Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 182 Kerja Sama dengan Widya (1)


__ADS_3

Dari sudut matanya, sekarang Andi melihat Fawzul yang mendekat ke arah meja mereka. Sepertinya pemuda itu belum selesai mengobrol dengan Andi. Buktinya saja, dia menuju kemari. Mungkin karena sekarang Andi sedang tidak bersama dengan Satrio jadi pemuda itu mendatanginya.


“Superman, bolekah aku meminta kontakmu?” Tanya Fawzul begitu saja ketika sampai di meja mereka.


“Untuk apa kamu meminta kontak Andi.” Ucap Widya.


“Tentu saja aku ingin tahu latihan apa yang dilakukan oleh superman untuk memiliki kekuatan sebesar itu. Jika dia bisa melakukannya, sudah jelas aku bisa juga melakukannya. Aku sudah dua tahun ini mengikuti porsi latihan yang dilakukan oleh Saitama. Tetapi hasilnya menurutku kurang memuaskan.”


“Jadi, jika aku ingin menjadi yang terkuat di seluruh dunia, aku harus mencoba segala cara untuk mencapai hal itu. Karena superman ini bisa menarik besi seperti itu, aku juga ingin melakukannya.” Jelas Fawzul.


Andi tidak menyangka penyakit Chunibyo benar-benar ada. Ia kira itu hanya ada dalam anime. Sekarang dirinya menemukan langusung orang yang memiliki penyakit itu.


“Baiklah aku akan memberikanmu kontakku.” Ucap Andi. Ia tidak ingin Fawzul terus menerus mengajaknya berbicara. Andi sama sekali tidak bisa mengatasi orang seperti Fawzul ini. Jadi, Andi memberikan kontaknya kepada Fawzul.


“Wow superman teryata kamu ini baik juga ya. Kamu langsung begitu saja memberikan nomor ponselmu kepadaku. Tenang saja, jika aku sudah bisa melakukan apa yang kamu lakukan, kita berdua akan bersama-sama menyelamatkan dunia. Hahaha.”


Fawzul tertawa hingga kepalanya menengadah. Kedua tangannya ia letakkan di samping pinggangnya. Cara tertawanya sekarang sangat mirib dengan mereka yang menderita Chunibyo di anime yang biasa Andi tonton.


“Kalau begitu aku pamit dulu Widya. Tujuanku datang kemari sudah terlaksana. Aku harus kembali berlatih agar bisa menjadi lebih kuat lagi, dan Kamu superman, lain waktu kita perlu maen bareng. Mungkin kita bisa berlatih bersama atau tading adu stamina.”


Tanpa menunggu jawaban dari Andi dan Widya, Fawzul pergi dari sana. Ia datang dan pergi dengan seenaknya sendiri.


“Kenapa kamu memberikan nomormu kepadanya? Apa kamu tidak takut dia akan meneroromu?” Tanya Widya setelah Fawzul pergi dari sana.


“Itu bukan kontak pribadiku. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal itu.” Jelas Andi.


Tentu saja Andi tidak akan memberikan kontak pribadinya. Andi hanya akan memberikan kontaknya yang ia persiapkan untuk urusan bisnisnya.


Dengan begitu, meski nanti Fawzul menghubunginya dan mulai meneror dengan berbagai pertanyaan anehnya, Andi tidak akan terlalu terganggu. Ia bisa saja menonaktifkan ponselnya yang berisi nomor tersebut.


“Baguslah kalau begitu. Aku kira kamu memberikan kontak pribadimu kepada dia.”


Lalu Andi dan Widya mengobrol mengenai kuliah mereka. Andi bertanya seputar persiapan apa yang perlu dilakukan untuk mengikuti ospek fakultas mereka. Meskipun ospek mereka masih dilakukan enam minggu lagi tetapi tidak ada salahnya bukan membicarakan semuanya sejak sekarang?

__ADS_1


“Hey Andi.” Sebuah suara terdengar menyapa Andi ketika pemuda itu tengah mengobrol dengan Widya.


“Eh Arya. Apa kabar? Lama kita nggak ketemu.” Ternyata yang datang menemui Andi adalah Arya.


“Ya kita sudah lama nggak ketemu. Terakhir kali kita ketemu itu saat Satrio kecelakaan. Kabarku baik-baik saja, gimana dengan kabarmu?” Tanya Arya.


“Aku juga baik-baik saja. Hanya sibuks mengurusi kafe milikku.”


“Bicara soal kafemu, aku dengar kafemu itu terbakar. Apakah itu benar?” Tanya Widya.


Sedari tadi Widya mencari kesempatan untuk menanyakan hal ini. Sejak keluarganya mengetahui identitas lain yang Andi miliki, mereka memang sudah mengawasi pemuda itu. Memang mereka tidak mengawasi semua gerak gerik Andi. Tetapi, mereka hanya mengawasi kafe milik Andi.


Hanya bisnis itu yang mereka ketahui merupakan milik Andi. Keluarga Jayantaka tidak berani melakukan penyelidikan mendalam mengenai bisnis yang dimiliki oleh Andi. Mereka tidak mau mengambil resiko menyinggung Andi dan membuat pemuda itu marah.


Keluarga Jayantaka memang sudah mengawasi kafe milik Andi. Mereka melakukan hal ini karena sudah mengetahui bahwa Andi memiliki konflik dengan Hermawan dan Marcel. Jadi, keluarga Jayantaka cukup cepat mendapatkan informasi mengenai ketiga kafe Andi yang mengalami kebakaran.


Setelah mendapatkan informasi mengenai hal itu, keluarga Jayantaka mengerahkan seluruh sumberdaya yang mereka punya untuk menyelidiki hal ini. Namun, penyelidikan mereka mengalami kebuntuan.


Pelaku pembakar kafe milik Andi adalah anggota Gang Macan Putih. Meskipun keluarga Jayantaka adalah pimpinan dari empat keluarga besar, tetapi mereka tidak mau bertindak gegabah dalam menghadapi Gang Macan Putih.


Memang keluarga Jayantaka mau melakukan apapun untuk membantu Andi yang memiliki identitas sebagai Sang Penerus. Tetapi, mereka tetap harus merencakan semuanya agar tidak mengalami kehancuran ketika melawan Gang Macan Putih.


Oleh karena itu, Rama memerintahkan Widya untuk menanyakan hal kepada Andi. Ia lalu akan memberikan informasi mengenai temuan mereka dan melihat tindakan apa yang Andi inginkan setelah mengetahui semuanya.


“Ya ketiga kafeku terbakar di hari yang sama aku melakukan pembukaan.”


“Apakah Kamu sudah tahu penyebabnya?”


“Polisi belum memberikan keterangan jelas mengenai hal itu.”


“Ada kemungkinan ketiga kafemu itu di bakar Andi. Apakah kamu tidak berpikir sampai ke sana?” Tanya Arya kepada Andi.


Andi memandang lekat ke arah Widya dan juga Arya, terutama Widya. Sebelum ini, kalung miliknya tertingal di rumah perempuan itu. Kata Almarhum Kakek Buyut Adipramana, hanya anak buah dari Sang Penerus sebelumnya yang mengetahui kalung apa itu sebenarnya.

__ADS_1


Seingat Andi, ketika Widya mengembalikan kalung itu padanya, perempuan itu menaruh kalung tersebut pada sebuah kotak yang memang dikhususkan untuk menyimpan perhiasan. Hal itu membuat Andi tiba-tiba berpikir, apakah keluarga Jayantaka merupakan anak buah dari Sang Penerus sebelumnya?


Jika memang demikian, apakah mereka bisa dipercaya? Andi masih tidak bisa mempercayai anak buah dari Sang Penerus sebelumnya sejak ia tahu bahwa dulu di antara anak mereka ada yang berhianat dan membantai anggota keluarga Prayudi.


Sepertinya Andi perlu mengetes keluarga Jayantaka, apakah keluarga itu memang anak buah Sang Penerus sebelumnya dan bisa di percaya atau tidak.


Mungkin Andi juga perlu menambahkan keluarga Wijoyokusumo dalam daftar yang perlu ia tes. Melihat kedekatan kedua keluarga itu bisa jadi keularga Wijoyokusumo juga merupakan anak buah dari Sang Penerus sebelumnya.


“Ketiga kafe milikku memang sengaja dibakar. Aku juga sudah melakukan penyelidikan mengenai hal itu. Tetapi, aku belum mengetahui siapa dalang di balik pembakaran ketiga kafe milikku. Salah satu pelaku pembakaran kafeku sudah diserahkan ke pihak yang berwajib.” Jelas Andi.


Widya tidak menyangka bahwa Andi sudah melakukan penyelidikan. Bahkan pelakunya sudah ia serahkan kepada polisi. Jika begini, niatan Kakeknya yang ingin menolong Andi dalam mengurusi hal ini menjadi sia-sia. Andi sudah melakukannya sendiri.


“Lalu pelaku lainnya bagaimana?”


“Aku belum menemukan mereka.”


Setelah satu pelaku itu ditangkap, Kim mencoba mencari tahu pelaku lainnya. Namun anak buah Andi itu tidak berhasil menemukan keberadaan dua orang lainnya setelah meretas seluruh kamera pengawas yang ada di Surabaya. Jadi, Andi membiarkan mereka lolos untuk saat ini.


Menurut Andi, yang terpenting adalah mengetahui siapa dalang di balik semua ini dan membalas tindakannya. Jika hanya mengejar ikan kecil dengan mengobok-obok seisi sungai, maka ikan yang besar jelas akan lari karena takut terlihat dan tertangkap.


“Apa kamu butuh bantuan lainnya dari kami? Mungkin kamu butuh modal lagi untuk memulai kembali bisnis kafe milikmu. Jika kamu membutuhkannya, bilang saja kepadaku. Aku siap berinvestasi di kafe milikmu itu.” Ucap Arya menawarkan bantuan.


Andi menggoyangkan sebelah tangannya mendengar hal itu. “Kamu tidak perlu melakukannya. Temanku sudah melakukan hal itu. Kafe tersebut adalah bisnis milikku dan temanku. Untuk saat ini kami belum membutuhkan modal tambahan.”


“Tetapi aku tetap akan berterima kasih padamu karena kamu sudah mau menawarkan bantuan untukku.” Jelas Andi.


“Mas Arya, jika Mas memang ingin berinvestasi, berinvestasilah padaku. Aku juga memiliki ide bisnis yang cukup bagus. Aku jamin ideku akan memberikan keuntungan besar untukmu.” Ucap Widya.


“Memangnya keluargamu tidak memberikanmu modal untuk memulai bisnis?” Tanya Arya cukup heran. Keluarga Jayantaka sangat kaya. Jadi, agak heran jika Widya ingin memulai bisnis tetapi malah meminta modal kepada orang lain.


“Apa Mas Arya lupa, keluargaku tidak mengijinkanku memulai bisnis. Kemarin kakekku sudah memberiku ijin untuk berbisnis, tetapi aku haru mencari modal sendiri dan tidak memakai uang mereka. Bahkan uang tabunganku pun tidak bisa aku pakai.”


“Aku harus benar-benar memulai semuanya dari nol. Keluargaku baru akan memberikanku modal sebelum aku lulus kuliah nanti. Itu sangat lama. Aku sudah mau memulai bisnisku dari sekarang.”

__ADS_1


__ADS_2