
“Sudahlah, jika kamu ingin tertawa, tertawa saja. Jangan menahannya seperti itu.” ucap Andi ketika memperhatikan sedari tadi Rosalinda melihat ke arahnya sembari menahan tawa. Bahkan sekarang ketika mereka sudah akan sampai ke apartemennya, perempuan itu masih saja seperti itu.
“Hahahaha.” Rosalinda tertawa dengan lepas. “Memangnya kamu nggak pernah punya pacar ya? Diperhatiin sama cewek gitu aja muka langsung memerah. Hahahaha.”
Andi menampakkan muka masamnya kepada Rosalinda. Memang benar dirinya tidak pernah memiliki kekasih. Tidak sempat. Dari kecil waktu luangnya ia pergunakan untuk berlatih bela diri. Jika masih ada waktu lain, ia lebih baik bersosialisasi dengan teman sebayanya. Ia tidak memiliki waktu lain untuk makhluk yang namanya perempuan.
Dan ketika dirinya sudah memiliki waktu yang cukup luang untuk memikirkan makhluk yang bernama perempuan, Andi sadar dirinya tidak mengatahui bagaimana cara mendekati mereka. Pemuda itu sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam hal ini.
Andi menundukkan kepalanya dan kemudian menggelengkan kepalanya pelan. “Aku tidak pernah punya pacar. Kalo cewek yang aku suka ada. Tetapi aku tidak pernah punya pacar. Aku tidak tahu bagaimana caranya mendekati cewek.” Jawab Andi jujur.
Rosalinda sedikit memundurkan badannya ketika mendengar ucapan Andi. Perempuan itu juga menutup mulutnya yang terbuka dengan sebelah tangannya. “Apa kamu yakin tidak pernah punya pacar?” tanya Rosalinda kembali.
Andi menganggung pelan.
“Ah, bagaimana bisa? Kau punya wajah yang tampan. Bagaimana bisa tidak ada cewek di sekolahmu yang tertarik padamu?”
Rosalinda memandang Andi dari atas hingga bawah. Pemuda di sampingnya ini terbilang laki-laki tampan. Wajahnya bersih terawat, tanpa ada jerawat, tanpa terlihat minyak berlebih. Rambutnya juga tertata rapi, tidak awut-awutan. Menurut Rosalinda, Andi adalah pemuda yang tampan. Tetapi kenapa tidak ada satu pun gadis di sekolahnya memiliki niatan untuk menjadikan pemuda itu pacarnya.
Andi mengangkat kedua bahunya. “Entahlah. Aku juga tidak tahu yang jelas aku tidak punya pacar.” Andi sendiri juga tidak tahu kenapa tidak ada satupun gadis di sekolahnya yang tertarik kepadanya. Mungkin ada tetapi Andi tidak mengetahuinya.
Mungkin mereka malu jika mengutarakan perasaan itu. Bagaimana pun juga mereka perempuan. Meski sudah era modern seperti ini, masih banyak yang memiliki anggapan bahwa laki-lakilah yang perlu mengutarakan perasaan lebih dulu. Jadi, bisa saja ada yang menyukai Andi tetapi pemuda itu tidak mengetahuinya.
“Kita sudah sampai.” Ucap Andi ketika lift yang mereka naiki sampai di lantai di mana apartemen Andi berada. Andi mempin langkah mereka menuju apartemennya. Dengan sidik jarinya, pemuda itu membuka pintu apartemennya.
__ADS_1
“Silahkan masuk. Ini masih sangat berantakan. Aku belum membereskan semua ini.”
“Ini punyamu sendiri?”
“Ini punya temanku. Aku diijinkan tinggal di sini selama aku di Surabaya. Aku tidak mungkin punya apartemen seperti ini. Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu.” Bohong Andi.
Rosalinda memasuki apartemen Andi. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar, melihat-lihat interior apartemen tersebut. Pandangan Rosalinda berhenti pada beberapa tumpukan kardus yang belum terbuka yang ada di ruang tamu. Rosalinda kemudian mempercepat langkahnya mendekat ke arah tumpukan kardus tersebut.
“Wow. Ini perlengkapan pembuatan video ya? Memangnya kamu mau menjadi konten creator? Kenapa kamu memiliki barang semcam ini?”
Rosalinda memandang kardus-kardus di depannya. Dari gambar yang ada di kardus-kardus tersebut Rosalinda dapat mengenali barang yang tersimpan di sana. Kamera, tripot, lighting. Semua peralatan itu ada di sana. Ia tidak menyangka akan menemukan harta karun sebanyak ini.
“Ya. Itu punya temanku. Kami berencana membuat beberapa video untuk di upload di Ourtube. Tetapi kami masih bingung akan membuat konten apa.”
“Bagaimana jika kau membuat konten memasak saja? Berbagi resep. Aku lihat kamu bisa mengambil video di dapurmu ini. Ya meskipun kamu tidak memiliki kitchen island di sini. Tetapi dapurmu ini bisa kamu pakai untuk mengambil video.”
Ini lah yang dipikirkan oleh Rosalinda. Jika memang bisa memasak, tidak ada salahnya dia membuat konten memasak. Toh gagal tidaknya masakannya tidak akan ada yang menilai. Itu hanya lewat video. Tidak akan ada orang yang mencicipi dan kemudian memberikan pendapat tentang masakannya dalam video tersebut. Asalakan caranya tepat dan hasinya menarik, pasti banyak yang akan menonton.
Namun, jika masakan Andi benar-benar enak itu malah akan menjadi nilai plus. Jika enak Rosalinda bisa memanfaatkan hal tersebut. Andi memasak dan menjadikannya konten. Setelah itu Rosalinda akan memanfaatkan masakan Andi untuk konten yang lain. Bukankah itu sempurna?
Dengan begitu Rosalinda tidak perlu repot-repot mengeluarkan uang untuk membeli makanan enak. Ia cukup meminta (memaksa) Andi untuk memasakkan makanan. Jika ia sedikit memohon (memaksa) pasti pemuda itu mau membuatkan makanan. Roslinda yakin pesonanya masih bisa menggerakkan pemuda itu.
“Konten memasak? Ah boleh juga itu.” Bukankah Andi sudah membeli pengalaman seorang juru masak dari sistem. Ia bisa memanfaatkan hal itu. Jika Rosalinda tidak mengatakan tentang hal itu, sudah pasti Andi tidak akan terpikirkan membuat konten memasak.
__ADS_1
“Baiklah.” Rosalinda mendepuk tangannya. “Sekarang akan aku bantu kamu menset semua peralatan ini. Kita akan mengambil video dirimu memasak.”
“Sekarang? Tetapi aku harus memasak apa?”
“Tentu saja dessert box. Memangnya apa lagi? Bukankah kita akan membuat dessert box? Jadi sekalian saja kita mengambil video dirimu membuat dessert box. Seperti kata pepatah, sambil menyelam minum air. Sekarang kita susun semua peralatan ini.”
“Tetapi aku tidak begitu memahami bagaimana mengambil video yang bagus. Aku tidak pernah melakukan hal ini sendirian. Biasanya temanku yang melakukannya.”
Andi mengingat kenangan ketika dirinya memasak dan Brianlah yang merekam. Itu pun mereka hanya asal merekam untuk video promosi. Tidak banyak yang mereka lakukan. Hanya pengambilan video dari nampak atas. Itu pun untuk video yang pada akhirnya diedit untuk mendapatkan video satu menit. Jadi, Andi tidak memiliki pengalaman dalam menata semua peralatan ini untuk membuat konten.
Rosalinda mengibaskan sebalah tangannya. “Tenang saja. Kau bertemu dengan ahlinya. Aku sudah memiliki pengalaman dengan semua ini. Aku sudah dua tahun menjadi seorang konten kreator. Jadi kamu jangan khawatir. Semua ini bisa segera dilakukan.”
“Benarkah? Apa nama kanal milikmu?” Andi mengambil ponselnya dan kemudian membuka aplikasi berwarna merah di ponselnya.
Rosalinda mengibaskan sebelah tangannya. “Kamu tidak perlu tahu hal itu. Sekarang kita harus menyiapkan semua peralatan ini.”
Andi pun mengikuti kemauan Rosalinda. Ia menyiapkan semuanya, menatanya dengan mengikuti instruksi yang diberikan oleh perempuan itu. Tidak lama kemudian semua peralatan sudah tersusun rapi. Semua penerangan sudah terpasang di atas tripot.
“Nah sekarang kita akan memulai dengan mengambil gambarmu yang tengah memperkenalkan bahan. Hemm…. Apakah kamu mau menampilkan wajahmu atau hanya tanganmu yang bekerja? Apakah kamu mau memasukkan suaramu atau hanya suara dari apa yang kamu lakukan saja yang masuk?”
Andi memikirkan perkataan Rosalinda barusan. Memang pemuda itu menemukan beberapa konten kreator yang membuat video tanpa memperlihatkan wajah mereka. Tidak hanya konten makan-makan konten memasak pun begitu. Mereka mengedepankan suara dari kegitaan yang mereka lakukan.
“Kita tidak perlu menampilkan wajahku dalam video. Kita bikin video ASMR memasak saja.”
__ADS_1
“Baiklah mari kita lakukan sekarang. Aku tidak sabar mencicipi masakanmu. Jadi ayo kita lakukan.”