Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 148 Rosalinda, Karina dan Hermawan (2)


__ADS_3

Rosalinda merasakan angin dingin berhembus menerpa tubuhnya. Meski angin tersebut dingin, tetapi Rosalinda merasakan tubuhnya sangat panas. Tidak hanya itu, ada perasaan ingin menyentuh inti tubuhnya saat ini.


Namun, ketika Rosalinda mencoba menggerakkan tangannya, ia tidak bisa menggerakkan tangannya. Tidak hanya itu, kedua kakinya juga tidak bisa digerakkan. Sepertinya saat ini ada sesuatu yang menahan kedua tangan dan kakinya.


Lalu, Rosalinda membuka kedua matanya. Perempuan itu kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ini adalah tempat yang asing. Ia tidak mengenali kamar ini. Lalu pandangannya mengarah ke tubuhnya.


Tidak ada sehelai kain pun yang menutupi tubuhnya. Dan ini adalah kamar yang cukup asing bagi Rosalinda. Langsung saja perempuan itu teringat akan kejadian sebelum ini. Karina sudah memberinya obat tidur lalu membawanya kemari.


Selain rasa panas di tubuhnya, Rosalinda tidak merasakan rasa sakit apa pun. Ada kemungkinan bahwa Hermawan belum menyentuhnya. Rosalinda bisa mendengar suara gemericik air saat ini. Kemungkinan besar, ada seseorang yang tengah mandi di kamar mandi yang ada di kamar ini.


Sebelum siapa pun itu yang ada di kamar mandi selesai dengan urusan mereka di sana, Rosalinda berniat melarikan diri. Ini adalah kesempatan yang cukup bagus bagi Rosalinda menyelamatkan dirinya dari rencana Karina dan Hermawan.


Beberapa kali Rosalinda mencoba membebaskan tangan dan kakinya dari jeratan tali. Namun hal itu tidak membuahkan hasil. Yang ada ikatan tali tersebut semakin menjerat tangan dan kaki Rosalinda. Tidak hanya itu, rasa sakit pun mulai Rosalinda rasakan setelah menarik tangan dan kakinya.


Sekarang ini, Rosalinda merasakan tubuhnya semakin panas. Ia bisa menebak apa yang terjadi setelah tubuhnya bereaksi seperti ini. Karina sudah memberinya obat perang sang. Dan sekarang, obat tersebut sudah terlihat efeknya.


Tidak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Secara refleks, Rosalinda mengarahkan pandangannya menuju pintu kamar mandi. Di sana ia melihat Karina yang sekarang hanya terbalut dengan bathrobe mulai mendekat ke ranjang tempat Rosalinda berada.


“Wah, wah, wah. Rupanya tokoh utama kita sudah bangun dari tidurnya.” Karina kemudian memandang Rosalinda dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia tahu sekarang ini obat pemberiannya mulai bekerja.


“Bagaimana perasaanmu sekarang?” Tanya Karina dengan seringai lebar.


“Lepaskan aku Karina. Aku mohon lepaskan aku. Jangan lalukan ini padaku?” Mohon Rosalinda.


“Oh tidak mungkin aku melakukannya.” Ucap Karina.


Karina kemudian mengambil sebuah pil yang sama dengan pil yang ia berikan kepada Rosalinda sebelumnya. Perempuan itu berniat memberikan pil ini pada Rosalinda. Dengan begini, bir*hi Rosalinda akan meningkat banyak. Permainan mereka nantinya akan jauh lebih nikmat jika Rosalinda semakin liar.


Melihat hal itu, Rosalinda menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tidak mau meminum pil tersebut. Karina tidak kehilangan akal. Ia menutup hidung Rosalinda agar perempuan itu membuka mulutnya. Lalu setelahnya, Karina memasukkan pil tersebut di susul dengan sebotol air.


Diperlakukan seperti itu membuat Rosalinda terbatuk-batu. Tetapi, Karina tidak peduli dengan hal itu. Yang terpenting, Rosalinda sudah meminum pil keduanya ini.

__ADS_1


Setelah terbatuk cukup lama, Rosalinda memandang tajam ke arah Karina. Jika pandangan mata bisa membunuh, sudah pasti Karina mati sekarang setelah mendapatkan tatapan seperti itu dari Rosalinda. Ada kebebencian dari tatapan mata Rosalinda ketika memandang Karina.


“Tidak cukupkah satu dosis obet per*ngs*ng? Sekarang Kamu memberikanku obat itu lagi?”


Rosalinda tahu bahwa sebelum ini Karina sudah mencekokinya dengan obat perang sang. Buktinya, tubuhnya memberikan respon yang cukup aneh sekarang. Dan Rosalinda menduga, obat yang baru saja Karina berikan padanya pasti juga obat yang sama.


“Hee…. Ternyata Kamu tahu bahwa sebelum ini aku sudah memberimu obat per*ngs*ng. Baguslah kalo Kamu sadar. Berarti Kamu sudah tahu apa yang akan menimpamu setelah ini.”


“Sudah berapa kali aku bilang Karina. Aku sama sekali tidak melakukan apa yang kamu tuduhkan. Jadi, cepat lepaskan aku dan biarkan aku pergi.”


“Heh.” Karina mendengus mendengar perkataan Rosalinda. “Aku tidak akan melakukannya. Aku tidak mempercayai perkataanmu. Sudah berapa kali juga aku katakan, aku sudah memiliki bukti bahwa Kamulah yang menyebarkan semua gosip itu.”


“Jadi, seberapa keras kamu memohon padaku untuk menyelamatkanmu, aku tidak akan melakukannya. Lagi pula, Hermawan sudah membayarku cukup besar untuk bisa membawamu ke ranjangnya. Jadi, jangan harap kamu bisa selamat.”


Setelah itu, Karina tidak peduli lagi dengan Rosalinda yang mulai berteriak-teriak meminta untuk dilepaskan. Karina juga tidak berniat menyumpal mulut Rosalinda agar berhenti bersuara. Ia memilih sibuk mengambil seseuatu dari dalam almari.


Dari dalam sana, Karina mengeluarkan beberapa kamera dan tripot. Lalu, Karina menata tripot yang sudah dipasang kamera tersebut di beberapa sudut ruangan. Ia mengarahkan lensa kamera ke arah ranjang di mana Rosalinda berada.


Melihat semua kamera itu, juga video yang menampilkan tubuhnya, membuat Rosalinda semakin geram. Ia tidak menyangka Karina akan merekam semua ini.


“Apa yang Kamu lakukan Karina. Hentikan semua itu.” Teriak Rosalinda.


“Ssssttt….” Karina menempelkan jari telunjuknya di bibirnya. “Simpan teriakanmu untuk nanti.”


“Aku mengambil semua ini tentu saja untuk dokumentasi. Mungkin saja setelah ini kamu akan melaporkan aku dan Hermawan ke polisi. Jadi, semua ini aku lakukan agar kamu tidak melaporkan kami ke polisi.”


“Jika kamu tidak bekerja sama, maka semua video dan foto milikmu akan menyebar di dunia maya. Tidak hanya itu, kami juga akan menjual videomu di situs dewasa agar semua orang di dunia bisa melihat dirimu.”


Ketakutan menerpa Rosalinda setelah mendengar semua itu. Ia tidak menyangka nasibnya akan berakhir seperti ini. Dan semua ini karena orang yang dulu ia anggap sebagai teman.


Reaksi obat yang diberikan oleh Karina kini mulai menerpanya. Tubuhnya merasa sangat panas. Bagian inti tubuhnya juga semakin panas. Ada rasa ingin menyentuh bagian tubuh itu. Tetapi, tangan dan kakinya terikat sehingga ia tidak dapat melakukannya.

__ADS_1


Yang bisa Rosalinda lakukan adalah, berusaha merapatkan pahanya. Sebuah seringai lebar muncul di bibir Karina setelah melihat respon tubuh Rosalinda. Sepertinya obat pemberiannya mulai menampakkan efek yang cukup besar.


“Wah sepertinya Kamu sudah siap bermain. Sebentar lagi Hermawan akan datang. Ia akan menemanimu bermain hingga puas.”


Rupanya Rosalinda sudah ditakdirkan mengalami semua ini. Buktinya, tidak lama setelah itu, dirinya mendengar deru mobil yang mendekat. Hal itu membuat air mata mengalir di pipi Rosalinda.


“Hermawan sudah datang. Bersiaplah, setelah ini kamu akan bersenang-senang.”


Setelah berucap demikian, Karina keluar dari kamar itu untuk menyambut Hermawan. Setelah ini yang akan menemami Rosalinda di dalam adalah Hermawan. Karina hanya akan melihat dari ruang tengah. Karina berharap, permainan Rosalinda semakin panas setelah ia beri dua obat per*s*ng.


“Apakah semuanya sudah siap?” Tanya Hermawan yang kini baru memasuki rumah.


“Dia ada di dalam kamar. Kamu bisa langsung bersenang-senang dengannya. Aku memberinya sedikit obat. Jadi, mungkin dia akan bermain sedikit liar nanti.” Ucap Karina sembari menggerak-gerakkan kedua alisnya.


Mendengar hal itu, Hermawan tersenyum lebar. Ia tidak langsung menemui Rosalinda yang sekarang sedang ada di kamar. Hermawan memilih mandi di kamar yang lain. Ketika berjalan melewati ruang tengah, Hermawan cukup terkejut dengan apa yang dilihatnya di layar televisi.


“Apakah kamu menikmati pemandangan itu?” Tanya Karina yang melihat pandangan Hermawan terpaku pada layar televisi.


“Ya aku cukup suka pemandangan ini. Pekerjaanmu ini sangat bagus. Setelah ini aku akan memberimu bonus.” Setelah berucap demikian, Hermawan kembali melangkahkan kakinya untuk membersihkan diri di kamar lain.


Dirinya bukan anak kemarin sore yang baru saja melihat wanita tanpa tertutup sehelai benang. Jadi, meskipun bir*h*nya naik, tetapi ia bisa menahannya. Ia tidak mau bermain-main dengan tubuh yang cukup bau seperti sekarang.


Tidak lama setelah Hermawan membersihkan diri, ia menemui Rosalinda yang masih terikat di ranjang. Sekarang ini, perempuan itu bergerak gusar di ranjang. Kedua kakinya bergerak-gerak berusaha merapat. Melihat hal itu, Hermawan tahu bahwa obat pemberian Karina sudah bekerja.


Hal ini akan mempermudah apa yang akan ia lakukan setelah ini. Ia tidak akan berlama-lama melakukan pemanasan. Langsung pada intinya saja.


Karina menikmati pemandangan yang tersaji di layar televisi. Ia bisa mendengar teriakan dan rontahan Rosalinda dari layar televisi. Tetapi, tidak lama kemudian, semua itu berubah menjadi erangan kenikmatan.


Rosalinda yang awalnya menolak, kini ikut bergerak aktif mengimbangi apa yang Hermawan lakukan. Bahkan, ketika tali yang mengikat tangannya dilepas, bukannya mendorong Hermawan pergi, Rosalinda malah memeluk pemuda itu.


“Obatnya bekerja dengan baik rupanya.”

__ADS_1


__ADS_2