Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 41 Pagi Bersama Rosalinda


__ADS_3

Andi tengah memasak sarapan mereka ketika Rosalinda keluar dari kamarnya. Rambutnya terlihat sedikit acak-acakan. Melihat Rosalinda datang Andi segera mengalihkan pandangannya. Ia tidak berani memandang perempuan itu setelah mimpi yang ia alami semalam.


“Pagi.” Sapa Rosalinda.


“Pagi Mbak. Ini aku buatin sarapan. Pancake nggak masalah kan?” tanya Andi sembari membali pancake yang ada di teflon.


“Pancake? Tentu saja tidak masalah. Buatkan pancake dengan porsi yang cukup besar. Aku sangat lapar sekali.”


“Tenang aja Mbak aku buatin banyak kok.” Andi tahu kalau Rosalinda memiliki porsi makan yang besar. Jadi, pemuda itu mempersiapkan pancake untuk sarapan mereka dengan jumlah yang banyak. “Lebih baik sekarang Mbak cuci muka dulu. Setelah itu kita akan sarapan bareng.”


“Siap Pak Bos.” Ucap Rosalinda sembari memberikan sikap hormat secara kepada Andi.


Perempuan itu kemudian mengikuti perkataan Andi untuk membersihkan wajahnya. Ketika Rosalinda keluar dari kamar mandi, ia melihat Andi yang kini menata beberapa pancake di piring. Pemuda itu juga tengah menuang susu ke dalam gelas.


“Wah, wah, wah, keliatannya lezat. Hemm… baunya juga harum. Apakah aku boleh memakannya sekarang?”


“Tentu saja silahkan Mbak.”


Mendengar persetujuan Andi, Rosalinda duduk di salah satu kursi yang ada di meja makan. Ia mengambil pancake dengan jumlah yang menurutnya paling banyak dari dua piring yang ada di sana. Kemudian Rosalinda menuangkan sirup di atas pancake.


Segera saja Rosalinda membuat sebuah potongan besar dari pancake tersebut. “Hemm…. Ini enak sekali.” Ucap Rosalinda setelah menelan makanannya. “Makasih ya Andi, kamu mau repot-repot buatin sarapan seperti ini.”


“Ah nggak masalah Mbak. Mbak kan tamu di sini. Seenggaknya aku kasih sarapan untuk tamuku.”

__ADS_1


“Makanan buatanmu memang the best. Aku harap suamiku nanti akan memperlakukanku sepertimu. Bangun tidur langsung sarapan tersedia seperti ini. Aku tinggal cuci muka dan makan.”


Mendengar ucapan Rosalinda, Andi jadi teringat akan kegiatan yang mereka lakukan dalam mimpinya. Mungkin setelah mereka melakukan itu, Andi tidak keberatan memanjakan Rosalinda dengan berbagai makanan yang di sukainya.


Andi kemudian memperhatikan Rosalinda yang tengah makan. Bagaimana perempuan itu membuka mulutnya, mengunyah dengan pelan pancake buatannya. Ia juga melihat bagaimana lidah Rosalinda terjulur untuk menjilat sirup yang menempel di bibirnya.


Lihatlah bibir itu, bibir yang kini tengah disapu oleh sebuah lidah. Terlintas dibenak Andi untuk menggantikan lidah Rosalinda dengan lidahnya. Mungkin rasa bibir itu akan bercampur dengan sirup dari pancake. Sudah jelas itu akan memberikan sensasi rasa yang berbeda daripada semalam.


Ketika Andi memikirkan bibir Rosalinda, ia mengulang kembali ingatan tentang dirinya yang berciuman dengan Rosalinda. Hal itu membuat celananya tiba-tiba sesak. ‘Andi kenapa kamu tidak dapat menahan nafsumu seperti ini. Di mana itu rasa banggamu karena selama ini bisa menahan hawa *****. Sekarang ssaja kamu berpikiran kotor seperti ini.’ gumam Andi dalam hati.


“Kamu kenapa An?” tanya Rosalinda ketika melihat Andi yang kini memejamkan matanya. Ia takut pemuda itu mengalami sakit kepala atau yang lainnya. Tiba-tiba saja pemuda itu memejamkan matanya seperti itu setelah sebelumnya baik-baik saja.


“Ah nggak apa-apa kok Mbak. Hanya terpikirkan sesuatu.” Andi merasa malu dengan Rosalinda sekarang. Tidak seharusnya ia membayangkan dirinya melakukan hal yang seperti itu dengan Rosalinda. Yang ada dalam mimpi seharusnya tetap dalam mimpi. Tidak seharunya Andi membayangkan hal itu dalam kondisi sadar seperti sekarang ini.


“Nggak apa-apa tapi kok mukamu memerah seperti itu. Kamu sakit ya?” Tanya Rosalinda khawatir.


“Baiklah.”


Melihat Rosalinda yang tidak memikirkan hal itu dan memilih fokus pada makannya membuat Andi bisa bernafas lega. Ia tidak bisa membayangkan seandainya perempuan itu bersikukuh untuk mengecek keadaannya dengan mendekatinya. Itu akan memperburuk sesuatu yang ada di bawah sana.


Andi beberapa kali menarik nafas panjang untuk menenangkan diri. Ia harus bisa menyingkirkan pikiran kotornya untuk saat ini. Akan sangat canggung jika Rosalinda tiba-tiba mengetahui gundukan di celananya. Perempuan itu pasti akan berpikir bahwa Andi adalah pemuda mesum. Ia tidak ingin hal itu terjadi.


Mungkin karena mimpi semalam merubah pandangannya kepada Rosalinda. Ia terlihat jauh lebih baik dari lawan jenis yang selama ini Andi kenal. Bahkan Dinda pun juga terlihat tidak ada apa-apanya daripada Rosalinda.

__ADS_1


Mungkin karena Dinda adalah anak SMA sedangkan Rosalinda adalah anak kuliahan. Perbedaan umur membuat Andi memiliki pandangan yang berbeda terhadap keduanya. Yang jelas saat ini Andi ingin memiliki citra yang baik di depan mata Rosalinda.


Andi tiba-tiba ingin mengenal lebih dekat perempuan itu. Ia ingin melakukan ini secara pelan-pelan. Jika ada kecocokan di antara mereka, Andi ingin menjadikan perempuan ini sebagai kekasih pertamanya.


*****


Andi merasa sedikit aneh ketika sampai di rumah. Motor ayahnya terparkir di teras rumah. Tidak biasanya Aripto berada di rumah di jam segini. Biasanya di jam segini laki-laki itu berada di pangkalan ojek online, tidak di rumah seperti ini.


Mungkinkah Aripto akan mengantarkan pesanan dessert box? Itu adalah pekerjaan tambahan dari Aripto. Selama ada pesanan, laki-laki itulah yang mengirimkan pesanan dessert box. Mungkin keberadaan Aripto di rumah dikarenakan hal itu.


Sejak ia menyerahkan semuanya kepada ibunya, Andi memang sudah tidak lagi mengurusi bisnis dessert box miliknya. Meskipun toko fisik belum ada, namun Andi sudah menyerahkan bisnis tersebut sepenuhnya kepada ibunya. Ia hanya tinggal menyetor resep baru di sana.


Sepertinya ini adalah saat yang tepat untuk Andi bereksperimen menciptakan resep baru. Selain untuk menambah pilihan makanan pencuci mulut, Andi juga bisa segera menambah video konten memasak untuk kanal ARP Kithcen miliknya.


“Aku pulang.” Ucap Andi memasuki rumahnya. Pemuda itu langsung menuju ke arah dapur rumah mereka. Dirinya ingin segera melepas dahaga dengan minum segelas air putih.


Ketika memasuki ruang makan, Andi dikejutkan dengan kedua orang tuanya, yang kini duduk di salah satu kursi yang ada di sana, memandang Andi dengan tatapan yang cukup tajam.


“Sudah pulang rupanya. Duduklah, ada yang ingin kami bicarakan denganmu.” Ucap Aripto datar.


Dari nada bicara ayahnya, Andi tahu ada sesuatu yang tidak beres. Ayahnya tidak pernah seserius ini ketika mengajaknya bicara. Laki-laki itu baru akan berkata serius seperti ini dengannya jika ia tengah marah besar.


Apakah dirinya membuat kesalahan? Tetapi Andi merasa dirinya tidak membuat kesalahan apapun. Andi mencoba mengingatnya kembali, tetapi pemuda itu masih belum juga menemukan alasan Aripto semarah ini. Ini sudah jelas ada hubungannya dengannya. Jika tidak, ayahnya itu tidak akan mengajaknya bicara serius seperti sekarang ini.

__ADS_1


Apakah karena dia pergi ke Surabaya dan kembali menginap? Tetapi tidak mungkin karena hal itu. Andi sudah meminta izin keapa ibunya tentang hal itu. Anisa bahkan sudah mengizinkn Andi menginap. Jadi Andi rasa itu tidak ada hubungannya dengan dirinya yang pergi ke Surabaya. Jika bukan karena semua itu, lalu apa yang membuat ayahnya ini marah besar seperti ini?


Andi mencoba mengesampingkan hal itu untuk saat ini. Lebih baik ia segera duduk dan mengikuti pembicaraan yang ingin ayahnya itu lakukan. Toh pada akhirnya nanti dirinya akan mengetahui alasan kemarahan ayahnya. Jadi, daripada menduga-duga tidak jelas, lebih baik ia mendengarkan apa yang ayahnya itu ingin sampaikan.


__ADS_2