miliknya yang masih harus ia selesaikan, batas waktunya masih cukup lama. Jadi Andi tidak terlalu terburu-buru untuk kembali.
Dari yang kabar yang Andi dengar pun, Seno sudah berhasil mengurus akuisi perusahaan milik Lukman. Seno juga berhasil mewakili Andi membujuk Lukman untuk tetap menjadi direktur perusahannya itu.
“Panel status.”
[Ding]
[Modul Menjadi Kaya]
__ADS_1
[Level 12 (396.706.135.200/700.000.000.000)]
[Saldo Host : Rp 221.846.993.158,-]
[Tingkat Konversi : 1 kali nafas \= 22 USD (1 USD \= Rp 14.000,-)]
[Misi : - Buatlah sebuah game. Hitung mundur 77 hari 20 jam
Miliki 5 perushaan baru (1/5). Hitung mundur 23 hari 15 jam]
[Misi Harian : - ]
[Target Mingguan : - ]
[Target Bulanan : - ]
[Tiket Lucy Draw : 0 Tiket 48 Pecahan]
[Penyimpanan : - ]
*****
Sementara Andi bisa bernafas lega karena sudah mendapatkan pengawal untuk keluarganya, hal itu berbeda dengan keluarga Jony. Selama seminggu ini keluarga mereka semakin terpuruk. Saham keluarga mereka semakin menurun harganya.
“Apakah kamu sudah menemukan siapa dalang dibalik menurunnya harga saham kita?” Tanya Marco kepada Marcel.
“Aku sudah mencari tahu hal itu. Tetapi, sumber milikku tidak bisa memberitahuku siapa yang melakukannya.” Jawab Marcel.
Rasa lelah terdengar jelas dari nada suara Marcel. Laki-laki empat puluh lima tahun itu sekarang terlihat menua beberapa tahun dengan adanya masalah ini. Seminggu ini dirinya mencoba mencari penyelesaian dari masalah ini. Tetapi hasinya nihil. Tidak ada titik temu sama sekali.
Tidak hanya masalah harga saham mereka yang semakin lama semakin menurun, Marcel juga perlu memikirkan para investor perusahaannya. Saat ini mereka tidak mempercayai Marcel bisa mengatasi masalah ini. Banyak di antara para investor itu yang menarik uang mereka.
Tidak hanya itu, pesanan produk mereka juga semakin menurun. Mungkin para pelanggan sudah tidak bisa percaya dengan perusahaan milik Marcel. Mereka takut pesanan mereka tidak terselesaikan tepat waktu karena terkendala biaya.
“Sebenarnya, apa masalah orang itu dengan keluarga kita? Kenapa sekarang dia menargetkan perusahaan kita? Sekarang ini, harga saham perusahaan kita turun pada angka dua ribu lima ratus perlembarnya. Kita mengalami kerugian yang sangat besar kali ini.”
“Nilai sahamku yang sebelumnya seratus lima puluh milyar lebih, sekarang ini hanya bernilai kurang dari lima puluh milyar. Jika terus seperti ini, lama-lama perusahaan kita akan bangkrut. Kerugian kita akan semakin besar.” Desak Marco
Mendengar nada dingin dari Marco membuat emosi Marcel memuncak. Ia menatap adiknya dengan tatapan dingin.
__ADS_1
“Kau pikir aku tidak memikirkan hal itu? Lalu kau pikir siapa yang menenangkan para investor itu? Aku. Bahkan aku juga menjual beberapa aset milikku untuk bisa mengembalikan uang investor itu. Lebih baik kau bantu aku memikirkan jalan keluar masalah ini daripada menyalahkanku seperti itu.” Bentak Marcel.
“Itu memang salah keluargamu. Kemungkinan besar orang yang melakukan semua ini adalah anakmu itu. Anakmu yang sangat arogan yang suka memamerkan statusnya itu. Pasti dia sudah menyinggung seseorang dengan sikapnya itu.”
“Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan kita. Jony tidak memiliki urusan dengan hal ini. Aku sudah menyelediki apa yang dia lakukan akhir-akhir ini. Dan tidak ada seseorang pun yang ia singgung akhir-akhir ini. Jangan salahkan anakku dalam hal ini.”
Marcel memang sudah menyelidiki Jony. Ia mencari tahu siapa saja yang anaknya temui. Tidak hanya itu, Marcel juga memeriksa ponsel milik anaknya. Barang kali anaknya itu membuat keributan dengan orang lain di sosial media.
Tetapi hasilnya nihil. Marcel tidak menemukan seseorang yang berkuasa yang memiliki kemampuan untuk memporak porandakan bisnis keluarganya. Jika demikian, ini tidak ada urusannya dengan Jony. Maka dari itu Marcel marah ketika Marco menuduh semua masalah ini diakibatkan oleh ulah Jony.
“Apa kamu yakin Kak? Coba saja hubungi anakmu itu. Sekarang ini, disaat keluarganya ada masalah seperti ini, di mana dia berada? Aku yakin dia tidak berada di kota ini.” Ucap Marco.
“Itu tidak mungkin. Aku sudah memperingatkan Jony untuk tidak keluar rumah selama masalah ini belum berakhir. Jadi, tidak mungkin dia keluar rumah.” Jawab Marcel dengan penuh keyakinan.
“Bagaimana kamu bisa seyakin itu Kak? Apakah Kamu sudah mengeceknya?”
Marcel sedikit mencurigai sesuatu setelah mendengar perkataan Marco. Langsung saja ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Jony. Tetapi, setelah beberapa kali mencoba menghubungi anaknya itu, panggilan Marcel tidak juga tersambung.
Laki-laki itu kemudian mencoba menelfon rumahnya. Ia ingin bertanya kepada asisten rumah tangganya mengenai keberadaan Jony saat ini. Siapa tahu saat ini Jony tengah tertidur sehingga dia tidak dapat menjawab panggilan dari Marcel.
“Hallo, kediaman Marcel Bagaskara di sini. Ada yang bisa saja bantu?” Sebuah menyapa Marcel ketika sambungan telfonnya terhubung.
“Bibi ini aku.”
“Ah itu Anda ruapanya Tuan.”
“Aku mau tanya, di mana Jony saat ini?”
“Tuan Muda? Bukankah dia pergi ke kantor Tuan? Tadi sore Tuan Muda sudah berangkat ke kantor Tuan. Katanya Tuan memanggilnya untuk datang ke sana.”
Mendengar perkataan asisten rumah tangganya, Marcel tahu bahwa saat ini anaknya itu tidak berada di rumah. Kemungkinan besar ini seperti yang Marco katakan. Bahwa Jony sekarang sedang berada di luar kota. Tetapi, bagaimana adiknya itu bisa tahu mengenai hal ini?
“Bagaimana kamu tahu bahwa Jony sedang tidak ada di rumah saat ini?”
“Aku memasang GPS pada mobil Jony. Aku sudah curiga bahwa anakmu adalah alasan semua ini terjadi. Jadi, aku memasang sebuah GPS untuk mengetahui keberadaannya.”
Marcel bangkit dari tempat duduknya dan mengarahkan jari telunjuknya ke arah Marco. “Kau, berani sekali Kau memata-matai keluargaku.” Ucap Marcel geram.
“Jangan marah dulu. Sebaiknya sekarang Kakak jemput Jony pulang. Sekarang ini dia berada di Surabaya. Kakak tahu sendiri bukan, bahwa di Surabaya banyak orang yang tidak seharusnya kita singgung. Aku takut jika kamu membiarkan anakmu tetap berada di sana, maka dia akan membawa masalah baru untuk keluarga kita.” Jawab Marco.
Ucapan Marco barusan seakan menuangkan air dingin kepada Marcel. Amarahnya yang barusan memuncak, kini kembali reda. Benar apa kata Marco, sekarang ia perlu membawa pulang anaknya itu agar tidak lagi memberikan masalah baru untuknya.
Sepertinya ia perlu memberikan hukuman keras untuk Jony setelah dia pulang nanti. Ia terlalu lama dibiarkan tanpa sebuah hukuman. Sekarang, dia semakin membangkang dan tidak mau menurut.
__ADS_1