
[Ding]
[Selamat Host telah menjalankan salah satu misi tersebunyi dari sistem]
[Hadiah telah dikirim ke penyimpanan milik Host]
Andi mendengar pemberitahuan itu setelah berdonasi ke empat buah panti asuhan di sekitar rumahnya. Masing-masing dari panti asuhan itu Andi berikan uang sebesar tujuh puluh lima juta rupiah. Dari yang Andi cek, keempat panti asuhan itu belum membutuhkan bangunan baru. Jadi Andi hanya mmeberikan sejumlah uang untuk biaya sekolah anak-anak panti.
Langsung saja Andi membuka keempat kotak misteri yang ia dapatkan dari berdonasi. Andi juga ingat bahwa dirinya memiliki kotak misteri dari menyelesaikan target bulanan yang belum ia buka. Langsung saja Andi membuka semuanya.
[Ding]
[Selamat Host telah membuka kotak misteri tingkat perunggu (4)]
[Selamat Host telah membuka kotak misteri tingkat silver]
[Ding]
[Selamat Host telah mendapatkan satu unit mobil dengan senilai Rp 355.000.000,-]
[Selamat Host telah mendapatkan uang tunai sebesar Rp 250.000.000,-]
[Selamat Host telah mendapatkan satu unit mobil listrik Hyundai senilai Rp 500.000.000,-]
[Selamat Host telah mendapatkan uang tunai sebesar Rp 500.000.000,-]
[Selamat Host telah mendapatkan satu unit rumah senilai Rp 1.000.000.000,-]
[Host kumpulkan semua kotak misteri dan ungkap misteri dibaliknya]
Andi membaca kesemua pemberitahuan itu. pemuda itu baru mengetahui bahwa nilai hadiah dari kotak misteri tinggkat perunggu berkisar antara seratus hingga lima ratus juta, sedangkan kotak perunggu tingkat perak berisar dari lima ratus hingga satu milyar.
Uang tunai yang Andi dapatkan dari kotak misterinya saja sudah mencapai tujuh ratus lima puluh juta. Belum lagi aset-aset lainnya. Jika ditotal, dari empat kotak misteri tingkat perunggu dan satu kotak misteri tingkat perak, Andi mendapatkan hadiah lebih dari 2,6 milyar.
Andi kemudian mengecek alamat dari rumah yang baru ia dapat. Ternyata hadiah rumah yang baru saja didapatkannya itu beralamat di kota asalnya. Salah satu hadiah juga terparkir di rumah itu. Sementara itu, mobil listriknya terparkir di rumah mewahnya di Surabaya.
“Dengan begini, aku bisa memberikan mobil dan rumah tersebut kepada kedua orang tuaku. Sekarang mari kita cek, berapa banyak yang aku perlukan untuk naik ke level sembilan.” Setelah berdonasi, sistem milik Andi telah mengalami kenaikan level.
“Panel status.”
[Ding]
[Modul Menjadi Kaya]
[Level 8 (143.705.200/5.000.000.000)]
[Saldo Host : Rp 958.800.868,-]
[Tingkat Konversi : 1 kali nafas \= 29 rupiah]
[Misi : -]
__ADS_1
[Target Bulanan : -]
[Penyimpanan : - Kartu kemampuan karyawan (3/10)]
[Kemampuan : - Lidah Manis : Selamanya
Pengalaman Pembalap : Tingkat 1
Pengalaman Juru Masak : Tingkat 1
Pengalaman Direktur Utama : Tingkat 1
Pengalaman Pialang Saham : Tingkat 1]
[Selamat berjuang menghabiskan uang Host]
“Lima milyar ya. Aku yakin jika tidak akhir bulan ini, awal bulan depan aku sudah bisa menaikkan levelku kembali.”
Andi kemudian melirik jam di ponselnya. Hari ini belum terlalu sore. Ia berniat menjeput Amira di rumah. Andi ingin mengajak adiknya itu pergi melihat rumah baru yang baru saja ia dapatkan. Dari pemberitahuan sistem, sepertinya rumah yang ia dapatkan ini tidak memiliki perabotan apapun.
Ketika masuk ke rumah, ia menmukan Arfan yang tengah belajar di ruang tamu. Ia ingat adiknya itu akan mengikuti ujian sebentar lagi. “Arfan, Kakakmu di mana?” Tanya Andi kepada Arfan.
“Dia ada di kamarnya.” Jawab Arfan tanpa mengangkat kepalanya sedikitpun.
“Ah ternyata Kak Andi. Aku kira ayah yang datang.” Ucap Amira sembari mengelus dadanya.
“Iya ini kakak. Kamu abis main ponsel baru ya?” Ucap Andi setengah berbisik, ia tidak mau Arfan yang ada di ruang tamu mendengar mereka.
“Iya. Hehehe.” Jawab Amira dengan diselingi tawa.
Andi hanya menggelengkan kepala. “Sekarang kamu boleh pakai ponselmu itu secara terbuka di rumah.”
“Benarkah?”
“Ya, katakan saja aku yang membelikanmu itu. Aku sudah memberitahukan ibu mengenai aku yang jual beli saham. Jadi, kamu tidak khawatir mengenai hal itu. Tetapi, jangan katakan berapa nominalnya.” Pinta Andi.
“Siap bos.” Ucap Amira sembari memberikan hormat kepada Andi.
“Kamu siap-siap gih. Abis ini kakak mau ajak kamu pergi ke suatu tempat.”
Sembari menunggu Amira bersiap-siap, Andi kembali ke ruang tamu. “Arfan, kamu beresen bukumu. Abis ini kakak antar kamu ke kafe. Kamu nanti lanjut belajar di sana saja.”
Jika ini sebelum Andi mendengar ancaman Jony, Arfan bisa ia tinggalkan di rumah sendirian. Tetapi tidak untuk saat ini. Terlalu berbahaya untuk adiknya itu sendirian di rumah. Jadi, perlu mengantar adiknya itu ke kafe untuk melanjutkan belajarnya di sana.
“Lah kenapa Kak?”
“Kak Andi sama Kak Amira mau keluar sebentar. Kamu nanti akan sendirian di rumah. Lebih baik kamu kakak anter ke kafe. Nanti kamu bisa lanjut belajar di sana.”
__ADS_1
Tanpa banyak protes, Arfan membereskan semua buku-bukunya. Tidak lama kemudian, Amira keluar dari dalam kamarnya dengan pakaian yang berbeda dari sebelumnya.
“Lah Arfan ikut?”
“Nggak, kakak anter Arfan ke kafe terlebih dahulu. Setelah itu kita akanpergi ke tempat tujuan.” Jawab Andi.
“Loh mobil siapa ini?” Tanya Arfan melihat sebuah mobil asing ada di depan rumahnya. Mungkin kedua adiknya itu fokus dengan aktifitas mereka sehingga tidak menyadari ada mobil yang terparkir di depan rumah mereka.
“Mobil kakak ini. Udah ayo masuk.”
Arfan mengeryitkan dahinya. “Sejak kapan Kakak punya mobil?”
“Sejak beberapa hari yang lalu. Sekarang jangan banyak tanya dulu. Kapan-kapan aja Kakak jelasin. Sekarang kakak anter kamu ke kafe. Habis ini kakak masih harus ke tempat lainnya.” Ucap Andi.
Setelah menurunkan Arfan di depan kafe, Andi membawa Amira ke alamat rumah baru. Rumah itu terdapat di sebuah perkampungan yang tidak terlalu jauh dari pusat kota. Itu hanya membutuhkan waktu sepuluh menit mengendarai mobil dari kafenya berada.
“Ini rumah siapa kak?” Tanya Amira ketika mobil mereka berhenti di sebuah rumah berlantai dua. Terdapat sebuah mobil berwarna hitam terparkir di carport rumah itu.
“Ini rumah kita baru kakak. Ayo turun kita lihat dalemnya.”
“Rumah kakak? Mobil ini juga punya kakak?” tanya Amira sembari menujuk ke arah mobil yang ada di sana.
“Ya, untuk kalian yang di rumah. Nggak lama lagi kakakkan kuliah. Jadi, kakak nggak akan di rumah lagi.” Jelas Andi.
Keduanya kemudian melihat-lihat rumah tersebut. Seperti dugaan Andi, rumah ini adalah rumah kosong tanpa perabot. Ada lima kamar tidur dan tiga kamar mandi di sini. Rumah ini lebih luas dari rumah orang tuanya. Apalagi rumah ini dua lantai, masih banyak ruangan lapangnya membuat isi rumah terasa lebih luas lagi.
“Gimana? Kamu suka nggak dengan rumahnya?” tanya Andi setelah mereka melihat-lihat isi rumah.
“Ini lebih luas dari rumah Ayah. Kamar-kamarnya juga lebih luas.”
“Sekarang kita pergi beli perabotannya. Untuk kamarmu, kamu bisa pilih sendiri perabot yang seperti apa.”
Sore hari itu Andi ditemani Amira membeli banyak perabot untuk mengisi rumah barunya. Kali ini barulah Andi merasakan repotnya membeli perabot. Apartemennya dan rumah mewah miliknya yang ada di Surabaya, diberikan oleh sistem beserta perabotannya. Ia belum pernah merasakan kerepotan seperti ini.
Banyak sekali model untuk perabotan rumah. Andi bingung memilih mana yang cocok untuk rumah mereka. Pada akhirnya, Andi menyuruh Amira memilih perabotan rumah.
“Kamu saja yang pilih semuanya sesuai dengan keinginanmu.” Pemuda itu memilih duduk di salah satu sofa yang ada di sana dan menunggu Amira selesai memilih perabot.
Satu setengah jam kemudian, Amira selesai memilih perabotan untuk rumah baru mereka. Andi menghabiskan uang dua ratus juta untuk membeli semua perabotan rumah barunya. Kata pihak toko, besok pagi semua barang-barang itu akan dikirimkan ke rumah mereka.
“Aku tidak menyangka membeli perabotan rumah menghabiskan uang sebanyak itu.” Ucap Amira ketika mereka berada di dalam mobil menuju ke kafe milik Andi.
“Ya itu karena perabotan yang kita pilih banyak. Tentu saja kita mengeluarkan uang sebanyak itu untuk mengisi rumah kita.”
“Lalu bagaimana dengan Ayah dan Ibu dulu?”
“Tentu saja perabotan yang ada di rumah mereka cicil belinya. Bulan ini mereka membeli kursi ruang tamu, beberapa bulan kemudian mereka membeli ranjang, seperti itu. Sekarang saja kakak memiliki uang sehingga bisa mengisi lengkap perabotan di rumah. Jika tidak, pasti kakak juga akan mencicil membeli perabotan.”
“Besokkan hari Sabtu, jadi sekolahmu libur. Pagi-pagi kita ke rumah baru untuk menata semuanya. Mumpung yang nganterin barang ada jadi sekalian mereka kita mintai tolong untuk menata semuanya.”
“Tentu saja Bos. Aku akan melaksanakannya.”
__ADS_1