
“Om tidak perlu memberikanku apa-apa. Aku tulus iklas menolong Satrio. Aku tidak mengharapkan imbalan apa pun dengan menolong Satrio. Bagiku, kesembuhan Satrio adalah imbalan yang lebih berharga daripada sebuah harta.” Jelas Andi.
Rama menambahkan nilai plus untuk Andi setelah mendengar ucapan pemuda itu. Ia tidak menyangka bahwa ada seseorang yang menolak begitu saja pemberian dari keluarga Jayantaka. Mereka membebasan Andi untuk memilih apa yang ia inginkan sekarang.
Namun, bukannya meminta banyak hal seperti anak muda pada umumnya, Andi malah menolak kesempatan berharga itu. Jika orang lain dalam posisi Andi, sudah pasti mereka akan meminta banyak hal.
Mobil, rumah, uang tunai. Semua yang bisa mereka ingin pasti akan mereka minta kepada keluarga Jayantaka. Saham perusahaan mereka, atau bahkan permintaan menjadi menantu keluarga besar ini, pasti akan mereka minta.
“Apa kamu benar-benar menolaknya anak muda?” Tanya Rama ingin memastikan.
“Iya Andi. Katakan saja apa yang kamu inginkan. Sebisa mungkin keluargaku akan mengabulkannya.” Imbuh Widya.
Andi hanya menggelengkan kepalanya. “Aku tidak menginginkan apa pun dari kalian. Aku lebih suka mendapatkan apa yang aku inginkan dengan usahaku sendiri. Selagi aku bisa melakukannya, kenapa meminta? Jadi, aku tidak berniat meminta apa pun dari kalian.” Jelas Andi.
Menurut Andi, sesuatu yang merupakan pemberian tidak akan bisa dibanggakan kepada orang lain. Hal itu berbeda dengan sesuatu yang kita hasilkan dengan keringat kita sendiri. Meski buruk dan terlihat tidak berguna, tetapi akan ada rasa bangga dalam diri kita ketika mencapainya.
Dan Andi ingin merasakan hal itu. Merasa bangga dengan pencapai yang ia buat dengan hasil keringatnya sendiri.
“Baiklah jika itu maumu. Kami tidak akan memaksa.”
Tidak lama setelah Rama berucap demikian, butler yang tadi membawa masuk kue buatan Andi, kini sudah kembali.
“Makan malamnya sudah siap Tuan.” Ucap Butler tersebut.
“Baiklah kita makan malam dulu.” Ucap Rama.
Di meja makan, sudah tersedia berbagai macam makanan. Meski porsinya tidak banyak, tetapi makanan di sana beragam. Oseng-oseng kangkung, urap-urap, ayam goreng, udang goreng dan masih banyak lagi makanan di sana.
Ketika di meja makan, Andi diminta untuk duduk di sebelah kiri Rama. Mungkin itu dilakukan sebagai bentuk rasa hormat mereka kepada Andi sebagai tamu. Andi merasa senang berada di rumah keluarga Jayantaka.
Sejauh ini, Andi sama sekali tidak merasa bahwa keluarga Jayantaka adalah salah satu dari empat keluarga besar di Surabaya. Sikap mereka dan perlakuan yang mereka berikan kepada Andi membuat pemuda itu melupakan fakta tersebut.
__ADS_1
Keluarga ini tidaklah sombong dan menunjukkan kekuasaannya kepada Andi. Mereka benar-benar menghargai dan menghormati Andi sebagai tamu di keluarga mereka. Meskipun Andi tidak memiliki kedudukan yang sama atau lebih tinggi dari keluarga mereka.
‘Sepertinya keluarga Jayantaka adalah keluarga yang pantas dijadikan teman. Mereka sama sekali tidak membeda-bedakan siapapun.’ Gumam Andi dalam hati.
Makan malam itu berjalan cukup lancar. Masakan rumahan yang disajikan di meja makan, sangat sesuai dengan selera Andi. Ia tidak tahu, apakah menu seperti ini adalah menu keseharian di rumah keluarga Jayantaka, ataukah mereka membuat makanan ini karena kedatangan Andi. Yang jelas, Andi sangat menikmati makan malam bersama dengan mereka.
Setelah makan malam usai, para pelayan keluarga Jayantaka membereskan piring kotor dan sisa makanan yang ada di meja makan. Mereka kemudian menyajikan makanan penutup yang ternyata adalah kue buatan Andi.
Yang tersaji saat ini adalah sebuah brownies. Ini jelas merupakan makanan penutup termanis dari semua manakan penutup yang Andi buat. Tetapi, meskipun manis, rasa makanan penutup ini tidak membuat enek penikmatnya.
“Ini beneran buatanmu An?” Tanya Widya. “Rasanya enak sekali. Ini cocok sekali kalo dibuat ngemil sore.”
“Iya itu buatanku. Aku juga membuka bisnis jualan dessert semacam ini. Jika kamu mau, kapan-kapan kamu bisa mampir ke sana.” Jelas Andi.
“Ah ya, aku ingat kamu pernah membicarakan hal ini. Jadi, di mana tokomu itu berada?” Tanya Widya dengan antusias yang cukup tinggi.
“Cabang yang ada di Surabaya sedang dalam proses renovasi. Jadi, kamu masih menunggu beberapa minggu lagi untuk bisa mengunjungi tokoku.”
*****
“Kakek, Ayah, apa kita benar-benar tidak memberikan apapun kepada Andi setelah dia menolong Satrio? Bukankah motto keluarga kita adalah, balaslah kebaikan orang lain sepuluh kali lipat dari apa yang kita terima?” Tanya Gayatri kepada ayah dan kakeknya setelah kepulangan Andi.
“Tentu saja kita tidak akan membiarkannya begitu saja. Kamu dengar sendiri bukan, bahwa Andi tidak memiliki niatan untuk meminta imbalan apapun dari kita. Aku tidak bisa memaksanya meminta sesuatu bukan?”
“Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” Tanya Widya.
“Andi bilang tadi dia memiliki sebuah bisnis bukan? Kita bisa membantunya mempromosikan bisnisnya tersebut. Mungkin juga kita bisa bekerja sama dengan toko kue milik Andi. Kita bisa memesan konsumsi rapat bulanan di toko milik Andi. Meski ini tidak bisa membayar semua hutang budi kita, tetapi hanya ini yang bisa kita lakukan untuk saat ini.” Jelas Rama.
“Ehm… itu Kakek, sepertinya ada hal lain yang bisa kita lakukan untuk Andi.”
“Katakan apa itu Widya. Apapun yang bisa kita lakukan untuk membantu Andi, akan kita lakukan.”
__ADS_1
“Itu, sepertinya Andi memiliki sedikit konflik dengan Marcel dan Hermawan. Jadi, menurutku kita bisa membantu Andi jika kedua anak itu memberikan masalah untuk Andi.” Jelas Widya.
Widya ingat ketika berada di lokasi balapan tempo hari, Andi terlihat memiliki konflik dengan Marcel dan Hermawan. Dari yang ia dengar, mereka bertiga tengah memperebutkan perempuan yang sama. Selain itu, Widya juga ingat bahwa Marcel juga pernah memiliki konflik dengan Andi di toko baju milik Gayatri.
Mengingat sifat dari Marcel dan Hermawan, pasti keduanya akan membalaskan kekesalan mereka kepada Andi. Dari rumor yang ia dengar, mereka cukup kejam ketika balas dendam. Jadi, Widya memberitahukan hal ini kepada keluarganya.
Widya ingin keluarganya tahu bahwa ada masalah yang mungkin saja akan menimpa Andi. Dan sumber masalahnya adalah Marcel dan Hermawan. Dengan begini, keluarganya akan tahu langkah apa yang perlu mereka lakukan.
“Marcel dan Hermawan? Konflik apa yang terjadi di antara mereka?” Tanya Doni.
“Dari yang aku dengar, mereka memperebutkan seorang cewek. Tetapi aku tidak tahu juga apakah itu benar atau tidak. Selain masalah itu, Marcel juga memiliki konflik lain dengan Andi. Aku tidak tahu apakah Andi memiliki konflik lain dengan Andi.”
“Seperti yang rumor katakan, mereka berdua itu adalah pendendam. Siapapun yang mengusik mereka, jika mereka adalah orang yang lebih lemah dari keluarga mereka, pasti mereka akan membalas dendam. Aku takut Andi tidak akan berakhir baik jika berhadapan dengan mereka.” Jelas Widya.
“Kamu dengar itu Doni. Sekarang suruh beberapa anak buahmu mengawasi gerak gerik Marcel dan Hermawan. Jika mereka terlihat akan memberikan sebuah masalah untuk Andi, kamu selesaikan langsung masalah itu.” Titah Rama.
“Tentu Ayah. Aku akan melakukan hal itu. Setidaknya sekarang kita memiliki arah untuk membalas budi. Aku tidak akan mensia-siakan kesempatan ini. Aku akan melaksanakan tugas ini dengan baik. Anak buah terbaikku akan aku tugaskan menangani hal ini.” Jelas Doni.
“Bagus. Lakukan sebaik mungkin.”
Ketika mereka tengah berdiskusi, seorang penjaga berajalan sedikit tergopoh-gopoh mendekat ke arah keluarga Jayantaka. Penjaga tersebut, berhenti beberapa meter dari keluarga Jayantaka. Ia membungkuk singkat memberi hormat kepada majikannya itu.
“Ada apa Reno?” Tanya Doni kepada kepala penjaganya itu.
“Maaf mengganggu Tuan. Tetapi anak buahku menemukan sebuah kalung di depan rumah. Aku tidak tahu milik siapa kalung tersebut. Anak buahku tidak ada yang merasa memiliki kalung tersebut. Sepertinya itu adalah kalung dari tamu yang baru saja pulang Tuan.” Lapor Reno.
“Kalau begitu, berikan kalung tersebut kepada Widya.” Doni kemudian mengarahkan pandangannya kepada putri bungsunya itu. “Tanyakan kepada temanmu, apakah kalung tersebut miliknya atau bukan.”
“Baik Ayah.”
Mendengar ucapan Doni, Reno kemudian mendekat ke arah Widya. Ia kemudian mengeluarkan kalung dengan liontin berwarna emas itu kepada Widya.
__ADS_1
Ketika kalung itu menggantung di depan Widya, Rama yang melihat hal itu menyipitkan matanya. Ia sepertinya mengenali kalung tersebut. Tetapi untuk memastikannya, ia perlu melihat lebih dekat kalung yang saat ini dipegang oleh cucuknya itu.