
Pagi harinya, Andi mengajak adik-adiknya sarapan bubur ayam di pedagang kaki lima. Amira cukup kaget melihat ketika melihat mobil yang dikendarai Andi untuk menjemput mereka di loby, berbeda dengan mobil yang selama ini ia pakai.
Kenapa mobilnya kembali berubah. Kemarin memakai mobil sport dan dulu mobil kakaknya itu juga bukan mobil yang ini. Memangnya, berapa banyak mobil yang dimiliki oleh kakaknya itu?
Semalam memang Andi sudah menukarkan mobil sport miliknya dengan mobil listrik miliknya. Bisa dibilang, mobil listriknya ini belum pernah ia kendarai sejak pertama kali menadapatkannya. Andi berniat pergi ke dealer mobil listriknya ini untuk membeli lagi satu set charger mobil.
Andi ingin memasangnya di rumah orang tuanya. Ia juga berniat menaikkan daya listrik rumah orang tuanya. Dengan begitu, nantinya Andi bisa membawa pulang mobil listriknya ini tanpa takut mengalami kehabisan daya.
“Ayo masuk.” Perintah Andi kepada kedua adiknya ketika ia berhenti di depan mereka.
“Ini mobil siapa lagi Kak?” Tanya Amira.
“Ini mobil kakak. Ini mobil listrik loh. Jadi nggak bakal mencemari lingkungan dengan asap mereka.”
“Memangnya berapa sih mobil Kakak? Kok kayaknya kakak sering gonta ganti mobil.”
“Hem…. Berapa ya? Termasuk yang di rumah kita hanya ada empat sih.”
‘Tapi mau nambah lagi setelah ini.’ Gumam Andi dalam hati.
“Memangnya buat apa punya mobil sebanyak itu? Nggak semuanya bakal Kakak pakai bukan?”
Menurut Amira, punya mobil itu cukup satu. Untuk apa memiliki banyak mobil yang pada akhirnya hanya memenuhi garasi tetapi tidak dipakai. Sayang uangnya untuk membeli kendaraan sebanyak itu. Mereka masih bisa menggunakan uangnya untuk keperluan lainnya.
“Dipake kok. Yang mobil sport kemaren itu nggak enak kalo dipake di dalem kota. Jadinya aku punya beberapa mobil.”
“Tapi kan sayang aja uangnya dipake buat mobil sebanyak itu tapi ujung-ujungnya cuma menuh-menuhin garasi?”
“Mobil ada kebutuhannya masing-masing. Jadi, meski punya banyak tapi kalo anggota keluarganya juga banyak nggak masalah sih. Asalkan tanggung jawab mau bayar pajaknya dan tidak diatas namakan orang lain buat ngehindari pajak yang gede nggak masalah menurutku.” Jelas Andi.
“Abis ini, kakak juga akan ajak kalian beli mobil baru.”
“Lah buat apa lagi?” Tanya Amira heran.
“Ya buat kalian. Rencananya nanti, aku akan cari sopir sekaligus merangkap menjadi pengawal untuk kalian berdua. Jadi, kemana-mana kalian akan diantar oleh sopir. Kalian ingat bukan ancaman dari teman sekolahku waktu itu?”
“Aku tidak bisa tenang jika kalian sendirian tanpa pengawalan. Lalu, sekarang ini aku akan memperbesar bisnisku. Jadi kedepannya aku bakal memiliki banyak musuh karena kita bersinggungan dalam bisnis. Oleh karena itu aku nanti akan mempekerjakan sopir sekaligus pengawal untuk kalian.” Jelas Andi.
Amira langsung terdiam mendengar penjelasan dari kakaknya itu. Perkataan kakaknya ada benarnya. Mereka butuh seorang pengawal saat ini. Meskipun Amira bisa bela diri, tetapi dirinya tidak sekuat itu. Gadis itu tidak terlalu yakin bisa melindungi dirinya jika nantinya berhadapan dengan orang yang lebih kuat darinya.
“Apakah kalian memiliki mobil yang kalian inginkan? Maksudku, ketika membeli mobil untuk kalian nanti, aku akan membelikan mobil yang sesuai dengan keinginan kalian.” Jelas Andi.
“Boleh kah Kak?” Andi menjawab pertanyaan Arfan dengan anggukan.
“Kalau begitu, aku pengen mobil listrik yang pintunya bisa buka ke atas, Tusla Model X. Mobil itu keren sekali kak. Apakah Kakak bisa membelikan aku mobil itu?” Tanya Arfan dengan penuh harap.
“Tidak masalah untukku. Aku bisa membelikanmu mobil itu. Tetapi, sepertinya kamu perlu menunggu sedikit lebih lama jika ingin mobil itu. Karena aku dengar mobil itu tidak tersedia di Indonesia. Jika menginginkan mobil itu, kita perlu mengimpornya terlebih dahulu.”
“Yeah aku bisa naik mobil kerena itu.”
Andi menggelengkan kepalanya melihat Arfan yang sebegitu antusiasnya. Mobil Tusla Model X hanya dibandrol dengan harga kurang lebih tiga milyar rupiah. Harga itu lebih murah daripada harga mobil sport miliknya yang ia naiki kemarin. Mobil sport miliknya berharga tujuh milyar.
__ADS_1
Bagi Andi tidak masalah membelikan mobil semahal itu untuk adik-adiknya. Dalam sehari ia bisa mendapatkan satu mobil itu hanya dengan bernafas. Jika ini adalah sebelum sistem miliknya mengalami pembaruan, maka Andi tidak akan semudah itu menyanggupi keinginan adiknya.
“Lalu bagaimana denganmu Amira? Apakah kamu memiliki mobil yang menjadi incaranmu?” Tanya Andi kepada Amira yang masih diam.
“Hah.” Amira menarik nafas panjang. “Memangnya harus ya?”
Andi mengangguk. “Atau biar kamu lebih mudah mencari pilihan, coba lihat mobil-mobil listrik yang baru-baru ini keluar. Kamu bisa memilih dari sana.” Jelas Andi.
Amira pun menuruti kemauan kakaknya itu. Ia membuka mesin pencari di ponselnya. Di sana Amira mulai mencari mobil listrik yang cukup bagus modelnya. Pilihan Amira jatuh pada mobil Mini Mooper yang cukup imut baginya.
Langsung saja Amira memberitahukan hal itu kepada Andi. “Kak aku mau mobil Mini Mooper. Mereka sudah mengeluarkan varian mobil listriknya. Mobil ini juga masih impor di tahun ini belum resmi masuk negara kita.”
“Tidak masalah kalau seperti itu. Berarti sekalian dengan memesankan mobil keinginan Arfan. Kalau di Surabaya tidak ada dealer mobil yang bisa memesankan mobil itu dari luar negeri, maka kita harus memesannya dari Jakarta.”
“Apakah kita akan ke Jakarta sekarang Kak?” Tanya Arfan.
“Tentu tidak. Jika memang kita perlu memesannya dari Jakarta, kita bisa meminta bantuan sepupu kita yang ada di sana untuk memesankan mobilitu untuk kita.”
“Tetapi Kak, harga mobilnya ini satu milyar lebih loh. Dan mobil yang dipengenin Arfan itu tiga milyar harganya. Emang nggak kebanyakan ngeluarin uang segitu?”
“Tenang aja. Asalkan kalian suka akan aku belikan. Lagi pula, jika aku sudah menyanggupinya, tentunya aku sudah memiliki uang untuk membelinya.”
Ada alasan Andi meminta Amira memilih mobil listrik. Itu karena Arfan juga memilihnya. Jadi, kenapa tidak sekalian saja dirinya membeli mobil listrik. Nantinya, mereka bisa memasang sebuah pengisi daya di rumah mereka yang bisa dipakai oleh beberapa mobil.
Tetapi, mengingat ukuran rumah yang ditinggali keluarganya saat ini, Andi tidak yakin semua mobil-mobil yang akan dibelinya muat di sana.
‘Sepertinya aku perlu membeli rumah baru yang memiliki garasi luas untuk keluargaku. Nantinya akan ada pengawal yang tinggal bersama dengan keluargaku. Jadi, aku perlu memikirkan membeli rumah yang lebih besar untuk keluargaku.’ Gumam Andi dalam hati.
Bisa saja Andi menunggu rumah gratisan dari lucky draw sistem. Tetapi, Andi tidak bisa sepenuhnya mengandalkan hal tersebut. Itu karena sistem memberikan hadiah peroperti dengan lokasi acak. Di kota asalnya, di Kota Surabaya, dan terakhir di Bali. Jadi Andi tidak sepenuhnya bisa mengandalkan sistem.
Namun Andi memberikan alasan kepada Amira bahwa mobil MPV yang akan mereka beli ini lebih luas dari mobil mereka yang ada di rumah. Jadi, mobil ini bisa mereka pakai jika mereka berniat keluar rumah bersama.
Pada akhirnya Andi membeli dua buah mobil MPV tersebut. Satunya akan ia pakai di rumah mewahnya untuk mobil oprasional dan satunya untuk keluarganya. Setelah ini dirinya juga perlu membeli sebuah rumah baru dengan untuk keluarganya.
Setelah selesai membeli mobil MPV, Andi mencari dealer yang melayani pemesanan mobil listrik dari luar negeri. Pada akhirnya Andi tidak hanya membeli satu mobil saja. Tetapi delapan mobil. Andi ingin empat mobil yang lain menjadi mobil pengawal dari kedua adiknya. Lalu dua lainnya menjadi mobil pengawal dari ibunya.
Menurut Andi, setidaknya setiap adiknya dan ibunya perlu memiliki enam orang pengawal. Dua berada satu mobil dengan mereka, sementara empat yang lain berada di mobil lain. Satu mobil di depan dan satu mobil di belakang.
Dan untuk ayahnya, Andi akan memikirkannya nanti. Ia perlu menanyakan kepada Ayahnya apakah laki-laki itu butuh pengawal atau tidak. Untuk sekarang Andi cukup membeli beberapa mobil ini untuk sekarang.
Demi keselamatan keluarganya, Andi rela mengeluarkan uang cukup banyak. Beberapa milyar yang ia keluarkan sekarang cukup sepadan jika dia bisa memberikan keselamatan untuk keluarganya.
Menurut Andi, kejadian pada masa Kakek Buyut Arganta terjadi karena beliau terlalu percaya dengan orang lain. Tidak hanya itu, beliau sama sekali tidak memikirkan untuk menyewa seorang pengawal untuk keluarganya. Dan Andi tidak mau mengulang hal itu.
“Panel status.”
[Ding]
[Modul Menjadi Kaya]
[Level 12 (12.176.135.200/700.000.000.000)]
__ADS_1
[Saldo Host : Rp 596.619.553.158,-]
[Tingkat Konversi : 1 kali nafas \= 22 USD (1 USD \= Rp 14.000,-)]
[Misi : - Buatlah sebuah game. Hitung mundur 82 hari 4 jam
Miliki 5 perushaan baru (0/5). Hitung mundur 28 hari 12 jam]
[Misi Harian : - ]
[Target Mingguan : - ]
[Target Bulanan : - ]
[Tiket Lucy Draw : 0 Tiket 23 Pecahan]
[Penyimpanan : - Kartu kemampuan karyawan (3/10)
Kotak misteri tingkat epic (1)
Kotak misteri tingkat legend (2)]
[Kemampuan : - Lidah Manis : Selamanya
Pengalaman Pembalap : Tingkat 1
Pengalaman Juru Masak : Tingkat 1
Pengalaman Direktur Utama : Tingkat 1
Pengalaman Pialang Saham : Tingkat 1
Pengalaman Desainer Game : Tingkat 1
Pengalaman Programer : Tingkat 1]
__ADS_1
[Selamat berjuang menghabiskan uang Host]
‘Aku sudah menghabiskan dua puluh tujuh milyar untuk membeli semua mobil itu. Sekarang, saatnya aku menemui Pak Lukman untuk membicarakan akuisisi perusahaannya.’