
Jangan lupa like, komen, vote dan tambahkan favorit
terima kasih selamat membaca
Ketika sampai di kafe miliknya, Andi berniat membawa para sepupunya berdiskusi di ruang VIP nomer tiga. Ruangan itu sudah menjadi ruangan pribadi milik Andi jika dirinya kemari. Ia juga meminta ruangan itu selalu dikosongkan untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu Andi datang kemari, ada ruangan kosong untuknya.
“Andi.”
Ketika Andi akan melangkah menuju ke lantai dua, ia mendengar seseorang memanggil namanya. Hal itu membuat Andi menghentikan langkahnya dan melihat siapa yang sedang memanggilnya itu.
Andi kemudian membalikkan tubuhnya dan melihat Dinda, teman SMA-nya dulu. Sebelumnya Dinda terlihat tengah menimati kue bersama dengan beberapa teman-temannya. Kini perempuan itu melangkah mendekat ke arah Andi berada.
Sepertinya perempuan itu ingin membicarakan sesuatu dengannya. Jika tidak, dia tidak akan menghampirinya seperti sekarang. Mengetahui hal itu, Andi meminta para sepupunya untuk pergi ke ruang VIP nomer tiga terlebih dahulu. Ia perlu berbicara dulu dengan Dinda.
“Eh, rupanya Kamu mampir ke sini Din.” Ucap Andi setelah Dinda berada dekat dengannya.
“Ya aku sengaja kemari untuk mencarimu.” Ucap Dinda.
“Mencariku? Kenapa tidak menghubungiku lewat telepon saja? Jika kamu memang ada perlu denganku, kamu bisa menghubungiku.”
Andi lalu mengajak Dinda duduk di salah satu kursi kosong yang ada di sana. Tidak enak jika mereka berbicara sembari berdiri. Untung saja kondisi kafe di pagi hari tidak terlalu ramai. Jadi, mereka bisa dengan mudah menemukan tempat kosong.
“Bisnis kafe milikmu ini semakin bagus sekarang, dan aku tahu pasti kamu sibuk mengurusi bisnis milikmu ini. Jadi, aku takut mengganggumu jika aku menghubungimu.” Jelas Dinda.
“Kamu ini kayak sama siapa aja. Kita kan udah temenan lama di sekolah. Jadi nggak masalah kalo kamu menghubungiku. Kayak kita mau telfonan berjam-jam aja. Jadi, ada perlu apa sebenarnya hingga kamu mencariku?” Tanya Andi.
“Aku hanya ingin menanyakan kabar kafe milikmu. Aku dengar ketiga kafe milikmu yang baru sehari di buka itu mengalami kebakaran. Bagaimana urusannya sekarang, apakah kamu membutuhkan batuan dariku?” Tanya Dinda.
Dari mana Dinda tahu bahwa ketiga kafe milik Andi terbakar? Ah, mungkin perempuan itu mengetahui hal itu dari berita. Andi ingat waktu itu ada beberapa reporter yang meliput kejadian itu. Apalagi sosial media kafenya juga memberikan pemberitahuan mengenai kebakaran itu.
Andi menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu Din. Ada sepupuku yang akan membantuku. Brian juga pasti akan ikut membantuku dalam masalah ini. Bagaimanapun juga, dia merupakan salah satu pemilik dari bisnis kafe ini.” Tolak Andi secara halus.
Selama Andi menjalani masa berkabung, ia memang meminta Brian untuk mengurus renovasi dari ketiga kafe tersebut. Sebelumnya yang menghubungi pihak arsitek adalah Brian. Jadi, mereka bisa memakai arsitek yang sama untuk renovasi kali ini.
Kemungkinan besar akan ada sedikit perubahan desain antara kafe yang sebelumnya dan kafe yang mereka renovasi ulang itu.
__ADS_1
“Jadi, aku tidak membutuhkan bantuan darimu. Tetapi, aku berterima kasih padamu karena sudah menawarkan bantuan kepadaku.” Ucap Andi.
Meski Andi tidak akan menerima bantuan dari Dinda, tetapi Andi tetap harus berterima kasih kepada perempuan itu. Bagaimanapun juga, Dinda sudah berniat membantunya.
“Ah, jadi seperti itu ya.”
Andi kemudian mengobrol sebentar dengan Dinda. Setelahnya, ia berpamitan kepada Dinda untuk kembali menemui para sepupunya. Masih ada hal yang perlu mereka bahas sekarang. Jadi, Andi tidak bisa berlama-lama mengobrol dengan Dinda.
….
Ketika Andi memasuki ruang VIP nomer tiga, ia disambut dengan pandangan menelisik yang dilayangkan oleh para sepupunya. Beberapa dari mereka terlihat menyeringai kepada Andi sembari menggerak-gerakkan kedua alis mereka.
Dimas kemudian bangkit dari tempat duduknya. Ia lalu menghampiri Andi dan merangkul pundaknya. Pemuda itu kemudian menggiring Andi untuk duduk kursi yang berada di paling tengah. Dengan begini, Andi sekarang dikelilingi oleh para sepupunya.
“Jadi Andi, siapa cewek tadi? Itu pacar Lu ya?” Tanya Dimas.
“Bukan dia hanya teman sekolahku aja Mas. Dia bukan pacarku.”
“Ck.” Wira mendengar ucapan Andi berdecak. “Gue kira lulus SMA Lu bakal mulai pacaran. Ternyata Lu tetep aja jomblo. Jadi, kapan lu melepaskan status jomblo dari lahir yang selama ini lu pegang itu?” Ejek Wira kepada sepupunya.
“Dulu bilangnya fokus sekolah sehingga nggak punya pacar. Sekarang, kamu beralasan ingin fokus ke bisnis milikmu. Jika seperti ini, kapan Kamu akan punya pacar? Apa perlu aku mengenalkanmu kepada adik dari temenku?” Ucap Ganang.
“Nggak usah. Aku bisa cari sendiri urusan itu. Daripada membicarakan mengenai kapan aku punya pacar, lebih baik kita kembali ke bahasan utama yang sebelumnya akan kita bahas.”
Ucapan Andi tersebut mengubah suasana di ruang VIP nomer tiga itu. Awalnya mereka sedikit ceria dan masih sempat menggoda Andi. Tetapi, setelah Andi mengingatkan mereka kembali terlihat lebih serius. Bahkan Wira yang sebelumnya sudah mulai tenang kini kembali terlihat marah.
“Sebenarnya, apa informasi yang kalian dapatkan dari laki-laki tadi? Gue sama sekali nggak nangkep apapun selain dia ngaku kalo dia yang bakar kafe milik Andi.” Ucap Wira penasaran.
Mungkin tadi emosi menguasai Wira. Hal itu membuat pemuda itu tidak mendengar dengan jelas apa yang laki-laki itu sampaikan. Yang ia tahu hanyalah laki-laki itu adalah pelaku pembakaran kafe milik Andi. Selebihnya, Wira tidak memikirkan hal itu.
“Laki-laki itu adalah anggota Gang Macan Putih.” Jawab Dimas.
“Memangnya kenapa kalo dia dari Gang Macan Putih? Apakah Gang Macan Putih sekuat itu sehingga kalian takut menghabisi laki-laki tadi?” Tanya Wira heran.
“Bodoh. Gue nggak nyangka punya adek sebodoh Lu. Jangan otot Lu aja yang digedein, tetapi gedein juga otak lu itu.” Ucap Dimas sarkas.
__ADS_1
“Maksudnya apa sih?”
“Gang Macan Putih adalah gang milik Om Burhan.” Jawab Andi.
Mendengar ucapan Andi tersebut, Wira langsung bisa menghubungkan semuanya. Jika laki-laki tadi benar-benar anak buah dari Burhan, ini berarti secara tidak langsung yang membakar ketiga kafe milik Andi adalah Burhan.
“Sialan. Jadi Om Burhan pelakunya. Sekarang dia pake cara kotor seperti ini buat maksa Andi nyerahin warisan itu? Dia saja sudah tidak dipilih untuk mendapatkannya. Tetapi kenapa sekarang dia memaksa untuk mendapatkannya kembali.”
“Apa kalian ingat kapan kebakaran itu terjadi? Itu adalah hari yang sama di mana Kakek Buyut Adiprmana meninggal. Di masa berkabung seperti itu, dia masih berani melakukan tindakan seperti itu. Benar-benar gila itu orang.” Teriak Wira keras.
Ucapan Wira ada benarnya. Jika dalang di balik kebakaran itu memang Burhan, berarti laki-laki itu sudah sangat keterlaluan. Di antara hari-hari lain untuk membakar kafe milik Andi, kenapa Burhan memilih hari yang sama di mana Kakek Buyut Adipramana meninggal?
“Kita belum sepenuhnya yakin bahwa Om Burhan adalah dalang di balik semua ini.” Ucap Ganang.
“Maksud Mas Ganang apa? Udah sangat jelas bukan kalo laki-laki itu bilang dia adalah anggota Gang Macan Putih, dan Gang Macan Putih itu dipimpin oleh Om Burhan. Jadi, bukankah itu semua sudah menjadi bukti bahwa dalang di balik pembakaran kafe milik Andi adalah Om Burhan?”
“Nggak segampang gitu juga nyimpulinnya Wira. Lu perlu ingat bahwa gang milik Om Burhan itu gang besar. Kemungkinan besar anak buahnya menerima pekerjaan dari orang lain untuk membakar kafe milik Andi. Jadi, kita lebih menyelidiki kemungkinan lainnya.” Jelas Dimas.
Setelah Dimas berkata demikian, semua yang ada di ruang VIP terdiam. Mereka meresapi apa yang baru saja Dimas katakan. Memang semua ini menunjukkan seolah Burhan adalah pelakunya. Tetapi, tidak menutup kemungkinan bahwa ada orang lain yang menjadi dalangnya.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?” Tanya Andi.
“Entahlah aku juga bingung. Yang jelas kita perlu menyelidiki semua ini dari dalam gang yang dipimpin oleh Om Burhan. Kita perlu tahu apakah laki-laki yang Andi sekap itu memang benar-benar anggota Gang Macan Putih. Jika benar, barulah kita bisa memastikan siapa dalangnya.” Ucap Ganang.
“Jika kita ingin mengetahui hal itu, kita membutuhkan bantuan orang dalam. Tetapi, siapa yang akan membantu kita mengetahui hal itu?” Tanya Bima yang sedari tadi hanya mendengarkan.
Andi ingin menyarankan Damar kepada para sepupunya. Bukankah laki-laki itu adalah anggota Gang Macan Putih? Tetapi, Andi menurungkannya. Setelah dipikir-pikir, Damar hanyalah pimpinan cabang dari Gang Macan Putih.
Damar pasti tidak akan mengenali semua anggota Gang Macan Putih. Apalagi letak kafe Andi yang terbakar berada di Kota Surabaya. Jadi, kemungkinan besar yang melakukannya adalah anggota Gang Macan Putih yang berasal dari Surabaya, dan Damar tidak memiliki otoritas besar di kota itu.
“Kita tanya langsung kepada Om Burhan saja. Daripada kita mendapatkan informasi dari oranglain, lebih baik kita mendengarnya langsung dari Om Burhan. Gue yakin dia mau memberitahu kita tentang hal ini.” Saran Dimas.
Dimas ingat dalam pertemuan tahunan keluarga Prayudi beberapa waktu lalu, Burhan dengan mudahnya mengakui keterlibatannya dalam jual beli obat-obatan terlarang.
Jadi, jika mereka bertanya langsung, kemungkinan besar Burhan akan menjawab pertanyaan mereka tanpa ada niatan menutup-nutupi. Dengan begini mereka tidak akan mendapatkan berita yang simpang siur.
__ADS_1