
Setelah mengantarkan Amira ke sekolah, Andi melajukan mobilnya ke menuju ke rumah Kakek Buyut Adipramana. Kakek Buyut Adipramana tinggal bersama dengan Bagus, cucunya yang merupakan anak dari Kakek Harmuji.
Meskipun Kakek Buyut Adipramana terlihat bugar dan masih bisa melakukan apa pun sendirian, tetapi orang tua seperti Kakek Buyut Adipramana tidak bisa begitu saja tinggal sendirian tanpa ada yang menemani. Maka dari itu, Bagus yang sudah menjadi duda cerai mati itu mengajukan diri tinggal di sana.
Di rumah selain Bagus, di rumah Kakek Buyut Adipramana, juga ada ketiga anaknya yang sudah ditinggal oleh pasangan masing-masing. Jadi, bisa dibilang jika Andi pergi ke rumah Kakek Buyut Adipramana, ia juga akan menemui Kakek Harmuji, Kakek Haryanto dan Nenek Hartanti.
Ketika Andi sampai di halaman rumah Kakek Buyut Adipramana, ia melihat Kakek Haryanto yang menemani Kakek Harmuji yang masih duduk di kursi roda berjemur. Andi mendangar dari ayahnya bahwa Kake Harmuji dua hari lalu sudah pulang dari rumah sakit setelah serangan jantung pada hari Minggu lalu.
Setelah turun dari mobilnya, langsung saja Andi menghampiri kedua kakak beradik itu. Tidak lupa Andi mencium kedua tangan mereka.
“Selamat pagi Kakek.” Sapa Andi.
“Kamu tumben kok ke sini? Ada apa Le?” Tanya Haryanto.
“Mau ketemu Kakek Buyut Adipramana, Kakek. Kakek Harmuji bagaimana kabarnya?”
“Aku sudah lebih baik sekarang. Kalo kamu mau ketemu Bapak, dia ada di kebun belakang.”
“Kalau begitu, aku pergi ke Kakek Buyut Adipramana dulu Kakek.”
Menyusuri jalan setapak di samping rumah, Andi melangkah menuju ke kebun belakang. Di sana Andi bisa melihat Kakek Buyut Adipramana bersama dengan anak perempuannya tengah sibuk menyirami tanaman yang ada di kebun. Memang di rumah Kakek Buyut Adipramana terdapat sebuah kebun yang biasa ditanami sayur mayur.
“Selamat pagi Kakek Buyut Adipramana, Nenenk Hartanti.” Sapa Andi.
Kedua orang di kebun itu mengarahkan pandangan mereka ke arah Andi. Melihat kedatangan Andi, Kakek Buyut Adipramana menghentikan aktifitas yang dilakukannya. Ia lalu berjalan ke arah Andi.
“Aku kira kamu akan datang akhir pekan besok Le, ternyata kamu sekarang sudah datang.”
“Kan Kakek Buyut bilangnya dalam minggu ini suruh balik ke sini. Ya udah mumpung sekarang aku punya waktu luang, aku datang kemari sekarang.” Jawab Andi.
“Ya udah. Kita ngomong di dalem aja. Tanti, selesaikan itu menyiramnya. Aku mau ngobrol dulu dengan anaknya Arip ini.”
__ADS_1
“Baik ayah.”
“Mari Nek.” Pamit Andi.
Andi pun mengikuti langkah kaki Kakek Buyut Adipramana menuju ke dalam rumah. Ketika di sana, Kakek Buyut Adipramana mengarahkan Andi menuju ke ruang tengah. Ia berdiri di depan sebuah pajangan yang dengan simbol Kerajaan Narangakarta.
Melihat hal itu, tiba-tiba sebuah pemikiran telintas di benak Andi. ‘Apakah Kerajaan milik leluhurku adalah Kerajaan Narangakarta?’
[Itu benar Host. Kerajaan yang dulu dipimpin oleh leluhur Host adalah Kerajaan Narangakarta.]
Ucapan sistem tersebut cukup mengagetkan bagi Andi. Pasalnya, Kerajaan Narangakarta adalah kerajaan yang memiliki wilayah yang cukup luas pada masa jayanya. Kerajaan Narangakarta mampu menaklukkan banyak kerajaan-kerajaan kecil yang tersebar di seluruh nusantara.
Meski tidak memerintah langsung di kerjaan-kerajaan yang sudah ditaklukkan, tetapi Kerajaan Narangakarta menerima upeti dari kerajaan-kerajaan tersebut. Dan setelah masa penjajahan usai, sebagian besar wilayah Kerajaan Narangakarta pada masa kejayaannya menjadi cikal bakal berdirinya negeri ini.
Mungkin ini adalah apa yang dimaksud oleh Mr. S pada waktu itu. Bahwa leluhurnya memiliki jasa yang besar pada negeri ini. Memang benar bukan? Leluhurnya waktu itu menaklukkan banyak wilayah. Dan sedikit banyak wilayah tersebut dijadikan acuan untuk menentukan wilayah negeri ini.
“Apa kamu tahu simbol apa ini?”
Pertanyaan Kakek Buyut Adipramana membuyarkan lamunan Andi. Ia lalu mengarahkan pandangannya ke arah Surya Naranga yang terpajang di dinding.
Meskipun Andi sudah tahu apa maksud Kakek Buyut Adipramana membicarakan Surya Naranga bersamanya, tetapi, Andi pura-pura tidak mengetahuinya. Ia ingin tahu apa yang akan Kakek Buyut Adipramana katakan padanya.
Tidak mungkin bukan Andi mengatakan bahwa dirinya sudah mengetahui apa tujuan Kakek Buyut Adipramana memanggilnya kemari. Lalu, jika beliau bertanya dari mana Andi mengetahuinya, tidak mungkin bukan ia memberitahukan keberadaan sistem.
Meski sepertinya Kakek Buyut Adipramana sudah mengetahui keberadaan sistem, Andi ingin tahu seberapa jauh pengetahuan Kakek Buyut Adipramana mengenai sistem.
“Apa kamu percaya bahwa keluarga kita adalah keturunan dari Raja Kerajaan Narangakarta?”
Andi membelalakkan matanya, mulutnya pun juga menganga. Tidak hanya itu, ia sedikit memundurkan tubuhnya. Pemuda itu berharap reaksi berpura-pura terkejut ini cukup alami di mata Kakek Buyut Adipramana. Tidak mungkin bukan bahwa Andi bersikap biasa. Ia perlu sedikit memberikan ekspresi terkejutnya.
“Kita keturunan dari Raja Kerajaan Narangakarta? Wow, apakah itu benar Kakek Buyut? Hanya saja, itu sulit aku percayai bahwa leluhur kita merupakan orang yang cukup hebat pada masanya.” Ucap Andi.
__ADS_1
“Ya. Leluhur kita memang Raja dari Kerajaan Narangakarta. Apa kamu tahu, sebelum Kerajaan Narangakarta benar-benar runtuh, leluhur kita menerima bantuan dari makluk lain? Dia berjanji untuk membantu leluhur kita untuk kembali membangun kembali Kerajaan Narangakarta.”
“Tetapi, setelah berusaha cukup lama, leluhur kita mewariskan keinginannya tersebut kepada keturunannya. Tidak hanya keinginannya yang diwariskan kepada keturunannya. Tetapi makluk tersebut juga diturunkan kepada keturunan terpilih saja.”
Keringat dingin langsung saja mengalir di punggung Andi. Ia baru saja lolos dari sebuah bahaya. Untung saja Andi tidak keceplosan membicarakan sistem dengan Kakek Buyut Adipramana. Sepertinya Kakek Buyut Adipramana tidak mengetahui keberadaan sistem.
Beliau menganggap bahwa sistem ini adalah makluk lain yang diturunkan oleh leluhurnya kepada keturunannya. Mungkin dalam pikiran Kakek Buyut Adipramana makluk tersebut layaknya sebuah jin, yang akan membantu seseorang memenuhi keinginannya.
Jika sampai Andi keceplosan menyebutkan keberadaan sistem, semuanya akan menjadi berantakan. Untung tadi Andi sama sekali tidak menyebutkan sistem dan berpura-pura tidak tahu sedari awal.
“Kakak laki-lakiku dulunya adalah penerus dari makluk tersebut. Dia bilang bahwa dalam setiap nafas yang kakakku ambil, itu akan mendekatkannya dengan impiannya. Sayangnya, kakakku itu tidak memiliki satu pun keturunan. Alhasil, makluk tersebut nantinya akan di wariskan kepada anak laki-laki dari garis keturunanku.” Kakek Buyut Adipramana melanjutkan ceritanya.
“Apa kamu ingat kalung emas yang aku berikan padamu?”
Andi mengangguk. “Apakah itu kalung ini kakek?” ucap Andi sembari melepaskan kalung yang tengah ia kenakan. Kalung berliontin emas dengan simbol seekor elang yang memakai mahkota.
“Ya kalung itu. Keluarga kita sudah tidak lagi menggunakan Surya Naranga sebagai simbol keluarga kita. Tetapi seekor elang yang memakai mahkota adalah simbol baru dari keluarga kita. Setiap keturunan keluarga kita akan memakai kalung tersebut sebagai tanda pengenal. Lalu, biasanya mereka akan memiliki kalung dengan liontin yang terbuat dari perak.”
“Jika begitu, kenapa milikku ini berwara emas Kakek Buyut?”
“Itu karena kamu adalah penerus selanjutnya. Penerus ketujuh yang akan meneruskan impian leluhur kita. Setiap ada seseorang berdarah Prayudi lahir, dia akan dibuatkan sebuah kalung. Lalu, kalung tersebut akan di simpan dalam sebuah kotak.”
“Kakaku bilang bahwa siapapun nanti yang kalungnya berubah berwarna emas, dia adalah sang penerus. Dan kamu Andi, kamu adalah sang penerus leluhur kita. Di antara semua keturunanku, milikmulah yang berubah dari silver menjadi emas.”
“Jadi, apakah kamu mau meneruskan keinginan leluhur kita?” Tanya Kakek Buyut Adipramana.
“Tentu saja Kakek Buyut. Aku akan melakukannya. Mungkin sekarang kita tidak bisa lagi membuat sebuah kerajaan seperti jaman dulu. Sekarang eranya sudah sangat berbeda dengan yang dulu. Kita tidak bisa dengan mudah begitu saja mengklaim sebuah wilayah dan mendirikan sebuahs kerajaan.”
“Oleh karena Kakek Buyut, aku akan mendirikan sebuah kerajaan bisnis. Aku akan buat semua orang kembali mengenal kerajaan kita melalui kerajaan bisnis kita.” Ucap Andi dengan penuh percaya diri.
Kakek Buyut Adipramana cukup puas dengan jawaban Andi. “Bagus. Sebagais anak muda kamu perlu memiliki ambisi. Aku suka ambisi besarmu itu. Tetapi, apakah makluk itu sudah melakukan kontak denganmu?”
__ADS_1
“Sudah Kakek, dia sudah menghubungiku. Sekarang ini aku sedang dalam proses membangun kerajaan bisnisku.” Jelas Andi.
“Bagus. Jangan lupa melibatkan keluargamu. Jangan hanya sukses sendiri. Kita perlu bahu membahu jika ingin keinginan leluhur kita itu terwujud.”