Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 177 Dua Pasang Mata yang Mengawasi


__ADS_3

Suasana kampus tersebut terlihat sudah mulai ramai ketika Andi sampai. Kali ini Andi datang dengan menggunakan mobil SUV miliknya. Tidak hanya hanya itu, Andi menyetir sendiri mobilnya. Tidak ada pengawal yangmengikutinya kemari.


Andi tidak mau terlihat terlalu mencolok di masa daftar ulang seperti ini. Sudah jelas area kampusnya pasti dipadati mahasiswa baru. Jadi, jika ia melakukannya, maka ia akan menjadi pusat perhatian mahasiswa baru, dan Andi tidak mau itu terjadi.


Karena banyaknya mahasiswa baru yang melakukan daftar ulang, beberapa area parkir sudah dipadati kendaraan. Apalagi untuk parkir kendaraan roda empat, cukup sulit bagi Andi mendapatkannya. Padahal, Andi sudah datang setengah jam lebih awal dari jadwal. Tetap saja ia sudah mencari tempat parkir.


Setelah berhasil memakirkan kendaraannya, Andi mendatangi tempat melakukan daftar ulang. Ketika berada di sana, Andi mendengar seseorang memanggil namanya.


“Andi.”


Pemuda yang namanya dipanggil itu, kemudian menoleh ke arah sumber suara. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, Andi melihat keberadaan Widya yang berjalan mendekat ke arahanya. Hampir saja Andi lupa bahwa dirinya dan Widya kuliah di universitas yang sama dan satu fakultas yang sama.


“Hai Wid, apa kabar? Sudah lama kita nggak ketemu. Gimana kabarmu?” Tanya Andi ketika Widya sudah berada di depannya.


“Baik. Aku baik-baik saja. Aku dengar kamu mencariku beberapa waktu lalu?” Tanya Widya.


“Ah ya, aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Soalnya waktu itu Kamu dan Arya nggak bisa dihubungi. Jadi, aku mencari tahu kabarmu ke toko Mbak Gayatri.” Jelas Andi.


“Ponsel punyaku dan punya Mas Arya dicuri. Jadi aku tidak bisa menghubungi siapapun.”


“Ya aku tahu hal itu. Mbak Gayatri sudah memberitahukan hal itu kepadaku.”


“Bolehkah aku meminta nomermu lagi? Setelah ponselku hilang, banyak kontak yang hilang.”


“Jadi, bagaimana kabar Satrio? Apakah dia sudah bisa keluar dari rumah sakit?” Tanya Andi setelah ia memberikan kontaknya kepada Widya.


Andi ingat bahwa Satrio masih dalam proses pemulihan luka bakarnya di rumah sakit. Andi tidak tahu apakah pemuda itu sudah keluar dari rumah sakit apa belum.


“Mas Satrio baru keluar dari rumah sakit besok siang. Jika Kamu ada waktu luang, kamu bisa ikut menjemput Mas Satrio.”


“Maaf Wid, sepertinya aku tidak bisa ikut menjemput Satrio.” Tolak Andi halus.

__ADS_1


Bukannya Andi tidak memiliki waktu luang, tetapi Andi belum sedekat itu dengan keluarga Jayantaka. Ikut menjemput yang baru keluar dari rumah sakit biasanya dilakukan oleh orang terdekat bukan? Jadi, Andi tidak mau mengganggu waktu berkumpul keluarga Jayantaka.


“Kalo sorenya kamu bisa nggak? Mas Satrio mau ngadain syukuran kesembuhannya. Tenang aja, itu hanya acara yang dihadiri anak muda aja. Nggak ada anggota keluargaku yang lainnya.”


“Mas Satrio nanti akan mengundang teman-temannya. Jadi, Kamu sebagai penolong Mas Satrio, aku harap bisa hadir di acara syukuran sore nanti.” Pinta Widya.


Sebenarnya Widya sudah menyelesaikan daftar ulangnya kemarin. Sejak kemarin ia mencari keberadaaan Andi. Tetapi tidak menemukan keberadaan pemuda itu. Baru hari ini ia bertemu dengan Andi.


Widya mencari Andi untuk mengundangnya dalam acara syukuran kesembuhan Satrio. Ini adalah permintaan Kakeknya untuk mengundang Andi. Kakeknya itu meminta Satrio dan Widya untuk lebih mendekatkan diri kepada Andi. Itu semua karena identitas yang dimiliki Andi.


Rama tidak mau cucunya terlihat benar-benar ingin mendekati Andi. Oleh karena itu, ia meminta Satrio dan Widya mendekati Andi secara pelan-pelan dan alami. Mungkin dengan mengajak Andi nongkrong ketika pemuda itu senggang, atau mengundangnya dalam pesta seperti seakrang ini.


“Sepertinya aku bisa jika ikut dalam syukuran itu. Kamu kirimkan saja alamat tempat syukuran itu dilakukan. Aku pasti akan datang ke sana.” Ucap Andi.


Andi kemudian mengobrol dengan Widya selama sepuluh menit. Setelahnya, pemuda itu menuju ke arah meja tempat daftar ulang dilakukan. Ia harus segera menyelesaikan hal ini. Mungkin saja ia masih memiliki watku untuk membeli beberapa saham di pasar efek eropa.


Yang tidak Andi dan Widya sadari, ketika mereka berbicara, terdapat dua pasang mata yang mengawasi mereka. Pandangan mata itu terlihat cukup serius. Ia mengamati interaksi antara Andi dan Widya dari awal hingga akhir. Tidak ada satupun yang terlewatkan dari pengawasan mereka.


Setelah Andi dan Widya berpisah, barulah keduanya meninggalkan tempat itu. Mereka memasuki sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


Pengemudi mobil itu pun mengendarai mobilnya pergi dari area universitas. Ia membawa mobil itu ke sebuah gedung apartemen mewah. Setelah sampai di sana, keduanya tidak langsung memasuki lift yang ada di basement.


Mereka melangkah menuju ke area paling pojok di basement tersebut. Di sana terdapat sebuah ruangan yang terlihat sebagai gudang itu. Kedua orang tersebut kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut.


Barang-barang yang ada di gudang tersebut terlihat tertata rapi, tidak seperti gudang pada umumnya. Tidak hanya itu, di gudang tersebut juga terdapat beberapa rak berisi buku berbagai bidang.


Sang sopir tadi kemudian menarik salah satu buku yang terdapat di rak di gudang tersebut. Setelah ia melakukan hal itu, sebuah pintu rahasia yang ada di sana, terbuka. Keduanya kemudian memasuki lorong yang ada di balik pintu tersebut, dan kemudian menutup kembali pintu rahasia itu.


Lorong tersebut cukup gelap. Meski begitu, kedua orang tersebut sama sekali tidak kesulitan dalam menemukan jalan di lorong itu. Di ujung lorong, terdapat sebuah pintu baja yang hanya bisa dibuka dengan pemindai sidik jari dan retina mata.


Orang yang menjadi atasan sang sopir itu kemudian memintai sidik jari serta retinanya pada alat yang ada di sana.

__ADS_1


Ding!


Pintu baja itu terbuka secara otomatis setelah pemindaian berhasil. Di balik pintu itu, terdapat ruangan yang cukup luas. Ada tiga pintu di sana. Salah satunya adalah pintu lift. Dua pintu yang lain merupakan pintu ke kamar ganti.


Di aula ruangan tersebut, terdapat beberapa almari yang menyimpan beberapa potong jubah. Tidak hanya itu saja, terdapat almari khusus yang menyimpan topeng. Topeng tersebut berwarna emas dan silver.


Sang sopir kemudian mengambil beberapa pakaian dan topeng berwarna emas. Ia kemudian menyerahkan topeng tersebut kepada bosnya. Setelah itu, sang sopir kembali mengambil topeng, kali ini yang diambil adalah topeng berwarna silver.


Keduanya kemudian memasuki ke ruangan yang berbeda yang ada di sana. Sepuluh menit kemudian, mereka keluar dengan penampilan yang berbeda dari sebelumnya. Jika Hermawan atau Marcel ada di sini, sudah pasti mereka akan mengenali bahwa yang memakai topeng berwarna emas adalah Sang Penerus yang seminggu yang lalu mereka temui.


“Ayo kita ke atas.” Ucap Sang Penerus tersebut.


Mereka berdua kemudian masuk ke dalam lift yang menghubungkan basement tempat mereka berada dengan lantai teratas gedung ini. Identitasnya yang cukup unik dan tidak mau ada orang lain yang mengenalinya, membuat Sang Penerus membangun lift khusus seperti ini.


Dengan begini, pergerakkannya akan sulit diikuti. Tidak hanya itu, orang-orang yang penasaran tidak akan mengetahui wajah di balik topeng emas tersebut.


“Selidiki hubungan kedua orang tadi.” Sang Penerus yang sedari tadi tidak berbicara, kini membuka mulutnya.


“Aku ingin tahu kenapa mereka bisa saling mengenal dan bagaimana mereka berkenalan. Aku juga ingin tahu sudah sejauh mana kedekatan antara mereka berdua. Aku ingin besok laporan mengenai hal itu sudah ada di tanganku. Apa Kamu mengerti?”


“Baik Sang Penerus. Aku akan segera melaksanakan perintahmu.”


“Satu lagi, minta keluarga Sasongko dan keluarga Sanjoyo segera melaksanakan tugas mereka. Aku mau mendengar kabar celakanya anggota keluarga Wijoyokusumo dan keluarga Jayantaka.”


“Tentu. Aku akan segera memberitahu mereka mengenai hal ini. Anda perlu tenang saja Sang Penerus.”


“Bagus.”


Lift yang mereka naiki telah sampai di lantai teratas. Ketika lift itu terbuka, terdapat enam orang yang sudah menunggu di depan pintu lift. Keenam orang tersebut juga memakai topeng berwarna silver yang sama persis seperti yang dikenakan oleh sopir tadi.


Yang membedakan mereka semua adalah kalung yang sekarang mereka pakai. Di kalung mereka, terdapat sebuah liontin berurkirkan nomor yang dimulai dari nomor satu hingga nomor tujuh. Setiap nomor dalam kalung itu merepresentasikan kode nama dari pemakainya.

__ADS_1


“Selamat datang Sang Penerus.” Ucap keenam orang itu secara bersamaan. Mereka juga menundukkan badan mereka hingga sembilan puluh derajat ke untuk menyambut kedatangan Sang Penerus.


“Ayo kita mulai rapatnya.” Ucap sang penerus.


__ADS_2