Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 181 Fawzul


__ADS_3

Ketika Andi sampai, suasana kafe yang disewa untuk syukuran kesembuhan Satrio sudah mulai ramai. Terlihat beberapa muda mudi yang mengobrol di sana. Andi mendengar dari Widya, kafe ini sudah di sewa untuk acara ini. Jadi, mereka yang ada di sini adalah teman-teman Satrio.


“Kamu sudah datang?” Sapa Widya yang menyambut kedatangan Andi.


“Di mana Kakakmu?” Tanya Andi.


“Dia di sana.” Ucap Widya sembari menunjuk ke arah salah satu kerumunan orang.


Andi menemukan keberadaan Satrio di antara mereka. Pemuda itu sekarang sedang bercanda dengan beberapa temannya. Ia terlihat yang tertawa paling keras di antara teman-temannya. Mungkin Satrio ingin melepaskan kepenatannya setelah terkurung beberapa minggu di rumah sakit.


“Ayo kita temu Mas Satrio. Aku yakin dia akan senang bertemu denganmu.” Ajak Widya.


Keduanya kemudian menghampiri meja di mana Satrio berada saat ini. Beberapa langkah sebelum mereka sampai, Satrio menyadari kehadiran mereka. Ia pun bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiri Andi dan Widya.


“Wah tamu kehormatanku sudah datang.” Sapa Satrio.


“Bagaimana kabarmu sekarang?”


Satrio menggerakkan kedua tangannya untuk menunjukkan keadaan tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Kamu bisa melihatnya sendiri, aku sudah sehat sekarang. Bro, terima kasih atas apa yang lamu lakukan padaku waktu itu.”


“Jika bukan karena kamu, sudah pasti aku akan kehilangan nyawaku. Jika tidak pun pasti aku akan mengalami luka bakar yang cukup serius. Aku berterima kasih atas pertolonganmu waktu itu.” Setelah berucap demikian, Satrio merangkul Andi dan menepuk punggungnya pelan.


Selama pemulihan di ruang steril rumah sakit, Satrio bisa mendengarkan banyak sekali keluhan dari pasien yang mengalami luka bakar seperti dirinya. Untung dirinya mengalami luka bakar yang tidak terlalu parah.


Satrio bahkan mendengar ada seseorang yang menjalani pemulihan di ruang steril rumah sakit lebih dari sepuluh bulan. Itu karena parahnya luka bakar yang diderita pasien tersebut cukup parah. Lebih dari delapan puluh persen. Meski selamat dari maut, tetapi proses penyembuhannya sangat menyakitkan.


Jika Andi tidak menyelamatkannya, pasti dirinya akan mengalami penderitaan seperti pasien-pasien itu. Maka dari itu Satrio sadar bahaya apa yang sudah dilewatinya. Pemuda itu sangat mensyukuri kesempatan kedua yang ia dapatkan sekarang.


“Aku hanya melakukan apa yang aku bisa. Aku menolongmu karena aku mampu melakukannya.” Ucap Andi setelah Satrio melepaskan pelukannya.


Beberapa orang kini telihat menghampiri mereka. Andi bisa melihat rasa kagum dari wajah mereka. Ia sedikit heran melihat hal itu. Apa yang membuat mereka memasang ekspresi seperti itu?


“Sat, apakah dia orang yang sudah menolongmu itu?” Tanya seseorang di antara mereka.

__ADS_1


“Ya, dia ini yang menolongku pada kecelakaan waktu itu.”


“Wah akhirnya aku bisa bertemu dengan superman yang sudah menolongmu Sat.” Ucap pemuda tersebut.


“Superman?” Tanya Andi heran.


“Iya superman, jika tidak disebut apa orang sepertimu itu? Kamu dengan mudahnya membuka pintu mobil milik Satrio dan mengeluarkan dia dari mobilnya. Jika kamu memakai alat bantu, sudah pasti aku tidak akan terlalu heran.”


“Tetapi, kamu menggunakan menggunakan tangan kosong untuk melakukannya. Jika bukan superman, disebut apa orang sehebat dirimu itu.”


“Aku sudah beberapa kali melihat rekaman video mengenai dirimu yang menyelamatkan Satrio. Sebanyak apapun aku melihatnya, aku sama sekali tidak merasa bosan. Bahkan aku malah semakin kagum denganmu. Aku adalah fans nomer satumu sekarang.”


Mata pemuda itu berbinar ketika mengucapkan hal itu. Sekarang Andi tahu dari mana asalnya pandangan kagum yang ada di mata mereka. Itu semua karena mereka tahu bagaimana proses Andi menyelamatkan Satrio dalam kecelakaan itu.


Andi juga baru tahu bahwa ada yang merekam aksinya malam itu. Memang beberapa orang menyaksikan dari jauh dan tidak membantu Andi dalam menolong Satrio. Andi cukup paham jika mereka tidak berani menolong karena takut dengan bahayanya.


Jika memang tidak mau menolong, seharusnya mereka tidak hanya melihat dan merekam begitu saja bukan? Tetapi Andi tidak bisa marah sekarang. Sekarang dia marah pun percuma saja. Toh kejadian itu sudah lama berlalu.


“Apa yang dikatakan oleh Fawzul itu benar Andi. Aku juga melihat video yang dibagikan oleh beberapa orang yang menonton balapan malam itu. Kamu memiliki kekuatan yang besar hingga bisa melakukan hal itu.”


“Aku tidak tahu. Aku tidak pernah membuka sosial media. Jadi, aku tidak tahu apa saja yang sedang viral saat ini.” Ucap Andi.


Andi sama sekali tidak mengetahui hal itu. Sebelum dirinya mendapatkan sistem, Andi tidak aktif dalam sosial media. Memang ia memiliki beberapa akun sosial media, tetapi ia jarang membukanya. Sekarang, setelah dirinya memiliki sistem, sudah pasti sosial medianya tidak pernah ia buka.


Terakhir kali ia membuka sosial media adalah ketika berjualan dessert box secara online. Sekarang Andi tidak pernah melakukannya, dirinya terlalu sibuk untuk melakukan hal itu. Jadi, Andi sama sekali tidak tahu bahwa dirinya menjadi viral karena sudah menolong Satrio malam itu.


“Benarkah? Masak kamu nggak buka sosial media sama sekali?”


Andi menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Melihat hal itu, Fawzul langsung mengambil ponsel miliknya, ia mengetikkan sesuatu di sana. Tidak lama kemudian, Fawzul menyodorkan layar ponselnya ke depan Andi.


Di layar ponsel itu sudah terbuka sebuah sosial media yang menampilkan video yang dimaksud oleh Fawzul. Andi membaca tajuk yang ada di sana. “Superman Asli Indonesia”. Begitulah tajuk dari video tersebut.


“Lihat ini, Kamu sudah viral sekarang. Videomu ini sudah di tonton tiga puluh juta kali dalam satu bulan dan sudah dibagikan sebanyak lima ratus ribu kali. Komentar yang ada di video ini juga sudah mencapai satu juta komentar dalam satu bulan.”

__ADS_1


“Aku tidak bohong bukan ketika aku bilang bahwa video penyelamatan Satrio yang kamu lakukan sudah menjadi viral.” Jelas Fawzul bangga seolah-olah dirinyalah yang berada dalam video tersebut.


“Ya video itu cukup banyak yang menonton. Aku tidak menyangka bisa sebanyak itu.”


“Sekarang, bolehkah aku berfoto denganmu? Aku ingin membagikan foto kita berdua di sosial media. Dengan begini teman-temanku yang lain akan tahu bahwa aku sudah bertemu dengan superman lokal.”


“Fawzul, Andi ini tamu kehormatanku. Kamu jangan menekannya seperti itu.” Ucap Satrio pada akhirnya.


Sebenarnya Fawzul cukup memberitahu Andi bahwa videonya menjadi viral. Tetapi pemuda itu malah terus mengobrol seperti itu. Jika tidak dihentikan, Fawzul pasti akan terus mengajak Andi mengobrol membahas sesuatu yang tidak penting.


“Sat, biarkan aku berfoto dengannya. Sekali saja. Setelah itu, akan aku kembalikan dia padamu.”


“Nggak papa Sat cuma foto doang.” Ucap Andi.


“Asik. Makasih superman.” Ucap Fawzul.


Keduanya kemudian mengambil beberapa foto bersama. Setelah itu, Andi ikut bergabung mengobrol dengan Satrio dan beberapa temannya. Ia hanya berbasa basi ringan dengan beberapa teman Satrio.


Setelah itu, Andi memilih duduk di kursi lain yang masih kosong. Melihat hal itu, Widya menemani Andi agar pemuda itu tidak duduk sendirian.


“Jadi siapa si Fawzul itu?” Tanya Andi pada Widya.


Dari sekian banyak teman Satrio yang ia ajak mengobrol tadi, hanya Fawzul saja yang terlihat sangat berbeda. Ia seperti spesies langka di antara mereka. Jadi, Andi cukup penasaran kenapa orang seperti Fawzul masuk ke dalam lingkaran pertemanan Satrio.


Bukannya Andi memandang sebelah mata orang seperti Fawzul. Hanya saja seseorang cenderung berteman dengan mereka yang memiliki pandangan yang sama. Jadi Andi sedikit heran Satrio mau berteman dengan orang seperti Fawzul.


“Oh dia. Dia itu tetangga rumah kami. Rumahnya tepat di depan rumah kami. Ketika mendengar bahwa Mas Satrio mengadakan pesta syukuran kesembuhan di sini dan juga mengundangmu, dia langsung datang tanpa diundang.”


“Dia emang agak aneh. Soalnya dia itu punya penyakit Chuni. Meski aslinya baik, sifat Chuni yang Fawzul miliki itu terkadang sangat menjengkelkan. Dulu aku pernah berpikir untuk pindah rumah karena dia yang sangat mengganggu itu.”


“Jadi, jika kamu bertemu dia dan nggak kuat mendengar ocehannya, lebih baik kamu menghindar saja. Kalau emang ga sempet menghindar, hirauin aja kalo dia mulai ngomong aneh. Entar lama-lama kamu juga terbiasa dengan dia.”Jelas Widya.


Pantas saja di antara teman-teman Satrio yang lainnya, hanya Fawzul yang sangat antusias dalam membahas Andi yang disebut sebagai superman di dunia maya. Ternyata pemuda itu adalah pengidap penyakit Chunibyo.

__ADS_1


“Oh, jadi begitu.”


__ADS_2