
Jangan lupa like, komen, vote dan tambahkan favorit
terima kasih selamat membaca
Saat ini Andi dan beberapa sepupunya pergi ke tempat di mana pelaku pembakaran disekap. Kemarin malam adalah hari terakhir doa bersama untuk Almarhum Kakek Buyut Adipramana. Jadi, masa berkabung mereka selama satu minggu ini sudah usai.
Maka dari itu Andi berniat mengintrogasi pelaku pembakaran tersebut. Beberapa hari ini, anak buahnya sudah mencoba membuat pelaku pembakaran tersebut memberi tahu mereka mengenai siapa dalangnya.
Namun, orang itu menutup rapat mulutnya dan tidak mau berbicara. Andi harap dirinya nanti bisa membuat orang itu membuka mulutnya dan mengatakan siapa dalang dibalik semua ini.
Mobil yang Andi kendarai sekarang ini berhenti di sebuah villa di kota kelahirannya. Sebelumnya pengawal milik Andi menyekap pelaku pemabakaran itu di sebuah gedung tua. Namun, di Kota Surabaya tidak ada gedung tua yang benar-benar jauh dari pemukiman warga. Oleh karena itu, Andi meminta mereka menyekap orang itu di villa ini.
Ketika memasuki villa tersebut, salah satu pengawal Andi mengarahkan pereka ke sebuah kamar yang ada di sana. Memasuki kamar tersebut, Andi bisa melihat laki-laki itu saat ini diikat di sebuah kursi. Matanya terpejam sekarang. Entah dia pingsan atau sedang tidur sekarang, yang jelas laki-laki itu terlihat memejamkan matanya.
Terdapat beberapa lebam di wajah laki-laki itu. Tidak hanya itu, Andi melihat sudut bibir laki-laki itu mengeluarkan darah. Sepertinya sebelum ini para pengawal Andi menyiksa laki-laki tersebut.
“Bos.” Sapa beberapa pengawal yang ada di sana.
“Bagaimana perkembangannya? Apakah dia sudah membuka mulutnya dan mengatakan siapa yang menyuruhnya?” Tanya Andi.
“Belum Bos. Kami sudah beberapa kali memukulinya. Namun, orang ini tetap saja menutup mulutnya. Ia tidak memiliki niatan untuk memberitahukan siapa orang yang menyuruhnya membakar kafe milikmu bos.” Jelas salah satu pengawal Andi.
Andi lalu mendekat ke arah laki-laki tersebut. Ia kemudian melamparkan pandangan ke salah satu pengawalnya. “Bangunkan dia.” Pinta Andi.
Setelah itu, pengawal tersebut mengambil sebaskom air, yang tidak jauh dari kursi tempat laki-laki itu diikat, dan kemudian menuangkannya ke wajah laki-laki tersebut. Rupanya, para pengawalnya ini sudah mempersiapkan semua ini.
Setelah wajahnya di guyur air, laki-laki itu perlahan membuka matanya. Ia kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling rungan. Laki-laki itu sadar bahwa sekarang ada beberapa wajah baru di tempatnya di sekap.
__ADS_1
Lalu, laki-laki itu menjatuhkan pandangannya ke arah Andi. Ia menatap Andi cukup lama. Dari ujung kepala hingga ujung kaki. Laki-laki itu seolah tengah menilai Andi saat ini. Dengan samar, laki-laki itu terlihat mengangkat sudut bibirnya.
Tetapi itu hanya sebuah gerakan kecil. Jadi, mereka yang ada di ruangan tersebut tidak menyadari hal itu. Hanya Andi yang menyadari pergerakan kecil yang dilakukan oleh orang itu.
Hal itu membuat Andi mengerutkan keningnya. Sepertinya laki-laki itu mengenali wajahnya. Ini berarti, seseorang benar-benar menyuruh orang ini dan Andi adalah targetnya. Siapa dia sebenarnya? Siapa dalangnya.
Langsung saja Andi menanyakan hal itu kepada laki-laki itu. “Kamu yang membakar kafe milikku bukan?” Tanya Andi tanpa basa basi.
“Hahaha.” Laki-laki itu tertawa pelan mendengar pertanyaan Andi. “Memangnya kenapa jika aku melakukannya? Apa kamu mau membunuhku sekarang?” Tantang laki-laki itu.
Mendengar hal itu, Andi mengerutkan keningnya. Sebelum ini, Andi sudah menerima video rekaman penyiksaan yang dilakukan oleh anak buahnya untuk membuat laki-laki ini berbicara. Tetapi, seberapa keras mereka memukulnya, dia tetap bungkam dan tidak berbicara.
Sekarang setelah Andi datang, laki-laki ini langsung saja membuka mulutnya. Dia mengakui bahwa dirinya yang membakar kafe milik Andi. Bahkan, dia juga menantang Andi untuk membunuhnya.
Sebelum Andi berpikir lebih jauh, Wira yang ikut dengannya melesat ke depan. Pemuda itu lalu melayangkan sebuah pukulan keras kepada laki-laki itu. Karena besarnya kekuatan yang Wira gunakan dalam pukulannya, laki-laki tersebut terdorong ke belakang hingga ia jatuh bersama dengan kursi yang didudukinya.
Setelah laki-laki itu terjatuh, Wira kemudian mendekat dan menarik kerah baju laki-laki itu. Ia kemudian berteriak tepat di depan wajah laki-laki itu.
“Aku tidak akan memberitahu kalian siapa yang menyuruhku. Itu adalah rahasia yang harus kami, anggota Gang Macan Putih, jaga. Kalau kalian ingin membunuhku, ayo cepat lakukan. Tetapi, ingat saja Gang Macan Putih tidak akan melepaskan kalian setelah kalian membunuhku.”
“Gang Macan Putih akan membalaskan dendam kepada kalian atas kematianku. Aku yakin sekarang ini Gang Macan Putih sedang mencari keberadaanku. Jika kalian memang berani cepat lakukan, bunuh aku.”
Ketika berucap demikian, sebuah seringai tersemat di wajah laki-laki tersebut. Laki-laki menantang mereka untuk membunuhnya.
Laki-laki itu lalu mengedarkan pandangannya kepada orang-orang yang ada di ruangan itu. Tetapi setelah beberapa saat, tidak ada yang bergerak untuk membunuhnya. Bahkan Wira yang masih memegang kerah bajunya tidak melakukan apapun.
Melihat hal itu, laki-laki itu tertawa keras. “Hahaha. Aku kira kalian akan melakukannya. Ternyata, kalian semua pengecut.”
__ADS_1
Diejek seperti itu, amarah Wira pun naik. Ia kemudian memukuli wajah laki-laki itu. Wajah yang sebelumnya sudah babak belur itu, kini terlihat semakin mengenaskan setelah dihajar oleh Wira. Beberapa bagian wajah mulai mengeluarkan darah.
Melihat Wira yang kalap, Andi menyuruh anak buahnya untuk memisahkan Wira dari laki-laki itu. Andi tidak mau Wira sampai membunuh laki-laki itu. Wira sendiri merasa tidak terima harus dihentikan seperti ini.
“Kenapa Lu hentiin gue, Andi? Gue belum puas ngajar dia. Lu tadi dengar sendiri bukan, cecunguk ini minta dihajar hingga mati. Gue perlu mengabulkan permintaannya itu.”
“Tenangkan dirimu dulu Mas Wira. Dia sengaja mengatakan hal itu untuk memancing emosimu. Sekarang kita pergi dulu dari sini. Kita bicara di tempat yang lebih nyaman. Aku sudah mendapatkan informasi baru. Kita tidak bisa membicarakan hal itu di sini.” Jelas Andi.
“Yang Andi katakan itu benar Wira. Dia hanya berniat memancing emosimu. Bukankah tadi dia sudah mengakui perbuatannya? Sekarang, kita kirim saja di ke polisi.” Ucap Ganang.
“Tetapi, kita belum tahu siapa dalangnya. Kenapa kalian melepaskan dia begitu saja? Jika dia dikirim ke kepolisian, belum tentu kita bisa menemukan siapa dalangnya. Kita perlu menghajar orang itu untuk tahu siapa pelakunya.” Ucap Wira berapi-api.
Andi memandang ke arah beberapa sepupunya yang ada di sana. Ia melihat mereka menganggukkan kepala mereka seakan mereka sudah paham apa yang ingin Andi katakan.
“Bukankah aku sudah bilang bahwa aku sudah mendapatkan informasi tambahan? Aku sudah menemukan titik terang tentang siapa pelakunya. Jadi, kita serahkan saja dia ke polisi. Kita tidak bisa terus-terusan bertindak semenang-menang sendiri seperti ini.”
“Selagi hukum bisa menyelesaikan masalah itu, maka jalan itulah yang harus kita ambil.” Jelas Andi.
Mau tidak mau Wira hanya menurut ketika dirinya diseret oleh Dimas. Jika tidak begitu, maka Wira akan kembali memukuli laki-laki tadi. Mereka tidak mau jika Wira tiba-tiba saja dilaporkan ke polisi atas kasus pembunuhan.
Bagaimanapun juga, negara ini adalah negara hukum. Meski hukum masih belum seadil itu, tetapi lebih baik semua masalah diselesaikan di jalur hukum. Andi masih ingin bisnisnya berjalan dengan lancar. Ia tidak memiliki rekam jejak tindak kriminal.
Jika seperti itu, nanti akan sulit bagi Andi menjalankan bisnisnya. Bisa saja lawan bisnisnya mengorek informasi mengenai Andi. Jika mereka menemukan sebuah bukti bahwa Andi pernah melakukan tindak kriminal, maka bisnisnya bisa mengalami kehancuran.
Oleh karena itu sebisa mungkin Andi tidak mau melakukan tindak kriminal. Penyekapan yang ia lakukan sekarang saja sudah termasuk sebuah tindak kriminal. Andi tidak mau melanggar hukum terlalu jauh. Kerugian yang akan ia dapatkan di kemudian hari, lebih besar daripada keuntungan yang ia dapatkan sekarang.
Lalu, Andi mengajak para sepupunya pergi ke kafe miliknya. Ia ingin mendiskusikan apa yang harus ia lakukan setelah ini. Laki-laki tadi cukup mencurigakan menurut Andi. Apalagi mengenai informasi yang ia katakan tadi.
__ADS_1
Jika benar apa yang ia katakan tadi, ini berarti masalah ini bukan hanya masalah Andi seorang. Ini bisa saja melibatkan seluruh anggota keluarga Prayudi. Sebelum membicarakan apa yang sudah mereka dengar kepada tetua keluarga Prayudi, Andi perlus mencari bukti tambahan.
Mungkin saja Andi dan para sepupunya bisa menyelesaikan masalah ini tanpa melibatkan mereka yang berasal dari generasi tua.