Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 90 Makan Siang Bersama Widya


__ADS_3

Pada akhirnya Andi tidak hanya membelikan ponsel untuk Arfan, ia juga membelikan tab untuk kedua adiknya. Andi merasa bersyukur tidak bertemu dengan kakak beradik dari keluarga Jayantaka. Sekarang setelah selesai membeli ponsel, Andi berencana membawa adiknya berbelanja pakaian.


Meskipun sebelumnya Andi pernah membelikan cukup banyak pakaian untuk mereka, tetapi itu adalah pilihannya. Sekarang dengan adanya kedua adiknya di sini, mereka bisa memilih sendiri model pakaian yang mereka inginkan.


Kali ini Andi membawa adik-adiknya bebelanja pakaian di sebuah butik yang ada di mall. Jelas baju di sini harganya lebih mahal daripada toko baju yang dulu Andi kunjungi. Tetapi tidak masalah. Toh mereka tidak akan membeli banyak baju di sini. Hanya beberapa setel baju untuk dipakai pada acara-acara tertentu.


Andi juga teringat bahwa besok dirinya akan menghadiri pertemuan tahunan keluarga Prayudi. Tidak ada salahnya bukan sekarang mereka membeli beberapa potong baju?


“Kak, kita makan siang ya. Aku lapar.” Ucap Arfan setelah mereka selesai membeli baju.


“Baiklah. Kita akan makan setelah ini. Jadi, kalian mau makan di mana? Makan di sini atau di luar?”


“Makan di resto Jepang boleh?” Tanya Amira.


Andi mencoba mengingat-ingat apakah di mall mereka berada saat ini ada resto Jepang. “Jika tidak salah di lantai satu mall ini terdapat sebuah resto Jepang. Kita bisa makan di sana. Setelah itu, kita kembali ke toko komputer untuk melihat apakah pesanan kita sudah selesai apa belum.” Jawab Andi.


Ketika mereka akan memasuki resto Jepang tersbut, seseorang memangil nama Andi. Hal itu membuat ketiga kakak beradik itu menghentikan langkah mereka. Ketiganya membalikan badan dan melihat siapa gerangan yang sudah memanggil nama Andi.


Di sana Andi melihat Widya yang sedikit tergopoh-gopoh berjalan ke arah mereka. Andi sudah merasa lega tidak bertemu dengan gadis ini. Tetapi, dirinya tetap dipertemukan dengan gadis ini.


“Andi kenapa kamu nggak bilang kalo udah di Surabaya?” Tanya Widya setelah gadis itu sampai di depan Andi dan adik-adiknya.


“Hari ini aku hanya mengantarkan adik-adikku pergi membeli sesuatu. Jadi aku tidak menghubungimu jika aku sedang ada di Surabaya. Ah ya, perkenalkan ini adik-adikku, Amira dan Arfan. Amira, Arfan, perkenalkan ini teman yang kakak kenal di Surabaya, Widya.”


Setelah saling memperkenalkan diri, Widya kemudian memandangi barang belanjaan yang dibawa oleh adik-adik Andi. Gadis itu terlihat mengernyitkan dahinya.


“Kenapa kamu tidak menghubungiku ketika membeli ponsel? Aku bisa memberikan harga distributor padamu. Bahkan jika kamu mau, aku bisa memberikan ponsel gratis untukmu.”


Bagi Widya, beberapa puluh juta bukanlah angka yang besar. Sebulan saja uang jajannya mencapai lima puluh juta. Jadi, tidak masalah untuknya mmeberikan hadiah beberapa puluh juta untuk Andi. Meski bukan dari kantong pribadinya, Gayatri sendiri pasti tidak akan keberatan memberikan beberapa ponsel gratis untuk Andi.


Bagaimana pun juga Andi sudah menolong keluarganya. Jadi, memberikan barang dengan nilai beberapa puluh juta tidak ada apa-apanya jika dibandingkan nyawa anggota keluarga mereka.


“Ya nggak mungkinlah Wid, itu toko kan usaha punya kakakmu. Jika aku masuk ke sana, itu berarti aku akan membeli sesuatu, bukan meminta sesuatu yang gratisan. Lagi pula, aku masih mampu membelikan ponsel untuk adik-adikku.”


Mendengar ucapan Widya kali ini, menguatkan pemikiran Andi mengenai makan malam di keluarga Jayantaka. Pasti mereka akan memberikan sesuatu untuknya.

__ADS_1


“Baiklah jika itu maumu. Jadi, apakah malam ini kamu bisa datang ke rumahku?” tanya Widya.


Andi menggeleng pelan. Besok dirinya harus mengikuti pertemuan tahunan keluarga Prayudi. Ia sudah janji kepada orang tuanya untuk pulang malam ini. Jadi, Andi tidak bisa menghadiri undangan makan malam di keluarga Widya.


“Aku tadi bilang bukan kalo aku hari ini ke Surabaya hanya untuk mengantar adik-adikku berbelanja? Setelah ini kami akan pulang ke kota asal kami. Jadi, aku tidak bisa menghadiri undanganmu hari ini. Minggu depan barulah aku berada di Surabaya.” Jelas Andi.


“Ya sayang sekali.” Widya baru sadar bahwa saat ini mereka tengah mengobrol sambil berdiri di tengah jalan. Gadis itu kemudian melihat bahwa mereka tengah berdiri di depan sebuah resto Jepang. Sebuah pemikiran kemudian muncul di kepalanya.


“Apakah kalian akan makan siang?” Tanya Widya.


“Iya kami akan makan siang Kak.” Jawab Amira.


“Kalo begitu ayo masuk. Kali ini aku yang traktir.”


“Eh nggak usah Wid.” Tolak Andi.


“Anggap aja ini sebagai makan siang perkenalan antara aku dan adik-adikmu. Atau kamu juga bisa menganggapnya sebagai pengganti traktiran es krim dariku yang sudah gagal tempo hari.”


Pada akhirnya Andi mengikuti kemauan Widya. Mereka berempat kemudian makan bersama dalam satu meja. Sembari menungu makanan mereka matang, Andi bertanya-tanya mengenai kabar Satrio saat ini.


“Dia masih dalam proses penyembuhan saat ini. Meski tidak terlalu parah luka bakarnya, tetapi Kakakku perlu berada di rumah sakit lebih lama lagi. Penanganan luka bakar membutuhkan ruangan yang steril. Meskipun kami bisa menyedian ruang steril di rumah, tetapi keluargaku bilang lebih baik Mas Satrio dirawat di rumah sakit.”


“Dokter bilang, kemungkinan besar dua minggu lagi Mas Satrio baru bisa pulang. Ah ya, Mas Satrio menitipkan salam padamu. Ketika keluar dari rumah sakit nanti, Mas Satrio ingin bertemu denganmu.”


“Syukurlah jika keadaannya semakin membaik sekarang.”


Setelah selesai makan siang, Widya berpisah dari Andi dan adik-adiknya. Tidak mungkin gadis itu mengikuti mereka. Hubungan mereka belum seakrab itu. Yang terpenting, Widya sudah memiliki informasi bahwa minggu depan Andi akan berada di Surabaya.


Widya perlu segera pulang dan memberitahukan hal ini kepada keluarganya. Ia juga perlu memerintahkan juru masak di rumahnya untuk menyiapkan makanan lezat untuk makan malam kali ini. Widya lupa untuk menanyakan makan apa yang disukai Andi.


Mungkin dia akan meminta juru masak di rumahnya untuk membuat makanan rumahan yang lezat. Itu adalah makanan yang disukai oleh semua orang. Widya yakin Andi tidak memiliki masalah dengan makanan seperti itu.



“Kakak, sebenarnya siapa cewe tadi?” Tanya Amira setelah mereka cukup jauh dari Widya.

__ADS_1


“Oh itu, dia adalah adik dari orang yang aku tolong.”


“Yang kecelakaan itu? Yang kakak tolong sampe tangan kakak luka itu?” Tanya Arfan.


Andi mengangguk. “Ya yang itu.”


“Oh begitu. Jadi dia mau ngundang Kakak buat makan malam di rumahnya gitu?”


“Iya Amira, dari minggu kemaren sih dia ngundangnya. Tapi kalian kan tahu sendiri. Seminggu kemarin aku kayak cewek yang dipingit. Nggak boleh ke mana-mana kalo nggak ada Ibu.”


Itulah alasan selama satu minggu kemarin dirinya tidak kembali ke Surabaya. Karena luka di tangannya itu, Andi dilarang ke mana-mana oleh ibunya. Pemuda itu hanya diperbolehkan datang ke kafe. Itu pun ketika ke sana, Andi perlu duduk di boncengan motor yang dikendarai Anisa.


“Oh begitu. Lalu untuk apa minggu depan kakak perlu ke Surabaya lagi?”


“Karena Kakak ada kafe lain di sini. Ya meski itu belum dibuka, kakak perlu mempersiapkan banyak hal. Jadi, kakak akan berada di Surabaya di hari kerja, dan pulang ke rumah di akhir pekan.”


“Kalau begitu, bisakah minggu depan kita ke KBS?”


Andi menggeleng pelan mendengar pertanyaan Arfan. “Mungkin setelah kamu selesai ujian. Aku tidak bisa mengajakmu ke sana dalam waktu dekat ini. Bisa-bisa Ayah dan Ibu akan menggorokku karena sudah mengganggu jam belajarmu.”


“Jika kamu sudah selesai ujian, kakak janji akan mengajakmu jalan-jalan ke tempat yang kamu pilih. Liburan ke Bali pun tidak masalah.”


“Benarkah Kak? Kakak nggak bohong kan?”


“Enggak. Kalo kamu selesai ujian kita ke KBS atau ke Bali. Kakak juga akan kasih kamu hadiah liburan ke Singapore kalo hasil ujianmu bagus.”


“Yes. Aku ingat janji kakak hari ini. Kalo hasil ujianku bagus, aku akan tagih janji kakak hari ini.”


Amira yang juga berada di sana mengerucutkan bibirnya mendengar perkataan kakak dan adiknya itu. “Ya masak cuma Arfan yang diajak liburan.”


Andi tersenyum sembari mengelus rambut adiknya itu. “Tentu saja tidak. Jika nilai rapot kamu semester ini bagus, kamu juga akan ikut ke Singapore. Jadi, kita ke sananya nunggu liburan sekolah aja biar bisa rame-rame ke sana.”


“Sekarang, apakah masih ada yang kalian beli? Mumpung kita masih ada di Surabaya. Di sini barang-barang yang dijual cukuplah lengkap. Jadi, sekalian aja beli sekarang.”


“Nggak ada Kak. Ini udah cukup. Kalo ada yang kelewat, kapan-kapan belinya. Sekarang kita ambil komputernya dan pulang.”

__ADS_1


__ADS_2