Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 206 Pembalasan Dari Dinda


__ADS_3

“Sial. Siapa itu yang mengijinkan Pitu melakukan hal tersebut?” Umpat Dinda.


Baru saja Dinda menerima kabar bahwa Nomor Tujuh dibawa ke kantor polisi. Ketika Dinda menyelidiki lebih lanjut, ia baru tahu apa alasan yang membuat Nomor Tujuh berada di kantor polisi. Andi. laki-laki itu berniat membunuh Andi.


“Sudah aku bilang berapa kali Andi itu urusanku. Kenapa masih saja ada yang ikut campur dengan hal ini.” Bentak Dinda.


Saat ini Dinda berada di apartemennya. Di sekitarnya, barang-barang miliknya sudah berserakan karena dilemparinya.


Dinda yang awalnya menampilkan ekspresi marahnya, kini terlihat menampilkan ekspresi sedih.


“Sayang sekali Pitu mati dengan cepat. Dia tidak pantas menerima semua itu. Seharusnya, dia disiksa dulu pelan-pelan. Disayat semua bagian tubuhnya, dikuliti, lalu disiram dengan air garam. Sayang sekali Pitu memilih bunuh diri dengan racun.” Ucap Dinda sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Ini pasti ulah dari dua orang tua itu. Masih saja mereka ikut campur dengan urusanku ini? Jika mereka masih ingin dendam keluarga ini terbalaskan, kenapa harus mengganggu semua rencanku.”


“Sepertinya, aku harus menyingkirkan mereka supaya aku bisa memiliki kekuasaan penuh atas apa yang akan aku lakukan.”


Setelah berucap demikian, Dinda bangkit dari tempat duduknya. Ia lalu bergerak menuju ruang gelap yang ada di apartemennya. Dinda lalu membuka sebuah almari yang ada di sana. Di dalam almari tersebut, terdapat beberapa pakaian yang digantung.


Perempuan itu lalu menyisihkan pakai tersebut ke samping kanan dan kiri. Lalu, ia menarik keluar papan kayu yang berada di bagian terdalam almari. Dibalik papan kayu tersebut, Dinda di sambut dengan deretan senjata api yang menjadi koleksi pribadi Dinda.


Cukup sulit memiliki koleksi senjata api di Indonesia. Jadi, semua senjata api yang ada di depan Dinda ini merupakan barang illegal yang sudah diselundupkan dari luar negeri.


Setelah beberapa kali menyapukan pandangan pada senjata koleksinya, Dinda menjatuhkan pilihannya kepada dua buah Desert Eagle Mark VII Kaliber 44, barel 10 inci, dari koleksi miliknya. Tidak lupa Dinda menyiapkan beberapa amunisi yang cukup banyak.


Setelah itu, Dinda melepas pakaian yang ia pakai dan memakai rompi anti peluru. Lalu, ia memakai kembali pakaian miliknya. Dua senjata api miliknya itu, Dinda sembunyikan di balik jaket kulit yang ia pakai.


Dengan begitu, Desert Eagle miliknya bisa ia sembunyikan dengan baik. Lalu, nantinya jika Dinda membutuhkan senjata api itu, ia akan mudah untuk mengambilnya.


Dinda lalu memperhatikan lagi kesiapan dirinya. Setelah memastikan semuanya siap, Dinda mengarahkan pandangannya ke arah foto-foto milik Andi yang terpajang di tembok.


Itu adalah foto yang Dinda ambil diam-diam selama berada satu sekolah dengan Andi. Dari TK, SMP, dan SMA. Dinda memandang lekat wajah Andi, dengan pandangan penuh cinta. Ia semakin mendekatkan wajahnya ke foto tersebut hingga dahinya menempel pada dahi Andi yang ada di foto.


“Andi, doakan keberhasilanku malam ini. Aku akan membalaskan perbuatan mereka kepadamu. Jadi Kamu tenang saja. Tidak akan ada yang bisa lolos setelah melukaimu seperti itu. Darah dibalas dengan darah.”

__ADS_1


“Mereka sudah membuatmu kehilangan darah. Jadi, akan aku buat mereka mengalami hal yang sama. Tunggu aku. Setelah aku membalaskanmu, aku akan mengunjungimu.” Bisik Dinda lirih seolah-olah yang di depannya ini adalah Andi yang asli, bukan sebuah foto.



Satu setengah jam kemudian, mobil yang Dinda kemudikan memasuki pelataran sebuah rumah. Tanpa menunggu mobilnya benar-benar berhenti, Dinda keluar dari sana. Ia tidak peduli bahwa mobil itu akan menabrak orang lain atau tidak.


Lagi pula, mobil itu tidak dalam kecepatan tinggi, jadi tidak terlalu membahayakan orang lain. Jika itu membahayakan orang lain pun Dinda tidak peduli dengan hal itu.


Ini sudah sering Dinda lakukan jika dirinya kesal. Jadi beberapa orang yang melihat Dinda melakukan hal itu langsung tahu bahwa Nona Muda mereka tengah dalam keadaan kesal.


Untung saja mereka sudah mempersiapkan beberapa ban mobil di dekat taman bunga. Jika tidak, pasti mobil yang dipakai Dinda akan menghantam taman bunga di rumah itu. Tidak hanya itu saja, pasti mereka perlu melakukan perbaikan terhadap mobil yang rusak.


Dengan adanya ban mobil tersebut, maka kerusakan yang terjadi akibat apa yang Dinda lakukan bisa diminimalisir.


“Di mana Ayah dan Kakek sekarang?” Tanya Dinda ketika melihat Zero yang mendekat ke arahnya.


“Anda sudah pulang Nona Muda.” Sapa Zero.


“Udah nggak perlu basa basi lagi. Katakan saja di mana mereka sekarang.” Tanya Dinda dengan nada kesal.


Dinda menganggukkan kepalanya. “Oh rupanya mereka ada di kamarnya ya. Baiklah akan aku temui mereka di sana.” Setelah berucap demikian, Dinda melangkah menuju ke kamar kakeknya yang berada di lantai satu.


Melihat hal itu, Zero mencoba mencegahnya. Sahab, Tuannya, baru saja tidur satu jam yang lalu. Sakitnya yang mulai kambuh membuat laki-laki itu sulit tidur. Jadi, Zero tidak bisa membiarkan Dinda mengusik waktu istirahat Sahab.


“Nona tungulah hingga besok pagi. Tuan besar baru saja tidur satu jam yang lalu. Biarkan dia beristirahat.”


Dinda tetap tidak menggubris ucapan Zero. Ia tetap melangkah menuju ke kamar kakeknya. “Nona tunggu Nona.”


Dinda merasa terusik dengan apa yang Zero lakukan. Ia tidak suka laki-laki itu memberinya perintah seperti itu. Langsung saja Dinda mengambil salah satu pistol miliknya dan menembakkannya ke arah paha Zero.


Kejadian itu begitu cepat. Zero sama sekali tidakmengetahui bahwa Dinda tengah membawa senjata api sekarang. Jika ia tahu, ia tidak akan membuat perempuan itu semakin kesal. Di rumah ini orang terkejam bukanlah Sahab atau pun Gilang tetapi Dinda.


Karena ketidak tahuannya itu, Zero tidak berhasil menghindar dan paha kanannya tertembak oleh Dinda. Dengan jarak sedekat ini, luka yang dihasilkan dari tembakan Desert Eagle milik Dinda itu cukup parah. Darah langsung mengucur dengan deras dari luka tembak tersebut.

__ADS_1


“Jangan memberi perintah apa pun padaku. Kau hanya pelayan di rumah ini. Tidak sepantasnya Kau memberiku perintah.”


Suara tembakan dari senjata api di tangan Dinda rupanya membangunkan orang seisi rumah. Tidak lama kemudian, dari lantai dua muncullah Gilang yang masih menggunakan baju tidurnya.


Gilang datang tidak dengan tangan kosong. Di tangannya sudah ada sebuah pistol revolver. Mungkin Gilang mengira ada musuh yang datang menyerang rumah mereka sehingga ketika keluar dari dalam kamar, Gilang membawa pistol revolver yang biasa ia taruh di bawah bantalnya.


Tetapi Gilang mengerutkan keningnya ketika melihat bukan musuh yang datang menyerang. Yang melepaskan sebuah tembakan tadi adalah putrinya, Dinda. Perempuan itu telah menembak Zero. Sampai sekarang saja, senjata api di tangan Dinda masih di arahkan kepada Zero.


“Dinda apa-apaan ini?” Tanya Gilang.


“Aku yang seharusnya bertanya seperti itu pada Ayah. Apa maksud dari semua ini? Kenapa Ayah dan Kakek ikut campur dalam rencana milikku. Bukankah Ayah dan Kakek sudah menyerahkan semuanya kepadaku?”


Mendengar ucapan Dinda, Gilang tahu apa maksud dari perkataan Dinda tersebut. Anak perempuannya ini pasti merasa kesal ketika tahu bahwa mereka ikut campur dengan rencannya.


Gilang sendiri sudah mendapatkan laporan bahwa Nomor Tujuh telah mencoba membunuh Andi tetapi gagal. Malahan dia sekarang sudah mati agar tetap bisa menjaga rahasia keterlibatan keluarga ini.


“Memang aku dan Kakekmu yang menyuruh Pitu membunuh pemuda itu. Tetapi kami melakukan itu agar fokusmu tidak terbagi. Ingat tujuanmu adalah menghancurkan keluarga Prayudi.”


“Aku tidak mau Kamu terlalu dekat dengan dia dan jatuh hati padanya. Itu akan membuatmu kehilangan fokus. Jadi kami menyuruh Nomor Tujuh menghabisi dia.” Jelas Gilang.


Mendengar hal itu Dinda langsung melepaskan sebuah tembakan ke arah Gilang. Tembakan itu langsung mengenai paha kanan Gilang. Hal itu membuat Gilang jatuh. Kejadian itu membuat beberapa pengawal yang datang karena suara tembakan yang Dinda lepaskan, menghampiri Gilang.


“Tuan.”


“Itu balasan karena sudah ikut campur dengan urusanku. Kalian tidak tahu semua rencanaku dan malah ikut campur seperti itu. Jika Ayah masih tetap ikut campur dalam masalah ini, selanjutnya bukan paha Ayah yang terkena peluru dariku tetapi kepala Ayah.”


Lalu, Dinda kembali melepaskan tembakan ke arah kanan dari tempatnya berdiri. Ia sama sekali tidak melihat targetnya. Meski begitu, apa yang ia lakukan berhasil mengenai sasarannya. Itu terbukti dengan suara teriakan seseorangdari arah kanannya.


“Arrgghh….” Erang Sahab.


“Itu juga adalah sebuah peringatan untukmu Kakek. Ingat kata-kataku baik-baik. Jika kalian masih ingin keluarga Prayudi hancur, maka jangan pernah sekali pun ikut campur dalam rencanaku.”


Setelah berkata demikian, Dinda melangkah pergi dari sana. Ia tidak peduli dengan Ayah dan Kakeknya bersimbah darah akibat menerima tembakan darinya. Bagaimanapun juga, dia menjadi seperti ini juga berkat didikan mereka.

__ADS_1


Sementara itu, beberapa pengawal yang ada di sana tidak ada yang berani menghentikan Dinda. Baik Gilang maupun Sahab belum memberikan perintah. Jadi, mereka hanya bisa melihat Dinda yang pergi dari rumah tersebut.


__ADS_2