Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 162 Kebakaran (1)


__ADS_3

Harmuji langsung saja menutupi Andi dengan tubuhnya. Tidak hanya Harmuji, beberapa anggota keluarga Prayudi juga menutupi Andi dengan tubuh mereka. Mereka mencoba menjadi tameng untuk Andi saat ini.


Apa yang mereka lakukan ini membuat Burhan tidak dapat melihat Andi dengan jelas. Pandangannya terhalang oleh anggota keluarga Prayudi yang lainnya.


“Jangan pernah berharap Kau bisa mengambil apa yang ada di tangan Andi. Jika Kau memang mau melakukannya, langkahi dulu mayatku. Selama aku hidup, aku tidak akan membiarkanmu melakukannya.” Hardik Harmuji.


Burhan kemudian meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Tidak ada gunanya dia berbicara saat ini. Itu akan memperkeruh suasana. Setidaknya ini adalah peghormatan terakhir yang bisa Burhan berikan kepada Kakeknya. Tidak memberikan masalah lagi di hari kematiannya.


Setelah Burhan tidak lagi terlihat, Harmuji kemudian memandang ke arah Andi. “Andi, aku yakin Burhan belum menyerah. Jadi, aku minta Kamu lebih berhati-hati lagi sekarang. Jangan pernah mau bertemu dengan Burhan jika dia mengajak bertemu.”


“Dia cukup kuat. Kamu bukanlah tandingan Burhan. Jadi, lebih baik kamu menghindari Burhan sebelum kita menemukan cara lain untuk membuat anak itu menyerah.”


“Aku mengerti Kakek Harmuji.” Jawab Andi.


Setelah drama kecil itu, anggota keluarga Prayudi kembali memasuki rumah. Masih ada beberapa pelayat di sana. Selain itu juga, langit sudah mulai menggelap. Setelah ini, doa bersama untuk mendoakan Almarhum Adipramana akan segera dilakukan. Jadi, mereka akan mempersiapkan hal itu sekarang.


*****


Andi tengah menimati makan malamnya, yang terbilang cukup telat itu, bersama dengan keluarganya. Mereka baru saja sampai di rumah, selesai menjalankan doa bersama untuk mendiang Kakek Buyut Adipramana. Jadi baru sekarang mereka memiliki kesempatan untuk makan.


Sebenarnya, Andi dan keluarganya ingin menginap di rumah Kakek Buyut Adipramana. Tetapi, ruangan di sana terbatas. Jadi, Aripto memutuskan untuk mereka pulang saja. Rumah mereka tidak terlalu jauh dari rumah Kakek Buyut Adipramana. Hanya setengah jam naik mobil. Jadi mereka bisa dengan mudah kembali ke sana.


Aripto juga mengajak beberapa sepupunya yang tinggal diluar kota untuk menginap di rumah mereka. Kamar di rumah mewah mereka cukup luas. Jadi setiap kamar bisa menampung beberapa orang sekaligus. Andi juga sudah mempersiapkan kasur tambahan untuk mereka.


Ketika mereka sedang menikmati makan malam, ponsel milik Anisa berbunyi. Perempuan itu kemudian menaruh sendok yang dipegangnya untuk menerima panggilan tersebut. Kebetulan makanan di piringnya sudah habis. Jadi perempuan itu bisa menerima panggilan tersebut.


Itu adalah panggilan dari salah satu manajer kafe yang ada di Surabaya. Sekarang ini sudah tengah malam. Jadi, jika manajernya tersebut menelfon di jam segini, pasti itu karena ada sesuatu yang penting yang perlu dilaporkan.


“Hallo, ada apa terlfon malam-malam begini Lia?”


“Hallo, Bu Nisa. Bu, gawat Bu, gawat.” Ucap Lia sedikit terburu-buru.


“Gawat kenapa? Kamu bicara yang jelas. Ada masalah apa sekarang?” Tanya Anisa.


“Kafe kita terbakar Bu.” Lapor Lia.

__ADS_1


Anisa cukup kaget mendengar laporan dari Lia. Wajahnya langsung saja memucat. Bagaimana mungkin kafenya bisa terbakar? Ini adalah hari pertama kafe itu buka. Bagaimana bisa kafe itu terbakar sekarang? Apakah yang salah?


“Apa kebakaran? Kok bisa seperti itu? Ceritakan kenapa bisa kafenya terbakar seperti itu.”


Mendengar apa yang Anisa ucapkan, Aripto dan Andi saling berpandangan. Mereka kemudian mengehentikan apa yang sedang mereka lakukan sekarang. Keduanya melihat ke arah Anisa yang cemas sekarang.


Andi sama sekali tidak berniat memotong pembicaraan ibunya. Ia menunggu ibunya menyelesaikan panggilan tersebut sebelum menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


“Saya nggak tahu Bu. Tadi kafe tutup jam sebelas malam. Lalu jam setengah dua belas kami udah pulang ke rumah masing-masing. Lima menit yang lalu, ada yang menelfon saya bahwa kafe kita mengalami kebakaran.” Jelas Lia.


“Apakah ada yang lupa mematikan kompor?”


“Sepertinya tidak Bu. Sebelum pulang, kami sudah melakukan pengecekan merata. Tidak ada kompor yang masih menyala. Tidak ada juga tercium bau gas yang bocor. Jadi, tidak mungkin itu karena kompor yang menyala.”


“Saat ini yang saya dengar, pemadam kebakaran sedang berusaha memadamkan apinya. Saya sekarang berniat ke kafe dan melihat semuanya.”


“Baiklah kamu ke sana lebih dulu. Aku nanti akan menyusul.” Ucap Anisa.


Meski mereka masih dalam keadaan berduka, tetapi tidak terlalu masalah bagi Anisa mendatangi kafe milik keluarganya. Ini adalah hal yang mendesak. Asalkan besok sore ia sudah ada di rumah Kakek suaminya untuk ikut doa bersama, sepertinya tidak masalah jika Anisa mengurusi kafenya ini dulu.


“Kafe mana yang terbakar Bu?” Tanya Andi.


“Kafe kita yang ada di Surabaya. Penyebabnya belum di ketahui. Sekarang ini pemadam kebakaran masih berusaha memadamkan apinya. Aku berniat pergi ke sana melihatnya. Tidak apa-apa kan Mas jika aku pergi?” Ijin Anisa kepada Aripto.


“Ya tidak masalah. Aku akan nemenin Kamu ke sana untuk melihat keadaan.” Ucap Aripto.


Beberapa anggota keluarga Prayudi yang menginap di rumah Aripto melihat kecemasan pada wajah keluarga Aripto.


“Ada masalah apa Arip?”


“Kafe yang dikelola Istriku mengalami kebakaran. Kafe ini baru dibuka hari ini.”


“Kenapa bisa begitu?”


Sebelum Aripto memberikan jawaban, ponsel milik Anisa kembali berbunyi. Perempuan itu melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Di sana tertera nama dari manajer kafenya yang lain. Melihat hal ini, firasat buruk tiba-tiba saja muncul di pikiran Anisa.

__ADS_1


‘Jangan bilang Dilla juga mau melaporkan bahwa kafe yang menjadi tanggung jawabnya juga mengalami kebakaran?’ Ucap Anisa dalam hati.


Langsung saja Anisa mengangkat panggilan tersebut. Sebelum Anisa sempat berbicara, Dilla sudah terlebih dahulu melaporkan sesuatu yang Anisa tebak sebalumnya.


“Bu Nisa, kafe kita kebakaran Bu. Pemadam kebakaran masih dalam perjalanan ke sana. Ini saya juga mau balik ke sana untuk melihat keadaan Bu.”


Anisa langsung lemas mendengarnya. Dua dari tiga kafe yang baru saja ia resmikan hari ini, mengalami kebakaran. Itu jelas memberikan pukulan yang cukup besar bagi Anisa.


“Kamu datang dulu saja ke sana. Tunggu aku datang. Aku akan segera ke sana setelah ini.” Jawab Anisa.


Setelah Anisa menutup panggilan tersebut, ponsel Anisa kembali berbunyi. Ini adalah manajer kafenya yang lain. Tanpa mengangkat panggilan tersebut pun, Anisa sudah mengetahui apa yang akan manajer kafenya itu laporkan.


Meski begitu, Anisa tetap mengangkat panggilan tersebut. Benar saja ini seperti dugaan Anisa. Kafenya yang lain yang ada di Surabaya juga terbakar. Berarti, seluruh kafenya yang ada di Surabaya terbakar di hari yang sama dan waktu yang hampir bersamaan.


Jika seperti ini, Anisa langsung menarik kesimpulan bahwa kebakaran ini ada unsur kesengajaan di dalamnya. Jika ini adalah kelalaian pekerja kafe, maka hanya ada satu kafe saja yang terbakar. Tetapi ini ketiganya sekaligus.


Siapa gerangan yang tengah melakukan semua ini? Siapa yang menargetkan bisnis mereka dengan cara membakar kafe miliknya seperti sekarang ini?


Jika Anisa saja bisa berpikir ke arah sana, maka Andi juga demikian. Sejak ibunya menerima panggilan kedua, yang memberitahukan bahwa kafe mereka mengalami kebakaran, Andi langsung menyimpulkan ada yang sengaja membakarnya.


Tetapi siapa yang meakukannya? Ada tiga orang yang Andi curigai saat ini. Ketiga orang tersebut memiliki masalah dengan Andi akhir-akhir ini.


Yang pertama adalah Jony. Meski Andi sudah menghancurkan bisnis keluarga Jony, tetapi pemuda itu masih memiliki beberapa harta yang tersisa. Bisa saja pemuda itu ingin kembali membalas dendam dengan membakar kafe miliknya. Meski kecil, Andi tidak mau melewatkan bahwa Jony mungkin adalah pelakunya.


Yang kedua adalah dua Tuan Muda dari empat keluarga besar. Hermawan dan Marcel. Mereka bisa melakukan ini karena Andi yang dekat dengan Rosalinda. Apalagi Karina sudah mengetahui bahwa Andi memiliki tiga kafe di Surabaya.


Tidak cukup sulit untuk menemukan kafe milik Andi. Di dalam media sosial kafe miliknya, foto Andi terpampang jelas sebagai pemilik dari kafe tersebut. Jadi, kedua Tuan Muda itu besar kemungkinan menjadi pelaku.


Dari kedua pemuda tersebut, Andi lebih mencurigai Hermawan. Mungkin saja pemuda itu tidak bisa menemukan keberadaan Rosalinda. Lalu, pemuda itu langsung berpikiran bahwa Andi yang menyembunyikan keberadaan Rosalinda.


Untuk memberikan pukulan kepada Andi, Hermawan menyuruh seseorang membakar kafe milik Andi. Itu bisa saja terjadi.


Selain ketiga orang tadi, Andi juga membuka kemungkinan orang lain yang melakukannya. Saingan bisnis Andi mungkin. Tetapi itu sangat kecil kemungkinannya. Kafenya baru buka hari ini dan belum memperlihatkan keberhasilannya.


Tetapi, siapa pun itu yang melakukannya, Andi akan membalaskannya. Mereka ingin menghancurkan bisnis Andi bukan? Tunggu saja Andi menemukan siapa pelakuknya dan membalas dengan menghancurkan bisnis mereka.

__ADS_1


__ADS_2